Penerapan Ajaran Tri Hita Karana Dalam Subak

Pendahuluan

Tri Hita Karana merupakan ajaran filosofi agama Hindu yang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan masyarakat adat di Bali. Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan yang dapat dicapai dengan menjaga keharmonisan antar ketiga unsur dalam Tri Hita Karana yaitu unsur Parhayangan (Tuhan), Pawongan (manusia) dan Palemahan (lingkungan).

011814_1359_SubakdanKeb1.jpg

Bagi masyarakat Bali Tri Hita Karana memberikan pengaruh yang besar terhadap aspek kehidupan. Begitu besarnya pengaruh konsep Tri Hita Karana bagi masyarakat adat Bali, maka konsep inipun diterapkan dalam sistem irigasi tradisional yaitu subak, dengan harapan akan tetap terjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia dan lingkungan sekitarnya.

Subak merupakan salah satu organisasi yang menjadi bagian dari desa pakraman, di mana pembentukan subak dilakukan berdasarkan keanggotaannya di dalam mengurus sawah. Sebagai organisasi yang mengurus tentang sistem irigasi tradisional, subak memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yaitu berupa pengaturan susunan sawah dengan tujuan agar sawah mereka dapat dialiri oleh aliran sumber mata air.

Subak memiliki aturan sendiri untuk mengatur anggota-anggotanya juga mempunyai struktur organisasi dengan tugas dan fungsinya masing-masing, sama halnya dengan banjar pakraman atau desa pakraman. Dan dalam menjalankan organisasi tersebut berlandaskan dengan konsep Tri Hita Karana sehingga keseimbangan antara Tuhan, manusia dan lingkungan tetap terjaga.


Sistem Organisasi Subak

Menurut pengertian masyarakat adat Bali, subak merupakan sistem irigasi yang dijalankan secara tradisional dan telah menjadi kegiatan secara turun temurun untuk mengolah lahan pertanian. Pengertian lainnya tentang subak diatur dalam Pasal 1 huruf h Peraturan Pemerintahan Nomor 23 Tahun 1982 dirumuskan pengertian subak sebagai masyarakat hukum adat yang bersifat sosial religius yang secara historis tumbuh dan berkembang sebagai organisasi di bidang tata guna air di tingkat usaha tani.

Sedangkan Pitana menunjukkan ciri dasar dari subak yaitu:

  1. Subak merupakan organisasi petani yang mengelola air irigasi untuk anggota-anggotanya. Sebagai suatu organisasi, subak mempunyai pengurus dan aturan-aturan keorganisasian (awig-awig) baik tertulis maupun tidak tertulis;
  2. Subak mempunyai suatu sumber air bersama. Sumber air bersama ini berupa bendungan (empelan) di sungai, mata air, air tanah atau saluran utama suatu system irigasi;
  3. Subak mempunyai areal persawahan;
  4. Subak mempunyai otonomi baik internal maupun eksternal;
  5. Subak mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (pura yang berhubungan dengan persubakan ).

Berdasarkan pengertian Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1982 Pasal 1 huruf h dan juga ciri yang ditunjukkan oleh Pitana tentang subak tersebut, terlihat jelas bahwa subak merupakan organisasi sosial religius dan tidak hanya sebagai sistem irigasi. Sebagai organisasi subak memiliki struktur kepengurusan dan aturan tersendiri untuk mengatur anggota-anggotanya.

Dalam struktur kepengurusannya subak hampir sama dengan struktur organisasi pada umumnya yaitu terdapat ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Pada organisasi subak dipimpin oleh pekaseh (pimpinan subak) yang dibantu oleh beberapa orang petajuh (wakil). Menurut Wayan P. Windia, petajuh ini biasanya melaksanakan tugas rangkap sebagai petengen/bendahara dan penyarikan/juru tulis. Apabila subak memiliki wilayah yang luas dan jumlah anggotanya ratusan maka akan dibagi lagi dalam bentuk tempekan yang dipimpin oleh kelian tempekan.

Untuk mengatur anggota-anggotanya subak memiliki aturan tersendiri yang disebut awig-awig subak. Awig-awig subak dibuat berdasarkan hasil dari musyawarah para anggota subak atau lebih dikenal dengan sangkepan. Aturan subak berisi perintah, larangan dan kebolehan serta sanksi dalam kelembagaan subak. Bentuk dari awig-awig subak ada dua yaitu awig-awig tertulis yang berisi aturan pokok dan pararem tertulis yang sifatnya lebih fleksibel sebagai aturan pelaksana.


Konsep Tri Hita Karana Dalam Subak

Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, masyarakat adat Bali mempunyai konsep Tri Hita Karana sebagai landasannya. Menurut pengertiannya Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kesejahteraan di dalam kehidupan manusia. Pengertian tersebut diambil dari masing-masing katanya yaitu Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera dan Karana yang artinya penyebab.

Konsep tersebut kemudian diterapkan juga pada sistem organisasi subak. Penerapan konsep ini bertujuan agar keseimbangan hidup sebagaimana dalam ajaran agama Hindu tetap terjaga. Menurut Wayan P. Windia dan Ketut Sudantra, konsep Tri Hita Karana dalam subak diwujudkan dalam tiga unsur yaitu “unsur parhyangan, unsur pawongan dan unsur palemahan“. Ketiga unsur tersebut menurut Ida Bagus Putu Purwita menentukan eksistensi subak, penjabarannya sebagai berikut :

Parhyangan

Setiap subak mempunyai pura tersendiri yang disebut Pura Subak/Pura Ulun Carik, Pura Bedugul/Pura Ulun Empelan atau sebutan lain, sebagai unsur Ketuhanan di dalam subak itu sendiri.

Pawongan

Subak mempunyai anggota yang disebut krama subak atau di beberapa tempat disebut krama carik sebagai unsur kemasyarakatan.

Palemahan

Subak mempunyai wilayah/areal pertanian dengan batas alam tertentu seperti sungai, jalan, pematang besar, desa dan lain-lain.

Adanya semua unsur-unsur tersebut dalam subak membantu menjaga eksistensi subak sebagai salah satu warisan dunia yang berlandaskan dengan nilai-nilai agama di dalamnya. Dengan penerapan konsep Tri Hita Karana dalam subak, masyarakat adat Bali dapat menjaga keseimbangan alam.


Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut :

  1. Subak sebagai organisasi sosial religius yang berlandaskan pada nilai-nilai adat yang bergerak pada bidang usaha tani. Sebagai organisasi subak memiliki struktur kepengurusan yaitu adanya pekaseh, petajuh, petengen dan penyarikan. Sedangkan untuk pengaturannya diatur dalam awig-awig subak dan juga pararem.
  2. Konsep Tri Hita Karana dalam subak memuat tentang tiga unsur yaitu parhyangan, pawongan dan palemahan. Ketiga unsur tersebut terdapat dalam sistem subak yaitu parhyangan dengan adanya pura subak tersendiri, pawongan yang mengatur tentang organisasi subak dan palemahan yang berhubungan lingkungan subak seperti jalan, areal sawah dan lain sebagainya.
Advertisements

One thought on “Penerapan Ajaran Tri Hita Karana Dalam Subak

  1. terimakasih materinya cukup membantu saya. mohon maaf saya meminta bantuan dari iwayan adi s. untuk lebih menjabarkan mengenai aspek yang ketiga yaitu palemahan. saya benar-benar mohon bantuannya untuk tugas kuliah. sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s