Barong Landung – Berbagai Versi

Barong Landung adalah salah satu jenis kesenian barong dari banyak seni sakral di Bali, merupakan kesenian yang dipentaskan pada saat pelaksanaan suatu yadnya, dan disesuaikan dengan keperluannya. Pementasan seni sakral ini sangat disucikan dan dikeramatkan oleh masyarakat Bali, dengan tujuan terciptanya dan tetap terjaganya keharmonisan alam semesta ini.

Jro Gede - Barong Landung

Jro Gede – Barong Landung

Fungsi Barong Landung Fungsi

Barong Landung sampai sekarang adalah upacara penolak bala. Biasanya apabila di masyarakat terjadi suatu serangan wabah penyakit, maka dengan didahului proses permohonan spiritual oleh masyarakat kepada Ida Bhatara Dalem Sakti (Jero Gede) dan Jero Luh supaya berkenan turun ke dalam lambang berbentuk Barong Landung untuk mengusir para roh jahat yang mengganggu masyarakat desa.

Setelah dilaksanakan permohonan maka Barong Landung diarak keliling kampung dan menari di depan setiap pintu gerbang pekarangan rumah (lawangan) yang satu ke lawangan rumah yang lain. Karena itulah maka prosesi ini disebut dengan Ngelawang, biasanya dilakukan cukup lama, sampai beberapa hari untuk dapat memenuhi seluruh permohonan seluruh warga desa (mencapai seluruh lawangan rumah penduduk desa).

Pada waktu menari di depan lawangan setiap penduduk, masyarakat pemilik lawangan menghaturkan sesajen canangsari (penguntap/permohonan) berisi dua biji uang kepeng dan segehan (upah kepada pengiring niskala-nya), dipersembahkan sebagai permohonan anugerah kesembuhan, keselamatan, kedamaian (nunas tamba), dibimbing pemangku Barong Landung. Sebaliknya masyarakat bersangkutan mendapat air suci (tamba atau obat) dari Jero Gede dan Jero Luh untuk diperciki pada setiap anggota keluarga, bangunan, binatang peliharaan dan pekarangan, agar terhindar dari wabah penyakit.

Penggunaan uang kepeng pada sesajen, sekarang oleh kebanyakan warga masyarakat sering dikelirukan maknanya, sehingga diganti dengan uang rupiah saja, yang seolah artinya membeli air suci. Padahal, pemakaian uang kepeng harus tetap sebagai sesari dari syarat canangsari (bentuk sesajen paling sederhana), walaupun berisi uang rupiah yang nilainya jauh lebih besar.

Pada beberapa tempat atau kasus, nunas tamba tidak hanya dilakukan pada saat prosesi ngelawang, enam bulan sekali (dalam hitungan kalender Bali, satu bulan 35 hari), tetapi juga dapat dilakukan setiap hari atau pada hari-hari yang telah ditentukan, bertempat di pura tempat Barong Landung distanakan. Pada umumnya sarana upakara (sesajen) yang dipakai atau dibawa adalah lebih lengkap dari pada waktu Barong Landung ngelawang, yaitu banten pejati ditambah canang sari dan segehan serta sarana lain yang diperlukan untuk membuat tamba (biasanya bungkak kelapa hijau atau gading/kuning dan tiga pucuk daun dapdap/taru sakti) atau cukup canang sari saja bila keadaan tidak memungkinkan, mendesak, insidental.

Perlu diketahui bahwa, tidak semua Barong Landung di semua tempat melakukan nambanin (mengobati) setiap hari. Tergantung kehendak yang di atas sana, Ida Bhatara Sesuhunan (Beliau yang dipuja sebagai pemberi perlindungan), sesuai dengan wangsit yang diterima oleh orang yang menjadi juru sapuh (pemangku) Barong Landung di tempat tersebut.


Berbagai Kisah Lahirnya Barong Landung

Dari hasil kajian pustaka penulis terhadap kisah lahirnya Barong Landung di Bali, ternyata terdapat banyak versi, yang semua maksudnya mengarah pada satu artefak yang sama. Adanya perbedaan versi kisah ini, juga disertai dengan sedikit perbedaan ciri-ciri penampilan fisik dan penokohan dari masing-masing versi, disesuaikan dengan keperluan kisah yang akan ditonjolkan dalam pementasan atau seni pertunjukannya dan makna simboliknya.

Versi Pertama – Peruwujudan Sang Catur Sanak

Menurut Yudabakti (2007: 47), kisah keberadaan Barong Landung berkaitan erat dengan Lontar Kanda Pat Bhuta. Dalam lontar Kanda Pat Bhuta dibahas peranan Sang Catur Sanak (empat saudara yang selalu merupakan satu kesatuan) dalam Bhuana Agung (alam semesta) maupun Bhuana Alit (tubuh manusia), dan berkaitan erat dengan keberadaan perwujudan barong.

Keempat Catur Sanak (saudara empat) itu, terdiri atas:

  • Anggapati, di alam semesta menempati arah timur, dan di badan manusia berbentuk nafsu atau kala, yang merupakan musuh manusia yang paling berbahaya;
  • Mrajapati, di alam semesta menempati arah selatan, dan sebagai penguasa Pempatan Agung (perempatan jalan) dan kuburan (Setra Gandamayu) berbentuk Durga, yang memiliki wewenang untuk mengganggu orang yang melanggar aturan atiwa-tiwa (pengabenan);
  • Banaspati, di alam semesta menempati arah barat, mengambil wujud Jin, Setan, Tonya (Barong Landung), penjaga sungai/jurang, dan tempat-tempat keramat;
  • Banaspati Raja, di alam semesta menempati arah utara, mengambil wujud sebagai Barong (Barong Ketket), serta mempunyai tugas sebagai penjaga pohon kayu-kayu besar seperti Kepuh (Rangdu), Pole (Pulasari), Bunut Besar, Beringin, dan lain-lain.

Keempat unsur alam tersebut di atas dinamakan Catur Sanak (saudara empat), dan sudah berada dalam diri setiap orang sejak dari asalnya. Menurut Kitab Kanda Pat, Sang Catur Sanak (keempat saudara) yang diuraikan di atas diyakini sebagai penguasa atau raja setiap jin, setan, tonya, bhuta, kala, dengen, dan lain-lain.

Dengan demikian, Yudabakti (2007: 48) dapat menarik asal-usul atau sejarah atau mitologi dari adanya Barong-Rangda dan Barong Landung adalah berkaitan dengan tugas dan wewenang Sang Catur Sanak di dunia dan pada diri manusia sendiri.

Oleh karena itu, Barong Landung sangat disakralkan oleh masyarakat Bali, karena dipercaya sebagai penolak wabah penyakit dan menetralisir segala bentuk kekuatan jahat dari para bhuta kala (kekuatan negatif).

Jadi, kisah lahirnya Barong Landung diyakini sebagai perwujudan salah satu perwujudan dari Sang Catur Sanak yaitu Sang Banaspati. Disebutkan tentang simbolis Sang Banaspati sebagai penguasa sungai-sungai/jurang dengan wujud sebagai setan, wong samar, dan para orang halus.

Kemudian, gambaran tentang wong samar/tonya itu diwujudkan oleh para undagi sebagaimana bentuk Barong Landung.


Versi Kedua – Bhuta Awu-Awu

Sejarah keberadaan Barong Landung menurut Tonjaya, (1981: 36-46; Yudabakti, 2007: 53-54) itu sangat unik, seperti dikisahkan berikut.

Tersebutlah seorang tonya laki-laki yang bernama Bhuta Awu-Awu yang amat besar dan tinggi badannya, menakutkan dan mempunyai watak, sifat yang tidak baik dan sering menyakiti orang-orang yang ada di sekitarnya dengan kekuatan ilmu hitamnya. Buktinya, di mana ia bertempat tinggal atau berada, maka tempat itu menjadi angker, serta wabah penyakit akan berjangkit, yang menyebabkan kesakitan dan kematian menimpa masyarakat. Karena sifatnya itu, ia tak disenangi oleh rakyat Bali.

Mengingat kejahatan Sang Bhuta Awu-Awu yang membahayakan masyarakat, maka atas prakarsa para pendeta di Bali ia diusir ke luar Bali. Melalui pertempuran yang sangat dasyat secara sekala dan niskala, ia pun merasa kalah dan terusir dari Bali. Karena dikalahkan oleh orang-orang Bali, Sang Bhuta Awu-Awu kemudian lari ke Nusa Penida.

Untuk mewujudkan keanehan dan keangkeran Sang Bhuta Awu-Awu, oleh para undagi diwujudkanlah dalam bentuk Barong Landung. Barong Landung ini terdiri atas: Barong Landung laki-laki yang bernama Jero Gede, dan yang perempuan bernama Jero Luh. Barong Landung ini dipentaskan pada setiap Hari Buncal Galungan (Buncal Balung), berguna untuk mengusir Sang Kala Tiga, yakni Sang Bhuta Dungulan, Sang Bhuta Galungan, dan Sang Bhuta Amangkurat, yang selalu berniat mengganggu pelaksanaan Hari Raya Galungan, hari raya yang dijadikan tonggak peringatan kemenangan dharma atau kebenaran melawan adharma atau kebatilan oleh umat Hindu di Bali dan Indonesia umumnya.

Oleh karena itu, hari Buncal Balung adalah hari-hari pantangan untuk melakukan upacara yadnya, yang jatuh antara Redite Umanis Langkir setelah Kuningan sampai Budha Kliwon Pahang (Tim Sabha Sastra Bali, 2005: 22; Warna, dkk., 1993: 104). Tenggang waktu ini dipakai untuk ngelawang yaitu menarikan berbagai barong sakral di sepanjang kampung dari lawangan (gerbang rumah) satu ke lawangan lainnya. Umat Hindu mendapatkan air suci dari barong yang dapat diperciki ke setiap sudut pekarangan, bangunan, ruangan dan penghuni rumah. Air suci ini diyakini mampu melebur kekuatan negatif yang sebelumnya telah disebar oleh para bhuta kala di bawah perintah Sang Bhuta Awu-Awu.


Versi Ketiga – Ratu Gede Mecaling

Versi lain adalah dari Wayan Kardji (1993: 62-64) yang menghubungkan Barong Landung dengan Ratu Gede Mecaling. Menurutnya, di Bali ada kepercayaan bahwa pada sasih keenem (seputar bulan Januari) roh Dalem Bungkut (disebut juga Dalem Nusa dari Nusa Penida) bergentayangan dan mengganggu masyarakat Bali, karena itu diperlukan unsur penawar.

Namun, segala bentuk barong yang telah ada di Bali tidak ada yang mampu memusnahkan wabah penyakit yang dihembuskan oleh roh Dalem Bungkut, sehingga wabah dan suasana mencekam di mana-mana.

Konon, diceritakan ada seorang penduduk pada suatu malam saking demikian takutnya, sehingga ia sampai terpaksa sembunyi menyelinap di antara rumpun pohon pandan duri. Dalam keadaan selalu awas dan ketakutan dari tempat persembunyian, tepat saat tengah malam orang ini melihat wujud Ratu Gede Mecaling yang tinggi besar sedang menerima anak buahnya yaitu para leak, untuk menerima dan melaporkan tugas barunya masing-masing, sampai saat mereka bubar setelah menjelang pagi.

Singkat cerita, setelah agak siang barulah orang itu berani keluar dari tempat persembunyiannya. Tiba di rumah ia membuat wujud barong yang bentuk tubuh dan wajahnya serupa dengan yang dilihatnya tadi malam. Setiap malam barong itu kemudian diarak keliling desa.

Karena menyangka barong itu adalah Ratu Gede Mecaling, maka para leak itu tidak berani lagi menyerang penduduk desa, sehingga wabah pun berangsur-angsur menghilang. Oleh penduduk desa, kemudian barong ini disebut Barong Landung sesuai dengan wujud barong ini yang bentuk tubuhnya berukuran tinggi besar (landung).

Oleh karena itu, orang Bali kemudian juga mulai menjadi sangat mempercayai kalau daun pandan duri dapat digunakan untuk menolak bala (penyakit, malapetaka) yang diperbuat orang jahat atau para leak.

Pergelaran Barong Landung biasanya diikuti unsur tokoh lain yang berturut-turut disebut: Jero Gede, Jero Luh, Mantri (Putra Raja), dan Galuh (Putri Raja).

Di tempat lain, ada unsur tokoh yang lebih lengkap, dengan penambahan tokoh Cupak. Gambaran ciri-ciri pembeda tokoh, adalah:

  • Jero Gede, berbadan hitam legam, rambut hitam panjang terurai, mengenakan hiasan penutup kepala (destar) berwarna putih berperada, dan menyelipkan keris di punggung;
  • Jero Luh, badannya agak putih/kuning, rambut keputih-putihan disanggul khas Bali (pusung tagel), mengenakan selendang (selempang) bermotif batik dan kain batik kembang nyonya;
  • Cupak, badannya berwarna merah, rambutnya hitam berdiri kejur (Jerang), mengenakan hiasan penutup kepala (destar) berwarna hitam polos (tanpa corak), mengenakan kain poleng dan menyelipkan keris di punggung;
  • Mantri, mengenakan atribut yang serupa dengan tokoh mantri dalam seni pertujukkan arja;
  • Galuh, juga mengenakan atribut serupa dengan tokoh galuh dalam seni pertunjukkan arja di Bali.

Dari kasus penelitian Kardji, Barong Landung yang terdiri atas lima unsur tokoh dapat ditemukan di Banjar Pemeregan (Denpasar), sedangkan yang terdiri atas empat unsur tokoh terdapat di Banjar Anyar (Ubung Kaja), Banjar Batur (Kelurahan Ubung), Banjar Bersih (Peguyangan) dan di beberapa tempat lain.

Di antara tokoh Jero Gede di masing-masing tempat yang disebutkan, menurut Kardji ada menunjukkan perbedaan ciri, yakni ada yang memperlihatkan gigi taring dan ada yang tidak. Perbedaan yang lebih menyolok disebutkan bahwa Barong Landung yang berada di Banjar Batur (Kelurahan Ubung) selain lima unsur tokoh yang umum ditemukan, malah ada satu tambahan tokoh lagi menjadi unsur keenam, yaitu Mantri Alit. Tetapi dari penelusuran Kardji, tambahan tokoh keenam (baru) dilakukan belakangan oleh seorang bernama I Putu Balon (almarhum), dimaksudkan untuk melengkapi peran suatu kisah pergelaran.


Versi Keempat – Shri Aji Jaya Pangus dan Kang Cing Wei

Sudarsana (2005: 29-31) dalam bukunya “Bali Dwipa Mandhala” memberi catatan bahwa, raja besar Bali Shri Aji Jaya Pangus terkenal paling banyak mengeluarkan prasasti (39 buah), berkuasa antara tahun Saka 1103 sampai dengan 1191 (1181 sampai dengan 1269 Masehi), juga telah mempersunting putri Cung Khang dari Tanah Tiongkok.

Raja besar dan bijaksana ini selalu memerintah bersama kedua permaisurinya, telah berhasil membawa pulau Bali ke dalam keadaan damai dan sejahtera dalam waktu cukup lama. Atas jasa besarnya maka oleh sebagian masyarakat Bali diabadikan atau diekspresikan ke dalam seni-budaya Barong Landung.

Topeng (tapel) Barong Landung yang perempuan dibuat dengan ciri-ciri paras muka bermata sipit dan memakai pakaian longdress (seperti pakaian wanita Tionghoa tempo dulu). Sedangkan, yang laki-laki diekspresikan berupa Barong Landung berwajah angker berbadan hitam tinggi besar (warna hitam simbol dari Wisnu atau Waisnawa), yang tiada lain merupakan simbol keagungan, keangkeran dan kewibawaan raja Bali.

Kebesaran raja ini menurut Sudarsana dapat diketahui dari isi lontar Markandhya Purana. Ada disebutkan bahwa ketika tahun Saka 1103 (1181 Masehi) pulau Bali diperintah oleh seorang raja berasal dari keturunan Waisnawa dengan gelar Shri Aji Jaya Pangus Arkajalancana. Arkaja berarti keturunan Arka. Arka berarti Suryawangsa, Suryawangsa sama dengan Hariwangsa, Hariwangsa berarti Wisnu wangsa, itulah Waisnawa namanya.

Shri Aji Jaya Pangus bertahta di pulau Bali bersama dua orang permaisurinya, yang masing-masing bernama paduka Sri Parameswari Indujaketana dan Sri Mahadewi Sasangkajacihna. Yang terakhir ini berasal dari negeri Tiongkok (Cina) dengan nama asli Dewi Cung Khang (Kang Cing Wei). Dewi Cung Khang juga dapat berarti puteri dari Dinasti Cung atau Sung di Tiongkok.

Disebutkan pula dalam lontar Markandhya Purana bahwa sebagai seorang raja diraja yang memerintah di Bali beliau sangat berwibawa dalam melindungi pulau Bali. Beliau dapat melaksanakan tugas kewajiban sebagai pucuk pimpinan seluruh masyarakat Bali, karena beliau sangat bijaksana, bertingkah laku baik dan lagi cakap serta muda, menguasai ilmu pemerintahan dan ajaran-ajaran tentang agama, selalu didampingi oleh kedua orang permaisurinya, para patih, mentri, yang sama-sama menguasai ilmu tentang akal dan taktik kebijaksanaan dalam ilmu pemerintahan, serta sebagai perwira yang menguasai ilmu peperangan. Karena jasa beliaulah menyebabkan pulau Bali menjadi aman, tertib dan santosa.

Juga disinggung bahwa tatkala berkuasanya beliau bersama kedua permaisurinya, maka Sang Rsi Siwa dan Sogata telah berhasil menyelesaikan membangun sebuah bangunan suci yang berupa parahyangan Widhi (bangunan tempat suci pemujaan Tuhan Yang Maha Esa) diberi nama Candi Dasa, yang dibangun tahun Saka 1112 atau 1190 Masehi.

Kemudian pada hari Kamis Wage bulan Palguna (sekitar Pebruari) Saka 1191 atau 1269 Masehi, paduka Shri Aji Jaya Pangus Arkajalancana menuju Wisnu Loka (sorga, wafat), dan abu jenazahnya dicandikan di Dharma Anyar (lokasi sekarang di dekat Pura Pengukur-Ukur, Pejeng, Gianyar), di sana terdapat Pura Panti yang diurus oleh Dangarya Jiwajaya.

Waktu beliau mangkat belum ada penggantinya, sehingga tidak menentu keadaan pulau Bali. Oleh masyarakat Bali, kemudian dibuatlah simbol raja dalam bentuk Barong-Landung.


Versi Kelima – Dalem Balingkang

Dari Gegitan/Geguritan Dalem Balingkang yang dikenal luas di Bali saat ini, seperti pernah dikisahkan kembali dalam Koran Fajar Bali (Edisi 1634, 2007: 8; Gadung, 2008: 83-84) sebagai berikut.

Di Bali pada masa lampau pernah berkuasa seorang raja bijaksana bernama Jaya Pangus, yang diberi gelar Dalem Balingkang, dengan pusat pemerintahannya di Panarajon, di perkirakan berada di sekitar wilayah Puncak Penulisan, yang sekarang masih ditemukan pamerajan-Nya disebut Pura Tegeh Koripan dengan puncaknya adalah Pura Puncak Panarajon.

Kisah lahirnya Barong Landung dan penggunaaan uang kepeng di Bali adalah bermula dari perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Kang Cing Wei (seorang putri Subandar Tionghoa dari hasil perkawinannya dengan jangir/gadis Bali).

Awal kisah, dimulai pertemuan Raja Jaya Pangus dengan seorang saudagar Tionghoa atau Tiongkok yang bernama I Subandar. Kisah lengkapnya adalah sebagai berikut.

I Subandar ingin sekali berdagang di wilayah kekuasaan terutama di kota kerajaan Dalem Balingkang. Untuk memuluskan semua tujuannya sebagai saudagar di Balingkang, I Subandar memanfaatkan kemolekan tubuh putri semata wayangnya Kang Cing Wei untuk merayu Raja Jaya Pangus. Raja pun jatuh cinta setengah mati dengan Kang Cing Wei, dan ingin mengawininya sebagai permaisuri keduanya.

Keinginan raja tidak mendapat restu dari banyak pihak, terutama dari ketua penasehat raja, yaitu Mpu Siwagandu. Alasannya, karena raja sudah mempunyai permaisuri yang cantik jelita dan bijaksana. Tetapi karena raja telah kesemsem dengan Kang Cing Wei, akhirnya beliau memutuskan sendiri untuk mengawini putri saudagar Tiongkok tersebut.

Pada saat upacara perkawinan besar itu I Subandar memberi Kang Cing Wei dua buah uang kepeng sebagai simbol bekal mengabdi kepada raja. Selanjutnya setiap tahun I Subandar selalu mengirim uang kepeng ke kerajaan Balingkang untuk membangun perekonomian rakyat Bali. Cara mewujudkan kesetiaan oleh I Subandar kepada raja, itu kemudian diikuti oleh rakyat Bali dengan memberi sesari dua buah uang kepeng pada setiap persembahannya kepada raja ataupun para dewa.

Mpu Siwagandu tidak merestui perkawinan itu, juga disebabkan oleh karena berdasarkan penglihatan batinnya, perkawinan itu diprediksi akan dapat mendatangkan bencana di kerajaan, dan akan membuat kepercayaan rakyat terhadap raja memudar. Kekecewaaan penasehat kerajaan ini diikuti dengan keluarnya Mpu Siwagandu dari Balingkang, menuju suatu tempat untuk melakukan tapa, memohon turunnya hujan lebat selama satu bulan tujuh hari (42 hari), agar kerajaan hancur diserang banjir.

Permohonan Mpu Siwagandu terkabul, beberapa bulan setelah selesai perayaan upacara pernikahan besar raja Balingkang, turun hujan lebat terus-menerus, diikuti angin puting beliung yang merobohkan segala bangunan dan pohon. Hujan juga disertai gemuruh bersahutan serta petir yang menyambar-nyambar, menyebabkan hancurnya kerajaan Balingkang diterjang air bah dan longsor yang menelan banyak korban jiwa rakyat dan pembesar kerajaan serta harta benda yang tak terhitung nilainya.

Akhirnya, yang tersisa hanya pamerajan kerajaan yang sekarang disebut Pura Puncak Panarajon atau Puncak Panulisan. Raja dan permaisurinya selamat, dan dengan para pembesar kerajaan dan rakyat yang masih selamat, beliau memerintahkan segera pindah ke tempat yang lebih aman untuk membangun istana baru.

Tempat yang dituju adalah lembah yang cukup aman secara geografis dan tanahnya subur bernama Jong Les, sekarang termasuk ke dalam wilayah Banjar Paketan, Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Bangli, dan bekas kerajaan barunya ini sekarang dikenal dengan sebutan Pura Dalem Balingkang.

Kemudian, dikisahkan pasangan suami istri ini telah lama tidak mendapatkan keturunan, akhirnya raja Jaya Pangus atas restu Kang Cing Wei memutuskan berangkat ke Gunung Batur membangun yoga samadhi, untuk memohon keturunan kepada Bhatara Batur.

Dalam perjalanannya Jaya Pangus kemudian bertemu puteri cantik jelita di sebuah gua yang merupakan alam sekalanya Dewi Danu puteri dari Bhatara Batur (versi lain ada menyebut Dewi Danu adalah Sri Danda Dewi putri dari Mpu/Bhagawan Daksa yang juga sedang membangun Yoga Samadhi di sebuah goa di lereng bukit tepi Danau Batur).

Raja terpikat dengan kecantikan putri ini dan memutuskan untuk menikahinya. Raja Jaya Pangus membohongi Dewi Danu mengaku sebagai perjaka agar mau menikah dengannya, sehingga lahirlah putera beliau yang diberi nama Mayadanawa (artinya putra Dewi Danu). Kebohongan raja Jaya Pangus akhirnya terbongkar, saat Kang Cing Wei mencari suaminya yang telah lama pergi ke Gunung Batur tetapi tak kunjung pulang.

Kang Cing Wei diiringi oleh para pembesar kerajaan dan rakyatnya. Diceritakan Kang Cing Wei menemukan suaminya dan raja pun tanpa sadar memanggilnya dengan kata “istriku” kepada Kang Cing Wei. Tanpa sengaja percakapan itu didengar oleh Dewi Danu (Sri Danda Dewi), yang menyebabkan ia murka karena merasa telah ditipu mentah-mentah oleh Raja Jaya Pangus.

Akhirnya tanpa bisa dikendalikan, dengan kekuatan sakti yang pernah dianugerahkan oleh ayahnya Bhatara Batur (versi lain, Bhagawan Daksa) Dewi Danu ngeseng (membakar) tubuh Raja Jaya Pangus dan Kang Cing Wie ini sampai hangus. Kemudian para pembesar kerajaan dan rakyat kerajaan Balingkang, menjadi berduka karena menyaksikan raja dan permaisurinya telah berubah menjadi arang.

Namun, kesetiaan pembesar kerajaan dan rakyat Balingkang terhadap rajanya tetap tidak berubah, dengan mengupacarai layaknya upacara ngaben untuk seorang raja besar, dilanjutkan dengan pendharmaan dengan membuat patung suami isteri sebagai objek pemujaan, yang kini dapat ditemukan di Pura Puncak Panarajon.

Patung yang wanita oleh masyarakat Tionghoa Kintamani disebut Dewi Cung Kang. Sedangkan masyarakat di bawah kekuasaan Dalem Balingkang di daerah Bali Dataran mewujudkan kesetiaannya dengan membuat simbol pemujaan berwujud Barong Landung.


Versi Keenam – Raja Baligo (Bali Aga) dan Putri Onte

Versi ini, pernah diulas oleh Wayan Turun dalam Koran Fajar Bali (Edisi 1633, 2007: 29; Gadung, 2008: 82-83), yang mengatakan bahwa keberadaan Barong Landung di Bali dapat dikaitkan dengan Raja Baligo (Bali Aga).

Disebutkan bahwa, Barong Landung dengan badan tinggi besar tersebut adalah wujud simbolik dari Raja Bali Aga. Dikisahkan bahwa, Raja Bali Aga ini memiliki kekuasaan sampai ke Nusa Penida, dan telah mempunyai seorang permaisuri (Dewi Danu) dan telah menurunkan seorang anak di Ulundanu Batur (Maya Danawa). Walau demikian, sang raja masih tetap berkeinginan untuk memperistri putri Onte dari Tiongkok Selatan. Putri Onte yang tahu raja telah beristri mau menerima pinangan Raja Bali Aga dengan syarat, sang raja harus melakukan upacara potong gigi (metatah) dahulu.

Setelah persyaratan itu dipenuhi, barulah perkawinan antarbangsa bisa dilaksanakan dengan sangat meriah, dirayakan selama 42 hari.

Singkat cerita, setelah cukup lama menikah, pasangan kerajaan ini tidak kunjung dikaruniai putera atau anak. Untuk mengusir rasa kesepian, Puteri Onte mengasuh anak tirinya. Tidak lama kemudian, Puteri Onte sakit keras tanpa tahu penyebabnya. Berbagai jenis dan cara pengobatan telah ditempuh, namun Puteri Onte tetap tidak dapat disembuhkan.

Sesaat menjelang akan meninggal, Puteri Onte sempat berpesan kepada suaminya. “Bila ia meninggal agar Raja Bali Aga membakar jenazahnya, dan membawa abunya yang ditempatkan di kelapa gading ke Besakih“. Sepeninggal Puteri Onte disebutkan Raja Baligo sering merenung dan memikirkan masa depan pulau Bali, oleh karena itu beliau juga berpesan kepada rakyatnya, “Agar tetap tercipta kedamaian dan ketentraman, terhindar dari wabah penyakit (gering), kelak bila aku meninggal buatlah patung berwujud lelawatan (bayangan)“. Bentuk lelawatan itulah cikal bakal dari Barong Landung.

Sebelumnya, perlu dijelaskan sedikit arti dari lelawatan. Lelawatan atau umum dikenal oleh masyarakat pendukung budaya barong di Bali sebagai Pelawatan Ida Bhatara-Bhatari artinya adalah bayangan (wayang) dari Ida Bhatara-Bhatari (para roh suci pelindung desa atau masyarakat Bali).

Dengan demikian seni barong umumnya dan Barong Landung pada khususnya adalah salah satu cara masyarakat Bali untuk membayangkan wujud Ida Bhatara-Bhatari ataupun bentuk-bentuk kemahakuasaan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi).

Sejak kematian Puteri Onte dan Raja Baligo maka sesuai dengan sabda mereka berdua, dibuatlah lelawatan (bentuk bayangan) beliau disebut Barong Landung.


Versi Ketujuh – Purana Dalem Balingkang

Versi ini masih mendukung versi empat, lima, dan enam terkait dengan awal kisah lahirnya Barong Landung. Cuma, versi kisah kehidupan tokoh yang disimbolkan ini menunjukkan sedikit perbedaan dari yang lain tersebut di atas.

Kisah ini diambil dari Purana Dalem Balingkang seperti dimuat dalam harian Nusa Bali 01 – 06 November 2008 halaman 1, dalam rangka menyambut Upacara Rsi Gana, Pasupati Purana, dan Pujawali di Pura Dalem Balingkang, berpuncak pada 12 November 2008.

Disebutkan, Raja Aji Jaya Pangus adalah raja Bali termasyur kedua sejak wafatnya Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa yang naik tahta tahun 989 Masehi (beristerikan Ratu Mahendradatta Gunapriya Dharmmapatni) dan beristana di Kahuripan (sekarang, Besakih). Udayana setelah wafat digantikan oleh putranya bergelar Paduka Haji Sri Dharmawangsa Wardhana Marakata, yang naik tahta tahun 1022 Masehi. Marakata digantikan oleh adiknya, Sri Haji Anak Wungsu tahun 1049 Masehi.

Setelah kematian raja Anak Wungsu, keadaan Kerajaan Bali Dwipa nyaris kacau. Silih berganti putra dan keturunannya naik tahta, di antaranya Sri Maharaja Sri Walaprabhu (naik tahta tahun 1079 Masehi), lalu digantikan oleh Sri Maharaja Sakalendu Kirana (naik tahta tahun 1098 Masehi), yang kemudian digantikan oleh Sri Maharaja Suradhipa (naik tahta tahun 1115 Masehi), lanjut digantikan oleh Baginda Sri Maharaja Sri Ragajaya naik tahta tahun 1155 Masehi.

Setelah sekian kali silih berganti raja yang menduduki tahta Kerajaan Bali Dwipa, kemudian tampil Sri Aji Jaya Pangus naik tahta pada tahun 1181 Masehi. Sri Aji Jaya Pangus memilih membangun istana di Gunung Panarajon (kini, Puncak Panulisan). Tempat ini dipilih karena Gunung Panarajon pada waktu itu merupakan salah satu tulang punggung perekonomian pulau Bali saat itu.

Yang diangkat menjadi Senapati Kuturan saat itu adalah Mpu Nirjanma, dan sebagai penasehat raja adalah Mpu Siwa Gandu dan Mpu Lim. Dikisahkan Mpu Lim sendiri mempunyai seorang dayang keturunan Tionghoa bernama Kang Cing Wei, merupakan putri dari I Subandar (saudagar Tionghoa) hasil perkawinannya dengan Jangir (gadis) Bali.

Kaitan Raja Jaya Pangus dengan didirikannya istana Balingkang (kini, Pura Dalem Balingkang), berawal dari rencana pernikahannya dengan Kang Cing Wei. Waktu itu, Raja Sri Aji Jaya Pangus sudah memiliki permaisuri nan cantik jelita dan bijaksana yaitu Sri Parameswari Induja Ketana. Rencana baginda raja menikahi Kang Cing Wei ditentang keras oleh Bhagawanta Kerajaan yang bernama Mpu Siwa Gandhu, dengan alasan utama beda agama. Raja Sri Aji Jaya Pangus bergama Hindu, sementara Kang Cing Wei beragama Budha.

Namun, raja dalam keputusannya tetap hendak menikahi Kang Cing Wei yang merupakan pelayan Mpu Lim yang menjadi penasihat baginda. Singkat cerita, setelah upacara pernikahan besar itu, Kang Cing Wei kemudian bergelar Paduka Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna.

Di lain pihak, dikisahkan Mpu Siwa Gandhu menjadi marah besar dan meninggalkan istana, karena nasehatnya tidak dituruti oleh baginda raja. Lalu, ia melakukan tapa brata memohon anugerah kepada para Dewa agar terjadi angin ribut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari, untuk memusnahkan Istana Sri Prabhu Jaya Pangus di Gunung Panarajon.

Permohonan Mpu Siwa Gandhu dikabulkan para Dewa, maka terjadilah angin puting beliung dan hujan lebat, menyebabkan aliran sungai meluap di mana-mana, hingga memusnahkan Keraton Sri Baginda Raja Jaya Pangus dengan segala isinya. Sebagian abdinya lari berhamburan mencari tempat yang aman. Namun, sebagian kecil lagi benar-benar setia bhakti mendampingi baginda raja.

Dengan diiringi abdinya yang masih setia, baginda raja mengungsi ke tengah hutan atau ke dalam wilayah Desa Jong Les. Di sana baginda merabas hutan dilengkapi dengan upacara yadnya, lalu mendirikan bangunan-bangunan dan palinggih-palinggih serta istana kerajaan yang baru. Bangunan suci kerajaan Baginda Sri Aji Jaya Pangus itu diberi nama Pura Dalem Balingkang, sementara keratonnya disebut Kuta Dalem (sekarang, Banjar Kuta Dalem, Kintamani).

Jadi, nama Dalem Balingkang diambil dari kata Kuta Dalem, Jong Les, dan Bali Ing Kang (dari nama isteri kedua raja, Kang Cing Wei).

Disebutkan pula, Sri Baginda Raja Jaya Pangus memerintah Kerajaan Bali Dwipa dari Puri Balingkang. Saat memerintah dari Puri Balingkang inilah, seluruh Kerajaan Bali Dwipa kembali sejahtera. Apalagi, setelah baginda raja didampingi oleh kedua permaisurinya yaitu: Sri Prameswari Induja Lancana (yang selalu duduk di sisi kanan baginda) dan Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna (yang selalu duduk di sisi kiri baginda).

Berkat jasanya dalam menyejahterakan rakyat Bali, maka menurut Goris (1974: 15 & 17) tokoh raja ini paling banyak menimbulkan khayalan dalam sejarah Bali. Ia diberi gelar Jaya Pangus Arkaya-cihna, artinya Jaya Pangus sebagai “Putera Surya”. Bagi Goris, Jaya Pangus di Bali nampaknya dapat disejajarkan dengan Hayam Wuruk di Majapahit, terlebih-lebih karena peran penting kedua tokoh ini yang merasa perlu untuk mengisahkan dan memperbaharui titah-titah raja yang hampir dilupakan mengenai daerah-daerah perdikan dan hak-hak desa.

Dalam hal ini, Sri Baginda Raja Jaya Pangus telah mengeluarkan 39 buah prasasti, 38 buah diantaranya berangka tahun sama yaitu Saka 1103 atau tahun 1181 Masehi, hanya satu prasasti yang berangka tahun Saka 1099 atau 1177 Masehi, kini tersimpan di Desa Mantring, Gianyar. Kemungkinan itulah yang menyebabkan raja ini kemudian dipuja-puja oleh masyarakat desa sebagai tokoh penting pelindung desa yang diwujudkan dalam bentuk Barong Landung.


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s