Barong Landung – Makna Simbolik

Makna Simbolik Barong Landung

Barong landung secara simbolik adalah salah satu manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Disebutkan oleh Sudarsana (2000: 23-26), sesungguhnya Ida Sang Hyang Widhi adalah tunggal (Ekam Evam Adwityam Brahman), tetapi Beliau memiliki kemahakuasaan untuk memanifestasikan diri melalui kekuatan mayanya menjadi banyak aspek perwujudan. Berbagai manifestasi kekuatan maya Beliau adalah kekuatan Dewa-Dewi, Bathara-Bathari, Bhuta, Kala, Durga, Danawa, Paesaca, termasuk alam semesta serta isinya.

Jro Luh - Barong Landung

Jro Luh – Barong Landung

Sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi adalah sesuai akar katanya “widh” yang artinya widya (maha mengetahui) disamping juga maha agung, maha besar, maha suci, maha tenang/tentram, dan maha sempurna. Karena kemahasempurnaan-Nya, maka Beliau memiliki sebutan “Parama Siwa“.

Beliau seutuhnya Purusa merupakan kesadaran tertinggi yang ada di mana-mana, tanpa aktifitas, belum kena pengaruh maya, dengan demikian Beliau bergelar Nirguna Brahman (Tuhan yang tidak tersentuh guna/fungsi). Kemudian Sang Hyang Widhi mulai bermanifestasi, menjadikan dirinya sendiri, berarti Beliau mulai dipengaruhi oleh kekuatan maya-Nya yang sepenuhnya bersifat “Guna” (fungsi belaka) sehingga kesadaran aslinya yang suci murni berkurang.

Pada keadaan ini muncul kemahakuasaan serba guna-Nya seperti maha pendengar, maha melihat, maha mengetahui. Beliau telah akif dan berkhasiat, memiliki sifat pengampun, memberi sinar penerangan, berinfiltrasi dari tiada berwujud menjadi wujud objek pemujaan dari semua makhluk, sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur hasil ciptaan-Nya, sehigga Beliau bergelar Sada Siwa.

Melihat kemahakuasaan-Nya yang memiliki sifat serba guna maka Beliau memiliki sebutan Saguna Brahmani (Tuhan yang telah tersentuh guna/fungsi). Sang Hyang Sadasiwa bermanifestasi lagi dengan swabhawa (sinar suci)-Nya yaitu Sang Hyang Anerawang, wujud kemahakuasaan hanya berupa getaran-getaran halus. Sang Hyang Anerawang kemudian bermanifestasi lagi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Taya, wujud kemahakuasaan berupa bayangan yang samar-samar.

Sang Hyang Taya kemudian bermanifestasi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Ruci, wujud kemahakuasaan sudah berupa wujud tetapi belum jelas. Selanjutnya Sang Hyang Ruci bermanifestasi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Adi Suksma, wujud kemahakuasaan berupa embun yang gemerlapan. Sang Hyang Adi Suksma bermanifestasi lagi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Siwa. Pada keadaan ini pengaruh maya-Nya sudah makin besar, sehigga Beliau memiliki guna (fungsi) yang telah sempurna, dan kemahakuasaan-Nya berupa Sakti dengan kekuatan Cadu Sakti.

Beliau menjadi maha kerja, berinfiltrasi ke alam semesta ciptaan-Nya dan bersemayam pada semua makhluk. Dengan demikian Beliau memiliki sebutan Kriya Guna Brahman (Tuhan dengan fungsi karya). Kemudian Sang Hyang Siwa berinfiltrasi lagi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu menjadi kekuatan purusa (kejiwaan/positif) dengan sebutan Sang Hyang Macongol, dan menjadi kekuatan prakerti (kebendaan/negatif) dengan sebutan Sang Hyang Mecaling. Kedua kekuatan Beliau ini kemudian kembali menyatu menjadi suatu kekuatan sangat dahsyat, yaitu terjadinya pijaran api yang amat besar, yang akhirnya berubah menjadi gumpalan api yang maha besar, memiliki gaya dan daya putaran (mudra) yang disebut Brahmanda (telur Tuhan/Brahman).

Pada saat terjadinya manifestasi ini disebut masa penciptaan dengan swabhawa Beliau disebut Sang Hyang Tunggal. Karena perputaran Brahmanda tersebut maha dahsyat maka terlemparlah keluar percikan-percikan api yang memiliki daya putar dahsyat juga disebut Mahatresu-Mahatresu (planet-planet termasuk salah satunya Bumi ini).

Keseimbangan dan perputaran bumi di atas oleh kekuatan manifestasi Sang Hyang Widhi dengan swabhawa-Nya Sang Hyang Eka Bumi. Sang Hyang Eka Bumi kemudian bermanifestasi lagi dengan swabhawa Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara), dengan kemahakuasaan-Nya sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur serta memberi kekuatan kepada Tri Loka (tanah, udara, dan angkasa).

Berdasarkan atribut-atribut dalam perwujudan fisik dari Barong Landung, Kardji (1993: 64) dalam kasus penelitiannya mengemukakan makna simbolik sebagai berikut : Jero Gede dengan warna hitam simbol Wisnu, sedangkan Jero Luh yang berwarna putih adalah simbol Iswara, serta Cupak berwarna merah adalah simbol Brahma.

Tafsiran simbol-simbol ini ditarik dari pengetahuan akan adanya Pengider-ider (Pengider Bhuwana). Pengider-ider yaitu simbol-simbol tentang kekuasaan atas empat penjuru mata angin yang disebut Catur Desa: utara dengan simbol warna hitam dikuasai Dewa Wisnu; selatan dengan simbol warna merah dikuasai oleh Dewa Brahma; timur dengan simbol warna putih dikuasai oleh Dewa Iswara; dan barat dengan simbol warna kuning dikuasai oleh Dewa Mahadewa. Penggunaan unsur tokoh Cupak sebagai simbol Brahma diduga di dasarkan pada cerita Cupak-Gerantang. Dalam cerita ini disebutkan Cupak adalah putra Betara Brahma dan Gerantang adalah putra Betara Wisnu.

Makna simbolis dalam Barong landung lainnya disarikan dan dimodifikasi dari hasil penelitian Gadung (2008: 152-155), sebagai berikut :

  1. Rambut Jero Gede terurai panjang adalah sebagai simbol bahwa dalam kehidupan ini tidak luput dari kekusaman atau kekeringan atau kepanasan (masalah). Sedangkan rambut Jero Luh yang disanggul melambangkan suasana hati yang sejuk, atau mampu menyejukkan udara yang panas. Pada intinya, makna keberadaan Barong Landung diharapkan dapat menjaga dunia semesta isinya, agar selalu berada dalam keseimbangan dan terhindar dari berbagai marabahaya.
  2. Mata Jero Gede yang melotot, simbol maha melihat atau mengetahui, dapat memantau baik-buruk, benar-salah prilaku ciptaan-Nya di Bumi. Jero Luh bermata sipit dengan jidat menonjol (jantuk), simbol ketenangan dalam memikirkan apa yang harus dilakukan kala ada masalah yang menimpa ciptaan-Nya di Bumi. Inti nilai yang dikandungnya, manusia harus bisa membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah, sehingga mampu menghadapi masalah dengan tenang dan menempatkan kebenaran, kebajikan di atas segala kebatilan, kesalahan.
  3. Mulut Jero Gede yang lebar dengan gigi tongos dan bertaring adalah simbol kemurkaan dan kegeraman dan kemahakuasaan. Sedangkan Jero Luh tersenyum simpul, simbol kelembutan dan kehalusan budi atau hati. Makna semuanya adalah segala masalah dalam kehidupan ini tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan, melainkan harus dengan kepala dingin dan kelembutan budi atau hati untuk tercapainya mufakat. Setiap kekerasan harus dilawan dengan kelembutan dan ketabahan (bukan dengan kekerasan) demi tercapainya ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.
  4. Warna kulit Jero Gede hitam dan Jero Luh putih adalah simbol rwa bhineda yaitu dua unsur yang selalu bertentangan tetapi harus tetap berpasangan (binnary oppotition), yang akan melahirkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan. Makna simbolisnya, masyarakat harus mampu menerima adanya sifat dualistis tersebut secara bijaksana, menerima perbedaan sebagai sebuah dinamika yang memang dibutuhkan dalam memacu gerak maju kehidupan ini.
  5. Badan barong landung tinggi besar dengan salah satu tangan bertolak pinggang (matungked bangkiang), adalah simbol kegagah-beranian dalam menghadapi segala tantangan dan berbagai ancaman yang ingin mengancam keselamatan dan kedamaian masyarakat. Makna intinya, masyarakat harus teguh akan keyakinan dan ketakwaannya kepada Ida Sang Hyang Widhi, yang akan selalu siap mengayomi, menyelamatkan masyarakat dan siap menghadapi dan menghan-curkan kekuatan jahat yang ingin mengganggu manusia.
  6. Pakaian barong landung, berbaju dengan lengan panjang, dan kain (wastra) serta selimut bawah (kampuh/saput) adalah simbol kematangan jiwa. Maknanya, sebelum berbuat masyarakat harus memikirkan dulu secara matang segala sesuatunya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat merusak citra dan martabat kemanusiaan.
  7. Gerak barong landung yang terbatas, hanya mengayunkan sebelah tangan saja, hanya menggelengkan kepala dan menggoyangkan badan saja adalah simbol keterbatasan yang ada pada setiap diri manusia. Maknanya, setiap orang harus sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki keterbatasan masing-masing, dan saling membutuhkan satu sama lain. Sedangkan, gerakan keliling tempat suci dan upakara caru (kurban) sebanyak 3 kali yang sering dilakukan barong landung adalah simbol selalu awas dan selalu mengusir roh-roh jahat yang mengganggu lingkungan manusia. Hal ini menegaskan kembali fungsi barong landung sebagai makhluk mitologi penolak bala yang bersifat sakral, yang diyakini memiliki kekuatan gaib dalam melindungi pemujanya dari serangan roh-roh jahat.
  8. Iringan musik barong landung adalah geguntangan, yang memiliki irama merdu dan lirih, selaras dengan kebutuhan tembang-tembang melodrama dalam lakon barong landung sehingga jelas tertengar oleh penikmatnya, melambangkan sentuhan kelembutan yang mampu dipersembahkan. Maknanya, kelembutan suara dapat memberikan sentuhan jiwa secara mendalam pada setiap orang.
  9. Sesajen barong landung, gamelan maupun kalangan (stage) adalah simbol sujud bakti manusia terhadap kemahakuasaan Tuhan yang selalu membutuhkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Beliau Yang Mahakuasa.
  10. Kalangan (stage) tempat pementasan barong landung terbuka dari segala arah, biasanya orientasi menghadap tempat suci atau bangunan pemujaan, mangandung makna bahwa apapun yang seseorang kerjakan harus ditentukan arah atau tujuan pastinya, dan dalam mencapai tujuan tersebut harus selalu berorientasi disertai doa kehadapan Tuhan Yang Mahakuasa.

Pendapat lain adalah menurut Dharma Jiyo Tie/Wong Bin Eng/Surya Dharma asal Kota Tabanan, Barong Landung laki-laki berwajah seram, kulit hitam, tubuh tinggi besar, porem muka tua, disebut Ida Bhatara Dalem Sakti atau Jero Gde Dalem Sakti. Wajah seram lambang kewibawaan; Kulit hitam lambang Wisnu, Pemelihara, Pelindung; Tubuh tinggi besar lambang kekuasaan; Porem muka tua lambang sangat dihormati (dituakan), lambang leluhur, dan yang paling dituakan oleh umat manusia dan segala mahkluk adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Barong landung wanita berwajah manis, jidat dan kening sangat menonjol, mata sipit, dagu panjang, kuping lebar, tubuh tinggi, porem muka tua, disebut Jero Luh atau Ida Bhatara Ratu Ayu Subandar. Jidat dan kening menonjol (jantuk) adalah simbol/lambang dari kecerdasan atau IQ tinggi; Dagu panjang lambang dari budayanya tinggi; Kuping lebar lambang dari tanggap terhadap rakyat dan pintar; Kulit putih lambang dari kebajikan dan kebijaksanaan. Porem muka tua lambang sangat dihormati (dituakan) atau sumber asal dari semua mahkluk hidup.

Kedua tokoh utama dalam cerita Barong Landung ini sudah menjadi mitologi yang keramat di Bali, dan secara nyata dipuja sebagai Dewa/Bhatara oleh hampir sebagian besar masyarakat Bali Tengah. Kedua tokoh yang dilukiskan berwarna hitam dan berwarna putih adalah perlambangan dari kebijaksanaan, keadilan atau kewenangan untuk menentukan atau menegakkan kebajikan yang dalam istilah Balinya disebut nyelem-putihin (menentukan hitam dan putih atau mahakuasa).

Mengapa simbol-simbol terasa sangat serasi? Hal ini ada kaitannya dengan persamaan konsep religi orang Bali “Rwabineda” dan Cina “Im-Yang” yang juga memiliki kesamaan dalam tafsiran.

Barong landung laki-laki tua merupakan simbol suci untuk memuja kebesaran raja Sri Jaya Pangus yang bertahta di Kedatuan (istana) Panarajon, sekarang termasuk wilayah Desa Pinggan (Sukawana), Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Barong landung wanita tua merupakan simbol dari permaisuri beliau, yang memiliki keturunan ras Mongoloid (Tionghoa).

Secara kebetulan pula pada zaman pemerintahan raja suami istri ini terjadi suksesi penyatuan mazhab besar dalam agama Hindu di Bali ke dalam paham Siwa-Budha. Simbol warna putih adalah mewakili mazhab Siwa Siddhanta dan hitam adalah simbol mazhab Budha. Dalam Dasa Awatara (sepuluh awatara) Wisnu yang dikenal agama Hindu, salah satunya Budha Awatara. Budha adalah salah satu aspek Wisnu dalam agama Hindu yang disimbolkan dengan warna hitam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s