Asal Mula “Mangupura” – Sekilas Kerajaan Badung

Munculnya nama Badung, kita tidak dapat menemukan sumber tertulis yang memadai, untuk mengungkapkan peristiwa di awal pertumbuhan Badung. Demikian juga keterangan lisan tidak sepenuhnya bisa dipegang, karena peristiwa itu sudah berlangsung terlampau lama. Masyarakat tradisional kita pun tidak mengungkapkan realitas peristiwa secara terbuka, tetapi sering dibungkus dengan simbolis-simbolis atau gambaran keadaan yang diharapkan. Walaupun demikian, apapun itu adalah sesuatu yang kita miliki, sehingga selalu harus dicoba memahamimya.

Pada masa di abad ke-14, setelak ekspedisi Patih Gajah Mada, menjatuhkan kekuasaan raja Bali Kuno terakhir, pada tahun 1343, maka setelah itu Bali diperintah oleh raja-raja keturunan Majapahit, yang mulai berkedudukan di Samprangan (Gianyar). Dalam Babad Dalem disebutkan, raja yang memerintah dari Majapahit, pertama kali adalah Sri Aji Kresna Kepakisan, yang lebih dikenal dengan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan. Untuk pertama kali mendirikan istana di Samprangan, yang disebut Keraton Dalem, yakni Linggarsapura, diperkirakan berdirinya pada tahun 1350, tujuh tahun setelah ekspedisi Gajah Mada. Maka sejak itu Bali diperintah oleh raja, yang dibantu oleh para menteri, punggawa, yang didatangkan dari Majapahit – Jawa. Para menteri dan punggawa, seperti : Patih Nyuhaya dan punggawa-punggawa : Arya Kutawaringin di Klungkung, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-Kaba, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas, Arya Gajahpara dan Arya Getas di Tianyar.

Dari salah seorang Arya tersebut menurunkan raja-raja, penguasa di Badung. Dari tradisi, disebut pada awalnya raja-raja Badung, Denpasar, merupakan keturunan dari Arya Kenceng, yang berkedudukan di Tabanan. Pada masa pemerintahan Sri Aji Samprangan (Dalem Ketut Kresna Kepakisan) di Samprangan, yang menjadi menteri adalah Arya Kenceng. Tetapi saat itu raja ada salah paham dengan Arya Kenceng, sehingga ia diturunkan dari jabatannya. Namun pada suatu saat, kekecewaan Dalem memudar, Ida Dalem Kresna Kepakisan menaruh kepercayaan kepada Arya Kenceng, sebagai imbalannya putra Dalem diserahkan kepadanya, serta dijadikan putra angkat, kemudian dikenal dengan nama Arya Kenceng Tegehkori.

Arya Kenceng Tegehkori, mempunyai kesenangan andewasraya (meditasi), datang ke daerah utara, sampai di Danau Batur. Di sana beliau beryoga samadhi dan dari hasil samadhinya, mendapatkan sabda Ida Bhatara, agar pergi ke daerah arah barat daya, ke daerah yang gelap, hitam (basa Bali : badĕng), dari kata badeng, lalu ada sebutan Badung, terhadap tempat yang ditemukan. Sampai di Badung, Arya Kenceng Tegehkori mendapatkan kepercayaan memimpin sebagai raja, lalu membangun istana bernama Benculuk, terletak di pinggir Sungai Ayung, Desa Tonja. Ada perkiraan pendirian Benculuk itu pada masa pemerintahan Dalem Ile di Samprangan, pada abad ke-14 (tahun 1383). Dalam perkembangannya didirikan pula istana baru di Satria, yakni pada abad ke-16 (tahun 1540) dan kemudian dibangun istana yang ke tiga, yakni Istana Tegal Agung, abad ke-17 (tahun 1610), terletak di selatan kuburan Badung.

Apabila data tersebut benar, dapat diduga bahwa Badung, sebagai nama tempat/kerajaan, telah dibangun pada abad ke-14, yang untuk pertama kalinya berpusat di Benculuk (Tonja), di bawah kepemimpinan Arya Kenceng Tegehkori. Di sana juga dibangun Pura Batur Sari Arya Tegehkori. Ada juga keterangan bahwa Arya Kenceng Tegehkori bertempat di Badung pada tahun 1378, sehingga tahun itu dapat dipandang sebagai awal dari berdirinya Kerajaan Badung (Tegehkori).

Menurut Babad Arya Tabanan, menyebutkan Arya Kenceng memiliki putra, yakni Arya Ngurah Tabanan, yang kemudian dipersaudarakan dengan putra angkatnya Arya Tegehkori. Ketika Arya Kenceng wafat, kedudukannya digantikan oleh Arya Ngurah Tabanan. Arya Ngurah Tabanan berputra Kiyayi Ngurah Langwang dan Ki (Kiyayi) Pucangan, ibunya dari Bendesa Bwahan. Kedua putra lain ibu ini tidak harmonis dalan hubungannya. Karena merasa kecewa Ki Pucangan yang nantinya lebih dikenal dengan nama I Gusti Bagus Notor Wandhira, pergi dari Tabanan, menuju ke arah utara ke Panarajon, terus ke Danau Batur, bersamadhi di sana. Di sana mendapatkan petunjuk agar pergi ke bumi Badung, menuju Istana Satria, dengan mengikuti nasehat itu, kemudian disebutkan, bahwa Arya Tegehkori dan Arya Ngurah Tabanan menurunkan raja-raja Badung.

Sedangkan dalam Babad Badung, menyebutkan Arya Kenceng berputra 4 orang. Yang sulung Sri Magadha Prabhu (tidak ingin jadi raja), yang ke dua Sri Magadha Natha (menggantikan ayahnya menjadi raja), ketiga Kiyayi Ngurah Tegehkori (putra Dalem), menjadi raja di Badung. Kiyayi Ngurah Tegehkori, berputra 3 orang : 1. Kiyayi Wayahan Tegeh, 2. Kiyayi Made Tegeh dan 3. perempuan, kawin dengan putra Kepakisan dari Kapal (tidak mempunyai keturunan). Di Tabanan Arya Kenceng digantikan oleh putranya Sri Magadha Natha. Sri Magadha Natha, berputra 7 orang, tetapi yang disebut hanya 2 orang : 1. Sira Arya Ngurah Agung Langwang, 2. Kiyayi Ketut Bandesa (Kiyayi Ketut Pucangan) nantinya lebih dikenal dengan nama Arya Ketut Notor Wandhira. Sira Arya Ketut Notor Wandhira, setelah samadhi di gunung Batur, pergi ke Badung, diiringi oleh Ki Tambiak, mengabdikan diri kepada Arya Tegehkori.

Di Badung, Kiyayi Pucangan disayangi oleh Arya Tegehkori, menjadi putra angkatnya. Oleh karena Kiyayi Tegehkori mengangkat Ki Pucangan sebagai anak, lalu dipersaudarakan dengan putranya yang bernama : Kiyayi Gede Tegeh dan Kiyayi Made Tegeh, Ki Pucangan diberi nama Kiyayi Nyoman Tegeh. Kiyayi Nyoman Tegeh mendapatkan kejayaan dan kemudian setelah Kiyayi Tegehkori wafat, maka Kiyayi Nyoman Tegeh diangkat menjadi raja Badung dengan gelar Prabhu Bandhana.


bersambung…

Advertisements

One thought on “Asal Mula “Mangupura” – Sekilas Kerajaan Badung

  1. Pingback: Dirgahayu Kota Mangupura Ke-5 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s