Pura Batu Bolong – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga selamat dan berhasil.

Permohonan maaf hamba kehadapan Tuhan jungjungan hamba, terutama Bhatara Hyang Pasupati, yang berstana di alam gaib, yakni di gunung Jambhudwipa, maafkanlah hamba ya Bhatara sekalian, yakni yang telah berbadankan OM-kara, yang berwujud suci dan mulia, agar beliau yang berwujud Maha Yogi, perkenan memberi anugrah, tersebutlah ceritra kuno menceritrakan orang-orang yang telah Amor Ing Acintya, maafkanlah hamba, lepaskan dari segala kekotoran, kenistaan dan dosa, agar hamba tiada kualat, kehadapan Bhatara jungjungan hamba, semoga hamba mendapatkan kesempurnaan dan keselamatan, sampai keluarga dan keturunan hamba, semoga dunia sejahtra.

Lontar

Inilah ceritra tentang Parhyangan. Pada jaman dahulu, ada suatu kekuatan yang hebat dan belum ber- Parhyangan, bertaring yang tajam, menakutkan, bagaikan raksasa yang loba, moha dan murka, serta mencela sastra yang ada, ya itulah yang dimusnahkan, setelah hilang semua bentuk kejahatan, kembali ke alam sorga, entah berselang beberapa lama, lalu diutuslah beliau menjelma kembali, berwujud gaib bagaikan Ardhanareswari, yang akhirnya menggaib dalam sebutir kelapa, diputar dengan pedang, setelah diupacarai dan disucikan, oleh beliau yang berada di Tohlangkir, diperintahkan oleh Hyang Pasupati, agar menjadi raja di Bali, setelah dinobatkan menjadi raja di Bali bergelar Sri Aji Masula-Masuli, lalu dikawinkan dengan adiknya, tak terceritrakan tentang kemakmuran negara, akibat dari penjelmaan beliau, entah berapa lamanya beliau memerintah, berganti-ganti, sampai batas waktunya, semuanya moksa menyatu dengan Tuhan, demikianlah disebutkan dalam Usana.

Tersebutlah beliau Hyang Bhatara Pasupati yang berstana di gunung Mahameru, Beliau amat kasihan melihat pulau Bali dan Selaparang dalam keadaan tidak seimbang, selalu bergoyang Bali dan Selaparang, itulah sebabnya diciptakan 4 buah gunung di Bali, yaitu gunung Catur Lokapala, di timur gunung Lempuyang, di selatan gunung Andakasa, di barat gunung Watukaru, dan gunung Bratan, adapun di utara adalah gunung Mangu, yang dekat dengan gunung Tulukbiyu, itulah yang menyebabkan tenangnya Hyang Haribhawana. Tatkala goncangnya pulau Bali, tatkala itu Hyang Pasupati, memotong puncaknya gunung Mahameru dibawa ke pulau Bali dan Selaparang, Ki Badawangnala menjadi dasarnya gunung, Sang Naga Basukih sebagai pengikat gunung, Sang Naga Taksaka menerbangkan gunung, demikianlah ceritranya.

Tersebutlah pada hari Kemis Kliwon, pertiti Jati, pada bulan mati ke-15, tahun Saka 11, mulai saat itu pulau Bali berhenti bergoyang , demikianlah ceritranya.

Demikianlah anakku para Dewata semuanya, dijumpailah gunung Agung, yang disebut rajanya gunung, tempatnya di timur laut, adalah gunung mas yang pucaknya adalah permata, dasarnya batu permata indah, krikilnya mirah, pasirnya batu permata, itu asalnya dari gunung Mahameru, dulu ayahmu membawanya ke pulau Bali, ayah bagi 3 : sebagian menjadi gunung Tampud, pusatnya api, di dasar dunia, sebagian lagi menjadi gunung Rinjani dan puncaknya menjadi gunung Tohlangkir, yang disebut gunung Agung, dan puncak-puncaknya yang lain menjadi deretan pegunungan dan bukit-bukit, lebih kecil dari gunung Agung, dari timur memulainya : yaitu gunung Tapsahi, baratnya gunung Pangelengan, gunung Mangu, baratnya gunung Silanjana, baratnya gunung Bratan, baratnya gunung Batukaru, baratnya pegunungan Nagaloka, baratnya gunung Pulaki, mengarah ke tenggara dari sana adalah gunung Pucak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, di sebelah timur gunung Pucak Padangdawa, di pesisir selatan gunung Andakasa dan Uluwatu, arah timur tenggara ada gunung Byaha dan Biyas Muntig, paling timur gunung Lempuyang, ke utara gunung Sraya, demikianlah gugusan gunung-gunung yang ada di pulau Bali. Gunung-gunung itu semuanya adalah tempatnya Dharma (Pura) Kahyangan stana para Dewa.

Entah berselang beberapa lama, tepatnya pada hari siwa kuye, wuku Prangbakat, pang. 15, tahun Saka 15 dan juga sebelumnya tahun Saka 13, meletuslah gunung Tohlangkir, muncullah Bhatara Putranjaya, Bhatari Dewi Dhanuh, yang berparhyangan di Ulundanu, yakni Tampurhyang, adapun Bhatara Putranjaya, berparhyangan di Basukih, yang merupakan hulu kerajaan Gelgel. Demikian juga Bhatara Brahma, bergelar Hyang Gnijaya, berparhyangan di Lempuyang, demikianlah tersebut dalam ceritra.

Marilah kita dengarkan ceritranya, yaitu adanya Bhatara Tiga, yang datang ke pulau Bali, yang diutus oleh Bhatara Jagatkarana, perintahnya : “Ai, kamu anakku Hyang Tiga, Mahadewa, Dewi Danuh, Gnijaya, sekarang tiada lain anakku, hendaknya engkau turun, datang ke Bali, untuk mengayomi Bali, karena amat sepi pulau Bali, untuk di sembah oleh seluruh rakyat Bali, sampai akhir jaman”, demikianlah perintah Bhatara Kasuhun. Menyembahlah Sang Bhatara Tiga : ” Ya Tuhanku, bukanlah hamba menolak perintah Tuhanku, tetapi oleh karena hamba masih kanak-kanak, hamba sama sekali tidak tahu jalan”. Bhatara bersabda : ” Anakku Hyang Tiga, janganlah khawatir anakku, ayah memberi anugrah kepada anakku, oleh karena engkau adalah putraku, inilah anugrahku, terimalah jangan khawatir”. Menyembahlah Bhatara Tiga Sakti, dengan menundukkan kepala, karena telah diberi bisikan rahasia, amat banyak jika diceritrakan. Setelah Bhatara Tiga mendapatkan anugrah, dimasukkan secara gaib beliau pada sebutir kelapa (kelapa gading), berjalan di bawah lautan, segera tiba di pantai selatan, lalu masuk pada belahan batu (goa batu), muncullah beliau di Batur (danau Batur). Itulah sebabnya Bhatara Mahadewa Putranjaya, berstana di Basukih, Bhatara Gnijaya di Lempuyang, adapun beliau Dewi Danu lalu berstana di Ulundhanu, yang dahulu disebut Tampurhyang. Demikianlah adanya Hyang Tiga Bhatara Sakti, disebut dalam Usana.

Arti dari Welahan Sila, welah = belah = sigar, berupa saluran; sila = watu = batu; welahan sila = saluran air yang ada pada belahan batu, lama- kelamaan menjadi Watubelah, Watusigar, lebih dikenal Watubolong atau Batubolong. Sebagai pertanda sampai saat ini ada sumber air tawar, di tengah laut, yang dianggap sebagai Panglukatan, panglebur segala macam kekotoran, segala yang tidak baik atau dosa, yang merupakan aliran dari danau Batur. Demikian juga sebagai tempat pasucian (patirthan) oleh para Hyang-Hyaning Wukir, yang sebagai lingga para dewa, dari dulu sampai sekarang.

Marilah kita ceritrakan yang lain, yaitu putra Sanghyang Pasupati, yang diturunkan ke Bali, yang disembah oleh seluruh rakyat Bali, ada yang menyertai Sanghyang Putranjaya, yaitu : Bhatara Tumuwuh, berparhyangan di gunung Watukaru; Bhatara Hyang Manik Kumawang, berparhyangan di gunung Bratan; Bhatara Hyang Manik Galang, berparhyangan di Pejeng; Bhatara Hyang Tugu, berparhyangan di gunung Andakasa, bersama-sama beliau melakukan yoga samadhi, indahlah Parhyangan beliau, tiada bandingannya, demikianlah disebutkan Bhatara yang berada di pulau Bali, janganlah tidak percaya, karena telah ditulis oleh Dwijendra Wawurawuh, ketika beliau ada di Samprangan.

Ada lagi disebutkan Dewata Nawa Sanggha, yang turun di pulau Bali dan berparhyangan, seperti : di timur, gunung Lempuyang, Parhyangan Hyang Iswara; di selatan, gunung Andakasa, Parhyangan Hyang Brahma; di barat, gunung Watukaru, Parhyangan Hyang Mahadewa; di utara, gunung Batur, Parhyangan Hyang Wisnu; di tenggara Goalawah, Parhyangan Hyang Mahesora; di barat daya, bukit Uluwatu, Parhyangan Hyang Rudra; di barat laut, gunung mangu, Parhyangan Hyang Sangkara,; di timur laut, gunung Agung, gunung Tohlangkir, Parhyangan Hyang Sambhu; di tengah adalah Pusering Jagat, Parhyangan Hyang Siwa. Demikianlah disebutkan dalam Padma Bhuwana, yang berasal dari ringkasan Dasaksara. Ada lagi yang disebut Tri Kahyangan, yaitu : Desa, Puseh dan Dalem, adalah stana Hyang Tri Murti dan Bhatara Akasa, Bhatari Pretiwi dan Bhatara Jagatnatha. Demikian juga yang disebut Sad kahyangan di Bali : Besakih, Lempuyang, Andakasa, Uluwatu, Watukaru dan Batur.

Ai, engkau umat manusia semuanya, janganlah engkau lupa terhadap Ku, Aku adalah asal mula dirimu, aku disebut Sanghyang Guru Reka, pencipta seisi alam semesta, Aku juga disebut Bhatara Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitanmu, Aku adalah penyatuan Siwa Uma Kala, Aku berbadankan Brahma Wisnu Iswara, hendaknya engkau ingat semuanya, maka itulah engkau hendaknya membuat Sanggar Kawitan Rong Tiga, karena berbeda-beda asal-usul orang, tetapi sama kelahiran dari Panca Siwa, Sad Paramartha, termasuk diri- Ku, Aku juga Utpeti, Stiti dan Pralina. Itulah sebabnya engkau harus bakti kepada Kawitan dan jika kamu tidak hormat kepada kawitan, akan dimangsa oleh Sanghyang Kala dan akan mendapatkan bahaya besar, maka itu janganlah lupa.

Sloka. Tak terceritrakan prihal para dewa, yang telah disebutkan dalam ceritra., yakni tentang pertemuan beliau dengan permaisuri masing-masing, marilah sekarang kembali ceritrakan Ida Bhatara Guru. Sloka. Pertemuan Bhatara Guru dengan Asta Dewata dan Catur Lokapala, Dewa Gandharwa, Kinara dan para Daitya Dhanawa, Yaksa Raksasa serta tidak ketinggalan putra Bhagawan Kasyapa, putra Bhagawan Pulaha, Sang Banaspati, Sang Pisaca, Sang Dengen, Sang Bhuta Kubandha Putana, Bogala- Bogali, Ala-Ala, Anja-Anja, semuanya telah hadir dihadapan Sanghyang Jagatpati, menyembah di bawah kaki-Nya. Sabda Bhatara Guru : disuruhlah para Dewa semuanya, supaya siaga berangkat untuk mengambil puncak gunung (Meru), untuk dibawa ke pulau Jawa, sebagai beban, karena pulau Jawa sedang bergoyang, bagaikan perahu di tengah samudra, jika tidak ada Sanghyang Mahameru, sebagai pegangan (lingga) dunia, itulah sebabnya beliau mengutus para Dewa, untuk mengajar orang-orang di pulau Jawa, yang beliau ciptakan dahulu, demikian isi sabda Bhatara Guru.

Semuanya menjawab yakni yang diperintahkan, menghormat/menyembah dengan bunga, memohon diri untuk berangkat ke gunung Mahameru, tiada berselang lama, para Dewa dan Raksasa, membawa puncak gunung Mahameru ke pulau Jawa, lama para Dewa dan Raksasa, menciptakan mandala (dunia), lalu tenanglah pulau Jawa.

Marilah kita ceritrakan kembali, sabda Sri Jagat Guru, kepada para Dewa, Widyadhara/i, diperintahkan turun ke pulau Jawa, mengajar penduduk Jawa, yang telah diciptakan oleh Tuhan, terutama Bhatara Brahma, Wisnu, Iswara dan Mahadewa, karena amat banyak manusia yang telah diciptakan dahulu, yang beranak, bercucu dan berbuyut, manusia telah berkembang pesat, tetapi belum punya rumah, tanpa pakaian, tanpa celana, tanpa kain, tanpa selendang, tanpa ikat pinggang, berambut panjang, masih telanjang, bila berkata, tidak diketahui maksudnya, makanannya adalah daun-daunan, demikianlah kehidupan manusia pada awalnya.

Sloka. Adapun maksud Bhatara Guru, adalah membuat aturan di pulau Jawa, diperintahkanlah para Dewata/i, turun di pulau Jawa, mengajar penduduk Jawa, yakni prilaku manusia di dunia, agar supaya tahu etika, memperindah diri, terutama dewa Brahma, Wisnu, Iswara dan Mahadewa, bersama-sama turun di pulau Jawa, menjalankan perintah Bhatara Guru. Pertama-tama tentang Bhatara Guru, turun ke dunia, yang bersemayam di puncak gunung Brahma. Menjadi guru bagi si Pande Besi, membuat panah, pahat, pacul dan sebagainya. Para Pande Besi itu bernama Mpu Suntiwana. Tidak bisa terlepas dari perwujudan Panca Mahabhuta, prethiwi (bumi), menjadi paron; apah (air) menjadi penjepit, teja (ether) sebagai apinya; bayu (angin) sebagai pengibas; akasa sebagai palu, itulah sebabnya sampai sekarang ada gunung Brahma. Palunya sebesar pohon tal (lontar), sepitnya sebesar pohon pinang. Sanghyang Bayu senantiasa keluar dari kepundan; Sanghyang Agni siang malam mengeluarkan cahaya, demikian ceritranya.

Sloka. Sanghyang Wiswakarma turun ke pulau Jawa, mengajar orang-orang di sana membuat pondok-pondok. Orang yang ahli membuat rumah disebut Undagi. Orang yang pertama kali membuat pondok, rumah dan keraton, desanya kemudian disebut Medangalas, itulah awalnya orang membuat rumah.

Sloka. Sanghyang Mahadewa mengajar manusia membuat perhiasan serba mulia. Nama lainnya Sanghyang Mantana, berarti mas mulia. Beliau sebagai guru dari Pande mas, perak dan tembaga. Orang-orang yang mempunyai pekerjaan sejenis dengan itu disebut Anggaluh.

Sloka. Sanghyang Iswara menjadi pimpinan dari para manusia, menjadi Ramadewa atau Gurudesa. Sang Jogormanik, menjadi Panyarikan Desa. Sang Citragopta, mengajar menulis, menggambar dan mengolah warna. Oleh sebab itu beliau disebut Sang Citrangkara. Sang Dorakala, membuat jalan-jalan.

Sloka. Bhatara Wisnu dengan permaisurinya Bhatari Sri turun ke dunia diutus untuk berkuasa di pulau Jawa, menjadi pusat perhatian dunia, melindungi semua ciptaannya. Beliau bernama Sang Kandyawan, Bhatari Sri bernama Sang Kanyahyun, mengambil wujud Ardhanareswari. Bhatara Wisnu dan Dewi Sri, memerintah di Medang Kamulan. Bhagawan Wiswakarma diperintahkan untuk mendirikan keraton lengkap dengan bagian-bagiannya; balai pertemuan, gapura, istana bagian dalam, balai penghadapan, tembok batas yang diperkuat. Tiada batasnya kekuasaan beliau di atas dunia ini dan mengetahui asal mula segala yang ada..

Sloka. Bhatara Siwa dan Bhatari Uma bersama-sama dengan Bhatara Iswara, turun bernama Kaki manuh dan Nini Manuh ke dunia. Dengan tugas untuk membabat hutan untuk sawah-sawah dan tanah pertanian lainnya, untuk mengajar manusia bercocok tanam. Adapun Bhatari Uma mengambil wujud musim-musim yang berhubungan dengan persawahan, Sang Tahun, menjelma menjadi padi.

Sloka. Sang Ratu Kandyawan digantikan oleh putranya Sang Wretikandahyun. Burung utusan Bhatari Sri, membawa beras 4 warna, burung itu adalah burung dara dan puter pergi ke Medang Kamulan untuk membawa padi 4 warna tersebut. Padi yang berwarna kuning sangat harum baunya dan gurih seperti bunga gadung, tetapi padi yang kuning tinggal kulitnya saja, itulah disemaikan di bawah cucuran atap, akhirnya itulah yang tumbuh menjadi kunir, sebagai pelengkap warna padi yang 4 warna. Adapun padi yang tiga warna, putih, merah dan hitam, disemaikan di sawah, dialiri air pada pagi harinya dan sore harinya mulai dikurangi, itulah cara-cara di sawah sampai sekarang, demikianlah pesan Kaki Manuh dan Nini Manuh, hal itulah yang harus diketahui oleh orang-orang kalau mengerjakan sawah, itulah ceritranya jaman dulu.

Sloka. Tersebutlah Sanghyang Mahadewa, beliau mengetahui tentang keadaan tanah, yang berisi benda-benda mulia di mana pula yang tidak. Tanah-tanah yang mulia mengandung mas, perak, besi dan tembaga. Inilah yang menjadi harta yang utama dari pada manusia. Untuk mengetahui hal ini Sanghyang Mahadewa sebagai gurunya, orang-orang yang mengetahui hal itu, maka itulah disebut Sanghyang Panataran, oleh masyarakat. Stana beliau dibuat oleh Sanghyang Wiswakarma, yang disebut dengan Pura Panataran, dari dahulu sampai sekarang.

Sloka. Adapun Kahyangan Sanghyang Iswara, yang dibangun oleh Sang Wiswakarma, yang disebut juga dengan Gurudesa, yakni Pura Desa, demikianlah ceritranya dari dulu sampai sekarang.

Sloka. Adapun beliau Kaki Manuh dan Nini Manuh, setelah berhasil mengajar orang-orang bercocok tanam di lahan basah maupun kering, tata cara mengerjakan sawah, membajak dengan kerbau dan sapi, maka itu beliau disebut dengan Bhatara Pamutering Rat dan stana beliau dibangun oleh Sang Wiswakarma, disebut Pura Puser Bhuwana dan sekarang dikenal dengan Pura Puseh.

Sloka. Ada lagi perintah Bhatara Iswara kepada Sang Wiswakarma, disuruh membuat Bale Panjang, tempat untuk mengajar orang-orang, agar tahu tentang Sastra Dresta dan Sastragama, setelah bangunan itu selesai, di sanalah Sanghyang Iswara mengajar, tetapi tiada dapat diterima oleh orang-orang, karena bodohnya. Pada saat itulah beliau datang ke gunung Brahma, memohon kepada Sanghyang Saraswati, agar memasuki pikiran orang-orang bersama-sama dengan Bhatara Brahma, demikianlah lambang Sanghyang Widhi, itulah sebabnya ada Pura Sima, sebagai stana Hyang Brahma Saraswati. Mulai saat itu Sanghyang Dhatradewi (Saraswati) berstana pada ujung lidah orang-orang, itulah sebabnya orang-orang cepat mengerti, apa yang diajarkan oleh Hyang Guru Iswara. Kini tua muda, laki perempuan, sama-sama belajar dan menguasai ilmu pengetahuan, karena bantuan Sanghyang Aji Saraswati, demikianlah ceritranya.

Sloka. Adapun tugas-tugas sebagai wanita, telah diajarkan berbagai ketrampilan, oleh Bhatari Sri, pada sebuah ruangan besar, beliau disebut juga Guru Nini, untuk mengetahui tugas dan kewajiban bagi kaum wanita, seperti : menenun, menabuh, menari, tarik suara (makidung), menari topeng, itulah sebabnya ada Palinggih Ratu Pragina, Ratu Panji nama lainnya.

Sloka. Maka turun ke bumi Sanghyang Mretyunjaya dari Yamaloka bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Bhatari Sadhana, yang berwujud Mayatattwa. Beliau berkuasa atas hidup dan matinya manusia dan bersemayam pada nafsu dan keinginan manusia. Sloka. Oleh Bhatara Mahadewa, diperkenankan untuk mengajar manusia mengurusi harta benda yang serba mulia, mas, pirak, permata dan benda-benda mulia lainnya. Mengetahui sifat baik buruknya manusia, yang berbuat kebajikan dan berbuat dusta, demikianlah permohonan Sanghyang Dhupayani kepada Sanghyang Mretyunjaya, dengan senang hati Sanghyang Mretyunjaya mengabulkannya. Itulah sebabnya Bhatari Sadhana datang ke Puser Bhuwana, memohon kepada Siwa dan Uma, memohon desa Medangalas dengan penduduknya 8000 orang, semua orang itu menjadi pembantunya, yang disuruh untuk menebarkan dana di pulau Jawa, untuk kesejahtraan semua orang, demikianlah permohonan Bhatari Sadhana.

Segera Bhatari Sadhana datang ke Medangalas, bercakap-cakap dengan orang-orang di sana, saat itu beliau berjumpa dengan seorang wanita yang cantik parasnya, jujur, berbudi pekerti mulia, lalu diberi anugrah oleh Bhatari Sadhana, yakni tidak tua sepanjang jaman, dan diberi nama Dewi Mayasih, sebagai sahabat lahir batin dari Bhatari Sadhana. Dewi Mayasih bertugas untuk mengatur, mengurusi harta milik yang mulia milik manusia dan manusia gaib di negeri Sumedang. Lalu Sang Wiswakarma membuat stana Bhatari Sadhana bersama-sama dengan Dewi Mayasih, yang dipuja oleh orang-orang berharta, yang nantinya disebut Bhatari Malanting, sebagai dewanya Pasar. Beliau melindungi orang-orang yang melakukan jual-beli di pasar, maka itu pasar sebagai catu (kekayaan) orang-orang desa, demikianlah ceritranya.

Marilah kita ceritrakan kembali, oleh karena kebiasaan di pulau Jawa dibawa ke Bali, itulah sebabnya apa yang ada di pulau Jawa ada juga di pulau Bali. Seperti adanya Desa Adat, Sad Kahyangan Desa, Puseh, Desa baleagung, Dalem, Prajapati, Panataran. Puseh Desa Baleagung dan Dalem, sebagai stana Dewa Tri Murti; Prajapati Hyangning Prajapati, adalah menjaga atma/roh yang ada di semasana (kuburan). Panataran, stana Dewi Mahadewi, sakti Sanghyang Mahadewa, memberi ajaran dan tuntunan bagi wanita, menghias diri, menggunakan pewangi, memperindah payodara,, memakan sirih, menjaga ketentraman, berprilaku yang baik, setia, merendah, bernyanyi, menabuh, menari, tari topeng, itulah sebabnya ada Pura Dalem Sima, sebagai stana Hyang Brahma Saraswati, bersama-sama dengan Kahyangan Ratu Pragina, Ratu Panji Agung, nama lainnya. Ada Pura Malanting, stana Bhatari Sadhana dengan Dewi Mayasih, sebagai Dewa pasar. Jika sudah demikian sejahtralah negara ini.

Ada juga ceritra lama, tatkala jaman kerajaan di Bali, beliau membuat Tri Kahyangan, seperti : Pura Kahyangan Pucak, dilereng gunung; Kahyangan Panataran, di daratan; dan Pura Segara, di tepi pantai. Demikianlah disebutkan dalam Padma Bhuwana, Siwagama dan Andha Bhuwana.

Marilah kita kembali ceritrakan, di antara tahun Saka 1272 – 1311, pemerintahan Sri Ayam Wuruk, raja yang utama, keturunan Kahuripan. menguasai seluruh Nusantara, semuanya tunduk serta menyerahkan jiwanya. Pada suatu hari, beliau melakukan rapat, yang ditemani oleh para bawahan, seperti : Patih Madhu, Marga Lewih, Teteg Ra Bungsang dan patih Lembu Wreda. Yang menjadi topik pembicaraan adalah mengundang para raja-raja, untuk datang ke Majapahit, terutama Sri Aji Bali, Brangbangan dan Pasuruhan. Raja Palembang, keturunan Arya Damar, putra Jaran Panolih dari Madhura, karena ayahnya telah meninggal, semuanya diundang untuk datang di Majapahit.

Berangkatlah utusan dengan mengarungi lautan, dengan layar yang indah, berkobar ditempuh angin, tak terceritrakan dalam perjalanan, telah sampai pada tujuan dan utusan itu telah kembali. Pada musim semi (antara kemarau dan hujan), pananggal 10 (bulan terang), akan datangnya raja-raja tersebut, demikianlah penyampaian utusan kepada Sang Dewanatha. Sang raja menjadi senang, dengan memerintahkan untuk menghias sampai ke istana Majapahit. Dari balairung sampai jalan ke pasar, demikian juga di balai persidangan, jalan-jalan beralaskan kain-kain indah dan pilihan, serta hari sudah mulai malam. Tersebutlah sekarang di istana Linggarsa, akan berangkat ke Jawa, Sang Raja dihadap (tangkil) oleh para pemuka-pemuka istana, terutama Krian Patih, tempat pertemuan di Balai Bang (Bale Merah), penuh dengan orang-orang yang menghadap. Para Mantri istana dan tidak ketinggalan Arya Gajah Para, yang tampan, bagaikan keindahan dalam sastra, wajar menjadi pemuka istana. Diamkan ceritra itu sebentar.

Setelah sang raja selesai mandi dan berhias, dengan kampuh songket yang indah, banyumas dengan tepi kuning, kain dengan sulaman dipinggirnya, berwarna biru bagaikan awan, selendang gringsing wayang, setiap yang melihat akan tergila-gila, hiasan bahu penuh dengan permata. Bentuk bahu yang menawan, kulit halus, rambut panjang dan lebat, bagaikan awan yang akan menjatuhkan hujan, menempuh daratan, lengkap dengan hiasan garuda mungkur, dengan permata sembilan warna, dengan memakai gelung yang indah dengan permata yang bersinar, menarik perhatian orang yang melihat. Gelung supit urang, anting-anting mirah utama, memakai bunga sumanasa dengan daunnya yang indah , hiasan telinga, bunga sirih dan tetebus tri dhatu (benang merah putih dan hitam) yang berfungsi sebagai penjaga jiwa, memakai dua buah kalpika, bagaikan bulan yang bersinar merah. Beliau duduk di atas kasur, bagaikan Dewa Raspati, keris yang indah dengan tatahan mas dan permata manik banyu, keris Ki Tanda Langlang, yang ditakuti oleh musuh, bagaikan panah Dewa Wisnu.

Di Balairung kepenuhan oleh para mantri dengan upacara yang indah, tiada bandingannya, bagaikan gunung bunga, sangat indah demikian pikiran orang yang melihat, bagaikan gandharwa bidadari yang menjelma, demikianlah tentang keindahan paseban. Yang hadir Rakrian Patandakan, Panginte, Singharsa, Pinatih, Manguri, Pangalasan, Klapodayana, Buringkit, Tegehkori, Abiansemal, Pacung, Cemenggon, Cacaha, Tabanan, Cagahan, Pring, Pagatepan, Brangsingha, Tangkas, Tohjiwa, Sukahet. Setelah selesai rapat, sesuai dengan petunjuk raja, dengan wajah yang manis, karena mengikuti aturan-aturan rapat.

Peserta rapat telah bubar, adapun sang raja masuk ke dalam peraduan, dipendak oleh para istri, seperti sediakala, prilaku kepada raja besar, serta menyiapkan segala yang menawan hati. Tak terceritrakan hari sudah malam, menikmarti tentang keindahan, kenikmatan dalam peraduan, berpelukan dengan para istri, bagaikan bunga yang melilit, mengisap sarinya bunga, entah berapa lama, datanglah waktu untuk berangkat ke Jawa.

Tersebutlah raja Bali, yang diiringi oleh para mantri, perjalanan beliau sangat mengasikkan, perahunya indah, bagaikan kasturi berbau harum, yang dihiasi dengan berbagai macam bunga, diumpamakan rumah dari pohon menjalar (bun), itulah yang dipergunakan menghias perahu, yang mendatangkan daya menawan, bagaikan dari Smara loka. Entah berapa hari dalam perjalanan, karena perahunya berjalan cepat, yang bagaikan Sanghyang Smara, yakni tempat keindahan, menghibur orang-orang yang sedih, bagaikan menikmati madu yang manis, menyebabkan lupa dengan kesedihan, karena penyakit telah terobati, dapat obat luka yang dalam. Dalam perjalanan beliau istirahat di Kuta semalam, lalu di Tuban, orang-orang Tuban dengan rasa hormat menyiapkan makanan. Makanan telah siap, arak beras dan arak manis, jiniwir dan arak anggur, gula batu yang manis, teh telah disiapkan, bekal persiapan tak terhitung, demikian juga ikan laut, yang dipersembahkan kepada sang raja, karena beliau baru pertama kali datang, apalagi raja besar.

Pagi-pagi beliau melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu, desa Kelahan, Kedonganan, Seseh telah dilewati, Gangga Udaka, Bangkah, Uman menuju Jembrana, di sana beliau istirahat dan ditonton oleh orang-orang. Purancak telah dilewati dengan menyeberangi lautan, seakan-akan hilang ditelan laut, ke arah utara menyusur pantai, Segara Rupek dijelajahi, sampailah di Pulyawan, Pagametan, Tlagorung, Pajarakan. Tujuh hari lamanya dalam perjalanan, sampailah beliau di Bubat, banyaklah orang menonton kedatangan Sang Raja Bali, orang-orang yang tinggal di Bubat, rumah-rumah telah dibersihkan, sebagai tempat istirahat Sang Raja. Setelah beliau dihidangkan makanan yang lezat (mengandung sad rasa), panjanglah kalau diceritrakan.

Tiada berselang lama, beliau dipendak oleh Patih Madhu, lengkap dengan upacara utama, Krian Patandakan, Pinatih, Klapodayana, Tan Mundur, Tan Kawur Tan Kober, Gajahpara, semuanya orang-orang menak (ksatria), bagaikan dalam karangan. Setelah beliau diterima oleh raja Wilwatikta (Sri Aji Ayam Wuruk), lalu datang pembesar kerajaan, membawa sebuah talam mas, berisi pakaian lengkap, indah dan penuh hiasan dan sebuah keris lengkap dengan sarungnya, buatan Brangbangan, tangkainya mas yang diukir, berwujud Dewa Bayu yang dihiasi dengan permata merah, dipenuhi oleh permata air (manik toya), bagaikan kunang-kunang bersinar, lalu sang raja (Sri Ayam Wuruk) bersabda halus: “Ini pakaian dan keris, supaya ada saja yang aku berikan, walaupun tiada berharga, tetapi dengan rasa yang tulus ihlas, sebagai pengikat rasa bakti dan sayang”.

“Ini hakekat keris itu yang menyebabkan para musuh menjadi takut, yang diberi nama Bhujagarajastra, aku anugrahkan kepada mu, sebagai tanda persatuan, semoga engkau berjaya, selama-lamanya dipuji oleh rakyat”. Setelah diterima anugrah sang raja, lalu beliau menghormat, serta mohon diri menuju penginapan. Lama beliau di Wilwatikta, kurang lebih satu bulan, lalu beliau mohon pamit kepada sang raja, sang raja amat senang, semuanya diberikan pakaian, mas permata, dinasehatkan sebagai penguasa kerajaan. Setelah meninggalkan Wilwatikta, kembali pulang ke pulau Bali.

Marilah kita ceritrakan Sang Raja Bali, sampailah beliau di Bhangawan Canggu, seperti dibencanai oleh Hyang (Tuhan), terlepaslah keris pemberian Sri Ayam Wuruk, jatuh ke dalamnya laut, tak terkira dalamnya laut, lalu sarungnya diangkat, ditunjukkan ke atas dan keris itu kembali ke sarungnya, itulah sebabnya keris itu diberi nama Si Bhangawan Canggu, termashyur saktinya, ditakuti oleh musuh. Keheran-herananlah orang-orang yang melihat, serentak memuji sang raja Sri Aji Bangsul, hilang semua kegundahan hati, seperti diberikan kehidupan, bagaikan mendapatkan amertha di tengah lautan, anugrah beliau Hyang Hari (dewa Wisnu). Setelah meninggalkan tempat itu dengan perahu dengan layar berkobar, tak terceritrakan dalam perjalanan, sampailah beliau di istana (Puri) bersama-sama dengan para Mantri, tak terhingga senangnya. Setelah lama beliau memegang kekuasaan di Bali, pulau Bali aman sentausa, beliau bagaikan penjelmaan Sanghyang Mahadewa. Diamkanlah ceritra ini sebentar.

Marilah kita ceritrakan penguasa di kerajaan Mengwi, yaitu I Gusti Agung Sakti, yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan, menjadi raja pada tahun Saka dwaraning sagara wisaya tunggal (dwara = 9; sagara = 4; wisaya = 5; tunggal = 1 ) tahun Saka 1549, beliau mengawini putri dari I Gusti Panji Sakti dari Den Bukit (Singaraja), yang bernama I Gusti Ayu Panji, beliau telah menguasai sampai daerah tepi selatan Badung dan daerah Blambangan, karena beliau adalah raja besar, anugrah dari Dewa Pucak Mangu, beliaulah yang memperbaiki Pura Sakenan, Uluwatu, Ulunswi, Watubolong, Watumejan, Purusada, Dalem Puri, Bukit Sari, Panarajon, Bukit Kembar, Bratan, Pucak Mangu, Pucak Entapsai, Pucak Padangdawa, Trate Bang dan Pucak Sangkur. Setelah beliau memperbaiki Pura Uluwatu, dari batu yang menjadi Prasada, lebih dikenal dengan sebutan Candi. Karena ada kadurmanggalan bumi, yakni gempa besar, hancurlah Prasada Candi itu. Candi yang rusak itu diganti oleh Sang Raja (Cokorda), dibangunlah berupa Meru tumpang 3, Yang sekarang dikenal dengan Palinggih Stana Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha. Setelah selesai bangunan Palinggih di Pura Uluwatu, lalu beliau memperbaiki Palinggih Stana Sanghyang Tiga Sakti, Sanghyang Hari Murti dan jajar kameri, yang ada di Pura Watubolong. Marilah kita diamkan sebentar ceritra itu.

Setelah lama, memerintahlah I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, yang juga bergelar Cokorda Nyoman Munggu, raja Mengwi yang ketiga, beliau juga memperbaiki Palinggih-palinggih Pura yang ada di wilayah beliau. Demikian juga tatkala pemerintahan I Gusti Agung Madhe Munggu, dengan gelar Cokorda Ngurah Madhe Agung, yakni raja yang ke lima.

Kembali kita ceritrakan, yakni ceritra yang di depan, dahulu tatkala masa pemerintahan I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, seringlah beliau datang ke Sukawati, yaitu menghadap kepada Sri Agung Anom, dalam perjalanan beliau sering menginap di rumahnya I Gusti Ngurah Bun, setiap hari demikianlah prilaku beliau. Tersebutlah istri I Gusti Ngurah Bun yang cantik, selalu disuruh menemani I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, karena saling mencintai, lalu bertemulah beliau. Oleh karena seringnya demikian, yang seakan-akan bagaikan istrinya. Tahulah I Gusti Ngurah Bun istrinya digauli, tetapi beliau tidak marah, malahan semakin senang. Entah berapa lamanya, hamillah istrinya I Gusti Ngurah Bun (Jro Maliling), lalu lahirlah seorang putra laki-laki, setelah dewasa dibawa ke Mengwi, datang menghadap kepada I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, lalu diberi nama I Gusti Gde Maliling, lalu dikawinkan dengan putri Bandesa Tibubeneng, lalu tinggal di sana, diserahkan rakyat Tibubeneng sampai ke Padanglwah. Beliau berputra namanya I Gusti Gde Mangku. I Gusti Gde Mangku berputra 3 orang laki-laki, namanya : I Gusti Gde Rai Sempidi, I Gusti Madhe Saren dan I Gusti Nyoman Alit. I Gusti Nyoman Alit pindah ke Brawa, dengan rakyat 200 KK, setelah berada di sana, lalu mendirikan Pura yang pertama Pura Kadaton, untuk memuja leluhurnya termasuk Hyang-Hyang Mengharajya dan Pura Dalem Purancak, lalu beliau membuat yadnya Ambhuta Yadnya Manawa Ratna, namanya. Pada saat itu ada permohonan I Gusti Gde Mangku kepada raja Mengwi I Gusti Agung Madhe Munggu yang bergelar Cokorda Ngurah Madhe Agung, yang menjadi pamutus atau pangrajeg karya. Lalu Sri Aji Mengwi memerintahkan untuk menghadap kepada Sri Dalem, lalu diberikan warga Rsi Madhura Kayu Manis, keturunan Bhujangga Aji, beliau itulah yang diberikan Dalem, dengan membawa genta uter, gongsyang, oreg, sunghu, katipluk dan bermacam-macam senjata (senjata nawa sangga). Lalu Ida Dalem berpesan kepada Bhujangga Madhura Kayu Manis, agar beliau tinggal di Canggu, karena Kawitanku dahulu jatuh di sana, ketika datang dari Wilwatikta, sampai di samudra bingung, di tengah lautan, sampai di pantai Batubolong, terdampar di Kedonganan, itulah sebanya ada Bhatara Batubolong, Bhatara Bhujangga, Bhangawan Canggu, demikianlah bisama Dalem kepada I Gusti Gde Mangku, lalu diterima oleh I Gusti Gde Mangku, menerima anugrah Dalem, lalu kembali dengan menghormat.

Sekarang marilah kita sebutkan palinggih yang ada di Utama Mandala di Pura Batubolong, yaitu :

  1. Padmasana
  2. Meru tumpang 5
  3. Meru tumpang 3
  4. Meru tumpang 2
  5. Catu Meres
  6. Catu Mujung
  7. Bale Paruman
  8. Bale Paselang
  9. Bale Paringgitan
  10. Bale Pawedan
  11. Bale Pagambuhan
  12. Kori Agung Babetelan

Palinggih yang ada di Madhya Mandala, yaitu :

  1. Pangapit Lawang
  2. Ratu Nyoman Sakti
  3. Bale Paruman
  4. Bale Gong
  5. Candi Bentar

Palinggih di Nista Mandala, yaitu :

  1. Bale Kulkul
  2. Bale Wantilan
  3. Ratu Niang Sakti
  4. Candi Bentar
  5. Pasandekan Pamangku
  6. Bale Paebatan
  7. Parantenan
  8. Kamar Mandi /WC
  9. Bale Pacalang
  10. Genah Parkir
  11. Pasandekan Pamedek

Maafkanlah hamba, karena banyak kekurangan huruf dan kurang bahasa, yang tidak mengikuti aturan.

OM ksama swamam. Subal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s