Dana Punya – Pengorbanan Tulus Ikhlas

Dana artinya pemberian, sedekah (dana ngaranya paweweh). Punya artinya apa-apa yang baik. Sehingga Dana Punya berarti pemberian atau sedekah yang baik utama.

Maksud dari sedekah yang baik dan utama itu adalah sedekah yang bertalian dengan pengorbanan, berdasarkan hati yang tulus ikhlas, menyerahkan kepada orang yang layak menerimanya.

Walaupun sedikit yang harus disedekahkan oleh orang yang bersedekah, tentu orang yang layak menerimanya, akan bangkit dan akan menyelamatkan ia yang bersedekah itu dari semua dosa. Demikianlah ucapan dalam Manu Smreti.

Hal ini juga diberikan penjelasan oleh Sri Kresna di dalam Bhagawadgita. Sedekah yang diberikan kepada seseorang, dengan tidak mengharapkan balasan, dengan perasaan yang tulus, bahwa bersedekah itu adalah suatu kewajiban suci dan memberikan pada tempat dan waktu yang tepat, diberikan kepada orang yang layak menerima, sedekah itu disebut sedekah yang utama (sattwika danam).

Jika sedekah itu dilakukan untuk mendapatkan balasan, atau sedekah itu menyebabkan sakit hati yang diberi, sedekah itu disebut sedekah yang penuh harapan, untuk mendapatkan untung (rajasika danam).

Demikian juga sedekah yang diberikan tidak pada tempatnya, diberikan kepada orang yang tidak layak menerimanya, dengan cara yang tidak menyenangkan, dikatakan sedekah haram (tamasika danam).

Jadi sedekah itu harus diberikan dengan rasa hormat dengan ramah tamah dan hati yang lemah lembut.

Untuk menjalankan Dana Punya, marilah kita mencari contoh dalam Itihasa Mahabharata.

Setelah kalah dan matinya para Kaurawa beserta pengikutnya,Raja Drestarastra, Dewi Gandhari, Panca Pandhawa beserta Sri Kresna, datang ke medan perang Kuruksetra, untuk melakukan upacara yadnya bagi prajurit yang gugur di medan perang.

Kemudian Yudhistira melakukan perjalan suci (matirthayatra). Pada saat itulah Bhagawan Byasa dan Sri Kresna, menasehati sang Yudhistira agar bersedia menjadi raja dan diawali dengan upacara utama, sebagai penebusan dosa karma, supaya menjadi lebur.

Pada saat itulah Yudhistira, bertanya kepada Sri Kresna : Apa yang harus mereka kerjakan agar supaya upacara itu berhasil.

Sri Kresna memberikan wejangan, yadnya itu dianggap berhasil, hendaknya mohon petunjuk kepada orang suci (sulinggih) dan dipimpin oleh Wiku Tapasa Yogiswara. Saat ini beliau ada di tengah hutan, dengan abiseka Begawan Supaka.

Diceriterakan Sang Yudhistira, mengutus abdinya, untuk datang menghadap kepada Sang Begawan. Tetapi beliau tidak berkenan untuk memimpin upacara tersebut, jika Sang Yudhistira tidak mampu melaksanakan upacara yadnya melebihi Aswamedha.

Hal inipun dipertanyakan oleh Sang Yudhistira, apa maksud dari Sang Begawan itu tentang yadnya melebihi Aswamedha. Sri Kresna memberikan penjelasan, bahwa yang dimaksud adalah yadnya yang harus didasarkan pada pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci. Untuk memohon kepada Sulinggih untuk memimpin upacara kurang baik menggunakan utusan, hal itu pertanda masih menganggap diri lebih tinggi dari sang Sulinggih sebagai pemimpin yadnya.

Maka atas dasar itulah Dewi Drupadi atas nama Pandhawa dan dengan tidak mempergunakan pakaian kebesaran datang menghadap kepada Sang Tapasa Sri Begawan Supaka, dengan menceritrakan segala persiapan upacara. Akhirnya Sri Begawan Supaka berkenan ikut memimpin upacara tersebut.

Setelah upacara itu selesai. Sang Yudhistira, bertanya lagi kepada Sri Kresna, “Apakah upacara yadnya itu telah dianggap berhasil ?”

Sri Kresna memberikan penjelasan : “Upacara Yadnya dianggap berhasil, jika telah mempersembahkan Resi Bhojana dan memberikan Dana Punya (Padaksinan) selayaknya, jika tidak demikian, hasil dari persembahan itu diterima oleh Sang Muput”.

Setelah didengar demikian, dengan segera Dewi Drupadi mempersiapkan Resi Bhojana dan Dana Punya kepada para Sulinggih. Tetapi Dewi Drupadi, merasa ragu akan prilaku Sri Begawan Supaka, karena pada saat menghadapi hidangan, sang Wiku Tapasa (B. Supaka), berperilaku berbeda dengan yang lain, yakni mencampur semua hidangan itu sebelum dimakan.

Saat itu pula Sang Yudhistira, bertanya lagi kepada Sri Kresna, “Apakah persembahan yadnya itu telah selesai dan berhasil ?”

Sri Kresna memberi jawaban, “Upacara Yadnya itu telah selesai, tetapi belum berhasil”. Karena ada salah seorang yang memiliki kerja (anangun yadnya) masih ada yang berperasaan tidak tulus ihlas.

Pada saat itulah Dewi Drupadi, langsung menyatakan maafnya kepada Sang Wiku Tapasa Sri Begawan Supaka. Karena prilaku Sang Wiku adalah pemaaf (ksamawan), segala prilaku Dewi Drupadi dimaafkan.

Dari petikan ceritra itu jelaslah Dana Punya itu amat penting, lebih-lebih kepada Wiku (Sulinggih). Dana Punya yang berlandaskan pikiran suci dan tulus ihlas.

Dana Punya, yang patut diberikan kepada Sulinggih, yaitu

Kunang ika sang madana suluh, rahayu matanira dlaha, surupa, akiris, alengis, lumeng tejanira, yapwan panjut dana punya nikang wang, suteja surupa, abhrahalep dlaha (Sarasamuscaya, 204).

Kuneng pahalaning mapunya payung, ring sang brahmana, mantuk ring Indraloka jemah, pinuja kinatwangan dening widyadhara-widyadhari (Sarasamuscaya,205).

Kunang yan trumpah, paduka, punya nikang wang, rahayu paripurna, nirwikara ta ya winanrna, mulih ring swarga ika jemah, kinatwanganing Hyang (Sarasamuscaya, 206)

Ndatan pramana kwehnya, yadyapin sakwehaning drebyanikang wang punyakenya, ndan yan ageleh budhinya, kapalang-palang tan tulus tyaga, tan paphala ika, sangksepanya sraddhaning manah prasida karananing phala (Sarasamuscaya, 207).

Jika pada purnama tilem melakukan dana punya, sepuluh kali kebaikan akan diterima, dan jika pada gerhana bulan, gerhana matahari melakukan dana punya, membawa pahala seratus kali, dan jika pada kanyaghatakala (hari suci), seribu kali lipat pahalanya dan jika pada akhir yuga, pahala kebaikan tidak terbatas (Slokantara 17 : 61)

Jika ada orang menggembar-gemborkan diri telah bersedekah kepada orang miskin, hal itu tidaklah aneh, karena sudah merupakan fungsi dan kegunaan uang itu untuk disedekahkan. Jika dipakai untuk hal lain dari pada itu, menderita kemiskinan namanya (Sarasamuscaya, 174).

Hal-hal yang disebut di bawah ini memperbesar pahala dari suatu dana punya, yaitu : Desa, Kala, Agama, Ksetra, Drewya, Data dan Manah.

  • Desa, artinya pembagian tanah, tanah yang subur dan sucilah yang patut disedekahkan.
  • Kala, artinya waktu yang baik berbuat sedekah, antara lain ; waktu uttarayana, yaitu saat matahari berkisar ke utara.
  • Agama, yaitu pemberian ajaran pustaka suci yang menerangkan dengan mendalam prihal keagamaan.
  • Ksetra atau objek, ialah orang yang diberi sedekah itu antara lain orang yang berkelakuan baik dan orang yang memang tepat untuk menerima sedekah.
  • Drewya, yakni barang yang disedekahkan haruslah yang baik.
  • Data, ialah orang yang memberi sedekah atau yang melakukan upacara korban itu adalah orang yang tepat untuk itu.
  • Manah, ialah pikiran orang yang memberi sedekah itu haruslah tulus ihlas. Inilah yang menyebabkan pahala persedekahan yang lebih besar, yaitu mendapat keselamatan selalu (Sarasamuscaya : 181).

Dan lagi orang yang memberi sedekah nasi, pada waktu orang kelaparan, dibandingkan dengan pemberian mas pada waktu orang makmur adalah sama nilainya. Kedua dermawan itu akan sama-sama menikmati kebahagiaan sorga kelak (Sarasamuscaya : 182).

Adapun yang disebut waktu yang baik adalah ada yang dinamai Daksinayana, yaitu ketika matahari berkisar ke selatan dan ada juga disebut Uttarayana, yaitu ketika matahari mulai bergerak ke utara. Ada juga waktu yang disebut Sadhamukha dan Sitimukha, yaitu waktu terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari. Juga waktu baik ialah ketika matahari sedang ada di Khatulistiwa. Segala sesuatu yang disedekahkan pada waktu-waktu tersebut, amatlah besar pahalanya (Sarasamuscaya : 183).

Biarpun sedikit pemberian itu, asalkan dapat mengurangi kehausan akan barang itu, besarlah faedahnya. Meskipun banyak dan dapat menghilangkan kehausan akan barang itu, akan tetapi kalau diperoleh dengan jalan yang kurang halal, maka tidak ada gunanyalah pemberian itu. Jadi bukanlah jumlah yang banyak atau sedikitnya pahala, akan tetapi tujuan utama pemberian itu yang penting dan juga halal atau haramnya cara memproleh (Sarasamuscaya : 184)

Adapun yang harus diberikan Dana Punya, adalah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, orang yang tak dapat mencari makan, orang yang betul-betul memerlukan bantuan. Pemberian Dana Punya pada orang yang demikian, akan besarlah pahalanya (Sarasamuscaya : 187).

Yang harus diingat dan diperhatikan oleh para dermawan, ialah jangan sekali-kali mengharapkan pujian, juga memberikan Dana Punya, jangan berdasarkan rasa takut, jangan mngharap mendapat balasan (Sarasamuscaya : 188).

Apabila ayah bunda yang meminta, biar nyawa sekalipun yang diminta, berikanlah kepadanya, karena merekalah yang mengadakan kamu (Sarasamuscaya : 189).

Adapun yang dapat dipanggil bapak di dunia ini ada lima macam, yaitu :

  1. Orang yang menyelamatkan jiwa kita ketika mendapat bahaya maut.
  2. Orang yang memberikan makan minum kepada kita selama kita hidup, tanpa menginginkan balasan.
  3. Orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada kita.
  4. Orang yang menyucikan diri kita.
  5. Dan sudah tentu orang yang menyebabkan kita lahir.

Meskipun dana yang diberikan oleh seorang saleh itu kecil, pasti akan menimbulkan kebahagiaan di hati penerima, jika dana ini disertai oleh ketulusan hati si penderma, maka hasil yang diterima oleh si penderma, akan tidak terkira besarnya. Ini dapat diumpamakan dengan sebutir biji beringin, yang jika sekali tumbuh, dirawat dan dipupuk, dengan baik, akhirnya akan bertambah besar. Dan ini akan merupakan tempat berteduh bagi semua orang, yang datang mencari perlindungan, baik mereka itu kelahiran rendah, menengah atau tinggi. Demikianlah Dana kecil itu diberikan dengan hati suci, Tuhan akan membalas dengan kebaikan yang tak ada taranya (Slokantara : 19; 71).

Apabila sedekah itu diberikan dengan penghinaan dan kemarahan, dengan tidak tulus ihlas serta tidak percaya akan adanya hukum Karmaphala, maka pemberian itu adalah sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya kelak. Demikian kata orang yang bijaksana (Sarasamuscaya : 210).

Segala perbuatan, baik memuja ataukah memberi sedekah, bertapa atau berbuat amal tetapi tidak disertai dengan ketulusan hati, segala perbuatan itu dianggap hina dan tidak akan berguna pada kehidupan ini ataupun pada penjelmaan yang akan datang (Sarasamuscaya : 211).

Walaupun seandainya Dana itu berjumlah amat besar, tetapi diberikan dengan hati marah, akhirnya tidak berbeda dengan abu dari setumpuk i lalang dibakar oleh api yang kecil saja. Kalau Dana itu diberikan kepada pendeta, walaupun betapa besar jumlahnya dan Dana itu diberikan kepada banyak Brahmana sekalipun, walaupun dalam bentuk-bentuk benda yang amat berharga, akan tetapi jika diberikan dengan muka masam dan kening berkerut, maka dana yang diberikan itu tidak ada artinya sama sekali. Ini disebabkan karena hati si pemberi itu menjadi sedih berpisah dengan harta bendanya. “Ah, harta bendaku yang kini kuberikan ini lamalah baru aku akan dapati kembali”. Pemberian begini bernama “dhanabhagana” (pemberian dibuang percuma). Dana yang begini tidak akan membawa kemashuran dan nama kepada si pemberi Dana itu.

Dana begini dapat diandaikan sebagai setumpuk ilalang, yang dijatuhi api sebesar kunang-kunang, api ini akan membakar hangus ilalang yang menggunung itu. Semuanya akan menjadi abu. Tidak ada ketinggalan apa-apa lagi. Demikian jugalah halnya dengan pemberian yang menggunung jumlahnya, akan sirna tak bermakna, jika diperciki oleh perasaan kemarahan sedikitpun.

Pendeknya, Dana yang dicampuri oleh perasaan marah itu akan percuma saja. Oleh karena itu bagi mereka yang ingin mendermakan Dana suci, harus membersihkan hatinya dulu dari segala perasaan yang tidak baik atau kotor (Slokantara : 20, 75).

Biarpun sedekahnya banyak tiada taranya, walaupun semua kekayaannya disedekahkannya, tetapi jika memberikannya itu engan pikiran keruh dan tidak dengan tulus ihlas, tiadalah berguna sedekah itu. Singkatnya; kerelaan hatilah yang menentukan pahalanya dari Dana Punya itu (Sarasamuscaya : 205).

Janganlah berdana punya kepada orang jahat, jangan suka mengagung-agungkan kegunaan atau jasa diri sendiri, jangan menerima Dana Punya yang diperoleh dengan jalan yang tidak patut dan jangan pula meminta tolong kepada orang jahat (Sarasamuscaya : 185).

Pemberian berupa makanan itu mutunya kecil (Kanistha Dana), pemberian berupa uang mutunya menengah (Madhyama Dana), pemberian berupa gadis itulah yang dianggap tertinggi (Uttama Dana). Tetapi disamping itu pemberian berupa ilmu pengetahuan itu mengatasi semuanya dan membawa kebajikan besar (Ananta Dana), demikianlah menurut ajaran agama (Slokantara : 21).

Ada juga yang disebut dengan macam-macam Dana dan ketidakkekalan benda. “The Word`s Eternal Religion” ada 3 macam Dana : Abhayadana, pemberian perlindungan dari ketakutan. Brahmadana, pemberian berupa ilmu pengetahuan. Arthadana, pemberian harta benda termasuk pakaian, makanan dan sawah ladang.

Sekarang dengarlah perihal orang yang tinggi ilmu kebijaksanaannya, yaitu bahwa ia tidak sayang untuk mengorbankan harta bendanya, kekayaannya, walaupun nyawanya sekalipun, apabila untuk kepentingan umum, sebab ia sadar akan kekekalan jiwadan tidak kekekalan benda, keadaan lahiriah ini. Oleh karena itu ia rela mati demi untuk kepentingan umum (Sarasamuscaya : 175).

Oleh karena itu yang harus diperbuat ialah janganlah kikir, dalam memberi Dana Punya, buatlah usaha untuk amal, pergunakanlah kekayaan untuk meningkatkan kesejahtraan. Karena sesungguhnya, kewibawaan itu akan tidak berhenti menyertai kita apabila karmaphala yang menyebabkannya itu belum habis (berbuatlah baik semasih hidup ini) (Sarasamuscaya : 176).

Apalah gunanya kekayaan itu jika tidak disedekahkan dan tidak dinikmati, demikian juga kesaktian tiada ada gunanya jika tidak dipakai untuk mengalahkan musuh. Pun ilmu pengetahuan tidak akan berguna, jika tidak dipakai suluh untuk kesempurnaan terlaksananya tugas kewajiban. Begitu pula pengetahuan kebathinan tidak akan ada faedahnya jika tidak dipakai mengalahkan panca indriya dan untuk menguasai sifat-sifat rajah tamah (Sarasamuscaya : 178).

Orang yang kekayaannya mengalir masuk perbendaharaannya, tetapi tidak dipergunakan untuk berdana punya, ia adalah tidak lain dari orang mati, bedanya dengan mayat hanyalah ia masih bernafas. Ia tidak bedanya dengan pompa apinya tukang mas (Sarasamuscaya : 179).

Ada yang dinamai Abhayadana (pemberian perlindungan), yang nilainya lebih mulia dari segala pemberian, umpamanya : pemberian sebidang tanah. Abhaya artinya tidak takut; Dana artinya pemberian. Rasa aman itulah yang diberikan kepada setiap makhluk. Artinya ialah tidak menyebabkan takutnya mahluk apapun. Orang yang demikian perbuatannya tidak akan pernah mendapat bahaya di dunia ini. Semua mahluk menjadi cinta dan hormat serta bakti kepadanya sampai kelak dikemudian hari (Sarasamuscaya : 180).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s