Pura Kahyangan Jagat

Pengertian Pura

Istilah Pura dengan pengertian sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali, tampaknya berasal dari jaman yang tidak begitu tua. Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari kata Sanskerta itu berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi. Sebelum dipergunakannya kata Pura untuk manamai tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata Kahyangan atau Hyang. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua kita temui di Bali, ada disebutkan di dalam prasasti Sukawana A I tahun 882 M. Kata Hyang yang berarti tempat suci atau tempat yang berbubungan dengan Ketuhanan.

batu madeg

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/Dewa dan Bhatara, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yaitu :

  • Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/Dewa.
  • Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Bhatara yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat istilah pura yang berfungsi ganda yaitu selain untuk memuja Hyang Widhi/Dewa juga untuk memuja Bhatara. Hal itu dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa setelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan siddha dewata (telah memasuki alam dewata) dan disebut Bhatara.

Fungsi pura tersebut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti : ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran).

Ikatan Sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru). Ikatan Politik antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan Ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan, berdagang dan lain-lainnya. Ikatan Geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.

Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut, maka terdapatlah beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut:


1) Pura Umum.

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa ). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat. Pura-pura yang tergolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah Pura Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala dan Pura Sad Kahyangan, Pura Jagat Natha serta Pura Kahyangan Tunggal.

Pura lainnya yang juga tergolong Pura Umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang Pendeta Guru Suci atau Dang Guru. Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi Rna. Pura-pura tersebut ini tergolong ke dalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti : Pura Rambut Siwi, Pura Purancak, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Sakenan dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayatra yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari Kerajaan yang pernah ada di Bali, seperti Pura Sakenan dan Pura Taman Ayun yang merupakan Pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pernah ada di Bali, sekurang-kurangnya mempunyai jenis pura, antara lain : Pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, Pura Puncak yang ter!etak di bukit atau pegunungan dan Pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu : Pura Gunung, Pura Pusat Kerajaan dan Pura Laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan lautan sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.


2) Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga yaitu : Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan perkataan lain, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan.

Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, seperti Pura Desa sering juga disebut Pura Bale Agung. Pura Puseh ada juga disebut Pura Segara, bahkan Pura Puseh Desa Besakih disebut Pura Banua. Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun Pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki Setra (Kuburan).

Di samping itu banyak juga terdapat Pura yang disebut Dalem juga tetapi bukan unsur Kahyangan Tiga seperti : Pura Dalem Mas Pahit, Pura Dalem Canggu, Pura Dalem Gagelang dan sebagainya. Di dekat Pura Batukaru terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan Pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan Pura Batukaru. Masih banyak ada Pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan Pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan Pura Luhur Uluwatu.


3) Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional dimana umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti : bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Empelan yang sering juga disebut Pura Bedugul atau Pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal Pura Ulun Carik, Pura Masceti, Pura Ulun Siwi dan Pura Ulun Danu.

Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pemujaan seperti tersebut di atas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut Pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya.

Berdagang merupakan salah satu sistem mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud Pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.


4) Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari Pura Warga atau Pura Klen. Dengan demikian maka Pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan.

Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mempunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadia sehingga mereka disebut Tunggal Dadia. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family).

Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak- anak mereka yang belum kawin. Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut Sanggah atau Merajan yang juga disebut Kemulan Taksu, sedangkan tempat pemujaan keluarga luas disebut Sanggah Gede atau Pemerajan Agung.

Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadia) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadia. Anggota kelompok kerabat tersebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut Pura Paibon atau Pura Panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu ada yang menyebut Pura Batur (Batur Klen), Pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Di dalam Lontar Siwagama ada disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat Pura Panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan Pura lbu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat pelinggih Pratiwi dan setiap keluarga batih membuat pelinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci.


Tentang pengelompokan Pura di Bali ini, dalam Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :

Berdasarkan atas fungsinya :

  1. Pura Jagat, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawanya-Nya (manifestasi-Nya), dan dapat digunakan oleh umat untuk melaksanakan pemujaan umum, seperti Purnama Tilem dan hari raya Hindu lainnya tanpa melihat asal, wangsa yang bersangkutan.
  2. Pura Kawitan, yaitu Pura sebagai tempat suci untuk memuja Atma Siddha Dewata (Roh Suci Leluhur), termasuk di dalamnya: sanggah, merajan, paibon, kamulan, dadia dan pedharman.

Berdasarkan atas karakterisasinya :

  1. Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam segala Prabhawa-Nya misalnya Pura Sad Kahyangan dan Pura Jagat yang lain.
  2. Pura Kahyangan Desa (Teritorial) yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh Desa Adat.
  3. Pura Swagina (Pura Fungsional) yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti : Pura Subak, Melanting dan sebagainya.
  4. Pura Kawitan, yaitu pura yang penyungsungnya ditentukan oleb ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: Sanggah, Merajan, Pura lbu, Pura Panti, Pura Dadia, Pura Padharman dan yang sejenisnya.


Pura Kahyangan Jagat

Sesuai arti harafiahnya, Pura Kahyangan Jagat adalah pura yang universal. Seluruh umat ciptaan Tuhan sejagat boleh bersembahyang ke sana. Pura Kahyangan Jagat tersebar di seluruh dunia. Di Bali karena berkaitan dengan sejarah yang berusia panjang, Pura Kahyangan Jagat digolong-golongkan dengan beberapa kerangka (konsepsi). Misalnya kerangka Rwa Bineda, kerangka Catur Loka Pala dan sebagainya.

Umumnya, yang kita sebut dengan jagat, sesuai dengan pengertian leluhur kita adalah Bali. Padahal kini kebanyakan dari kita berpandangan jagat adalah dunia, bahkan ada yang langsung berasumsi bahwa jagat adalah kawasan semesta, lengkap dengan seluruh konstelasi bintang, nebula, komet sampai lubang hitam.

Marilah kita mulai berpikir lebih luas. Bayangkan bahwa Kahyangan Jagat dalam Hindu nanti akan mencakup pura Mandara Giri Semeru Agung di Senduro, Pura Luhur Poten di Bromo, Pura Jagatkerta Gunung Salak di Tamansari, Pura Payongan Agung Kutai di Kalimantan, bahkan Pura Agung Santi Buana di Belgia.

Mungkin tidak lama lagi kita akan punya Pura Kahyangan Jagat di tiap benua, bahkan tiap negara, bahkan mungkin di antartika sekali pun. Sebenarnya leluhur kita juga sudah berpikir ke arah sana, karena itu Beliau tidak menamai konsep mereka dengan Kahyangan Bali atau Kahyangan Jawa atau lainnya. Kita inilah yang harus terus mengembangkan diri baik dari sisi sekala mau pun niskala.

Pura Kahyangan Rwa Bineda

  • Purusa [Pura Besakih]
  • Pradana [Pura Ulun Danu Batur]

Pura Kahyangan Catur Loka Pala

  • Utara | Uttara [Pura Puncak Mangu]
  • Timur | Parwa [Pura luhur Lempuyang]
  • Selatan | Daksina [Pura Andakasa]
  • Barat | Pascima [Pura Luhur Batukaru]

Pura Kahyangan Sad Winayaka atau Pura Sad Kahyangan

  • Pura Besakih
  • Pura Luhur Lempuyang
  • Pura Gua Lawah
  • Pura Uluwatu
  • Pura Batukaru
  • Pura Pusertasik

Pura Kahyangan Padma Bhuwana

  • Tengah | Madya [Pura Pusering Jagat]
  • Utara | Uttara [Pura Batur]
  • Timur Laut | Ersanya [Pura Besakih]
  • Timur | Purwa [Pura luhur Lempuyang]
  • Tenggara | Gneya [Pura Gua Lawah]
  • Selatan | Daksina [Pura Andakasa]
  • Barat Daya | Neritya [Pura Uluwatu]
  • Barat | Pascima [Pura Batukaru]
  • Barat Laut | Wayabya [Pura Puncak Mangu]


Pura Kahyangan Jagat Menurut Lokasi

Kabupaten Badung

  • Pura Uluwatu
  • Pura Padedekan Mengwi
  • Pura Dalem Puri Puserjagat Sobangan
  • Pura Pucak Mangu
  • Pura Pucak Bon
  • Pura Dalem Solo
  • Pura Pucak Gegelang
  • Pura Hyang Api
  • Pura Kancing Gumi
  • Pura Bukit Sari Sangeh

Kabupaten Bangli

  • Pura Bukit Mentik
  • Pura Jati
  • Pura Dalem Balingkang
  • Pura Ulun Danu Batur
  • Pura Ulun Danu Batur Songan
  • Pura Penulisan
  • Pura Bukit Indrakila

Kabupaten Buleleng

  • Pura Penegil Darma
  • Pura Gambur Anglayang
  • Pura Ponjok Batu
  • Pura Pulaki
  • Pura Pabean
  • Pura Pucak Manik
  • Pura Melanting
  • Pura Kerta Kawat
  • Pura Pemuteran
  • Pura Bukit Sinunggal
  • Pura Segara Rupek

Kota Denpasar

  • Pura Griya Tanah Kilap
  • Pura Prapat Nunggal
  • Pura Taman Ayung
  • Pura Dalem Pangembak
  • Pura Candi Narmada
  • Pura Sakenan

Kabupaten Gianyar

  • Pura Gunung Raung
  • Pura Samuan Tiga
  • Pura Erjeruk
  • Pura Masceti
  • Pura Gunung Kawi Sebatu
  • Pura Dalem Pingit Sebatu
  • Pura Tirta Empul
  • Pura Pusering Jagat
  • Pura Penataran Sasih
  • Pura Kebo Edan
  • Pura Gua Gajah
  • Pura Pangukur-ukuran
  • Pura Selukat
  • Pura Bukit Jati
  • Pura Bukit Darma

Kabupaten Jembrana

  • Pura Rambut Siwi
  • Pura Amertasari

Kabupaten Karangasem

  • Pura Lempuyang Luhur
  • Pura Penataran Agung Besakih
  • Pura Dalem Puri
  • Pura Gelap
  • Pura Batu Madeg
  • Pura Merajan Selonding
  • Pura Merajan Kanginan
  • Pura Gua Raja
  • Pura Bangun Sakti
  • Pura Pesimpangan
  • Pura Kiduling Kreteg
  • Pura Jenggala atau Pura Hyang Haluh
  • Pura Manik Mas
  • Pura Pasar Agung
  • Pura Pengubengan
  • Pura Tirta
  • Pura Ulun Kulkul
  • Pura Banua Kawan
  • Pura Basukihan
  • Pura Pajinengan
  • Pura Andakasa
  • Pura Silayukti
  • Pura Dalem Pandawa
  • Pura Dukuh Sakti Catur Lawa

Kabupaten Klungkung

  • Pura Dasar Buana
  • Pura Segara Watuklotok
  • Pura Gua Lawah
  • Pura Penataran Peed
  • Pura Gua Giri Putri
  • Pura Segara Peed
  • Pura Taman Peed
  • Pura Agung Kentel Gumi

Kabupaten Tabanan

  • Pura Tambawaras
  • Pura Muncaksari
  • Pura Batukaru
  • Pura Batu Belig
  • Pura Besikalung
  • Pura Terate Bang
  • Pura Tanah Lot
  • Pura Luhur Serijong
  • Pura Luhur Natar Sari Apuan
  • Pura Pucak Geni

Luar Pulau Bali

  • Pura Mandara Giri Semeru Agung
  • Pura Payogan Agung Kutai
  • Pura Ponten Bromo
  • Pura Jagatkerta Gunung Salak
  • Candi Agung Gumuk Kancil

Luar Negeri

  • Pura Santi Bhuwana Belgia
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s