Purana Pura Guwa Watu Pageh – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan dan semoga berhasil.

Ini perjalanan suci Danghyang Nirartha, di pulau Bali dan Lombok, bersama-sama putra beliau. Setelah masa Dwapara dan berganti dengan masa Kali, adapun Sri Maharaja Bhuminatha, Sri Harsa Wijaya, pindah dari Daha, menuju istana Wilwatikta yang disebut dengan Mawospahit (Majapahit), di sana beliau menjadi raja sebagai penguasa kerajaan, setelah beberapa lama beliau memerintah, amat terkenal kerajaan Majapahit, tersebar di seluruh Nusantara, namun tiada lama, rusaklah kerajaan Majapahit dengan masuknya agama Islam, pada hakekatnya agama itu sama bagaikan purusa dan pradana, yang bertujuan satu, namun yang berbeda adalah prilaku, bahasa, ethika, persembahan upakara, itulah perbedaannya, yang menyebabkan timbulnya kehancuran.

012614_0825_BabadTegehk1.jpg

Hamba menghormat kepada kaki Paduka Pendeta Danghyang Dwijendra (Nirartha), yang dikenal dengan Bhatara Sakti Wawu Rawuh. “Ya Tuhan, maafkan hamba, agar terhindar dari kualat, memuja engkau Danghyang sekarang, yakni Danghyang Dwijendra sembah hamba, yang memberi anugrah ajaran Tattwa, agama Hindu Bali, Weda, Mantra, Tembang dan Kidung, segala prilaku tentang upacara dan Panca Yadnya, seperti Dewa Yadnya, yang menimbulkan kebahagiaan, keselamatan dan ketenangan jiwa hamba, semoga Danghyang sudi mengabulkannya, hamba mengabdi padamu, semoga berhasil segala yang dikerjakan dan negara menjadi aman”.

Setelah lama Majapahit (Jawa), dikuasai oleh agama Islam, karena Dwapara yuga telah berganti oleh Kali yuga, akhirnya lahirlah Sanghyang Kala, bermata satu, suaranya samar-samar, siapa yang mendengar menemui ajalnya, oleh karenanya menjadi sepi kerajaan Majapahit, karena dikuasai oleh jaman kehancuran (sanghara bhumi). Oleh karena itu Sri Maharaja Majapahit, ada yang pindah ke Pasuruhan, ada yang ke Blambangan, lebih- lebih ada yang ke Bali, dengan membawa Kawitan, Piagam (Prasasti), demikianlah ceritranya di kerajaan Majapahit.

Tersebutlah Danghyang Nirartha, adik dari Danghyang Angsoka, putra dari Danghyang Smaranatha, yang menjadi Purohita (Bhagawanta/Pendeta Istana) di Majapahit, tatkala Majapahit sedang jayanya, saat itu Danghyang sedang menginjak dewasa, lalu mengambil istri di Daha, putra sang Swambha, yang bernama Danghyang Panawaran, warga Breguwangsa dari Geria Mas Daha, Danghyang Dwijendra berputra 2 orang, yang lahir dari Istri Mas, yang sulung bernama Ida Ayu Swabhawa dengan nama lain Hyang Salaga, amat cantik, setia, paham akan filsafat hidup, adiknya Ida Kulwan Daha, Wiragasandhi nama lainnya.

Kembali diceritrakan, hancurnya pulau Jawa oleh agama Islam, pindahlah Danghyang Dwijendra ke Daha, pindah lagi ke Pasuruhan dan tinggal di sana. Lalu kawin dengan saudara misan yakni putri Danghyang Pandawasikan, yang bernama Istri Pasuruhan, dengan gelar Dyah Sangghawati, berputra 4 orang laki-laki, nama beliau sebelum madiksa, yang sulung Ida Wayan Lor, yang disebut Nuhaba, ke dua Ida Made Ler, adiknya Ida Nyoman Wetan, yang disebut juga Ida Pasuruhan dan yang bungsu Ida Ketut Kulwan Pasuruhan. Akhirnya Danghyang Dwijendra pindah ke Blambangan, lalu kawin dengan adik Sri Juru, raja Blambangan, yang bernama Ida Patni Keniten, amat cantik, menawan dan bijaksana, yang sungguh-sungguh menawan hati, merupakan keturunan Brahmawangsa, merupakan cucu dari Danghyang Kresna Kepakisan, di Wilwatikta, merupakan kumpi dari Soma Kepakisan, cucu dari raja Blambangan I, putra dari raja Blambangan II atau saudara dari raja Blambangan III, yang masih ada hubungan dekat dengan Danghyang Dwijendra dalam hubungan dengan Patni Keniten. Adapun putra Danghyang Dwijendra dengan Ida Patni Keniten, laki perempuan 3 orang, nama beliau sebelum didiksa, yang sulung Ida Ayu Nir Swabhawa dengan bhiseka Ida Ayu Istri Rai, berprilaku sopan, bijaksana, paham akan filsafat, yang ke dua bernama Ida Made Telaga, Ida Ender nama lainnya, amat terkenal karena saktinya, berpengetahuan, sebagai pujangga, adiknya yang paling bungsu Ida Nyoman Keniten.

Setelah beberapa tahun Danghyang Nirartha berada di Brambangan, akhirnya marahlah Sri Dalem Juru, disangka Sang Mpu Danghyang memakai guna-guna, oleh karena keringatnya berbau harum, bagaikan ermawa, segala yang dekat dengan beliau berbau harum, ada adik Sri Dalem Juru perempuan, tertarik kepada Danghyang, itulah sebabnya sang pendeta pindah ke Bali, dengan para putranya bersama Sang Patni Keniten, menyeberangi Segara Rupek.

Tersebutlah Sang Pendeta dalam perjalanan, menumpangi waluh pahit, alat minum bagi orang-orang suka minum, tangan kakinya bagaikan dayung dan kemudinya, maka itu keturunannya kelak tidak boleh menanam waluh pahit, demikian bhisama Sang Mpu Danghyang, perjalanan beliau di tengah lautan, adapun istrinya menumpangi perahu bocor, ditambal dengan daun waluh pahit, dengan para putranya, diantar oleh orang-orang majaya, semuanya dapat melaju karena ditempuh oleh angin yang mendesir, sampailah di Kapurancak, di tepi pulau Bali bagian barat, di sana beliau berjumpa dengan pengembala, ditanyailah pengembala itu, si pengembala menunjuk agar beliau berjalan ke timur, berjalanlah beliau memasuki hutan, dijumpai seekor kera yang menghadang perjalanan beliau, berjalan di depan dengan suara groh-groh, lalu naik ke atas pohon, serta menunjukkan jalan, berkatalah Mpu Danghyang kepada kera itu, ai kamu kera : semoga seketurunanku kelak tidak boleh memelihara kera, demikianlah bhisama Sang Wiku, terus ke timur perjalanan beliau, lalu berjumpa dengan seekor naga besar, mulutnya menganga lebar, lalu sang Pendeta masuk ke dalam mulut naga tersebut, setelah sampai di dalam perutnya naga, dijumpai ada telaga dengan bunga tunjungnya, tiga warnanya, yang di timur berwarna putih, di selatan berwarna merah, dan yang di utara berwarna hitam, lalu dicabutnya bunga tunjung itu lalu diletakkan di telinganya, tunjung merah di telinga kanan, tunjung hitam di telinga kiri, tunjung putih dipegangnya, lalu beliau ke luar dari dalam perut naga, dengan weda mentra wredhi, wredhi astu, lalu hilanglah naga itu Danghyang berubah warna lagi berwarna hitam, lagi berubah menjadi merah, dilihat oleh istri dan para putra-putri beliau, terus berubah warna sang Pendeta, sebentar berwarna seperti mas, lalu bertanya kepada istrinya, yakni Ida Istri Ketut : menyatakan para putranya telah berlari tidak tentu ke mana perginya, ketika itu sang Pendeta lalu mencari para putranya, dikumpulkannya lagi, putranya hilang 1 orang yang tertua, lalu Danghyang Nirartha, mencari-cari putranya yang hilang itu, tidak dijumpainya, lalu dilihatnya putranya ada di semak-semak, seperti orang takut kelihatannya, lalu ditanyai oleh Danghyang : “Ai anakku, mengapa engkau lari amat jauh, apa yang menyebabkan engkau takut, katakanlah yang sebenarnya”. Dijawab oleh putranya : “Maafkanlah hamba , sebabnya hamba lari agak jauh, oleh karena wujud sang Pendeta berubah-ubah warna, dan amat menakutkan hamba, setelah Tuanku keluar dari mulut naga, sebentar hitam, sebentar merah, serta badan Tuanku bagaikan bayangan, demikianlah yang hamba lihat”. Sang Putri melanjutkan pembicaraannya : “Ya Tuanku Danghyang, hamba mohon anugrah di bawah kedua kaki Tuanku, sekarang hamba ingin kembali ke Sunyata/sorga, agar supaya tidak lagi dilihat oleh orang, agar supaya hamba menyatu dengan Hyang Niskala, itulah hendaknya dianugrahi kepada hamba, agar hamba dapat memahaminya, tentang keluar masuknya Hyang Atma”.

Menjawablah Bhatara Hyang Dwijendra : ” Ya anakku dewi, janganlah engkau khawatir, dengarkanlah dengan baik anugrahku, dengan sungguh-sungguh beliau membisiki putrinya, hakekat tentang kesucian”. Setelah beliau mendapatkan pawisik dari Mpu Danghyang, segera moksah putrinya dan telah berada dalam asrama, disebut Dalem Malanting, sudah berbadankan gaib, beliaulah dijuluki Bhatari Malanting, menjadi Dewati di sana, adapun tatkala sang Pendeta memberikan anugrah kepada putrinya, didengar pawisik itu oleh Ki Tambwatikalung, musnahlah dosanya, berubah wujud menjadi seorang wanita, lalu menyembah di hadapan kaki sang Pendeta, dan telah menjadi manusia walaupun hina, diberi nama Ni Brit, lalu menjadi abdinya Pendeta, demikianlah utamanya anugrah Danghyang Dwijendra, kepada putranya Ida Ayu Swabhawa, tidak terikat akan tua dan mati. Ketika itu berkatalah istrinya Sang Istri Patni Keniten, oleh karena beliau tidak bisa berjalan, Mpu Danghyang berkata : “Di sinilah adinda tinggal di desa Malanting, karena telah habis dosanya putrimu Ni Swabhawa, telah menjadi dewanya orang-orang Malanting, sekarang aku akan mralina orang Malanting, segera dipanggil orang-orang desa itu kira-kira 8.000 orang banyaknya, disuruh menjaga putri dan istrinya Padanda Istri Ketut, dikutuklah orang-orang desa itu, tidak kurang benda-benda mulia dan makanan minuman, desa itu tidaklah kelihatan, oleh sesama manusia, semua orang itu dengan rela mengikutinya, dimusnahkanlah orang-orang desa itu oleh Danghyang Dwjendra, itulah sebabnya desa itu tidak kelihatan sampai saat ini. Hendaknya dengarkanlah dengan baik bagi orang yang rela mendengarkannya dan yang suka membaca, hendaknya jangan tidak percaya kepada keberadaan Dalem Malanting, sebagai awal mula adanya desa Pohlaki, pada akhirnya Danghyang meleburnya itulah sebabnya menjadi hutan sampai saat ini, demikianlah ceritranya, siapa saja yang sadar akan diri akan mendapatkan keselamatan, merupakan suatu sarana, bagaikan lembu, beliaulah yang mengembalakan, diamkanlah sebentar ceritra Dalem Malanting.

Tersebutlah perjalanan Danghyang Dwijendra menuju arah timur, bersama-sama putranya, sampailah di Gadhingwani, saat itu masyarakat Gadhingwani tertimpa wabah, banyak orang datang memohon obat kepada sang Pendeta, disuruh oleh beliau membawa tempayan berisi air, lalu diisi ganten (tembakau yang bercampur dengan sirih) oleh sang Pendeta, segera sembuh orang-orang desa itu, maka itu orang-orang Gadhingwani mengabdi kepadanya, mempersembahkan buah-buahan, umbi-umbian dan makanan, ketika itu pula pimpinan desa (Bandesa) Gadhingwani menjadi murid beliau dan setelah disucikan dan diberikan anugrah yang tertuang dalam Kidung Sebun Bangkung, serta ada putri Bandesa Gadhingwani yang cantik bernama Ni Jro Patapan diserahkan kepada sang Pendeta, sebagai rasa bakti kepada guru, yang selalu setia menghidangkan makanan kepada sang Pendeta, bersama abdinya yang bernama Ni Brit, setelah diterima oleh sang Pendeta, dan dibuatkan tempat tinggal. Entah berapa lama sang Pendeta tinggal di Wanitegeh, sampailah tersebar berita di desa Mas, yang masih mempunyai hubungan dengan Bendesa Gadhingwani dan saudaranya di desa Mundeh wilayah Kaba-Kaba, diamkanlah sebentar ceritra orang-orang di Gadhingwani.

Tersebutlah Ki Pangeran Mas, mengirim utusan untuk menjemput Danghyang Dwijendra di desa Wanitegeh, wilayah Gadhingwani, senang beliau dan bersedia untuk datang ke desa Mas. Setelah beberapa lama berangkatlah Danghyang dari Wanitegeh, tiada lama tiba di desa Mundeh, dihentikan dari perjalanan oleh Bendesa di sana, dengan tujuan untuk mengabdi kepada sang Pendeta, namun beliau tak berkenan, karena sedang dalam perjalanan, tetapi karena Ki Bendesa amat hormat, untuk mengabdikan diri, lalu diberi anugrah, yakni bekas beliau berdiri bagaikan sebuah Lingga (lambang Siwa) untuk menjadi tempat suci di kemudian hari, karena itu Ki Bendesa amat senang hatinya. Segera dilaksanakan dan mendirikan sebuah Pura, yang diberi nama Pura Resi atau Geria Kawitan Resi, nama lainnya.

Tak terceritrakan di desa Mundeh, lalu melanjutkan perjalanannya ke timur laut, dalam perjalannya bertemu dengan sebuah sungai, di sebelah barat sungai itu ada Wulakan, airnya jernih dan suci, di pinggirnya tumbuh berbagai macam bungan yang sedang mekar, menghamburkan bau harum menempuh hidung, yang amat menawan hati, mengalahkan keindahan pada musim Kapat (Oktober), di sana beliau tinggal dan bersenang-senang, dengan melakukan yoga samadhi, disertai puja astuti dengan puja mentra utama, tempat beliau beryoga itu disebut Tamansari atau Pura Bulakan (Wulakan) nama lainnya. Di sekitar Pura itu, diberi nama Manghapura atau Mangharajya, tiada lama beliau tinggal di sana, didengar berita itu oleh Ki Bandesa keturunan Patih Ulung, tentang sang Pendeta tinggal di Mangharajya, lalu mereka datang menghadap kepada beliau, memohon kepada sang Pendeta agar berkenan untuk mampir di Purasada di desa Kapal, serta menceritrakan bahwa mereka diberi pesan oleh Patih Gajah Mada, yakni untuk memelihara Parhyangan yang ada di Bali, kebetulan saat itu ada Piodalan di Purasada Kapal.

Tiada lama datanglah beliau di desa Kapal, segera sang Pendeta masuk ke dalam Pura dan duduk di hulu Bale Pahiasan. Sang Resi berkata kepada Ki Bandesa : ” Ai Kaki Arya, siapa yang memimpin upacara Piodalan di Kahyangan ini ?” Sang Kaki Arya menjawab :”Ya Tuanku Pendeta, yang memimpin upacara piodalan sekarang ini adalah Mpu Guto, yang berasal dari gunung Agung, yang memimpin upacara di Kahyangan ini”. Sang Pendeta berkata lagi :” Ai Kaki Arya, Guto itu adalah abdiku, ia yang engkau kira Pendeta, mulai saat ini ia disebut warga Sengguhu, dipanggil Jro Gede, ia adalah keturunan gandharwa dahulu, tugasnya adalah memimpin upacara caru/korban yang kecil dan menengah di tegal sawah, pacaruan sasih, itulah yang menjadi tugasnya”, demikianlah kata sang Pendeta, diamkanlah sebentar.

Tiada lama datanglah abdinya dari gunung Agung, bersama dengan Ki Guto, dengan memakai tandu dengan payung yang indah, segera memasuki halaman Pura, di sana bertemu dengan Danghyang Dwijendra, segera turun dan menunduk Ki Guto dihadapan sang Pendeta, dengan permohonan maaf, tentang kesalahan prilakunya. Sang Pendeta berkata : “Ih Guto, mulai saat ini jangan berbuat demikian lagi, membuta-butai masyarakat namanya, aku dapat memberi ampun terhadap kesalahan prilakumu”. Engkau Kaki Arya, hendaknya engkau memaklumi, akulah yang mengutus Ki Guto untuk datang ke pulau Bali, menyelidiki tentang Sri Aji Waturenggong, karena lama tidak kembali ke pulau Jawa, sekarang hendaknya batalkanlah Ki Guto untuk memimpin upacara piodalan di Parhyangan Dewa. Kewajibannya adalah memimpin upacara caru, pada saat tilem kesanga, panangluk mrana, baliksumpah, di tegal sawah, menolak perbuatan-perbuatan ilmu hitam, itulah kewajibannya, sampai kelak kemudian hari. Jika ia disuruh memimpin upacara Dewa Yadnya, kacau masyarakat jadinya”, demikianlah titah sang Dwija.

Menyembahlah Kaki Arya dan Ki Guto, berulangkali menyembah, lalu Danghyang Dwijendralah yang memimpin upacara piodalan di Purasada, Ki Guto disuruh memimpin upacara caru, diamkanlah sebentar.

Setelah selesai memimpin upacara, sang Pendeta melanjutkan perjalanannya ke selatan, sampailah di desa Tuban, semua orang menyembahnya, termasuk orang-orang di Badung selatan, menghormat kepada sang Dwija, terutama Bandesa Tuban, yang dengan bakti menghidangkan makanan, dengan kedatangan beliau penghasilan menangkap ikan di laut berlipat ganda, oleh karena itu segala yang dianggap baik dan suci dipersembahkan kepada sang Dwija, demikian pula dengan para putra-putrinya. Setelah beliau menikmati hidangan, ada sisa ikan yang tinggal separo, setelah dimentrai oleh sang Dwija, dibuang ke tengah laut, segera hidup lagi, lalu disebut ikan Tampak, karena separo badannya, jika ada orang melakukan upacara, maka ikan tersebut layak dipakai ulam suci, itulah sebabnya ada ikan Tampak sampai sekarang. Heranlah orang-orang Tuban, menyaksikan kemampuan sang Dwija dan ada juga ajaran sang Dwija kepada masyarakat Tuban, disuruh membuat bubu (alat menangkap ikan) tanpa umpan, dengan alat itu banyak mendapatkan ikan, demikianlah prilaku sang Dwija, itulah sebabnya ada bubu sampai sekarang.

Selama kurang lebih 7 hari sang Pendeta berada di Tuban, ditemani oleh Arya Kenceng dan atau Kiyayi Tegehkori, diundang agar datang ke Puri Badung bersama dengan para putranya, berjalanlah sang Resi dan setelah sampai di Bwagan, datang air bah, berhentilah Danghyang Dwijendra di sebuah Pura di Batan Nyuh, banyak orang datang dari timur sungai, melalui jembatan gantung, menyembah dan memohon kepada sang Pendeta :”Yakni memohon untuk penahan air bah, agar tidak dilanda banjir, lalu ada anugrah sang Resi kepada orang-orang yang mohon bantuan, diberi sebuah pancung dengan gambar Sanghyang Kelar, agar dipancangkan di hulu sungai, seketika berhenti aliran sungai itu, alirannya menuju barat melewati jalan, heranlah orang-orang menyaksikan kemampuan sang Pendeta, maka banyaklah persembahan punya kepada beliau, lalu melanjutkan perjalanan dan sampailah di Puri Ki Kyayi Tegehkori di Badung.

Setelah lama tinggal di Badung, datanglah Ki Pangeran Mas, menyambut kedatangan beliau dan dimohon agar sudi datang ke Mas, lalu beliau pergi ke desa Mas dan mendirikan Geria di Mas, di sanalah beliau tinggal, ada putri Ki Pangeran Mas, yang amat cantik, dipersembahkan kepada sang Dwija, untuk menjadi istrinya, putri Ki Pangeran Mas masih hubungan amisan (sepupu) dengan putri Bendesa Gadhingwani dari garis wanita, beliau itulah yang melayani sang Dwija bersama abdinya Ni Brit, putri Pangeran Mas itu bernama Sang Ayu Mas Ginitir, Dyah Hema nama lainnya.

Adapun Pangeran Mas setelah didiksa oleh sang Dwija, telah memahami tentang tattwa jnana sandhi, lalu beliau berputra dari istrinya yang cantik, yang diberi nama Ida Putu Kidul, dan banyak nama lainnya.

Adapun putra beliau yang dari Pasuruhan, yang beribu putra Danghyang Panawasikan, bernama Ida Putu Lor, putra dari adik Dalem Juru di Blambangan, bernama Ida Putu Wetan Brangbangan, berbeda dengan Ida Wetan Pasuruhan. Ada pula putra beliau, dari putri Danghyang Pandawaran, dari Daha, bernama Ida Putu Kulon Daha, berbeda dengan Ida Kulon Pasuruhan dan tinggal di desa Kumenuh.

Setelah itu marilah ceritrakan Pan Gleng, yang merupakan abdi dari Pangeran Mas, mempersembahkan pusuh pisang batu , hasil dari hasil tanamannya Pan Gleng, setelah diterima oleh sang Dwija, beliau mengataksn bahwa pusuh itu berisi bijih mas, semoga Pan Gleng, menjadi orang kaya sampai keturunannya, demikian bhisama sang Dwija. Diamkanlah sebentar.

Tersebutlah sang Dwija mengail di Taman, beralaskan daun tunjung di atas air, banyak mendapatkan ikan, pulanglah sang Dwija, mandi dan melakukan pemujaan, setelah melakukan pemujaan, lalu diberikan hidangan, setelah beliau menikmati hidangan dan dilanjutkan oleh putra-putranya, Ida Lor, Ida Wetan, Ida Kidul, Ida Kulwan, sabda sang Pandya : “Anakku semuanya, engkau semuanya suka duka bersama-sama, boleh saling ambil (perkawinan), yang tua boleh menjadi guru, diantara anakku sekalian, jika engkau nantinya lupa dengan saudara, engkau tidak menikmati kebahagiaan, demikianlah bhisama Danghyang Dwijendra kepada putranya sang catur sanak (empat bersaudara), beliau amat berbahagia, karena semua putranya mempunyai kemampuan yang hampir sama. Diamkanlah sebentar.

Dan lagi Danghyang menjamah abdinya Sang Istri Ayu Mas, putri Ki Bandesa Gadhingwani, berputra seorang laki-laki, diberi nama Ida Wayan Sangsi atau Ida Patapan, nama lainnya. Demikian juga abdinya yang bernama Ni Brit, dilihat sedang kencing oleh sang Resi, tanah berlubang sampai sahasta dalamnya, bagaikan air pancuran, lalu dijamah oleh sang Dwija, lalu berputra seorang laki, diberi nama Ida Wayan Tamesi atau Ida Bindu nama lainnya. Pada suatu hari Danghyang pergi untuk asuci laksana, ketika menaiki daun tunjung, lalu kakinya tenggelam sepergelangan, tatkala itu beliau sedang mengail, lalu dilihat ada kakul, sisa dari yang dimakannya, lalu dibuang dan hidup lagi, setelah selesai atirthagamana/mohon air suci, ketika itu beliau mengatakan bahwa 2 putra beliau berkurang kemampuannya. Lalu beliau kembali pulang dan melakukan pemujaan, setelah melakukan pemujaan, diberikan ke-enam putranya hidangan dalam satu tempat, ketika sedang menggenggam makanan, seketika juga alas makanannya saling bersentuhan, berjatuhan dan ada juga yang menimpa dulang, yang satu kalah dan yang satu lagi membalas, hal itu menjadi perhatian beliau Danghyang Dwijendra, lagi diberikan hidangan, yang dua orang dipisahkan, ditempatkan di bagian belakang, yaitu Ida Wayan Sangsi dan Ida Wayan Bindu.

Adapun yang putranya 4 orang, bersama dengan Ida Putu Kemenuh atau Ida Kulon Daha; Ida Putu Nuaba atau Ida Putu Lor; Ida Madhe Talaga atau Ida Made Wetan Brangbangan; Ida Putu Mas atau Ida Putu Kidul. Semuanya rukun tatkala menghadapi makanan, setelah dua orang putranya dipisahkan. Setelah beliau bersantap, lalu Danghyang berpesan kepada para putranya : “Uduh anakku Putu Sangsi dan Putu Tamesi, hidup mati dan sampai keturunanmu, boleh saling ambil dan saling sembah. Bila terhadap saudaramu Ida Putu Kulwan Daha, Ida Putu Lor Manuaba, Ida Putu Wetan Kaniten dan Ida Putu Kidul Mas, janganlah mengambil istri dari ke-empat putraku itu dan jangan pula mengharapkan sembah darinya, hal itu tidak boleh dan anakku Putu Sangsi dan Putu Bindu, boleh menyembahnya, boleh menyerahkan putri dan berguru, demikianlah hendaknya, anakku Putu Sangsi dan Putu Bindu. Dan siapapun yang melanggar bhisama ini akan mendapatkan neraka, masyarakat menjadi kacau, hilang kemampuan, menjadi hina, demikianlah bhisama Danghyang Dwijendra.

Terdengarlah keberadaan sang Dwija di Gelgel, ada pendeta sakti bagaikan wiku Lohgawe, itulah sebabnya Kiyayi Panulisan Dawuh Baleagung diutus untuk memohon agar sang Dwija, perkenan untuk datang. Tiada diceritrakan dalam perjalanan dengan menunggangi kuda putih, hanya giginya yang hitam, setelah sampai di Mas, turun dari kuda tunggangannya, tetapi Ki Bandesa ada di luar, sedang duduk-duduk di bale-bale, melihat kedatangan I Gusti Dawuh Baleagung, disapa oleh Ki Bandesa Mas : “Tuanku baru datang, istirahatlah sebentar”. Lalu Ki Bandesa, duduk dan mendekat disamping tamu yang baru datang, di sana bersendagurau dengan I Gusti Panyarikan, banyak hal yang diperbincangkan. I Gusti Panyarikan, bertanya : “Ya tuanku sang Pendeta, siapakah yang seharusnya mengatur negara ?” Sang Dwija, menjawab : ” Dalam sastra begini, dalam sastra begini”.Lagi bertanya : “Apakah pegangan orang dalam peperangan?” Sang Dwija, menjawab : “Dalam sastra begini”. Terdiamlah Kiyayi Panyarikan, sambil memamah sirih, setelah melemparkan sepahnya (tembakau), lagi bertanya : “Bagaimana halnya dalam bercumburayu?”. Segera dijawab, dalam sastra begini.

Bagaimana orang menjalankan keyakinan ? Apa yang dimaksud dengan Panca Sradha ? Dijawab oleh sang Dwija : “Dalam sastra begini”. Bingunglah Ki Gusti Panyarikan, mendengar semua ucapan sang Dwija, lalu turun dari tempat duduknya, oleh karena kebingungan dan diamlah Ki Gusti Panyarikan.

Berkata sang Pandya : “Mengapa engkau berdiam diri Kiyayi, tidak bertanya lagi, baru sedikit yang dibicarakan, banyak lagi yang ketinggalan”. Menjawablah Kiyayi Panyarikan : “Bagaimana luasnya lautan, walaupun dicarikan tempat, tetapi semuanya akan penuh”. Karena Tuanku berbadankan sastra.

Tiada banyak dapat diceritrakan pri hal tersebut, lalu Kiyayi Dawuh, berguru dan didiksa di Mas. Adapun tujuan sang raja, agar Kiyayi kembali pulang pagi itu juga, untuk mengantarkan sang Pandya, itulah sebabnya ia terlambat.

Adapun pagi-pagi benar, begitu matahari terbit, ia kembali pulang, dengan mengantarkan sang Pandya. Tiada diceritrakan dalam perjalanan, sampailah di Gelgel, namun sang raja tidak ada di Puri, karena telah pergi ke Padhang, lalu beliau berdua pergi ke Padhang, setelah sampai di Padhang, diliputi rasa sedih sang raja Waturenggong. Sang raja berkata :” Ai Panyarikan, engkau adalah orang tua, menyimpang dari perjanjian engkau, apakah begini prilaku orang tua?” Ai Panyarikan, antarkan istirahat beliau sang Pandya di Parhyangan Mpu Kuturan, diamkanlah.

Tersebut di luar banyaklah para Punggawa dan tanda mentri, yang bersama-sama tinggal di pasanggrahan, tiada terhingga hidangan yang dipersembahkan kepada Sang Wawurawuh, oleh sang raja, lengkap dengan sad rasa, datang dan mendekatlah sang raja dan sang raja berkata : “Ya Tuanku Pendeta baru datang ?” “Ya Tuanku raja, aku baru datang, tuan rasanya masih ragu dan curiga kepada Kiyayi Panyarikan, tapi janganlah demikian, karena Sanghyang Dharma tiada celanya, apakah tuanku mau memaafkan, amat senang hti sang raja, bagaikan disucikan”.

Sang Pandya berkata lagi : “Apakah tuanku mencari ikan, menjala, menjaring dan berburu ?”. Sang raja menjawab : “Ya Tuanku, namun sayang hamba tiada mendapatkan ikan”. Sang Pandya berkata : “Ai kaki Arya, segera bentangkanlah jala dan jaringnya, lalu dikumpulkan semua nelayan, untuk memasang jala dan jaring, datanglah ikan-ikan itu”. Bagi yang berburu, banyak mendapatkan binatang buruan, mereka datang, karena ditarik oleh sang Pandya, seketika senanglah hati Dalem, lalu pulang ke tempat istirahat.

Sang Pandya, kembali duduk di tempat semula, di Parhyangan Mpu Kuturan, setelah malam, besok paginya, kembali Ida Dalem ke Puri Gelgel, bersama-sama para punggawa dan tandamentri, yang mengikuti dari belakang, sedangkan sang raja dan sang pendeta, berjalan bersama-sama berdua, sama-sama menaiki kereta, diikuti oleh Kiyayi Panulisan, sampailah di sungai Unda, banjirlah sungai itu kereta tidak bisa melewati, lalu sang Dwija berkata : “Apakah tuanku dihalangi oleh aliran sungai ?” Menjawab sang raja : ” Air sungai banjir, aku tidak bisa menyeberang”. Tuanku belum mengetahui ilmu Siksa Aswa, untuk menyeberangi sungai. Lalu beliau bertanya dan segera diberitahu, setelah itu beliau mengibaskan cemeti, ujungnya keluar api, pangkalnya mengeluarkan air amertha, dengan demikian segera kuda dapat melewati air, tenggelam kakinya hanya sepergelangan, amat heran orang yang melihatnya. Tiada berselang lama sampailah di Puri Gelgel, sang pendeta diistirahatkan di Katyagan (tempat pendeta), amat utama layanan Dalem. Ketika itu Ida Dalem berkata kepada Danghyang :”Tuanku pendeta, Kiyayi Dawuh lebih dulu berguru pada Tuanku, oleh karena telah didahului oleh Kiyayi Dawuh, apa wajar demikian ?” Danghyang Dwijendra berkata : “Tidak ada Sanghyang Aji berkurang, bagaikan air yang mengalir, itulah sebabnya sang raja tidak mau disucikan, diamkanlah sebentar.

Adapun Ki Gusti Dawuh Baleagung, selalu dekat untuk berguru kepada Sang Pandya, lalu Ki Dawuh mempersembahkan putrinya kepada sang guru, lalu diserahterimakan kepada putranya Ida Ler oleh Danghyang, berputra 2 orang laki-laki, bernama Ida Wayan Burwan dan Ida Ketut Burwan.

Entah berapa lama Danghyang Dwijendra tinggal di Bali, tinggal di Geria Mas, dua tempat tinggal beliau yakni Swecapura/Gelgel, adapun pada hari purnama tilem, bertemulah sang Pandya kepada Dalem, dihormati oleh Dalem, demikian pula sebaliknya, dengan memberi air pembasuh, sehingga Dalem mengetahui tentang kemampuan sang Dwija, seakan-akan mempengaruhi dirinya, bagaikan penjelmaan Wisnu, tetapi sayang beliau belum didiksa, karena didahului oleh Kyayi Dawuh Baleagung, diamkan sebentar.

Tersebutlah beliau yang bernama Danghyang Angsoka, merupakan kakak dari Danghyang Dwijendra, beliau menggubah Smarancana, untuk dikirim ke Bali, lalu dibalas oleh adiknya dengan gubahan Sara Kusuma, sehingga Dalem mengetahuinya, demikianlah hakekatnya, akhirnya Dalem ingin berguru kepadanya, tetapi Danghyang Angsoka tidak memenuhinya. Danghyang Angsoka berkata : “Di sini telah tinggal adikku, yang telah melebihi kemampuanku, beliaulah hendaknya menjadi guru suci (Nabe)”, demikian penegasan Danghyang Angsoka. Tiada diceritrakan beliau Danghyang Angsoka, lalu menampakkan diri Hyang Mahadewa di gunung Agung, disertai oleh Sanghyang Bodha, datang berwujud niskala di Gelgel. Beliau berkata :” Anakku Sri Aji Waturenggong, jika anakku tidak jadi berguru kepada Danghyang Dwijendra, sebab tidak ada pendeta yang melebihi beliau, masyarakat akan kacau, penyakit merajalela, wabah bertambah banyak, musuh banyak, tidak aman negara oleh anakku”. Lalu Dalem Waturenggong mengikutinya, seperti sabda Sanghyang Mahadewa dari gunung Agung. Lalu Danghyang Dwijendra mensucikan Sri Aji Waturenggong, dewasa atau hari baiknya pada purnamaning sasih kapat (Oktober), menobatkan Danghyang Dwijendra menjadi Nabe. Pada saat itu juga beliau sang raja menghadiahkan makanan, perhiasan yang serba suci kepada Danghyang Dwijendra, semua isi laut dan gunung, tak dapat diceritrakan persembahannya. Ada bhisama Danghyang Dwijendra :”Anakku, hakekat keutamaan Puri/istana, saat anakku melakukan pujaan (puja stawa), janganlah memakai genta, angkuh namanya, melewati Bhatara, amat berbahaya. Setelah selesai didiksa, beliau berganti bhusana, negara aman, tetapi ada juga Sri Aji Karahengan dasi Sasak, sering kali melakukan peperangan terhadap wilayah Dalem utamanya yang di pinggir pantai, dan banyaknya rakyatnya yang takluk. Lalu Sri Aji Waturenggong menyampaikan hal itu kepada Danghyang : “Menyampaikan bahwa Sri Aji Karahengan, amat sakti, bisa menghilang dan terbang”.

Danghyang Dwijendra menjawab :”Anakku, sekarang aku memberi pusaka pegangan, carilah cawet/pakaian putih selembar, ” lalu segera diserahkan, dan diisi ikatan lingkar tiga (saet mingmang), lalu dimentrai oleh sang Dwija, dengan Weda utama, sebagai pakaian perang, nama mantra itu masredah.

Setelah berselang beberapa hari datanglah Sri Aji Karahengan, bertemu dengan Sri Aji Waturenggong.

Marilah ceritrakan perjalanan Danghyang Dwijendra menuju Sasak, dengan menaiki perahu dan terus berlayar, setelah sampai di Sasak, langsung menuju tempat paruman/rapat di kediaman Sri Aji Karahengan, dan langsung menuju istananya, bertemu dengan Sri Aji Karahengan, lalu Sri Aji menyapa kedatangan beliau, lalu duduk bersama-sama, Danghyang Dwijendra berkata :”Ada permohonan beliau Sri Aji Waturenggong, terhadap tuan Sri Aji Karahengan, untuk melaksanakan persahabatan, untuk itu beliau memohon putri tuanku, untuk dijadikan permaisuri oleh Sri Aji Waturenggong”.

Sri Aji Karahengan menjawab :”Ya tuanku sang pendeta agung, saya tidak akan menyerahkan putri saya, lebih baik tuanku pulang saja, karena saya tidak dapat memenuhi permintaan tuanku”.

Lalu Danghyang Dwijendra keluar dari istana dan mengutuknya :”Semoga Sri Aji Karahengan, hilang kekuatannya, semoga hancur pemerintahannya”, setelah mengutuk lalu beliau kembali dan sampai di tepi laut, lalu menaiki perahu, berlayar menuju Bali.

Tiada beberapa lama sampailah beliau di Gelgel, langsung menghadap Sri Aji Waturenggong, sang raja menyembah, setelah duduk bersama-sama, sang raja bertanya :”Apakah berhasil tuanku melamar putri Sri Aji Karahengan ?”

Danghyang Dwijendra segera menjawab :”Ya tuanku raja, paman tiada berhasil, namun sebelum pulang, paman telah mengutuknya, kesaktiannya punah dan berakhir menjadi ksatria”.

Setelah beberapa lama Danghyang Dwijendra mohon diri kepada Sri Waturenggong, untuk tirthayatra mengelilingi Bali, tiada terceritrakan dalam perjalanan, datanglah beliau di pinggir Bali bagian barat, mengarah ke barat daya perjalanan beliau, mengikuti tepi pantai, sekembali dari Jembrana, bertemu dengan seseorang di pinggir laut. Orang tersebut menyapanya :”Ya tuanku pendeta utama, kemanakah perjalanan tuanku, janganlah tergesa-gesa, lebih baik tuanku mampir dan istirahat sebentar, hamba akan memberi suguhan, di sini ada tempat suci penyungsungan hamba, amat luar biasa saktinya, adapun jika ada orang yang lewat di tempat ini, jika tidak menyembah di Kahyangan ini pasti akan disergap oleh harimau, marilah tuanku datang untuk melakukan sembah di Kahyangan hamba, maka akan selamat perjalanan tuanku”.

Danghyang Dwijendra menjawabnya :”Jika demikian kehendak paman, silahkan antarkan saya, agar sampai di Kahyangan paman”.

Lalu diantarlah sang pendeta, sesampainya di tempat itu, lalu duduk dan memusatkan pikiran, pranayama, mengatur nafas, setelah yoganya sempurna, rebah dan hancurlah gedong Kahyangan itu bersih bagaikan disapu, dilihat oleh sang empunya, lalu menangis dan mohon maaf atas kesalahannya. Lalu memohon :” Ya tuanku sang Mahamuni, hendaknya tuanku sudi kiranya memaafkan hamba dan kembalikanlah Kahyangan kami seperti sediakala, agar supaya ada yang hamba sembah:.

Sang pendeta berkata :”Jika demikian kehendakmu, saya akan memberi anugrah padamu, lalu beliau memusatkan pikiran, segera berdiri seperti semula, lalu sang pendeta menyerahkan rambutnya untuk dipuja di tempat itu serta menegaskan ini rambutku puja di sini”.

Ketika itu amat bahagia hatinya, mohon maaf dan menyembah, lalu Kahyangan itu dipakai tempat pemujaan, diberi nama Rambutsiwi, sampai saat ini.

Diceritrakan Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan, dengan segera meninggalkan Kahyang tersebut, dan ada orang-orang yang mengiringinya. Adapun beliau Danghyang berjalan mengikuti tepi pantai dengan perasaan parama suka, indah menawan segala yang dilewati, di tengah laut bagaikan gunung yang kokoh, suci tak terhingga, lalu ada keinginan beliau untuk mendirikan Parhyangan di tempat itu di laut ada orang-orang yang menjala ikan, orang-orang itu dipanggilnya agar orang-orang sekitarnya untuk membuat Parhyangan di atas tebing laut yang suci, Parhyangan itu diberi nama Pura Pakendungan, tempatnya di tengah laut, di wilayah Tabanan.

Tersebutlah Danghyang Dwijendra, melanjutkan perjalan ke arah tenggara, lalu beliau ke arah barat daya, ada tebing yang menonjol ke laut, di Bukit Badung tempatnya, lalu beliau menuju tempat itu dengan mengikuti tepi pantai, tiada berapa lama sampai beliau di sana, lalu beliau melihat disekeliling tempat itu, ke utara, ke barat, ke selatan, ke timur, beliau melakukan yoga di sana, lalu beliau membuat Parhyangan, tiada lama setelah selesai dan diupakarai, Parhyangan itu diberi nama Uluwatu, tidak jauh dari tempat itu beliau mendirikan pasraman, disebut Pura Bukit Gong.

Adapun setelah itu beliau melanjutkan perjalanan, ke arah timur, tiada diceritrakan dalam perjalanan sampailah beliau di Goa Watu Pageh, di tempat itu beliau mendirikan Parhyangan, disebut Pura Guha Watu Pageh, sampai saat ini. Dari tempat ini beliau menuju Bwalu, di tepi pantai, di arah selatan timur/tenggara Bwalu, ada tebing yang menonjol ke laut, di tempat itu beliau istirahat, dengan menancapkan payungnya, seketika keluar air dari tempat menancapkan payung itu, air itu dipakai untuk penyucian, dipeliharalah air suci itu oleh orang-orang di sana, merupakan tempat sumber kehidupan, lalu diberi nama Pura Bukit Payung, sampai saat ini.

Setelah beliau meninggalkan tempat itu dan menuju arah utara, tiada jauh dari tempat itu tersebut ada Giliwatu (Pulau Batu), di tengah-tengahnya ada pulau kecil, disebut Nusa Duwaning Loka, di tempat itu beliau istirahat serta mengarang Kekawin, yaitu Anyang Nirartha, setelah selesai menggubah karangan, beliau melanjutkan ke arah utara, sampailah beliau di Serangan, di tepi Serangan di arah barat laut, amat senang hatinya, melihat keindahan alam laut, lalu Danghyang istirahat di tempat itu mendirikan Parhyangan di tengah pulau kecil itu, tiada terbilang kesucian Parhyangan itu diberi nama Pura Sakenan, bertambahlah keindahan samudra karena kesucian pura tersebut, jernih air lautnya, tiada celanya, amat senanglah hati beliau tinggal di sana, banyaklah keindahan kalau diceritrakan.

Marilah ceritrakan kembali, keberadaan Guha Watu Pageh, yang berada di ujung selatan pulau Bali, banyak terdapat pohon rangdu/kapuk, bagaikan rambut orang yang mengurai, indah tiada tandingan, oleh karena itu banyak orang datang untuk mencari kesucian bathin. Dungusing kidul, artinya dungus artinya hidung, puncak atau ungasan; kidul artinya selatan. Guha Watu Pageh ri dungusing kidul pulau Bali artinya Guha Watu Pageh ring Pradesa Ungasan.

Ada ceritra lain tatkala masa pemerintahan beliau Cokorda Pamecutan, pada tahun Saka Netra Asti Rasa Bhumi, Netra = mata = 2; Asti = gajah = 8; Rasa = sad rasa = 6; Bhumi = dunia = 1. Menunjukkan tahun Saka 1682, beliau saat itu ke ujung selatan Bandhana negara atau wilayah Badung, karena daerah itu wilayah kekuasaan beliau, di sana di tengah hutan, yang diselimuti oleh keindahan pohon kapuk, pada musim sasih Kapat, yang mendatangkan rasa indah menawan, di tempat itu beliau bertapa, beryoga, memusatkan pikiran, beliau mendapatkan anugrah dari Hyang Widhi. Beliau itu adalah raja penguasa di Pamecutan, dan berhasil dalam yoga di Guha Watu Pageh, lalu beliau memberikan anugrah kepada pemimpin wilayah di sana di Pradesa Ungasan, menjaga dan mengatur serta angempon Pura Guha Watu Pageh, ditetapkan menjadi Pamangku turun-temurun, sampai sepanjang jaman, bersama dengan pemberian Catu/laba, untuk membiayai upacara dan upakara linggih Danghyang dan Dewa-Dewa penguasa alam.

Ini adalah Dharmayatra Danghyang Dwijendra, perjalanan suci Danghyang Dwijendra, serta keberadaan Dang Kahyangan yang ada di pulau Bali. Prasasti ini telah diplaspas dan dipasupati, dipakai piagam, serta mengingatkan para keturunan Pamangku Pura Watu Pageh. Demikianlah ceritranya.

Ya Tuhan, hambamu mohon maaf.

Semoga semuanya berbahagia, selamat dan damai. Selesai.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s