Pande Wayan Tusan – Tokoh Seniman Selonding

Pande Wayan Tusan, yang sering dipanggil I Wayan Tusan, dan kini beliau sudah menjadi orang suci (Sri Mpu Dharma Phala) lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga miskin, dari pasangan Guru Komang Gede dan Ni Nengah Wage di Banjar Tunggak, Dusun Pandesari, Bebandem pada tahun 1943.

selonding

Karena keadaan ekonomi, beliau hanya sempat mengenyam pendidikan formal SR (Sekolah Rakyat) 6 tahun pada Sekolah Rakyat No. 1 Bebandem dengan ijazah tahun 1959.

Bakat “‘Nyastra” rupanya diwarisi dari akar budaya sang ayah, yang mengabdikan diri sebagai “Balian Usada” yang cukup dikenal pada masanya dan kini mewariskan sejumlah lontar dan pengrupak, yang mengilhaminya untuk melanjutkan belajar secara tradisional (1967) di geria-geria di Budhakeling, Sibetan, Bungaya dan Sidemen, mendalami “guna dusun” yaitu kesusastraan tradisional dan kesenian daerah Bali lainnya.

Dengan berbekalkan semangat yang membaja dan disertai dengan ketekunan serta kerja keras, akhirnya secara otodidak pada tahun 1990 ia berhasil masuk dalam barisan Sastrawan Tradisional, dengan Pengarang Tradisional Bali dan berhasil pula mempersembahkan Piala Utsawa Dharma Gita kepada Pemda Tk. II Kabupaten Karangasem (1990) sebagai Juara 1 Palawakya Dewasa Putra dalam rangka Utsawa Dharma Gita XIII Tingkat Propinsi Bali yang diselenggarakan dari tanggal 28 Pebruari s/d 2 Maret 1990 di Denpasar.


Berikut beberapa aktifitas beliau dalam berkesenian dan pengembangan sastra di Bali, yakni menulis Kakawin Eka Dasa Rudra (1979), Kidung Wargasari Catur Marga (1992), Geguritan Rasmi Sancaya (1992), Geguritan Bhasengsari Turida (1993), Kathanaka Udayana Rasmi Lalangon (1994), Kakawin Putru Saji, (1997), Kidung Cacantungan Karya Panca Bali Krama (1999), dan Gita Mahapitayana (2000)

Kecintaannya terhadap seni memang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kesehariannya, yang sampai saat ini masih aktif sebagai penulis prasasti (Citra Lekha), pada lempiran lontar, lempengan tembaga, perunggu, perak maupun emas. Disamping itu juga sering menulis di media massa tentang Sastra dan Budaya. Karya tulis yang lain, seperti : Buku Deskripsi Seni Daerah Bali Gambelan Selonding (1998), Buku Selonding Tinjauan Gamelan Bali Kuna, Abad X – XIV (Suatu Kajian Berdasarkan Data Prasasti, Karya Sastra dan Artefak).

Pengabdiannya sebagai seorang Ketua BPPLA Kecamatan, menyebabkan kesempatannya bertemu dengan Tokoh Masyarakat, Seniman dan Budayawan menambah pengalamannya dalam berkesenian. Sehingga keterlibatannya dapat dilihat dalam bebagai kegiatan Seni Sastra, memberikan kesempatan untuk mengabdikan dirinya dalam pembina dan juri Utsawa Dharma Gita baik di Tingkat Kabupaten maupun di Tingkat Propinsi Bali dari tahun 1993 sampai dengan 2001.

Disamping menekuni Seni Sastra Tradisional, satu hal yang juga tak kalah pentingnya, sebagai seorang seninam tradisional, sempat meneliti kesenian kuna yang hampir punah, yaitu Gambelan Selonding. Sebagai kepeduliannya, pernah merekonstruksi beberapa Gambelan Selonding yaitu :

  • Gambelan Selonding Besakih, Karangasem (1993)
  • Pasar Agung, Selat, Karangasem (1994)
  • Gambelan Gambang Desa Bebandem, Karangasem (1994)
  • Desa/Banjar Tunggak, Karangasem (1994)
  • Desa Prasi, Karangasem (1998)
  • Desa Seraya, Karangasem (2001),
  • Pura Batur, Bangli (2004)
  • Pura Tuluk Biyu, Bangli (2004)
  • Pure Kehen, Bangli (2005)
  • Pura Penataran Pande Desa Peliatan, Ubud (2006)
  • Desa Macang, Karangaem (2007)
  • Pura Baturaya, Desa Tumbu,Karangasemn (2010)
  • Desa Pekraman Tumbu, Karangasem (2011)

Bilah-bilah yang terdapat di Pura Besakih yang direkonstruksi menggunakan model Selonding Bugbug dan Selat, yaitu dua tempat diantaranya yang masih melestarikan praktek penabuhan Gamelan Selonding.

Sebagai ketua tim, dengan dorongan keagamaannya yang mendalam, beliau memimpin rekonstruksi sehingga set Gamelan Selonding Pura Besakih itu dapat disusun dan kemudian dibunyikan (ditabuh) pada Karya Agung Tri Buana pada tahun 1993, setelah segala persyaratan ritualnya dipenuhi.

Demikian halnya dengan pemugaran Gamelan Selonding Desa Seraya yang dilakukan pada tahun 2001. Tentulah hal itu benar-benar sebuah siddhakarya. Jadi usaha yang dilakukan beliau hampir dari setengah perjalanan hidupnya untuk mengungkap peninggalan yang selama ini tidak dikenal untuk dapat terungkap, artinya akan menambah kekayaan budaya dan kekayaan spritual warga, yang berarti pula menambah kedalaman kehidupan budaya dan religius, tetapi itu untuk secara nasional juga punya makna, karena buat sesama bangsa Indonesia, ini juga suatu penemuan khasanah warisan budaya, jadi sudah tentu sangat bermanfaat.

Hasil penelitian perihal Gamelan Selonding yang diterbitkan dalam buku yang berjudul “SELONDING, TINJAUAN GAMBELAN BALI KUNA ABAD X-XIV” yaitu :

Kabupaten Karangasem

  • Pura Merajan Selonding, Besakih
  • Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Asak, Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem
  • Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem
  • Desa Adat Timbrah, Kecamatan Karangasem
  • Desa Adat Tenganan Pagringsingan, Kecamatan Manggis
  • Desa Adat Ngis, Kecamatan Manggis
  • Desa Adat Datah, Abang
  • Desa Adat Ababi, Abang
  • Desa Adat Duda, Selat
  • Desa Geliang, Besakih
  • Di Pura Pasar Agung, Selat
  • Desa Adat Kedampal, Abang
  • Desa Adat Tista, Abang
  • Desa Adat Tumbu, Karangasem
  • Desa Adat Muncan
  • Desa Pemuteran, Rendang
  • Desa Telengan, Antiga, Manggis
  • Desa Adat Perasi, Karangasem
  • Desa Adat Seraya, Karangasem
  • Desa Adat Selat, Selat

Kabupaten Bangli

  • Desa Adat Terunyan, Batur, Kintamani
  • Desa Adat Kedisan, Batur, Kintamani
  • Desa Adat Buahan, Batur, Kintamani
  • Di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani
  • Desa Campetan, Bantang, Kintamani
  • Desa Adat Serai, Kintamani
  • Desa Adat Awan, Kintamani
  • Desa Panida Kaja, Bangli
  • Desa Campaga, Bangli
  • Di Pura Kehen, Bangli
  • Desa Adat Pengotan, Bangli
  • Desa Bayung Gede, Bangli
  • Blancang, Bangli
  • Bunutin, Bangli
  • Kintamani, Bangli
  • Songan, Bangli
  • Suluhan, Bangli
  • Selulung, Bangli
  • Pura Dalem Balingkang, Kintamani

Kabupaten Klungkung

  • Gamelan Selonding yang disimpan di Pura Penataran Pujung Sari Kayubii, Bangli konon “disambut” oleh Krama Desa Pujung Sari di Pantai Batu Klotok, Kabupaten Klungkung. (I Dewa Poetoe Boekian, TBG. 76/1936)

Kabupaten Buleleng

  • Desa Adat Sembiran
  • Desa Adat Tigawangsa
  • Desa Jagaraga
  • Desa Bulian
  • Desa Kubutambahan
  • Desa Sinabun
  • Desa Pedawa
  • Desa Tejakula

Kabupaten Jembrana

  • Temuan Cagak Selonding di Tukad Aya, Melaya. (Pameran Kepurbakalaan Bali, 1981 : 40). Benda temuan ini tersimpan di Museum Bali, Denpasar

Kabupaten Tabanan

  • Temuan 106 bilah Gamelan Selonding yang tergali di tengah sawah di Banjar Carik, Tista, Tabanan (Widya : 1978)
  • Temuan Gambelan Selonding di Padangan, tergali di tegalan sekitar tahun 1920. Kini tempat tersebut terkenal dengan nama Tegal Selonding. Gambelan Selonding ini tersimpan di Pura Puseh. Gambelan Selonding tercatat juga dalam Prasasti Timpag (Jayapangus 1103 S)

Kabupaten Badung

  • Goa Selonding dan Pura Dalem Selonding di Pecatu Badung.
  • Di Desa Sibang (A.A. Gde Putra Agung, 2001)

Kabupaten Gianyar

  • Menurut catatan Jaap Kunts (1925) di Daerah Kengetan terdapat Gamelan Selonding
  • Di Daerah Payangan, menurut laporan juga ada Gamelan Selonding (D. Schaareman, 1997)
  • Gamelan Selonding juga tercatat dalam prasasti Teba Kauh (D. Schaareman, 1997)
  • Di Desa Bona, Blahbatuh terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem Selonding.
  • Desa Sangkadwan dekat Desa Taro terdapat Gamelan Selonding (I Putu Budiastra, Museum Bali)

Beliau juga membangun satu barung Gambelan Selonding untuk Pengkaderan dan Penelitian, tahun 1994, dengan bantuan I Wayan Widia yaitu seorang Pande Besi dari Banjar Pande Tunggak salah satu ahli pembuat Gambelan Selonding yang setia menemani setiap perjalanan I Wayan Tusan dalam membantu proses rekonstruksi Gambelan Selonding di setiap daerah yang pernah direkonstruksi.

Anugrah Penghargaan Seni “Wijaya Kusuma” dari Pemerintah daerah Tingkat II Kabupaten Karangasem, diterima tahun 1997, dan anugerah penghargaan Seni “Dharma Kusuma” dari Pemerintah Propinsi Bali diterimanya tangal 14 Agustus 2001.

Demikian tentang Biografi Pande Wayan Tusan, salah satu orang yang mengabdikan dirinya untuk sebuah penelitian Gamelan Selonding hasil dari cipta, rasa dan karsa nenek moyang kita pada zamannya yang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentan waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai univesal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s