Kryan Kalanganyar

Tersebutlah Aryeng Kapakisan yang datang ke Bali dan menjadi Adipatih Samprangan. Beliau berputra 2 orang, yaitu :

  1. Sira Arya Nyuhaya
  2. Sira Arya Asak.

Sira Arya Nyuhaya, berputra :

  1. Kryan Patandakan,
  2. Kryan Satra,
  3. Kryan Pelangan,
  4. Kryan Akah,
  5. Kryan Cacaran,
  6. Kryan Kloping dan
  7. Ida Di Anggan.

Sedangkan Sira Pangeran Asak, berputra Kryan Dawuh. Kryan Dawuh berputra 2 orang, yaitu :

  1. I Gusti Ngurah Agung Widhya,
  2. I Gusti Ngurah Agung Pranawa.

I Gusti Ngurah Agung Widhya, berputra 8 orang, yaitu :

  1. I Gusti Agung Kedung,
  2. I Gusti Kalanganyar,
  3. I Gusti Batulepang,
  4. I Gusti Basangtamiang,
  5. I Gusti Karangasem,
  6. I Gusti Istri Bakas,
  7. I Gusti Rai Mimba dan
  8. I Gustri Istri Kangpawos.

Setelah I Gusti Agung Widhya wafat, I Gusti Agung Kedung menggantikan menjadi patih, yakni patih dari Sri Agung Pamadhe. Karena beliau tidak mempunyai putra lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Agung Bekung. Maka itu beliau mengangkat putra, yakni putranya I Gusti Batulepang, yang bernama I Gusti Buringkit, lebih dikenal dengan sebutan Agung Di Badung. Demikian juga mengangkat putra I Gusti Kalanganyar, dengan abhiseka I Gusti Agung Di Made. Setelah I Gusti Agung Kedung meninggal, maka I Gusti Agung Di Madhe, menggantikan kedudukan ayahnya menjadi adipatih Sri Agung Pamadhe.

Setelah beberapa lama I Gusti Agung Di Madhe, pindah dan tinggal di Kuramas, berputra 3 orang, yaitu :

  1. I Gusti Agung Putu,
  2. I Gusti Ayu Istri Madhe dan
  3. I Gusti Agung Anom.

I Gusti Agung Putu, berputra I Gusti Cawu dan tinggal di Kuramas. I Gusti Ayu Istri Madhe kawin dengan Ida Padanda Wanasara. Sedangkan I Gusti Agung Anom, yang dikenal dengan sebutan I Gusti Agung Madhe Agung, kawin dengan I Gusti Luh Bengkel, berputra I Gusti Agung Putu/I Gusti Agung Sakti dan akhirnya dikenal dengan gelar Cokorda Sakti Blambangan, yang merupakan raja pertama di Menghapura.

Adapun I Gusti Kalanganyar, ada putranya yang lain, yaitu :

  1. I Gusti Madhe Kalanganyar,
  2. I Gusti Nyoman Kalanganyar dan
  3. I Gusti Ketut Kalanganyar.

Tersebutlah pada masa pemerintahan I Gusti Panji Sakti di Den Bukit, beliau dapat menguasai daerah Banger Blambangan, dengan rajanya Dalem Pangeran Mas Tawang Alun, yang berputra 2 orang, yaitu : Dewa Mas Sedah dan Dewa Mas Pahit.

Banger Blambangan jatuh ke tangan Panji Sakti, pada tahun “Agni Rupa Rasaning Wong” (1653 Saka = 1731 Masehi). Yang diserahkan memerintah di Blambangan adalah putra Ki Panji Sakti, bernama Ki Gusti Ngurah Wayahan, beliau memerintah sampai tahun “Panca Rupa Rasaning Tunggal” (1655 Saka = 1733 Masehi).

Ketika pemerintahan Panji Sakti dikalahkan oleh Mengwi, maka Banger Blambangan diserahkan pada I Gusti Agung Sakti (Mengwi), pada tahun ” Netraning Wiku Guna Tunggal” (1672 Saka = 1750 Masehi). Pada saat itu yang memerintah di Blambangan Pangeran Amengkuning Rat, Jembrana diperintah oleh I Gusti Takmung dan Adipati di Blambangan, diserahkan kepada putra I Gusti Ketut Kalanganyar, dengan rakyat 600 orang.

Anugrah raja Mengwi kepada Ki Gusti Kalanganyar, adalah :

  1. Ki Pangpangjaya, berupa keris.
  2. Ki Kontajaya, berupa cendekan/tongkat pendek.
  3. Ki Pangimpas Wighna, berupa Lalancep/Pangrupak/sejenis Pangutik.
  4. Ki Candra Bhuta, berupa pakaian kebesaran berwarna putih.

Tatkala wafatnya I Gusti Agung Ratu Panji, kesempatan itu dipakai oleh raja Banger Blambangan, untuk melepaskan diri dari Mengwi, dengan tipu daya melaksanakan pesta besar dengan hiburan. Saat itulah para pembesar Mengwi, mengumbar hawa nafsu, dengan para wanita dengan minum sampai mabuk dan dibarengi dengan opium, sehingga menjadi lupa diri. Para pembesar Mengwi, diserang dengan tiba-tiba, sehingga kucar-kacir, ada yang lari menyelamatkan diri, ada yang menyeberang laut, sehingga ada yang terdampar di Buleleng, Tabanan dan ada juga di Jembrana.

I Gusti Kalanganyar di Jembrana, kawin dengan 4 orang wanita, yaitu :

  1. Ayu Mas Teleng, keturunan Banger.
  2. I Gusti Ayu Sepah, keturunan Jembrana
  3. Jro Manikan, seorang keturunan Prabali
  4. Jro Mambal.

Dari Ayu Mas Teleng, melahirkan Winihayu Teleng, Winihayu Akas, Winihayu Gala dan seorang laki Sira Ghora. Putra dari I Gusti Ayu Mas Sepah, yakni I Gusti Gde Kalanganyar dan dari Jro Manikan, melahirkan Si Gde Berata, pindah ke Karangamla di Sibetan.

Setelah lama tinggal di Jembrana, diketahuilah oleh Raja Mengwi, bahwa Ki Kalanganyar tinggal di Jembrana, atas pemberitahuan I Gusti Kaler Pacekan, maka dipanggillah untuk datang menghadap ke Mengwi.

Saat itulah raja mengeluarkan bhisama :

“Uduh kita Kalanganyar kadi wuwusta, kita mangke hana ri harepku, wenang ta kita, pinaka sahayaning hulun, maka prayodheng bala, sakakisik Manghapura, kita tan wenang halanghati lawan nghulun, apan kita warih tunggal, anghing sangkeng mangke kita wisudha nghulun, makanama Bandesa Kalanganyar, tan wenang pasah lawan hulun, wenang maka bhiseka Guru”.

(Ya saudaraku Kalanganyar, seperti apa yang engkau katakan, sekarang engkau ada di hadapanku, hendaknyalah engkau, sebagai temanku, sebagai pemimpin rakyat (pasukan), di seluruh wilayah Mengwi/Manghapura, engkau janganlah berkecil hati terhadap diriku, oleh karena engkau adalah keturunan yang sama, tetapi mulai saat ini engkau aku tetapkan, memakai gelar Bandesa Kalanganyar, tidak boleh jauh dengan diriku, dan engkau hendaknya memakai sebutan Guru).

Dari I Gusti Gde Kalanganyar, melahirkan putra Guru Gde Sukra. Guru Gde Sukra, melahirkan Guru Gde Giyet. Guru Gde Giyet, melahirkan I Gde Sudha dan I Gde Munggu (I Gde Sudha meninggal di Batuculung). I Gde Sudha, berputra I Gde Lingga dan I Gde Linggih, lalu ke duanya pindah ke Bandhanadesa, mencari saudaranya I Gusti Cakra Pakandelan, menempati karang suwung/karang kosong, namanya Kaliungu, terbentang di sebelah selatan Geria Karang. Atas perintah I Gusti Tegehkori Ki Jambe Aji, diberi tugas menjaga Beji Patirtan, di Taman Hyang Batu.

I Gusti Madhe Kalanganyar, banyak putranya dan mencari tempat masing-masing, ada yang tinggal di Badung, disebut Kalanganyar Badung, yang tinggal di Silasana/Tabanan, disebut Kalanganyar Tabanan.

I Gusti Nyoman Kalanganyar, banyak putranya, ada yang tinggal di desa Batulembeng, Kalanganyar Sukawati, Selaparang, Sasak, Kalanganyar Lombok.

Setelah berkembang bagaikan buah wandhira, menyebar keseluruh pelosok, ada yang di Taman Intaran, Kelandis, Taman Punggul, Taman Basangkasa, Abiantimbul, Blaluan, Gemeh, Dakdakan, Panjer, Krobokan, Mambal, Jimbaran, Pangambengan, Blungbungan, dan terpencar di seluruh desa.

Tersebutlah di kerajaan Tumapel, sang raja Jayakatha, berputra 3 orang :

  1. Arya Wayahan Dalem Manyeneng,
  2. Arya Katanggaran,
  3. Arya Nudatta.

Arya Wayahan Dalem Manyeneng, berputra 2 orang, yaitu :

  1. Arya Gajahpara,
  2. Arya Getas.

Arya Katanggaran, berputra seorang bernama Arya Kbo Anabhrang.

Arya Kbo Anabhrang, berputra Arya Singha Sardula.

Sira Arya Singha Sardula, datang ke Bali, menjadi Panyarikan Dalem, dikenal dengan sebutan Arya Kanuruhan.

Sira Arya Kanuruhan, bertempat tinggal di desa Tangkas, menjadi Panyarikan Dalem Smara Kapakisan.

Sira Arya Kanuruhan berputra 3 orang, yaitu :

  1. Sira Arya Brangsingha,
  2. Sira Arya Tangkas,
  3. Sira Arya Pagatepan.

Sira Arya Tangkas, berputra 4 orang, 3 laki dan seorang perempuan :

  1. Ni Ayu Tangkas, kawin dengan Kyayi Pasek Gelgel.
  2. Kiyai Tangkas Wayahan,
  3. Kiyai Tangkas Di Madhe,
  4. Kiyai Nyoman Tangkas.

Pangeran Tangkas, menggantikan kedudukan I Gusti Gde Pinatih di Kerthalangu Kesiman, karena telah dikalahkan oleh semut. Karena telah merupakan titah Hyang, Ki Pangeran Tangkas membunuh putranya Kiyai Tangkas Di Madhe, bersedihlah ia dan lama tidak menghadap pada Dalem.

Akhirnya Dalem, menyerahkan istrinya yang sudah hamil 2 bulan, untuk melanjutkan keturunan Tangkas. Dari istri Dalem inilah lahir Ki Pangeran Tangkas Koriagung.

Ki Pangeran Tangkas Koriagung, kawin dengan putra Pangeran Mas, yang bernama Ni Gusti Luh Kayumas. Hasil dari perkawinan ini melahirkan putra 2 orang, yaitu :

  1. Kiyai Tangkas Koriagung Kerthalangu,
  2. Kiyai Bandesa Tangkas Koriagung.

Kiyai Tangkas Koriagung Kerthalangu, kawin dengan putrinya Kiyai Brangsingha Pandita dari Gelgel, yang bernama Ni Gusti Ayu Padanggalak, berputra 2 orang, yaitu :

  1. Kiyai Tangkas Koriagung Kerthalangu,
  2. Ni Gusti Ayu Tangkas.

Kiyai Tangkas Koriagung Kerthalangu, berputra 5 orang, yaitu :

  1. Yang pertama perempuan, kawin dengan Kiyai Agung Tangkas Gelgel,
  2. Yang ke dua, kawin ke Puri Tabanan,
  3. Kiyai Tangkas Koriagung, tinggal di Sadhing.
  4. Kiyai Arya Gembong, tinggal di Sumerta,
  5. Kiyai Tangkas Koriagung Pandak.

Tersebutlah Kiyai Arya Gembong, mempunyai seorang putri yang amat cantik, sehingga disayangi oleh kedua orang tuanya. Putri inilah yang diambil oleh Kryan Kalanganyar, yang tinggal di Kaliungu, karena putri kesayangan, sehingga orang tuanya ikut ke Kaliungudesa. Setelah lama tinggal di Kaliungu Kalanganyar, pindahlah mencari tempat yang lebih luas, bersama dengan Kryan Tangkas, tinggal di Alwadesa, Jimbaran.


Tamat.


Sumber : Koleksi Pribadi Drs. I Nyoman Sukada (Br. Denkayu Delodan, Desa Werdi Bhuwana, Kec. Mengwi – Badung)

Advertisements

2 thoughts on “Kryan Kalanganyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s