Putra Sasana

OM Suastiastu

OM Awighnamastu namo sidham

Masyarakat adalah kumpulan manusia, yang satu dengan yang lainnya mempunyai hubungan dan saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini maka agama memberi pengaruh hubungan antara seseorang dengan seseorang, antara golongan dengan golongan dan sebagainya. Pengaruh itu misalnya tiap-tiap orang akan selalu dapat menahan diri dalam pergaulan, memperhatikan kepentingan orang lain, bertekad baik dan sebagainya, yang semuanya merupakan ikatan membawa ketentraman hidup dalam masyarakat.

Pura Sasana

Demikian pula halnya dalam kehidupan masyarakat yang merupakan kesatuan terkecil adalah keluarga. Keluarga pada umumnya diartikan terdiri dari bapak, ibu dan anak. Dalam keluarga hendaknya adanya suatu hubungan yang harmonis, antara bapak dengan ibu dan orang tua dengan putra-putrinya. Dalam keluarga Hindu ada suatu tujuan bahwa orang berkeluarga mempunyai tujuan mendapatkan anak yang suputra.

Untuk mencapai tujuan yang mulia itu perlu adanya suatu penghayatan terhadap kewajiban masing-masing sebagai anggota keluarga. Untuk itu pendidikan dan pengajaran cukup memegang peranan yang penting. Maka itu orang tua yang sebagai pendidik yang pertama dalam keluarga, hendaknya memahami pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak, agar anak dapat berkembang dengan baik.

Dalam ajaran agama Hindu yang tersurat dalam Kekawin Nitisastra/Nitisara, disebutkan :

Tingkahning suta sasaneka kadi raja tanaya ri sedeng limang tahun; Saptang warsa wara hulun sapuluhing tahun ika wuruken ring aksara; Yapwan sodasawarsa tulya wara mitra tinaha-taha denta midana; Yan huwus putra suputra tinghalana solahika wuruken ing nayenggita. (Kakawin Nitasastra, Sargah IV, Pada 20)

Artinya :

Adapun menurut Putra Sasana (tata tertib seorang putra), jika anak berumur 5 tahun, hendaknya disayangi, diperlakukan seperti anak raja; Jika sudah berumur 7 tahun dilatih supaya mau menurut, jika sudah berumur 10 tahun, ajarilah aksara/sastra; Jika sudah 16 tahun, diperlakukan sebagai sahabat, kalau kita mau menunjukkan kesalahannya, harus dengan hati-hati sekali; Jika ia sendiri telah beranak, diamat-amati saja prilakunya, kalau hendak memberi petunjuk, hendaknya dengan contoh yang baik.

Kalau kita perhatikan kutipan di atas, dapatlah kita uraikan sebagai berikut :

  1. Jika anak telah berumur 5 tahun (0 – 5 tahun), hendaknya disayang dan dimanja. Pada umur ini seorang anak masih bersih jiwanya, apa yang kita tanamkan akan mudah melekat, maka itu hendaknya diisi dengan pengetahuan, melalui ceritra, dongeng dan atau bernyanyi. Di sinilah terapkan “malajah sambilang magending/magending sambilang malajah“. Memanjakan atau menyayangi, bukanlah berarti memberikan apa yang mereka mau, tetapi kita arahkan kepada yang baik dan berguna, tuntunlah mereka ke arah yang benar.
  2. Jika anak berumur 7 tahun (5 – 7 tahun). Dilatihlah mereka agar supaya mau menurut nasehat orang tua /guru (samatitah). Demikian pula nasehatilah agar tidak suka bertengkar, memaki dan menghina orang lain, tanamkan rasa hidup bersama/toleransi.
  3. Jika anak berumur 10 tahun (7 – 10 tahun), hendaknya diajar menulis dan membaca. Menulis dan membaca adalah merupakan pelajaran dasar untuk mengikuti pelajaran yang lain. Menulis mengenal aksara (Latin dan Bali); membaca hendaknya dilatih, seperti : membaca lancar dan membaca pemahaman.
  4. Jika anak berumur 16 tahun (10 – 16 tahun). Pada usia ini hendaknya dipandang sebagai sahabat dan sudah dapat diajak untuk memecahkan masalah, tetapi hendaknya juga hati-hati, karena sedang masa labil (pancaroba).
  5. Jika anak sudah kawin dan telah mempunyai anak. Pada usia ini kita tetap harus mengamat-amati prilakunya, agar mereka tetap Satyeng Stri (laki) dan Pati Brata (perempuan)

Berdasarkan kutipan di atas maka orang tua/guru, memegang peranan yang penting dalam membimbing anak-anaknya, agar menjadi putra yang suputra. Maka itu ajaran wahyadyatmika, yakni : Para Widya (kerokhanian) dan Apara Widya (pengetahuan umum), harus diterapkan kepada seorang anak.

Para Widya adalah pengetahuan kerokhanian (agama), untuk mendidik menjadi manusia yang berprilaku yang baik serta mulia, bermoral serta berjiwa spiritual. Apara Widya adalah mendidik seorang anak agar menjadi orang yang trampil, cekatan dan pandai. Kedua pengetahuan itu harus diberikan secara seimbang sesuai dengan perkembangan umur seorang anak.

Maka itu peranan orang tua sebagai pendidik dan pengajar yang pertama, hendaknya selalu mempunyai suatu pedoman dalam mengemban putra-putrinya. Agar supaya bagaimana seorang anak mempunyai rasa bakti, rasa hormat kepada orang tua dan saudara-saudaranya, tekun belajar, melatih diri, bermain dan mampu menumbuhkan kreativitas.

Jangan sekali-kali memaksakan kehendak yang bertitik tolak atas kemampuan sendiri, hal ini akan menyebabkan ketimpangan dalam kehidupan dalam keluarga. Jika demikian tujuan membentuk keluarga yang harmonis tidak tercapai. Maka itu perlu agama (Hindu) dipakai sebagai pedoman dan bertingkah laku dalam kehidupan dalam keluarga demikian juga kehidupan dalam masyarakat.

“Taki-takining sewaka guna widya, smara wisaya rwang puluhing ayusa, tengah i tuwuh samwacana gegonta, patilaring atmeng tanu pagurwaken” (Nitisara, Sargah V, Pada 1).

(Seorang pelajar wajib menuntut pengetahuan dan ketrampilan, jika sudah berumur 20 tahun sudah boleh untuk kawin, jika sudah setengah tua, berpeganglah pada ucapan-ucapan yang baik, hanya tentang lepasnya Sanghyang Atma, itulah hendaknya diusahakan).

Perlu usaha para orang tua/guru di dalam membina, mendidik anak-anak dalam bidang mental spiritual. Usaha itu antara lain untuk menanamkan giat, rajin belajar, baik dalam bidang akademik maupun ketrampilan keagamaan. Salah satu contohnya adalah dengan diadakannya lomba pembacaan Tri Sandhya, membuat kawangen, yoga asanas dan sejenisnya. Dalam pembacaan Tri Sandhya, agar diperhatikan ucapan, penggalan kata-kata dan termasuk iramanya. Membuat kawangen dan sejenisnya, adalah sarana agama dalam persembahyangan, agar selain ia mengenal, mampu membuatnya, agar pula diberikan makna dari kawangen itu. Demikian juga yoga asanas, amat baik diberikan pada masa kanak-kanak, karena tulangnya masih lemes, serta mengatur pertumbuhan fisik dan mental dan nantinya mampu mengendalikan diri, karena di dalamnya ada unsur Pranayama.

Demikianlah uraian ringkas ini dapat saya sampaikan dan sebagai penutup, mari kita renungkan tembang berikut ini.

Saking tuhu manah guru, mituturin cening jani, kabisanne luir sanjata, ne nyandang prabotang sai, angge ngaruruh merta, saenun ceninge urip.

OM Santih Santih Santih OM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s