Catur Purusartha

Catur Purusartha, berarti Catur = empat; Purusa = manusia, jiwa; Artha = tujuan. Jadi Catur Purusartha adalah empat tujuan hidup manusia yang utama, yang terdiri dari : Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Tujuan yang ke-empat “moksa” sering dipisahkan tidak dicantumkan, karena merupakan tujuan hidup yang tertinggi, amat abstrak dan sukar diinsafi. Hanya orang-orang atau penganut yang bijaksana dan memiliki kesadaran yang tinggi, karena sering dipandang oleh umat umum tidak besar pengaruhnya dalam kehidupan di masyarakat. Maka itulah Moksa sering tidak menjadi pembicaraan dalam masyarakat umum, sehingga tujuan hidup manusia dalam kehidupan ini ada tiga yang disebut Tri Purusartha.

020114_1313_SumberSumbe1.jpg

Catur Purusartha disebut dengan Catur Warga dan Tri Purusartha disebut dengan Tri Warga. Catur Warga artinya empat tujuan hidup manusia yang terjalin erat antara yang satu dengan yang lainnya, untuk mencapai kesejahtraan masyarakat, untuk mencapai “jagathita” dan “moksa“. Tri Warga, artinya tiga tujuan hidup manusia untuk mencapai kesejahtraan hidup manusia di dunia ini “jagathita“.


Dharma

Dharma, artinya sila atau budi pekerti yang luhur serta penuntun umat manusia di dalam mencapai kebenaran dan kesempurnaan lahir bathin (wahya adyatmika). Dalam “Manu Samhita“, disebutkan : “Weda pramanakah sriyah sadhanam dharmah“. Artinya : Di dalam ajaran suci Weda, dharma dikatakan sebagai alat untuk mencapai kesejahtraan dan kebahagiaan.

Dharma disamping berarti hukum guna mengatur hidup dari segala suatu perbuatan manusia, yang berdasarkan pada suatu pengabdian, juga merupakan suatu tugas sosial di masyarakat.

Untuk melaksanakan ini dipakai pedoman “Catur Dharma“, yaitu : Dharma Kriya, Dharma Santosa, Dharma Jati dan Dharma Putus.

Dharma Kriya, artinya manusia harus berbuat, berusaha dan bekerja untuk kebahagiaan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dengan menempuh cara, pri kemanusiaan yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama Hindu.

Setiap pekerjaan dan usaha akan berhasil dengan baik, apabila dilandasi dengan “sad parimita“, yaitu : Dana Parimita, suka berbuat dharma, amal dan kebajikan. Ksanti Parimita, suka mengampuni kesalahan orang lain. Wirya Parimita, mengutamakan kebenaran dan keadilan. Pradnya Parimita, selalu bersikap tenang, cakap, bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu persoalan. Dhiyana Parimita, merasakan bahwa segalanya ini adalah ciptaan Tuhan dan oleh karenanya wajib menyayangi sesama mahluk hidup. Sila Parimita, selalu bertingkah laku yang baik (Tri Kaya Parisudha) dalam pergaulan.

Dharma Santosa, berusaha untuk mencapai kedamaian lahir bathin dalam diri sendiri, lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam diri sendiri, akan sangat sukar mewujudkan kedamaian, kesentosaan dalam keluarga, apalagi bangsa dan negara.

Dharma Jati, berarti kewajiban yang harus dilakukan, untuk menjamin kesejahteraan dan ketenangan keluarga, serta selalu mengutamakan kepentingan umum disamping kepentingan diri sendiri.

Dharma Putus/Dharma Rahayu, melakukan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta bertanggung jawab demi terwujudnya keadilan bagi umat manusia dan selalu mengutamakan perilaku yang baik untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang berdosa, yang menyebabkan moral menjadi rusak.

Dalam kitab “Wrehaspati Tattwa” disebutkan tentang Dharma, sebagai berikut :

“Silam yajnas tapas danam, prawrejya bhiksu ewa ca, yogas capi dharmasya winirnayah”. Yang tergolong Dharma, yaitu Sila, Yadnya, Tapa, Dana, Prawrejya, Bhiksu dan Yoga.

Sila, artinya berpegang teguh pada tingkah laku yang baik (mangraksa solah rahayu); Yadnya, artinya selalu melakukan pengorbanan suci dengan tulus ihlas (manghanakan homa widhi); Tapa, selalu dapat mengendalikan indria (umeret ikang indriya); Danam, dapat bersedekah dengan tulus (manghanaken paweweh); Prawrajya, menjauhkan diri dari ikatan-ikatan keduniaan; Bhiksu, artinya hidup suci; Yoga, selalu menghubungkan diri dengan Yang Maha Kuasa, dengan sesama dan semua mahluk hidup.


Artha

Artha, artinya harta benda atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi, yang merupakan alat untuk mencapai kesejahtraan dan kebahagiaan hidup. Artha itu diperoleh dan diperuntukkan untuk kepentingan Dharma. Maka itu berdasarkan penggunaan Artha yang berlandaskan Dharma, dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Demi untuk kemakmuran dan kesejahteraan, yang dapat dibagi menjadi Bhoga, Upabhoga dan Paribhoga. Bhoga yaitu kebutuhan primer bagi perkembangan hidup jasmani dari segala mahluk, yaitu makanan dan minuman (Wareg). Upa Bhoga, kebutuhan hidup seperti : pakaian, perhiasan (Wastra). Pari Bhoga, kebutuhan sosial lainnya, seperti : perumahan (Wesma), pendidikan (Waras) dan hiburan (Waskita).
  2. Demi untuk Yadnya, yaitu Panca Yadnya : Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Resi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya.
  3. Demi untuk Dana Punya, merupakan pertolongan atau pemberian yang tulus ihlas kepada yang memerlukan.
  4. Maka don dharma karya (untuk kepentingan Dharma). Maka don artha karya (untuk kemakmuran dan kesejahtraan/perekonomian). Maka don kama karya (untuk kenikmatan hidup).


Kama

Kama artinya keinginan atau hawa nafsu. Pada dasarnya manusia mempunyai keinginan atau hawa nafsu, yakni untuk mempertahankan hidup dan untuk melanjutkan keturunan. Di dalam manusia mempertahankan hidup, hendaknya mampu menggunakan artha yang berlandaskan Dharma dalam menjadi kebutuhan hidupnya, seperti : jika sakit, berobatlah. Jika haus minumlah. Jika lapar makanlah. Jika mengantuk tidurlah dan sejenisnya. Sedangkan Kama yang berarti melanjutkan keturunan, adalah dengan jalan mencari pasangan hidup, untuk memenuhi kenikmatan, kepuasan indria dan hawa nafsu. Hal inipun merupakan kebutuhan pokok manusia, tetapi landasannya adalah Dharma. Ingatlah Tutur Jaratkaru dalam Adi Parwa, yakni tentang pentingnya keturunan (putra), sebagai pembuka pintu sorga.

Oleh karena itu dalam hidup ini hendaknya Dharma sebagai suatu landasan dasar, guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin. Seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya, II. 18. sebagai berikut :

“yan paramarthanya, yan artha kama sadhyan, dharma juga lekasakena rumuhun, niyata katemwaning artha kama mene; tan paramartha wi katemwaning artha kama dening anasar saking dharma”.

Adapun sebenarnya keagungan arti dharma ialah bahwa untuk mendapatkan harta dan kepuasan nafsu, dharma itulah dilaksanakan terlebih dahulu, karena jika sudah demikian tidak boleh tidak harta dan kepuasan nafsu itu pasti akan didapat. Sebaliknya tidak akan ada artinya jika mendapatkan harta dan kepuasan nafsu jika menyeleweng dari ajaran Dharma.


Moksa

Moksa adalah tujuan hidup terakhir dari umat Hindu. Merupakan kebahagiaan bathin yang mendalam dan langgeng, bersatunya kembali Sanghyang Atma dengan Paramatma yang sebagai sumbernya, Ajaran inilah yang disebut dengan “kelepasan“, “sukha tan pawali duhkha“, “Nirwana“.


Demikianlah Catur Purusartha atau Catur Warga, yang merupakan tujuan hidup manusia yang terjalin erat satu dengan yang lainnya. Hal ini dalam kitab “Brahma Purana” ada disebutkan : “Dharmartha kama moksanam sariram sadhanam” (Tubuh adalah alat untuk mendapatkan dharma, artha, kama dan moksa).

Walaupun untuk mencapai itu amat sulit, namun sebagai pedoman hidup kita harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama, dengan jalan berusaha menjalankan kewajiban (swadharma) dengan setulus-tulusnya dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau ternoda. Dalam Sarasamuscaya, III. 21, disebutkan :

“Ikang kayatnan ri kagawayaning kama, artha mwang moksa, dadi ika tan papahala. Kunang ikang kayatnan ring dharma sadhana, niyata maphala ika, yadyapi ri angen-angen juga maphala ya tika”.

Kendatipun bagaimana telitinya (tekunnya) orang berusaha mencapai artha, kama, moksa, namun ada kalanya juga tidak berhasil. Tetapi jika orang teliti (tekun), melakukan kebenaran (dharma) sebagai dasarnya pasti akan berhasil, walaupun hanya baru dalam pikiran saja, hasilnya sudah pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s