Pura Puseh Kangin

Lokasi

Pura Puseh Kangin disebut pula dengan Pura Puser Kangin, dalam Purana disebut dengan Pura Puseh Kangin Pusering Jagat. Pura ini lokasinya di Banjar Senapan, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Pura ini berada di tengah areal tegalan dan persawahan, yang jauh dari pemukiman penduduk, namun sekarang mudah dicapai, karena telah ada jalan raya yang baik, sehingga dapat dilalui dengan kendaraan bermotor. Pura Puseh Kangin telah beberapa kali mendapatkan penelitian arkeologi, sehingga peninggalan budayanya sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya. Demikian pula telah mendapatkan pengakuan berupa Keputusan Bupati Badung, Nomor 1460/02/HK/2013, sebagai Situs Cagar Budaya.

Pura Puseh Kangin, terdiri dari 3 palebahan, yakni : Jaba Sisi, Jaba Tengah dan Jeroan. Dewasa ini keadaan Pura dalam keadaan baik, bangunannya dalam kondisi yang baik. Namun mengenai benda-benda budaya, masih terdapat dalam areal yang terbuka, tetapi sudah adanya perhatian pemerintah, benda-benda budaya itu telah diatur secara rapi.


Piodalan

Hari piodalan atau pujawali di Pura Puseh Kangin jatuh pada hari Buda Umanis wuku Medangsia. Pelaksanaan upacara di Pura ini ada yang dilaksanakan Pujawali Alit dan Pujawali Nadi. Pada waktu Pujawali Alit, upacara dipimpin (kanteb) oleh Jro Pamangku, sedangkan pada Pujawali Nadi (Ageng), dipuput oleh Sulinggih.

Ketika hari Piodalan/Pujawali, banyak panyiwi yang berasal dari luar Desa Carangsari, ada dari sekitar Petang, dan ada pula dari wilayah Bali serta luar Bali.


Pangemong dan Panyiwi

Pura Puseh Kangin pangemongnya sebanyak 50 KK, yang berasal dari 7 banjar, seperti : Banjar Senapan, Banjar Sangut, Banjar Beng, Banjar Telugtug, Banjar Pamijian, Banjar Mekarsari dan Banjar Bedauh, dan sebagai pangancengnya adalah Puri Carangsari.

Tugas pangemong selain sebagai penyelenggara upacara, juga melaksanakan kewajiban yang berkaitan dengan pembangunan, pemeliharaan baik fisik maupun non fisik, termasuk mengupayakan biaya pujawali.

Sedangkan mengenai penyiwi adalah kelompok masyarakat yang beragama Hindu, yang memuliakan Pura sebagai tempat suci, untuk menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi atau Ista Dewata yang berstana pada sebuah Pura. Untuk penyiwi Pura Puseh Kangin, disamping masyarakat Carangsari, desa-desa di sekitar Kecamatan Petang, dari desa Perean Tabanan, Buleleng serta dari luar pulau Bali, ada yang tangkil pada saat piodalan dan ada juga yang tangkil pada hari-hari tertentu.


Cagar Budaya di Pura Puseh Kangin

Dari hasil penelitian para peneliti, ternyata di Pura ini tersimpan banyak sekali peninggalan-peninggalan budaya masa lampau, yang dapat dijadikan indikasi adanya peradaban manusia masa lampau yang sangat tinggi. Peninggalan-peninggalan budaya tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

Lingga Tri Murti ( Tri Murti Lingga).

Lingga pada umumnya, terdiri dari tiga bagian (Tri Bhaga), yaitu bagian dasar (persegi), disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah (segi delapan), disebut dengan Wisnu Bhaga dan bagian puncak (bulatan) disebut Siwa Bhaga. Lingga yang terdapat di Pura Puseh Carangsari, karena relief yang ada pada Lingga ini dapat diurai sebagai berikut. Bagian bawah Lingga berbentuk bulatan dan pada bulatan paling bawah (dasar), terlihat pahatan 8 kelopak bunga Padma; bagian tengah juga berbentuk bulatan, demikian juga pada bagian puncaknya juga berupa bulatan yang lebih kecil dan polos tanpa hiasan. Keistimewaan yang terdapat pada bagian tengah, dimana terlihat adanya relief tiga buah arca, dengan relief arca yang di tengah sebagai pusatnya. Reilef arca yang di tengah dipahatkan mulai bagian perut hingga mahkota, namun sangat disayangkan bagian kepala sudah pecah (hilang), samar-samar kelihatan bekas mahkotanya, terlihat memakai kalung meskipun agak aus, ke dua tangan diletakkan disamping badan, dengan telapak tangan terbuka, juga terlihat adanya upawita (tali dada). Sedangkan relief arca pengapitnya dipahatkan sebelah badan saja, mulai kaki hingga mahkota. Yang di kiri sebagian badan sebelah kiri, mahkota sudah aus, leher memakai kalung permata, memakai upawita, memakai kain dengan hiasan garis-garis sejajar, serta dua buah sampur di depan dan di belakang pinggul, berupa untaian bunga; sedangkan arca di sebelah kanan, terlihat memilik 3 buah kepala, memakai upawita tanpa hiasan, kain berupa garis-garis sejajar, serta hiasan simping di bagian depan dan belakang pinggang berupa untaian bunga. Kedua relief arca-arca pengapit ini digambarkan dalam posisi kaki bersimpuh. Namun dari penggambaran relief arca pengapit yang menampakkan tiga kepala, maka dapat diduga bahwa arca tersebut adalah arca Dewa Brahma Caturmukha, satu kepala tidak terlihat, jika demikian adanya maka arca yang di tengah adalah arca DewaSiwa dan yang di kiri adalah arca Dewa Wisnu. Seperti kita ketahui bahwa Lingga adalah lambang perwujudan Dewa Tri Murti. Dengan demikian Lingga yang terdapat di Pura Puseh Kangin Carangsari, adalah Lingga Tri Murti/Tri Murti Lingga. Penemuan yang sejenis ini adalah satu-satunya di Bali. Ukuran Lingga ini tinggi 102 cm, tinggi arca tengah 54 cm, tinggi arca pengapit 45 cm.

Temuan Arca-Arca

Di Pura Puseh Kangin Carangsari, terdapat 4 buah arca Ganesa, yang tersimpan di 2 tempat, yaitu satu buah arca Ganesa dia atas baturan di halaman Jeroan dan tiga buah arca Ganesa, yang tersimpan di dalam Gedong Arca.

Arca Ganesa yang terdapat di halaman, digambarkan dengan sikap duduk bersila (wirasana) di atas asana yang berbentuk bulatan, dengan lapik berbentuk segi empat, kepala tegak dengan muka lurus menghadap ke depan, belalai menjulur ke kiri, menuju telapak tangan kiri, muka sudah aus, perut buncit, telinga kanan pecah. Arca digambarkan dengan 4 buah tangan, akan tetapi semuanya telah rusak, terlihat memakai kain yang amat tipis dengan motif garis. Tinggi arca keseluruhan 64 cm dan lebar 39 cm.

Tiga buah arca Ganesa, yang diletakkan dalam Gedong Arca, berderet dari utara ke selatan. Arca Ganesa yang paling utara, digambarkan dalam sikap duduk, kaki kanan ditekuk seperti jongkok dan kaki kiri bersila. Bagian muka sudah rusak dan belalainya sudah patah, mahkotanya berbentuk sumpang, teliga lebar, leher memakai kalung dengan hiasan tengkorak. Tangan 4 buah, namun semua sudah rusak, badan gemuk, perut buncit memakai upawita. Tinggi arca 51 cm dan lebar arca 34 cm.

Arca Ganesa yang di tengah, dengan sikap duduk wirasana, di atas asana segi empat, bagian kepala dan tangan sudah rusak. Badan gemuk dengan upawita. Ukuran tinggi arca 42 cm, lebar arca 27 cm.

Arca Ganesa yang paling selatan, dengan sikap duduk wirasana, di atas asana segi empat, tidak terlihat adanya mahkota, belalai sudah rusak, digambarkan dengan 4 buah tangan, tangan kiri belakang memegang aksamala, tangan kanan belakang memegang camara, sedangkan ke dua tangan depan memegang mangkuk. Badan gemuk, perut buncit dan memakai upawita. Ukuran tinggi arca 33 cm dan lebar arca 26 cm

Banyak lagi ada peninggalan berupa arca, namun dalam keadaan yang rusak, karena dimakan oleh waktu.

Stambha

Stambha adalah sebuah tugu peringatan atas suatu peristiwa kemenangan atau kejayaan yang terjadi pada masa yang lalu, sehingga ada pula yang menyebutkan sebagai Jayacihna. Sering pula disertai dengan tulisan-tulisan, yang menerangkan waktu, tempat dan keterangan lainnya tentang peristiwa tersebut. Seperti Stambha yang terdapat di situs Belanjong (Sanur), yang lebih dikenal dengan Prasasti Belanjong. Stambha di Pura Puseh Kangin Carangsari, mempunyai bentuk berupa tiang monolit yang memiliki perbingkaian mistar pada bagian bawah dan atas, dengan bagian badan berbentuk tiang segi delapan. Ukuran tinggi Stambha 150 cm, lebar 50 cm. Bagian puncaknya mengalami kerusakan, tetapi secara umum bentuknya masih dapat dikenali. Rupa-rupanya makna dari Tugu Kejayaan /Jayacihna, berkaitan dengan pendirian Lingga Tri Murti tersebut, yang mungkin bermakna titik awal penguasaan sesuatu wilayah oleh seorang raja. Stambha ini diperkirakan berasal dari abad ke-14 Masehi.

Komponen Bangunan

Bagian-bagian dari sebuah bangunan suci dari masa lampau, mungkin juga bangunan sebuah candi, cukup banyak ditemukan di Pura Puseh Kangin, sehingga dapat dijadikan indikasi bahwa sangat besar kemungkinannya di sekitar lokasi Pura, pernah berdiri sebuah bangunan Candi sebagai pusat pemujaan.

Bagian-bagian bangunan tersebut antara lain :

  1. Sebuah batu dengan ukuran panjang 25 cm, lebar 21 cm dan tinggi 42 cm, memiliki relief pada ke tiga sisinya yang bertolak belakang, berisikan relief gajah dan di sisi lainnya bermotif makhluk gana, ada lunag di bagian atasnya.
  2. Dua buah batu silinder, diperkirakan puncak dari bangunan candi.
  3. Sebuah dasar puncak bangunan segi empat, dengan ukuran 64 cm X 64 cm, tebal 18 cm, dan lunag segi empat dengan ukuran 7 cm X 7 cm.
  4. Tiga buah dasar kemuncak bangunan yang berbentuk lingkaran dan memiliki ukiran berupa delapan buah bulatan pada bagian atas. Lubang pada bagian tengah diduga sebagai lubang pasak dari batu kemuncak yang ada di atasnya. Batu dasar kemuncak ini memiliki diameter lingkaran 32 cm, tebal 10 cm dan diameter lubang 10 cm.
  5. Empat buah kemuncak bangunan yang memiliki bentuk dasar segi empat yang bertingkat dua, bagian atas berwujud sisi genta yang polos, bagian dasar memiliki hiasan kelopak bunga padma, dengan ukuran tinggi 50 cm, panjang 36 cm dan lebar 20 cm.
  6. Satu pasang Makarajaladwara, yang memiliki hiasan sulur-suluran dengan untaian mutiara sebagai hiasan mulutnya. Ukuran panjang 42 cm, lebar 33 cm dan tinggi 24 cm.
  7. Satu pasang kepala kala dengan wujud mulut terbuka, mata melotot, alis tebal, namun hiasan mahkotanya kurang jelas.
  8. Sebuah batuan candi yang berbentuk segi empat, yang didalamnya memiliki hiasan berupa pahatan segi empat, dengan ukuran panjang 36 cm, lebar 29 cm dan tinggi 12 cm.
  9. Sebuah batu ambang pintu yang memiliki lubang purus pada salah satu ujungnya, dengan ukuran panjang 92 cm, lebar 27 cm dan tebal 18 cm.
  10. Ada pula sebuah Yoni yang pada bagian tengahnya memiliki lubang segi empat dan pada bagian luarnya memiliki perbingkaian. Ukurannya adalah 84 cm X 84 cm X 20 cm. Dasarnya yang terlihat berbentuk batu segi empat ukuran 62 cm X 62 cm X 9 cm.

Peninggalan Tradisi Megalitik

Selain berupa Lingga Tri Murti, Arca-Arca, komponen bangunan serta Stambha, ditemukan pula peninggalan-peninggalan yang mengacu kepada tradisi budaya masa megalitik, seperti :

  1. Menhir atau batu tegak pada masa megalitik, adalah merupakan sebuah bangunan yang dipergunakan sebagai media pemujaan. Di Pura ini terlihat ada 9 Menhir, yang berdiri di halaman dalam dan ada pula yang berdiri berjejer di depan pelinggih.
  2. Dua buah lumpang batu, juga diduga sebagai hasil budaya megalitik yang dibuat sebagai alat keperluan manusia pada masa lampau, di dalam pengolahan biji-bijian.

Menhir-menhir yang terdapat di Pura ini mungkin tidak berasal dari masa Megalitik, tetapi dipastikan memiliki filosofi kepercayaan (penghormatan) terhadap roh suci leluhur, yang berlangsung jaman megalitik. Bentuk Menhir ini kemudian berkembang menjadi bentuk Lingga, yang merupakan lambang Dewa Siwa.


Dipetik dari :

Buku Inventarisasi Situs Cagar Budaya di Kecamatan Abiansemal dan Petang, Pemerintah Kabupaten Badung, Dinas Kebudayaan, 2012

Advertisements

2 thoughts on “Pura Puseh Kangin

  1. Pingback: PURI AGUNG CARANGSARI BALI (THE ROYAL PALACE OF CARANGSARI PRINCEDOM) | agungraam

  2. Pingback: PURI AGUNG CARANGSARI – THE ROYAL PALACE OF CARANGSARI PRINCEDOM (BALI) | agungraam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s