Purana Pura Puseh Kangin – Terjemahan

Ya Tuhan, semoga hamba tidak mendapat halangan dan semoga berhasil.

Permohonan maaf hamba kehadapan Bhatara junjungan kami, sungguh lah beliau Hyang Pasupati, yang berstana di alam suci, yakni di gunung Jambhudwipa, demikian juga kami mohon maaf kepada para Bhatara Hyang semuanya, yang berwujud OM-kara Ratna Mantra, berbadankan suci tiada taranya, beliau berwujud Yogi Agung dan beliaulah yang memberi anugrah, ada sabda yang terdahulu, yakni ada ceritra dari para leluhur, untuk itu agar kami tidak mendapatkan kualat dari para Hyang dan semoga juga terbebas dari dosa dan mala pataka, demikian juga tidak mendapatkan kutukan oleh beliau para Hyang kami, semoga menjadi sempurna, mendapatkan keselamatan, termasuk seluruh anggota keluarga kami dan keturunan kami dan semoga sejahtra di dunia.

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Inilah tentang keberadaan Parhyangan. Ada ceritra lama, yakni ada maya sakti, yang belum ada Parhyangannya, yang amat hebat bertaring tajam, sangat menakutkan, bagaikan prilaku raksasa, loba moha murka, menghina sastra yang utama, mencela keadaan masa lampau, itu semuanya musnah dan bercerai berai, setelah hilang semua kekotorannya, lalu kembali ke alam sorga, entah berapa lamanya, akhirnya kembali menjelma atas titah para Hyang, lalu diberikan anugrah berwujud Ardhanareswari, yang akhirnya dimasukkan secara gaib dalam kelapa, diputar dengan pedang, setelah diupacarai dan disucikan, oleh beliau yang berstana di Tohlangkir (gunung Agung), atas perintah Hyang Pasupati, berstana di kerajaan Bali, menjadi penguasa negara, berubah sebutan (abhiseka) beliau, menjadi raja di Bali dengan abhiseka Sri Aji Masula Masuli, lalu dinikahkan dengan adiknya, tak terceritrakan kesejahtraan rakyat, dalam kelahiran beliau dahulu, entah berapa lamanya beliau berkuasa, berganti-ganti abhiseka, setelah pada waktunya beliau wafat pulang ke sorga loka, demikianlah tersebut dalam Usana.

Demikianlah prihal Paduka Bhatara Hyang Pasupati di gunung Mahameru, beliau sangat sayang melihat keadaan pulau Bali dan Selaparang, dalam keadaan yang bergoyang-goyang, bagaikan pulau Bali dan Selaparang terus bergerak-gerak dari dahulu, itulah awal mula adanya gunung-gunung di Bali, ada empat buah gunung, disebut Gunung Catur Lokapala, di timur gunung Lempuyang, di selatan gunung Andakasa, di barat gunung Batukaru sama dengan gunung Bratan, adapun yang di utara adalah gunung Mangu, yang dekat dengan gunung Tulukbiu, itulah sebabnya menjadi seimbang alam ini.Kadang-kadang bergoyang pulau Bali, itulah sebabnya Hyang Pasupati membongkar lereng gunung Mahameru lalu dibawa ke Bali dan Selaparang, dititahkan Ki Badawangnala membawa kakinya gunung, Naga Basukih membelit badannya gunung, Sang Naga Taksaka menerbangkannya, panjanglah kalau diceritrakan.

Demikianlah anak-anakku para dewa, maka itulah ananda akan bertemu dengan gunung Agung, itulah yang disebut dengan rajanya gunung, letaknya di timur laut, merupakan gunung mas yang pucaknya permata, dasarnya permata yang indah, batu-batunya mirah, pasirnya permata, yaitu juga disebut Hyang Mahameru, itu ayahnda membawanya ke Bali, ayahnda membagi tiga, sepertiganya menjadi gunung Tampud, yang merupakan dapurnya/stananya Hyang Agni, yang berada di dasarnya; sepertiga lagi di bawahnya, menjadi gunung Rinjani dan puncaknya menjadi gunung Tohlangkir, yang disebut juga dengan gunung Agung, bagian-bagian yang lain menjadi bukit-bukit, yang berada di bawah gunung Agung, dari timur menyebutkannya, hendaknya diketahui nama-namanya : gunung Tapsahi, di baratnya gunung Pangelengan, gunung Mangu, dibaratnya gunung Silanjana, di baratnya gunung Bratan, di baratnya gunung Watukaru, di baratnya pegunungan Nagaloka, di baratnya gunung Pulaki, arah tenggara dari sana ada gunung Pucak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, arah ke timur ada Pucak Padhangdawa, di tepi selatan ada gunung Andakasa dan Uluwatu, ke timur mengarah ke tenggara, ada gunung Byaha dan Byas Muntig, di timur ada gunung Lempuyang, ke arah utara ada gunung Sraya, demikianlah keberadaan gunung-gunung di pulau Bali, dan banyak lagi bukit-bukit di tengah-tengah pulau Bali, yang tidak diceritrakan semuanya.

Beberapa tahun lamanya, yakni pada hari Siwa Kuye, wuku Prangbakat, bulan terang, tahun 15, purnama, titi Swanita Pawaka, rah (satuan) 3, tenggek (puluhan) 1, Isaka gni bhudara (13), saat itu meletus gunung Tohlangkir, keluarlah Bhatara Putrajaya bersama Bhatari Dewi Dhanuh, yang berparhyangan di Ulundhanu atau Tampurhyang. Adapun Bhatara Putranjaya, berparhyangan di Basukih, sebagai ulunya Gelgel. Demikian juga ikut Bhatara Brahma, yang disebut juga Hyang Gnijaya, parhyangan beliau di Lempuyang, demikianlah hakekatnya jaman dahulu.

Inilah keterangannya, dulu tatkala Bhatara Tiga, sampai di pulau Bali, yang diutus oleh Bhatara Jagatkarana, sabda Bhatara : “Hai anakku Hyang Tiga, Mahadewa, Dewi Dhanuh, Gnijaya, tiada lain anak-anakku, hendaknya datang di pulau Bali, berstana di Bali, karena pulau Bali itu sunyi, agar supaya menjadi junjungan orang-orang Bali, sampai kelak kemudian hari”, demikianlah sabda Bhatara Kasuhun. Menghormatlah Bhatara Tiga : “Ya, junjungan hamba, bukan karena hamba menolak perintah, karena hamba masih kanak-kanak, sungguhlah hamba belum tahu jalan”. Sabda Bhatara : “Anakku Hyang Tiga, janganlah khawatir, ayah akan memberikan anugrah pada anak-anakku, karena engkau adalah putraku, inilah anugrahku, terimalah jangan ragu”. Menyembah dan menundukkan kepala Hyang Bhatara Tiga Sakti, krena telah diberikan bisikan kasucian dan kerahasiaan, banyak jika diceritrakan. Setelah Bhatara Tiga menerima anugrah, menggaiblah beliau dalam sebuah kelapa gadhing, berjalan di bawah laut, seketika sampai di tepi samudra selatan, lalu memasuki belahan batu, keluarlah beliau dan sudah sampai di Batur. Itulah sebabnya Bhatara Mahadewa Putranjaya, berparhyangan di Basukih, Bhatara Gnijaya di Lempuyang, adapun beliau Dewi Dhanuh, berstana di Ulundhanu, yang dulunya disebut Tampurhyang, demikianlah keberadaan Bhatara Tiga, disebut dalam Usana.

Ada ceritra lain lagi, putra Sanghyang Pasupati, yang datang ke pulau Bali, yang menjadi junjungan orang-orang Bali, mengikuti Bhatara Putranjaya, yang bernama Bhatara Tumuwuh, parhyangan beliau di gunung Watukaru; Bhatara Hyang Manik Kumawang, parhyangan beliau di Giri Bratan; Hyang Manik Galang, parhyangan beliau di Pejeng; Bhatara Hyang Tugu, parhyangan beliau di Giri Andakasa, bersama-sama melakukan yoga samadhi, tidak ada tandingannya parhyangan beliau masing-masing, demikianlah keberadaan Bhatara di Kahyangan Bali, janganlah tidak percaya, karena telah dicatatkan oleh Dwijendra Wawurawuh, saat di Samprangan.

Ada lagi yang disebut Dewata Nawa Sangha, yang datang dan berparhyangan di Bali, yaitu : di timur gunung Lempuyang, stana Hyang Iswara; di selatan gunung Andakasa, stana Hyang Brahma; di barat gunung Watukaru, stana Hyang Mahadewa; di utara gunung Batur, stana Hyang Wisnu; di tenggara Goalawah, stana Hyang Mahesora; di barat daya bukit Uluwatu, stana Hyang Rudra; di barat laut gunung Mangu, gunung Pangelengan, stana Hyang Sangkara, di timur laut gunung Agung, gunung Tohlangkir, stana Hyang Sambhu dan di tengah, Pusering Jagat, stana Hyang Siwa. Demikianlah yang disebut dalam Padma Bhuwana, yang merupakan penjelmaan Dasaksara. Ada lagi yang disebut Tri Kahyangan, Desa, Puseh dan Dalem, merupakan stana Hyang Tri Murti dan Bhatara Akasa, Bhatari Prethiwi, Bhatara Jagatnatha. Yang termasuk Sad Kahyangan di pulau Bali, yaitu : Besakih, Lempuyang, Andakasa, Uluwatu, Watukaru dan Batur.

Ai manusia semuanya, janganlah engkau tidak ingat kepada kami, kami ini adalah asal mula badanmu, kami adalah Sanghyang Gurureka, yang menciptakan seisi alam ini, kami disebut juga Bhatara Hyang Widhi, Dewa Hyang Kawitanmu, kami merupakan penyatuan Sanghyang Siwa Uma Kala, kami juga berbadankan Brahma Wisnu Iswara, hendaknya kamu ingat semuanya, maka itu mulai sekarang semuanya membuat Sanggar Kawitan Rong Tiga, oleh karena berbeda-beda asal usul manusia, tetapi sama merupakan kelahiran Panca Siwa, Sad Paramartha, kami juga merupakan Utpeti, Sthiti dan Pralina. Maka itu engkau hendaknya hormat bhakti kepada Kawitan, jika engkau tidak hormat dan bhakti kepada Kawitan, akan dimangsa oleh Sanghyang Kala, engkau akan mendapatkan bahaya besar, oleh karenanya jangan lupa.

Awakyam purwa bhadrante, wiplatomakhyatam bhawah, samagatah dewa bharyam guru dewa wiparyam.

Tida terceritrakan lagi tentang Dewata Nawa Sangha, alihkan ceritra tentang keberadaan-Nya, pertemuan para kumpulan dewa-dewa dengan saktinya masing-masing, maka itu sekarang kita ceritrakan tentang Bhatara Guru. Tryambaka tasyapewaca.,

Pertemuan Bhatara Guru dengan para Asta Dewata dan Catur Loka Pala, Dewa Gandharwa, Kinara serta para Daitya Dhanawa, Yaksa Raksasa, tidak ketinggalan para putra Bhagawan Kasyapa dan putra Bhagawan Pulaha, Sang Banaspati, Sang Pisaca, Sang Dengen, Sang Bhuta Kubandha Putana, termasuk Bogala-Bogali, Ala-Ala, Anja-Anja, segera datang atas dasar pemberitahuan tersebut, semuanya hormat kepada Bhatara Jagatpati, manyembah serta membersihkan kaki Beliau. Sabda Bhatara Guru, disuruh para dewa semua dan semua bersiap-siap, berangkat menuju gunung, mengambil pucak gunung Mahameru, untuk dibawa ke pulau Jawa, gunung tersebut sebagai beban, karena pulau Jawa bergoyang-goyang, bagaikan perahu di lautana, jika tidak ada sanghyang Mahameru, sebagai lingganya dunia, itulah sebabnya beliau mengutus para dewa, untuk mengajar orang-orang di pulau Jawa, yang merupakan ciptaan beliau dahulu, demikianlah sabda Bhatara Guru. Semua yang diperintah menyanggupi perintah tersebut, semuanya menyembah,mohon diri untuk berangkat ke gunung Mahameru, tak terceritrakan dalam perjalanan, para dewa dan raksasa, dengan membawa puncaknya gunung Mahameru, dibawa ke pulau Jawa, agak lama para dewa dan asura/raksasa, mengatur keberadaan mandala, setelah semuanya kokoh yakni pulau Jawa dan sekitarnya.

Marilah kembali berceritra, ada sabda yang lain dari Bhatara Sri Jagatguru, kepada para dewata, widyadhara-widyadhari, semuanya dititahkan untuk datang ke pulau Jawa, untuk mengajar orang-orang di sana, yang diciptakan oleh Hyang Widdhi terdahulu, sebagai pimpinannya Bhatara Brahma Wisnu Iswara Mahadewa, oleh karena banyaknya manusia ciptaan Hyang Widdhi, anak-beranak, cucu dan buyut, dengan berkembangnya kelahiran manusia, mereka tidak mempunyai rumah, tidak berpakaian,tanpa kain, tanpa celana, tanpa selimut, tidak berjambul, dan tidak menggunting rambut, semuanya telanjang, jika mereka berkata-kata, tidak diketahui apa maksudnya, daun-daunan menjadi makanannya, demikianlah diceritrakan dalam Usana.

Ada ceritra yang lain lagi, raja Bali Kuna, ada disebutkan raja penguasa, yang menguasai negara/kerajaan. Tersebutlah pada tahun Saka 1103 atau 1181 Masehi. (Apuy Sunya Eka Bhumi. apuy = 3; sunya = 0; eka = 1; Bhumi = 1). Ada raja di pulau Bali, kelahiran Waisnawa, bergelar Sri Aji Jaya Pangus Arkhajalancana, arkaja artinya keturunan Surya; Suryawangsa artinya Hariwangsa; Hariwangsa artinya Waisnawa, itulah yang disebut dengan Waisnawa. Sri Aji Jaya Pangus bertahta di pulau Bali bersama dengan 2 orang permaisurinya, yang masing-masing bernama Sri Parameswari Indujaketana dan paduka Sri Mahadewi Sasangkajacihna, yang terakhir ini berasal dari Cina dengan nama aslinya adalah Dewi Cung Khang. Wibawanya sebagai seorang raja yang berkuasa di Bali bagaikan raja diraja yang selalu didampingi oleh permaisurinya sebagai pelindung pulau Bali.

Beliau melaksanakan tugas kewajiban sebagai pucuk pimpinan seluruh masyarakat Bali, karena beliau sangat bijaksana, bertingkah laku yang baik dan lagi cakap serta masih muda, menguasai ilmu pemerintahan dan ajaran terutama ajaran tentang agama, selalu didampingi oleh ke dua orang permaisurinya, para patih, mentri, sama-sama menguasai ilmu tentang akal dan taktik, bijaksana dalam ilmu pemerintahan dan sebagai perwira menguasai ilmu peperangan, karena jasa beliaulah yang menyebabkan pulau Bali aman dan tertib, demikian kisahnya dahulu kala.

Tatkala masih berkuasanya Sri Aji Jaya Pangus Arkajalancana, bersama ke dua permaisurinya, maka sang Rsi, Siwa dan Sogata, telah selesai membangun sebuah bangunan suci, yang dicandikan berupa Parhyangan Widdhi, yang diberi nama Candi Dasa yang dibangun pada tahun Saka 1113 atau 1191 Masehi, pada hari Kemis Wage, Tungleh, wuku Julungpujut, sasih Kawelu (Pebruari), Pananggal ping. 5, pada waktu itu Sri Maharaja Aji Jaya Pangus Arkhajalancana wafat, menuju Wisnuloka, yang mana abu jenazahnya dicandikan di Dharma Anyar dan di sana terdapat Pura Panti yang diurus oleh Dhang Acarya Jiwajaya. Setelah mangkatnya ada pengganti beliau, sehingga tidak menentu keadaan pulau Bali, sebab tidak adanya penguasa pemerintahan di Bali. Demikianlah kisah tentang adanya raja Jaya Pangus Arkhajalancana, yang memerintah di Bali pada jaman dahulu.

Setelah wafatnya Sri Aji Jaya Pangus menuju Wisnuloka, ada raja pengganti beliau, bernama Sira Arjaya Deng Jayaketana.

Kembali dikisahkan raja Sri Aji Jaya Pangus Arkhalancana, berputra bernama Arjaya Deng Jayaketana, sesudah dewasa putra beliau, Sri Jaya Pangus wafat, arwahnya menuju ke alam baka, sedangkan jenazahnya dicandikan di Asrama Dharma Anyar. Karena demikian maka dengan segera Arjaya Deng Jayaketana diangkat menjadi raja di Bali, dengan gelar Sri Maharaja Arjaya Deng Jayaketana. Setelah cukup usianya, akhirnya Arjaya Deng Jayaketana, mempersunting seorang pendamping (istri), dari perkawinan itu lalu beliau berputra 2 orang laki-laki, putranya yang tertua bernama Ekajayalancana, sedangkan putra beliau yang ke dua, diberi nama Adikuntiketana. Karena telah menjadi kehendak Hyang Widdhi, beliau Sri Maharaja Deng Jayaketana wafat, arwahnya kembali ke akhirat ke Wisnu Bhuwana.

Oleh karena itu lalu putranya yang sulung dinobatkan menjadi raja, dengan bergelar Paduka Sri Maharaja Ekajayalancana, yang didampingi oleh ibunya, yang merupakan janda dari mendiang ayahnya Sri Arjaya Deng Jayaketana, yang penobatannya pada tahun Saka 1122 atau tahun 1200 Masehi. (Bhuja Apit Ekaning Prabhu. bhuja = 2; apit = 2; ekaning = 1; prabhu = 1).

Pada tahun Saka 1126 atau 1204 Masehi, wafat Sri Paduka Maharaja Aji Ekajayalancana. (Sad Srenggi Eka Bhumi. sad = 6; srenggi = 2; eka = 1; bhumi = 1).Karena itu kedudukannya digantikan oleh adik beliau yang bernama Adikuntiketana, yang dinobatkan memegang pemerintahan di Bali, dengan gelar Bhatara Guru Sri Adikuntiketana. Beliau membuat asrama dan Pura di daerah Bali, yaitu di batas bagian selatan desa Bangli, di sana beliau membuat Pura yang diberi nama Pura Sumaniha, yang dilengkapi dengan atribiut Arca Makaradewi, itu dikenal sebagai upacara dari Bhatara Guru Adikuntiketana bersama permaisuri beliau, di mana di sebelah selatan dari Pura itu terdapat sebuah goa yang bernama Goa Mraku, yang digunakan sebagai tempat pertapaan Dhalem Bhatara Guru tatkala itu.

Entah berapa lamanya Dhalem Bhatara Guru Sri Adikuntiketana berkuasa di Bali, lalu beliau mempunyai 2 orang putra kembar buncing, putranya yang laki bernama Dhana Dirajaketana, sedangkan yang wanita bernama Sang Dhana Dewiketu. Setelah Bhatara Guru Sri Adukuntiketana wafat, abu jenazahnya dicandikan di Candi Manik di daerah Hyang Putih di Srokodan.

Karena putra buncing itu telah dewasa, lalu ke dua itu dinikahkan, yang disebut dengan istilah pabuncingan, serta beliau dinobatkan menjadi raja yang berkuasa serta memerintah di pulau Bali, dengan gelar penobatannya adalah Bhatara Parameswara Sri Wirama Nama Siwaya Sri Dhana Dirajalancana dan ratunya adalah paduka Bhatari Sri Dhana Dewiketu. Ke duanya itu lebih dikenal dengan nama Maheswara Maheswari atau Mahasora Mahasori, namun orang-orang Nusantara menyebutnya Mahasula Mahasuli atau Masula Masuli. Nama itu yang lebih dikenal di Bali dan Nusantara. Tidak dikisahkan tentang aman serta tertibnya selama pemerintahan beliau berdua ini, karena beliau sangat berpengaruh, bijaksana, pandai dan baik budi, beliau juga menguasai pengetahuan dalam bidang ilmu dan filsafat, pemberanai dan menguasai ilmu peperangan.

Marilah ceritrakan Dhalem Masula Masuli yang berstana di Pejeng, tatkala itu Dhalem memerintah kepada para Punggawa, Patih, Mantri, serta para Mpu, seperti : Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, dan Mpu Kuturan termasuk Prebekel Bali. Dalam penghadapan itu disampaikan keinginan raja kepada para Mpu, para punggawa lainnya dan prebekel Bali sebagai ketentuan Bandesa Wayah, yang menyebabkan terjadinya penuh sesak di Pejeng, di sebalah barat sungai Pakerisan, di sebelah timur sungai Patanu. Tatkala itu ada sabda Paduka Raja, supaya membuat Kahyangan Tirtha Empul, sebagai stana Bhatara Indra yang harus diusahakan dan membuat Kahyangan Mangening sebagai stanja Bhatara Hyang Suci Nirmala patut dengan Mahaprasada Agung yang disukat atau diukur oleh Mpu Rajakretha dengan pedoman Asta Kosala-Kosali.

Sangat senanglah hatinya masyarakat Bali tatkala itu, mereka mendapat tugas mendirikan Pura-Pura, sebagai Pura Kahyangan Umum, yang langsung dipimpin oleh Sri Aji Masula Masuli, sekalian rakyat sangat senang hatinya, demikian juga tentang pengluaran/papeson batu padas dan perlengkapan yang lain, untuk bahan mendirikan Parhyangan.

Ada patung Ghana, sebagai pelindung dunia, ada patung Buddha, ada patung Indra, setiap Bhatara ada patungnya, setiap Rsi ada patungnya, setiap widyadhara – Widyadhari ada patungnya, semua Bhuta dan Dengen ada patungnya, semua yang berkaki empat dan berkaki dua ada patungnya, sampai ada patung bidadari yang meninggal, yang mengakibatkan penuhnya istana raja dengan patung, itulah sebabnya Bhatara berkenan berstana pada masing-masing patung, sebagai persembahan Sri Dhalem Buncing, tatkala itu Siwa Buddha yang menjadi keyakinan raja, demikian pula penduduk Bali saat itu.

Mpu Kuturan disebut juga Mpu Rajakretha, beliaulah yang telah berkenan memberikan ijin mendirikan Parhyangan atau Pura-Pura, yang tiada lain sebagai reflika Parhyangan yang ada di Majapahit, diterapkan di seluruh pulau Bali.

Entah berapa tahun lamanya beliau telah hidup berumah tangga, maka lahirlah seorang putra yang diberi nama Adidewalancana. Setelah beliau lama memegang kekuasaan, datanglah panggilan illahi Yang Maha Kuasa, akhir sama-sama wafat dan rohnya kembali ke alam akhirat, demikian kisah beliau. Maka untuk menggantikan kedudukannya maka dengan segera putri beliau dinobatkan menjadi ratu dengan gelar Paduka Bhatari Prameswari Sri Hyangning Hyang Adidewalancana, penobatan itu berlangsung pada tahun 1182 Saka atau 1260 Masehi. (Helar Asta Bhumi Prabhu. helar = 2; asta = 8; bhumi = 1; prabhu = 1)

Selama bertahtanya Paduka Bhatari Hyangning Hyang Adidewalancana, sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan di Bali, maka Bali menjadi aman dan tertib, serta kehidupan masyarakat amat sejahtra, tak ada penjahat, karena sri Maharaja pandai dan memiliki pengaruh yang kuat serta bijaksana, tidak kurang pengetahuan dan filsafat agama, menguasai ilmu pemerintahan dan kepemimpinan, tiada bedanya beliau bagaikan Hyang Hari Murti/ Hyang Wisnu, beliau selalu dapat menciptakan kesejahtraan dan rakyat sangat suka hatinya.

Kemudian setelah beberapa tahun lamanya negara dan rakyatnya dalam keadaan aman sentausa, tibalah saatnya peralihan jaman, yang menyebabkan menjadi tidak tentram kalbu Sri Paduka Sri Hyangning Hyang Adidewalancana.

Pada tahun Saka 1208 (Tanu Wiyat Angalih Arkha. tanu = 8; wiyat = 0; angalih = 2; arkha = 1), atau 1286 Masehi, raja Singhasari yaitu Kretanagara, mengirim para pejabat kerajaannya untuk datang ke Bali. Para pejabat kerajaan yang datang ke Bali saat itu adalah para patih, para pejabat kerajaan lainnya, Ki Kbo Bungalan, Ki Kbo Anabrang, Ki Lembu Peteng, Ki Jaran Waha, dengan pasukan dengan jumlah yang banyak, serta dilengkapi dengan persenjataan, dengan tujuan tiada lain menyerang raja yang berkuasa di Bali.

Tidak diceritrakan dalam perjalanan menuju Bali, dikisahkan sudah tiba di beberapa tempat di Bali, hingga menjadi sangat ramai dan hebatnya peperangan antara rakyat Bali dengan pasukan Singhasari. Dalam pada itu banyak rakyat Bali yang gugur, bagaikan air bah aliran darah orang yang meninggal itu, akibatnya desa-desa di Bali menjadi rusak, sedangkan sri Paduka Sri Hyangning Hyang Adidewalancana, beliau akhirnya ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kretanagara, selanjutnya dibawa ke Singhasari, di sanalah beliau disekap sebagai tawanan perang.

Karena telah ditawannya raja penguasa pulau Bali, menjadi sepilah pulau Bali, maka orang-orang Singhasari yang mengatur pemerintahan di Bali, terutama Kryan Demung Sasabungalan, dinobatkan menjadi penguasa Bali.

Setelah Demung Sasabungalan berusia lanjut, maka kedudukannya sebagai raja di Bali digantikan oleh putranya yang bernama Ki Kbo Parud, setelah Ki Kbo Parud menjadi raja di Bali, maka keadaan menjadi aman, tertib dan tentram, desa-desa di Bali termasuk juga masyarakatnya aman. Golongan Ksatria dan para Bhujangga didatangkan ke Bali, dengan membawa pustaka yang mengandung tuntunan keagamaan, sastra-sastra utama, adat-istiadat dan kitab-kitab filsafat.

Oleh sebab itu, kemudian pada tahun Saka 1246 atau 1334 Masehi Paduka Maharaja Bhatara Guru diangkat menjadi raja di Bali, oleh Prabhu Jayanagara, raja Majapahit.

Entah berapa tahun lamanya beliau berkuasa dan memerintah di pulau Bali, akhirnya Sri Paduka Maharaja Bhatara Guru wafat pada tahun Saka 1250 atau 1328 Masehi. Akhirnya kedudukan beliau digantikan oleh putranya yang bernama Sri Tarunajaya dinobatkan menjadi raja, bergelar Sri Walajaya Krethaningrat, yang dengan setia didampingi oleh ibunya dalam memutar roda pemerintahan di Bali.

Lama kelamaan pada tahun Saka 1259 atau 1337 Masehi, Paduka Sri Maharaja Walajaya Krethaningrat wafat, oleh karena itu dengan segera Sri Asta Sura Ratna dinobatkan menjadi raja Bali, dengan gelar penobatan Sri Paduka Maharaja Asta Sura Ratna Bhumi Banten dan beliau adalah merupakan adik dari Maharaja Walajaya Krethaningrat yang telah wafat. Tatkala pemerintahan Asta Sura Ratna Bhumi Banten, terciptalah kebahagiaan di pulau Bali, karena kewibawaan dan keagungan beliau, dimana setiap perintah selalu ditaati oleh rakyatnya dan beliau tidak mau kalah wibawa lebih-lebih dikuasai oleh raja-raja lain yang ada di Nusantara, termasuk raja Majapahit. Berselang beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun Saka 1265 atau 1343 Masehi, terdengar berita tentang tentang sesumbarnya raja Bali ini oleh raja Majapahit, yaitu Sri Maharaja Ratu Putri Tribhuwana, lalu sang ratu mengutus Mahapatih Gajah Mada dan Adityawarman (dalam lontar di Bali disebut Arya Dhamar), untuk datang ke Bali, menggelar peperangan terhadap raja Bali.

Sekarang dikisahkan terjadinya peperangan antara laskar Majapahit dengan laskar Bali dan dalam peperangan itu akhirnya laskar Bali mengalami kekalahan. Ki Kbo Iwa kena tipu muslihat Patih Gajah Mada dan akhirnya terbunuh di Telaga Urung (sumur yang belum selesai) dan Ki Pasung Grigis sebagai Mahapatih Bali ditawan di Tengkulak, kemudian beliau Paduka Sri Maharaja Asta Sura Ratna Bhumi Banten tidak sadarkan diri, bagaikan tanpa melihat dunia rasanya, akhirnya beliau gugur dan arwahnya menuju alam swargaloka. Sedangkan istananya di Bedahulu hancur yang tidak mungkin dibangun lagi, akan tetapi permandian beliau sampai sekarang masih utuh, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Pura Arjuna Matapa.

Kembali diceritrakan, tatkala masa pemerintahan Sri Asta Sura ratna Bhumi Banten, dengan berpegang kepada Rajaniti (sistim pemerintahan), untuk membahagiakan negara, beliau mempunyai patih-patih yang diandalkan, untuk menjaga dan mengatur desa-desa yang diwilayahinya, seperti : Ki Pasung Grigis, patih agung di Tengkulak; Ki Kbo Iwa, patih yang berada di Blahbatuh; Ki Patih Ulung di Bata Anyar; Ki Gudug Basur, sebagai Demung di Bata Anyar; Ki Kala Gemet, sebagai Tumenggung di Bata Anyar; Ki Girikmaha (Ularan), di Den Bukit; Ki Tunjung Tulus, di Tianyar; Ki Tunjung Biru, di Tenganan; Ki Bwahan, di Bwahan Kintamani; Ki Tambyak, di Jimbaran; Ki Kopang, di Sraya; Ki Walung Singkal, di Taro; Kyayi Agung Pamacekan, sebagai Demung

Ada lagi para Manca, patih dan Mantri, sebagai pembantu Paduka Maharaja Asta Sura Ratna Bhumi Banten, seperti : Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel, penguasa di Nusa Panida, Takmung, tinggal di Gelgel; sebagai Mancabhumi di Bangli I Gusti Pasek Prateka; penguasa di sebelah barat Bukit Penyu, di sebelah timur desa Bajing, I Gusti Pangeran Tohjiwa, tinggal di desa Tohjiwa; penguasa di desa Mas, Kyayi Pangeran Bandhesa Manik Mas; Ki Pasek Kubakal, berkuasa di Kubakal; Ki Pasek dangka, berkuasa di Banjarangkan, Selisihan dan Taro; I Gusti Pasek Padhang Subhadra, menjadi pengatur Pura Silayukti; Wira Sang Kulputih, Mangku sang Kulputih dan Dukuh Sorga, menjadi pamangku di Besakih; Kyayi I Gusti Agung Smaranatha dan I Gusti Pasek Panataran, yang mengatur di Pura Gelgel; Kyayi Pasek Kubayan, pengatur Pura Watukaru, Pura Panulisan Songan, bertempat tinggal di Wangaya, ada juga di desa Taro dan di desa-desa yang lainnya.

Setelah Bali dikuasai oleh Majapahit, pada tahun Saka 1265 atau 1343 Masehi, Bali saat itu di bawah pimpinan Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel, dibantu oleh Ki Patih Ulung, Ki Arya Pamacekan, tetapi orang-orang Baliaga tidak mengakui keberadaannya dan prilakunya Kyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel dan para pembantu-pembantunya.

Itulah sebabnya Ki Patih Ulung dengan para keluarganya, menghadap kepada penguasa Majapahit, pada waktu itu Kryan Mada bersama-sama menghadap kepada raja Majapahit. Diamkanlah.

Marilah ceritrakan keberadaan di Majapahit, tersebutlah beliau Dhanghyang Kapakisan nama beliau, pendeta suci dan utama, selalu berpegang teguh dengan kependetaannya, beliau adalah keturunan Brahmana, beliau dianggap cudamani (guru kerokhanian, Siwa di Bali), oleh beliau Mahapatih Gajah Mada. Beliau mempunyai seorang putra yang lahir dari belahan batu, beliau bernama Mpu Soma Kapakisan, dari hasil Surya Sewana pada sebuah taman, bertemu dengan seorang perempuan dan dikawini olehnya. Dari perkawinannya itu melahirkan 4 orang putra, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Ke empat putra beliau itu dimohon oleh patih Gajah Mada, untuk dijadikan raja penguasa daerah, maka itulah disebut putra yang utama. Putra yang sulung, dijadikan raja di Brangbangan, adik beliau menjadi penguasa di Pasuruhan, adapun yang perempuan menjadi raja di Sumbawa, dan yang paling bungsu menjadi raja di Bali. Beliau diberi gelar Sri Aji Dhalem Cili Kresna Kapakisan, beliau berpegang teguh kepada kesusilaan, menguasai Aji Rajaniti, bagaikan penjelmaan dewa Wisnu ke dunia, beliau beristana di Samprangan, disertai oleh para Arya dan telah diberi mandat kekuasaan, antara tahun Saka 1272 atau 1350 Masehi. Beliau juga dibarengi oleh para tandamantri yang telah diatur oleh Mahapatih Gajah Mada, yaitu : Arya Kapakisan, Arya Kutawaringin, sebagai Mantri Agung, diberikan tempat tinggal di Tangkas; Arya Kenceng, di Tabanan; Arya Belog atau Arya Pudhak, di desa Kaba-Kaba; Arya Dalancang, di desa Kaphal; Arya Buleteng, di Pinatih; Arya Punta, di Mambal; Jrodeh, di Tamukti; Kryan Tumenggung, di Patemon; Beliau Arya Sentong, di Pacung; Kryan Demung Wang Bang Pinatih Kediri, di Kertalangu, sebelah timur sungai Ayung, dekat dengan tempat moksahnya Raja Bali dahulu, di sekitar hutan Burwan Aji Tegal Magalak. Wang Bang yang berasal dari Lasem, di Sukahet; Wang Bang Mataram, beliau boleh memilih tempat tinggal; Arya Cengkrong Bang, di Jembrana; Arya Pamacekan, di Bon Dalem; Arya Madhura yang lain dari patih Madhura, di sebelah selatan Kerthalangu; Arya Gajahpara dan Arya Getas, di desa Toya Anyar; Arya Mangori dan Arya Pangalasan, Arya Benculuk, mencari tempat masing-masing. Ada Wesya tiga orang bersaudara Si Tan Kober, Si Tan Mundur dan Si Tan Kawur, sama-sama mencari tempat. Demikianlah para Arya yang datang ke pulau Bali menyertai Sri Aji Dhalem Cili Kresna Kapakisan, penguasa pulau Bali. Diamkan.

Aryam mahadiwyam, majamulyam wiryam suram, malyandem palajer asimam, Sentong Aryam witta suksmam

Kembali kita ceritrakan, kekuasaan beliau Arya Sentong, di desa Pacung, bergelar Kyayi Ngurah Pacung, berputra laki, bernama Sira Arya Putu, banyak abdi beliau, sebelah utara dari phalwa gambhira (laut, samudra), di sebelah timur Kali Panahan, sebelah barat Kali Wos, sampai ke gunung dan hutan, itulah wilayah kekuasaan beliau, setelah berselang lama, ada keturunan beliau 2 orang laki-laki, Kyayi Ngurah Ayunan, Kyayi Ngurah Tamu. Kyayi Ngurah Ayunan pindah ke Perian, di sana beliau mendirikan Puri (istana), Kyayi Ngurah Tamu, tidak mempunyai keturunan, setelah meninggalnya Kyayi Ngurah Tamu, semua milik beliau dibawa ke Pacung, seperti : keris, tombak, semuanya dibawa ke Perian oleh Kyayi Ngurah Ayunan, abdinya diambil oleh Kyayi Ngurah Pupuan. Kyayi Ngurah Ayunan tetap tinggal di Puri Perian, dengan gelar Kyayi Ngurah Pacung, setelah berselang lama, pergantian keturunan Bhanu, ada keturunan beliau Kyayi Ngurah Pacung, bergelar Kyayi Ngurah Pacung Sakti, mempunyai permaisuri bernama I Gusti Luh Pacekan, berputra seorang laki-laki, nama beliau Kyayi Ngurah Batanduren, lalu diberi nama I Gusti Ngurah Pacung. Karena titah Hyang Widdhi, pindah beliau menuju desa Sebali, kawin dengan putrinya Dukuh Sebali, pindah dari sana menuju desa Payangan, berputra Kyayi Ngurah Pacung Payangan, pindah lagi menuju daerah Bangli, kawin dengan putrinya Dukuh Bunga, itulah sebabnya ada desa bernama Kembang Sari, setelah lama tinggal di sana, lalu melaksanakan yoga samadhi, ada anugrah Hyang Kawitan, agar pindah dari Kembang Sari, menuju tempat di sebelah utara dari Munduk Gede, setelah itu lalu mampir pada tempat Sang Pendeta Manuaba, keturunan Batulumbang, dan tinggal di sana, beliau sang pendeta amat senang.

Ada suatu cabang ceritra, setelah kalahnya kerajaan Bali oleh Majapahit, tersebutlah seorang keturunan dari Raja Bali Kuna, bernama Kyayi Madayana, dengan gelar Maraja Mandhawa, pergi dari peperangan, dengan tujuan untuk mencapai kanirwanan, lalu melakukan yoga samadhi di sebuah hutan yang angker, bernama hutan Padhang Jerat. Di sanalah beliau mendirikan pangasraman dan kahyangan, ditemani oleh rakyatnya yang terpilih. Beliau Kyayi Madayana Maraja Mandhawa, paham terhadap ajaran-ajaran kerokhanian, senang mendalami sastra-sastra suci, rakyatnya semua senang mengikutinya, lebih-lebih saat membuat kelengkapan tempat suci untuk pemujaan Hyang Widhi. Tempat suci yang dibangun oleh beliau, bernama Kahyangan Pusering Bhuwana, juga disebut Pusering Jagat, adalah tempat pemujaan Hyang Widhi, demikian leluhur-leluhur beliau terdahulu.

Beliau Kyayi Pacung Sakti, setelah lama tinggal di tempatnya sang pendeta, ada keinginan beliau, pindah menuju tempat Kawitan beliau di Perian, tidak lama tinggal di sana, lalu pindah dan tinggal di Punging Puspa, yang nantinya lebih dikenal dengan Carangsari.

Pada suatu hari yang baik ada penghulu/pemimpin krama, yakni Ki Bandhesa, Ki Pangeran Tangkas, Ki Gaduh, Ki Bandhesa Gelgel, Ki Ngukuhin dan Ki Pasek Bulihan, menghadap kepada Kyayi Ngurah Pacung Sakti, menyampaikan tempat perang jaman dulu yang telah hancur dan kelengkapannya juga hancur, agar supaya dapat dibangun kembali, nantinya sebagai panyungsungan jagat. Pada saat itulah Pamekel Talugtug, menjelaskan tentang keberadaan Kahyangan itu dan sang pendeta, ada pemujaan leluhur beliau yang wafat di Pangasraman Manuaba dahulu. Itulah sebabnya patut kembali dibangun Kahyangan itu oleh rakyat beliau semuanya, lalu disebut Kahyangan Puseh Kangin. Apa sebabnya disebut Kahyangan Puseh Kangin; Kahyangan artinya tempat Hyang Widdhi, Bhatara-Bhatari, sakuwubing jagat; Puser artinya wit (asal mula), nabhi (puser,pusat; Kangin artinya pintu palinggih pokok, menghadap purwa, kangin. Kahyangan sebagai yang merupakan asal mulanya jagat/alam. sebagai tempat pemujaan Hyang Widdhi, terutama Sad Kahyangan, dan stana pemujaan pendeta, sumbernya alam dan sumbernya kehidupan. Beliau yang berkuasa di Punging Puspa, Carangsari, telah lama tinggal di sana, pada tahun Saka 1623 atau 1701 Masehi. setelah lama beliau memegang pemerintahan, berganti-ganti, setelah lima puluh tahun, barulah beliau menetap di sana, barulah beliau membangun dan memperbaiki Kahyangan Pusering Bhuwana, kira-kira antara tahun Saka 1673 atau 1751 Masehi.

Setelah menetap di Punging Puspa, Carangsari, lalu berupaya membuat keselamatan masyarakat, dengan membuat tata letak rumah dan perumahan, termasuk palemahan (lingkungan), demikian juga tentang persubakan dan tata parhyangan. Di dalam mengatur tata perumahan, beliau dibantu oleh para pamekel-pamekel yang tersebut di atas, yakni membuat bebanjaran. Di pasubakan menata persawahan, dari merabas kayu di hutan Bengkel, lalu persubakan itu disebut Subak Babakan Bengkel dan membuat tanggul yang disebut Buka Tua. Oleh karena mendapat anugrah Hyang Bhatara Ulun Danu Bratan, dibuatlah panguluning pasubakan, dengan mendirikan palinggih yang disebut Pura Arantaja. Dalam mengatur tata Parhyangan, membuat Kahyangan Tiga, Desa, Puseh, Pura Dalem Sangut, Pura Puseh Beng, Pura Dalem Puri, Pura Dalem Bebalangan.

Beliau yang memegang kekuasaan saat itu di Punging Puspa, Carangsari, beliau bergelar I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka Amangku Bhumi, dibantu oleh para Pamekel-Pamekel Puri, yakni : Pamekel Talugtug, Pamekel Anggungan, Pamekel Jempeng, Ngurah Bebalang, Pamekel Sangut, Pamekel Beng dan para Pamekel-Pamekel yang disebut di depan.

Setelah lama menetap, aman dan sejahtra masyarakat, lalu mengundang (mamendak) Sang Pendeta, sebagai Purohitaning Puri, dari desa Samuan dan diberi tempat tinggal (Geria) dekat Puri. Kahyangan-kahyangan yang dipelihara oleh desa, di atur oleh Krama Desa, ada juga yang dipelihara oleh kelompok tertentu yang disebut Pamaksan, berdasarkan kesepakatan. Lalu desa Punging Puspa, terdiri dari 7 (tujuh) Banjar, yaitu : Banjar Pamijian, Banjar Senapahan, Banjar Sangut, Banjar Talugtug, Banjar Badauh, Banjar Beng dan Banjar Mekarsari.

Demikianlah prihal keberadaan wilayah desa Punging Puspa, Carangsari.

Inilah Raja Purana Pura Puseh Kangin Pusering Jagat, telah selesai dihimpun dan dipasupati (diplaspas) oleh beliau Pendeta Purohita, pada hari Selasa Kliwon, wuku Medangsia, tahun Saka 1935.

Subal

 

Advertisements

2 thoughts on “Purana Pura Puseh Kangin – Terjemahan

  1. Pingback: PURI AGUNG CARANGSARI BALI (THE ROYAL PALACE OF CARANGSARI PRINCEDOM) | agungraam

  2. Pingback: PURI AGUNG CARANGSARI – THE ROYAL PALACE OF CARANGSARI PRINCEDOM (BALI) | agungraam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s