Terjemahan Babad Bendesa Manik Mas

Ya Tuhan semoga hamba tiada mendapatkan halangan.

Ya Tuhan yang berwujud dewa Surya yang hamba hormati, lahir bathin mendapatkan kesucian, dunia menjadi selamat, demikian juga keturunan hamba mendapatkan kebahagiaan. Ya Tuhan, anugrahilah kami ketenangan, demikian juga agar para dewi memberikan anugrah, hamba memuja Tuhan, dan semuanya agar mendapatkan anugrah.

Ya Tuhan, maafkanlah hamba, utamanya kepada paduka Danghyang, Beliau yang mengadakan hamba semuanya, semoga kami tiada mendapatkan kutukan, terhindar dari mala pataka.

011914_0348_BabadBendes1.jpg

Ya Tuhan, semoga kami selamat, permohonan maaf hamba kepada Hyang Trayo Dasa Saksi, terutama bintang bersinar cemerlang, sekarang hamba akan menceritrakan, seluruh keturunan I Gde Bandesa Mas, yang tinggal di Jembrana, di Banjar Wani Tegeh, asalnya dari Majapahit, ada keturunannya yang tinggal di Pujungan, namanya I Gde Tobya, hana di Bratan, bernama I Gde Jagra, mendapatkan anugrah utama oleh Ida Ayu Swabhawa, yang berstana di Pulaki, yang disungsung oleh orang Sumedang (orang halus), serta telah memahami tentang ajaran Dasa Sirna (kelepasan), keluarga yang ada di desa Pujungan, yang ada di Bratan, bagaikan Brahmana Pendeta suci, serta banyak mempunyai keturunan, diberikan mantra yang utama, seperti : Canting Mas, Siwer Mas, Weda Sulambanggeni, Pasupati Rancana, semuanya itu dijadikan pegangan oleh I Gde Bandesa Mas, termasuk semua keturunannya, yang sekarang berada di pulau Bali, adalah anugrah beliau Bhatara di Pulaki, terutama beliau Danghyang Dwijendra, yang dipuja di sana, semoga yang memegang Wre Sastra ini, seketurunan I Gde Bandesa Mas, mendapatkan kebahagiaan di mana mereka berada, mendapatkan keselamatan, terhindar dari semua bahaya, berhasil dan berkembang mereka, demikian juga berkembang dalam keluarganya, tiada mendapatkan halangan, jika ada keturunannya I Gde Bandesa Mas, paham terhadap sastra ini dan dapat melaksanakannya, jika ada yang lupa kepada Kawitan dan kurang percaya terhadap sastra ini : “Semoga engkau semua, seketurunan I Gde Bandesa Mas, tidak mendapatkan keselamatan, seperjalanan hidupnya bagaikan orang gila, sakit-sakitan, selalu mendapatkan rintangan, tak henti-hentinya tertipa penyakit, hancur keluarganya, retak bersaudara, demikian isi bhisamanya, demikianlah sabda Beliau kepada Sira Mpu Mas”.

Sekarang diceritrakan perjalanan beliau Danghyang Dwijendra ke Gelgel, bersama dengan Ki Gde Bandesa Mas, untuk menghadap Ida Dalem, tak terceritrakan perjalanan beliau Danghyang Dwijendra.

Diceritrakan beliau Ida Ayu Swabhawa, berada tidur/menginap di Jembrana di Banjar Wani Tegeh, di rumah Ki Gde Bandesa Mas, karena lama beliau ditinggal oleh ayahnya, di sana beliau bingung, yang diemban oleh keluarga Ki Gde Bandesa Mas, saat itu beliau mendapatkan kadurmanggalan (bahaya). Lalu beliau menyebutkan, daerah di sebelah utara Rambutsiwi, yang berpenduduk semuanya 8000, dipralina/dilebut semuanya, beliau yang memimpin di sana, beliau berwujud niskala dan beliau berstana di Pura Pulaki, yang disungsung oleh orang yang tidak kelihatan (orang-orang halus), yang dipralina oleh beliau, disebut Wong Sumedang. Oleh karena amat hormatnya keturunan I Gde Bandesa Mas, kepada Ida Ayu Swabhawa, serta memohon kehadapan beliau, tidak melanjutkan kemarahannya, agar mau menunggu kedatangan Danghyang Dwijendra dari Gelgel, Ida Ayu tiada berkenan, tetapi beliau memberikan anugrah sastra utama, seperti :

merupakan pegangan hidup mati, namanya Canting Mas, Siwer Mas, luar biasa utamanya hakekat sastra itu,                , bagi yang memegang/memahami sastra ini menjadi keheran-heranan, seketurunan Ki Gde Bandesa Mas, demikian juga termasuk semua keturunannya, jhah tasmat, semoga demikian, mendapatkan keselamatan, sehat tidak mendapatkan penyakit dari ilmu-ilmu hitam, semua bentuk halangan musnah olehnya, oleh kekuatan sastra seperti tersebut di atas, semuanya disucikan oleh kesaktian ilmu tersebut, yakni Sanghyang Sastra ini; mampu menguasai mantra dan melaksanakannya, seperti : ada yang disebut Wresastra, itu yang akan menjadi bahasa, ada yang disebut Mudra, untuk menuju kalepasan, ada Swalalita yang menjadi mantra hidup, demikian halnya, itu 20 (dua puluh jumlahnya), itulah asal mula sastra yang dianugrahi oleh beliau Ida Ayu Swabhawa.

Demikianlah bhisama/pesan beliau Ida Ayu Swabhawa, diamkanlah sebentar keadaan Ida Ayu Swabhawa.

Sekarang marilah ceritrakan keturunan I Gde Bandesa Mas, sekarang hamba akan menceritrakan keberadaan Ki Gde Bandesa Mas, setelah berada di Baliaga, ada keturunan beliau beserta sanak saudaranya, Mas Sepuh, Mas Wilis, Mas Mega, beliau bertempat tinggal di daerah kekuasaan Maharaja Mangu, beliau ini berkuasa di Blambangan, ada keturunan beliau di pulau Jawa, beliau itulah yang menggantikannya, Si Tan Kober bertempat tinggal di desa Mas, Si Tan Kawur di desa Gobleg, Si Tan Mundur di desa Gadhingwani, beliau itu keturunan Wang Bang namanya, Satria Pasuruhan yang datang ke Bali, beliau Mas Ireng, Mas Warna, tetap tinggal di pulau Jawa.

Marilah ceritrakan keadaan di Swecalinggapura, yakni Ida Dalem yang memerintah di pulau Bali Tengah, ketika itu beliau keluar menuju balai persidangan, berpakaian kebesaran, bagaikan penjelmaan Wisnu beliau Sri Kapakisan, beliau berdiri, berprilaku yang amat sempurna, sebagai pertanda ksatria utama, anyungklit keris dan menganugrahkan gading (taring gajah) kepada Mpu Mas, kepenuhan mas permata yang utama, Kelihan Mas ada di belakang beliau Sri Aji Kresna Kapakisan, lengkap dengan para punggawa, manca dan parajuru yang lainnya dan para Mpu, Danghyang Siwa Buddha Bhujangga, bercakap-cakaplah beliau, yakni prihal yang dibicarakan dalam rapat, dulu ada utusan beliau Sri Kresna Kapakisam, untuk menyerang pulau Jawa, yakni Aji Pasuruhan, dan utusan beliau sudah berangkat ke pulau Jawa, mereka itu adalah pemuka-pemuka Bali Madya, beliau Arya Kutawaringin, Arya Mangori,, Arya Dalancang, Arya Budha, utamanya Sira Arya Pinatih. Beliau Arya Ularan, ada juga pangabih/pembantu beliau, Sira Pangeran Gde Bandesa Mas, demikian juga Pangeran Pasek Gelgel, dari dahulu mereka itulah para Tri Manggala Yuddha Sri Aji Kresna Kapakisan, mereka itu datang ke Baliaga, merupakan prajurit Majapahit, maka itulah mereka tidak menolak untuk menghadap Sri Kresna Kapaikisan penguasa Swecalinggarsapura.

Tersebut datanglah Patih Ularan, termasuk ke dua Pangeran itu I Gde Bandesa, I Gde Pasek Gelgel, beserta dengan para prajurit-prajuritnya, setelah menyerang Pasuruhan, semua daerah dan rakyatnya telah dikuasai/dikalahkan, banyak rakyatnya yang mati yakni orang-orang Pasuruhan yang terlibat dalam peperangan, tida terhingga kehebatan perang itu, bagaikan laron yang jatuh ke api, diterbangkan angin dan banyak lagi, itulah yang disampaikan kepada Sri Kresna Kapakisan, lengkap dengan harta benda yang utama, dipersembahkan kepada Sri Aji Bali, itu semua merupakan ciri kemenangan. Lalu beliau memperhatikan semua yang datang menghadap, yakni : Rakryan Ularan, Pangeran Gde Bandesa Mas dan Pangeran Pasek Gelgel. Ketika itu Arya Ularan dan Pangeran Ki Gde Bandesa Mas, berkata : “Ya Tuanku Sri Aji, kami telah berhasil sesuai dengan perintah Tuanku, mengalahkan daerah Pasuruhan dan termasuk para penguasanya, terutama Sang Raja telah hamba potong kepalanya raja Pasuruhan dan berhasil menguasai daerahnya, telah berhasil kami kalahkan para penguasa itu yakni Sri Aji Pasuruhan, lalu dilanjutkan oleh Pangeran I Gde Bandesa Mas, daulat Tuanku Sri Aji Bali, hamba telah berhasil memotong pucak gelung korinya Sri Aji Pasuruhan, pucak gopura istana Kakak Tuanku Sri Aji Pasuruhan itu penuh dengan hiasan mas permata, semuanya itu telah hamba ambil, sebagai pertanda kemenangan”, demikianlah atur dari Pangeran Ularan dan Pangeran I Gede Bandesa Mas. Terdiamlah Sri Aji Kresna Kapakisan, bagaikan kejatuhan gunung rasanya, mendengarkan atur orang yang datang itu, menyala-nyala matanya, bagaikan api yang berkobar, luar biasa marah beliau, lalu turun dari Bale Persidangan (Bale Gajah), diam juga, lalu beliau masuk ke dalam Gedong Puri dan menutup pintu, lalu beliau bersabda dari dalam Gedong. “Ai engkau Ularan, ada bhisamaku padamu, mulai saat ini engkau tidak boleh bertemu dan menghadap padaku, karena dosamu luar biasa, yakni membunuh kakakku Sri Aji Pasuruhan, tetapi ada anugrahku padamu, rakyat 200, sawah tegal winih 200, namun pergilah kamu sekarang ini, namun aku memberimu tempat, yaitu menjadi penguasa di Patemon, jangan engkau menghadap padaku lagi, demikianlah bhisama Sri Aji Bali kepada Rakryan Ularan

Engkau Gde Bandesa Mas, ada bhisamaku padamu, karena kemenanganmu, dengan memotong pucak gopura yang bertahtahkan mas permata, mulai sekarang dan seluruh keturunanmu selanjutnya, terutama kamu mulai saat ini aku beri nama I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, mulai saat ini dan selanjutnya dan ada juga anugrahku padamu, rakyat 100, tanah dengan ukuran 100 dan seketurunanmu nantinya, tidak kena iuran/pajak, bebas dari hukuman mati, ada pengurangan hukuman, kalau dapat hukuman mati, hanya diusir, jika kesalahannya hanya menengah diusir dan dimaafkan; demikian juga engkau Pasek Gelgel ada anugrahku sampai seketurunanmu, sama anugrahku padamu Pasek Gelgel, demikian bhisama Sri Aji Kresna Kapakisan“.

Boleh bertemu dengan keluarga I Gde Bandesa manik Mas, akhirnya mereka membuat rumah di Swecalinggapura, yakni di sebelah utara Jro Kuta Puri Agung, mereka dapat bagian 200 orang, mereka I Gde Bandesa Manik Mas, yang menjadi Bandesa ring Gelgel, atas anugrah Sri Aji Bali, banyak keturunannya, dapat merapalkan mantra-mantra dan menyatu dengan prajuru-prajuru yang lain, terutama atas anugrah Sri Aji, seperti : I Gusti Agung, I Gusti Jelantik, I Gusti Natih, I Gusti Dawuh, I Gusti Lanang Jungutan, I Gusti Tapalare, I Gusti Kaler, I Gusti Lot, I Gusti Pangiasan, I Gusti Salotan, itulah para Arya yang ada di Gelgel dan para Pangeran, seperti :

I Pangeran Pasek Gelgel, I Gde Bandesa Manik Mas, I Gde Dangka, I Gde Dawuh, I Gde Gaduh, I Gde Tangkas Agung Durian, I Gde Kabayan, I Gde Pameregan, I Gde Abiantubuh, dan ada juga Pangeran dari pradhana Sri Aji Kresna Kapakisan, semua mendapatkan anugrah yang sama, boleh saling ambil mengambil, saling sembah, atas anugrah Sri Aji Bali, adapun orang-orang yang dianggap kelahiran utama : I Gde Bala Pulasari, I Gde Bandem, I Gde salahin, I Gde Kamoning, I Gde Suruh, demikian banyaknya keturunan Pangeran, para pembesar, berapat di Kahyangan Bali, di Dasar Bhuwana Gelgel, semua orang-orang Bali.

Marilah kita ceritrakan keturunan I Pangeran Pasek Gelgel, brputra 8 orang, yang sulung Pangeran Gelgel, Pangeran Abiantubuh, Pangeran Selat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur, Pangeran Anyaran, Pangeran Kubayan, itu semuanya warga Pasek. Ada juga keturunan Bali Mula, yaitu : Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek taro, Pasek Celagi, berasal dari Pasek Kayu Selem, bersama-sama tinggal di Bali Madya.

Ceritrakan I Gde Bandesa Gelgel, berputra 2 orang, yang sulung Bandesa Gelgel, yang ke dua I Gde Bandesa Manikan, semuanya mempunyai keturunan. Pangeran berputra 3 orang, yaitu : I Gde Rantubuh, I Gde Selat, I Gde Samping, demikian keberadaannya. Pangeran Manikan, berputra 2 orang, yaitu : I Gde Manik Mas, I Gde Pasar Badung, semua tinggal di Gelgel, sebagai pembantu pimpinan di Gelgel.

Berganti ceritra sekarang, ceritrakan keturunan I Gde Bandesa Manik Mas, asal-muasalnya dahulu, tatkala mereka dianugrahi oleh Ida danghyang Dwijendra, semua keturunannya I Gde Bandesa Manik Mas, dapat mempelajari dan melaksanakan sastra-satra utama, yakni untuk menjaga kehidupannya dalam keadaan suka maupun duka, hendaknya tetap berpegang teguh pada dharma susila, boleh menjadi Sulinggih, menggunakan Weda Suksma Adyatmika, berpegang teguh kepada tapa brata yoga dan samadhi, selalu ingat melaksanakan pranayama, itulah hah-hal yang utama anugrah Ida Padanda Sakti Wawurawuh, Ida Danghyang Dwijendra, kepada keturunan Ki Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, seperti : Weda Sulambanggeni, Pasupati Rancana, Canting Mas, Siwer Mas, Aji Wekasing Pati, hendaknya selalu memegang teguh sekala dan niskala, oleh seketurunan I Gde Bandesa Manik Mas, mulai sekarang dan selanjutnya. Ada lagi anugrah Ida Danghyang Dwijendra Padanda sakti Wawurawuh, kepada Ki Pangeran Manik Mas, menjadi orang utama, melaksanakan Dharma Silayukti dan kemampuan OM-kara, semua pemuka-pemuka orang Bali Madhya, hormat dan bhakti kepadanya sekala niskala kepada mereka I Gde Bandesa manik Mas, karena memahami aksara utama.

Demikian pula halnya terhadap Linggih Bhatara (Pura), mereka astiti bhakti sekala niskala, karena telah memahami pengetahuan utama. Sebagai tanda bhakti kepada Padanda Sakti Wawurawuh Danghyang Dwijendra, lalu Ki Bandesa Manik Mas mempersembahkan anaknya kepada beliau, lalu diambil dijadikan istri, lalu berputra Ida Bhatara Bukcabe. Putra beliau Ida Bukcabe ada 3 orang, yang paling sulung tinggal di desa Mas, bernama Ida Kacangpawos, yang ke dua tinggal di Abiansemal, berada di Geria Tegeh, diiring oleh Arya Dawuh, bernama Ida Bukian dan yang paling bungsu pergi ke Padhang Jerak, bersama rakyat (wadwa) 40 orang, di Tanah Beluangan, pindah dari Beluangan lalu tinggah di Tanah Sanur, bersama Arya Pacung, bernama Ida Kidul, itu sebabnya adanya Brahmana Mas, karena ibunya berasal dari I Gde Bandesa Manik Mas, dari dulu sampai sekarang. Lalu beliau Ida Padanda berkeinginan membuat Pura panyungsungan Ida Sang Brahmana di desa Mas, namanya Pura Pule, di pinggir sebelah timur dan Pura pemujaan Ida Bukcabe, pada akhirnya keturunan keturunan Ki Bandesa Manik Mas, membuat lagi Pura di desa Mas, namanya Pura Bukcabe, dapat dijadikan penyungsungan Brahmana semua dan juga disiwi oleh seketurunan Ki Bandesa Gde Manik Mas, jika ada yang lupa tidak ikut nyungsung di Taman Pule dan di Pura Bukcabe, semoga mereka semuanya, seketurunan I Gde Bandesa Manik Mas, jika berprilaku demikian, semoga mereka tidak menjelma menjadi manusia, tidak mendapatkan keselamatan, demikian kutukan bhisama beliau, hilang kemampuannya, pendek umur, salah jalan, gila, selalu bertengkar dalam keluarganya, cekcok dengan saudara, selalu mendapatkan halangan, demikianlah keturunan I Gde Bandesa manik Mas, sampai kepada seluruh keturunannya, janganlah lupa terhadap Pura itu, anugrah Danghyang Dwijendra Padanda Sakti Wawurawuh, disaksikan oleh alam dan gunung semuanya.

Demikianlah anugrah Ida Padanda sakti Wawurawuh kepada Ki Pangeran I Gde Bandesa manik Mas dan ada lagi anugrah beliau yang lain, jika ada yang meninggal, boleh menggunakan Bade, tumpang 7, magunung pitu, matrilaksana, munggah palih, kapas warna 9, makarang liman, mabhoma makampid/bersayap, mapadau, mapring, rurub kajang utama, mahulon Citya Reka, genap dengan segalamacam upakara, kajang salaka, tekeng patra kemul, demikian upakara kematiannya, segala macam mantra engkau boleh, Nyawa Wedhana, Mapangentas, nista madia uttama, yang uttama berharga 8000, yang madhya berharga 4000, yang nista/kecil 1700, yang paling kecil 1100, itulah yang engkau boleh gunakan.

Inilah yang disebut Manusa Yadnya, tempat mayadnya memakai ancak saji, kalau matatah boleh menggunakan Bale Gadhing, mapulagembal, memakai gender wayang, mapadamelan boleh, hendaknya engkau memahami, barulah dapat disebut I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, dan jika engkau tidak memahami hal itu disebut orang Bali Bisulara, semuanya menjadi gelap dan hancur dalam keluarga, tidak menjumpai keselamatan, segalanya bertengkar, tidak mengenal prilaku, demikianlah keturunan I Pangeran Gde Bandesa Manik Mas, janganlah lupa terhadap nasehatku, dari anugrah beliau Padanda sakti Wawurawuh, yang berstana di Pura Taman Pule.

Prasasti ini selesai ditulis dan kapasupati pada hari Anggara Kliwon Julungwangi, pang. 4 sasih Karo, warsaning loka Windhu Bhuwana Dwaraning Wang, 1930 Saka, rah o, tenggek 3, windhu 9, yuga 1.

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s