Keluarga Berencana Dalam Ajaran Agama Hindu

Pengertian Keluarga

Keluarga adalah bahasa Sansekerta dari kata “kula” dan “warga“. Kula artinya keturunan dan warga artinya terjalin erat. Maka keluarga itu adalah keturunan yang terjalin erat, yaitu suami, istri dan anak. Terwujudnya suatu keluarga diawali dengan perkawinan yang syah menurut agama dan undang-undang perkawinan.

Dalam keluarga Hindu memiliki kelengkapan yang bersifat prinsip, yaitu :

  1. Memiliki tempat tinggal menetap
  2. Tempat sembahyang, yang disebut dengan Pamrajan atau Sanggah Kamulan.
  3. Dambaan mempunyai keturunan yang suputra, yakni anak yang mulia.

Kesatuan individu dalam keluarga Hindu dihitung dalam batas tujuh lapis, yaitu berpusat dari “aku” tiga lapis ditarik ke atas, dikenal dengan lapisan bapak, kakek dan embah dan tiga lapis ditarik ke bawah, dikenal dengan sebutan anak, cucu dan cicit.

Perlu dipahami bahwa keluarga mempunyai arti penting dalam kehidupan sosial manusia. Pada keluarga manusia pertama kali terjadi proses pendidikan. Orang tua sebagai Guru Rupaka, menanamkan nilai-nilai moral, etika, sopan santun dan mengajarkan pengetahuan lainnya. Mengingat pentingnya keluarga itu sudah barang tentu keluarga patut dibina agar berkehidupan yang harmonis, baik dalam intern keluarga maupun dalam lingkungan sekitarnya, tetangga atau masyarakat yang lebih luas.

Jadi pada keluargalah tempat pertama menanamkan nilai-nilai budaya pada si anak. Individu si anak dibentuk sikap prilakunya sesuai dengan budaya yang dominan berkembang dalam keluarganya. Kepribadian keluarga berkembang sesuai dengan latar belakang keluarga itu sendiri.

Bermula dari keluarga inti yang terdiri dari bapak, ibu dan anak, kemudian dapat berkembang menjadi keluarga besar secara turun-temurun, semakin bertambah besar keluarga itu. Keluarga besar yang berdasarkan keturunan itu disebut Gotra.

Disamping ikatan keluarga besar berdasarkan keturunan ada juga diikat atas dasar spiritual pemujaan leluhur suatu keluarga. Ikatan itu disebut tunggal Dadya, Paibon, Pretiwi dan Panti.

Keluarga harus dipertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban yang patut menjadi kewajiban keluarga, yaitu :

  1. Melaksanakan kewajiban kepada suami atau istri
  2. Melaksanakan kewajiban kepada anak
  3. Melaksanakan kewajiban kepada orang tua atau leluhur
  4. Melaksanakan kewajiban kepada masyarakat atau lingkungan
  5. Melaksanakan kewajiban untuk agama dan membantu program-program pemerintah
  6. Yang tidak kalah pentingnya ialah berkewajiban menciptakan suasana kasih sayang, menegakkan aturan keluarga, meningkatkan upaya-upaya pembinaan keluarga.


Pengertian Keluarga Berencana

Keluarga Berencana disingkat dengan KB. Keluarga Berencana mengandung arti mengusahakan membangun keluarga kecil yang sehat dan sejahtera.

Usaha Keluarga Berencana dilaksanakan akibat dari diketahui bahwa pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat tinggi. Hal ini merupakan salah satu masalah pokok yang dihadapi dalam membangun Indonesia. Dengan pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi mengakibatkan makin meningkatnya kebutuhan hidup di berbagai bidang, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, perumahan, sandang dan lain-lain. Oleh karena itu mempersulit usaha-usaha untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat. Akibat dari itu juga struktur umur yang kurang seimbang dan penduduk yang memasuki pasar kerja setiap tahun relatif besar, sehingga dirasa sulit menyediakan lapangan kerja.

Untuk menanggulangi hal tersebut di atas salah satu kebijaksanaan pemerintah Republik Indonesia dengan mengusahakan penurunan tingkat kelahiran. Berkenaan dengan itu akan terdapatlah keseimbangan di antara pertumbuhan penduduk dan produksi barang beserta jasa, jadi untuk itu lebih memungkinkan akan dapat dicapainya peningkatan kesejahteraan rakyat yang lebih wajar. Berdasarkan hal itulah program Keluarga Berencana diterapkan di seluruh pelosok tanah air.


Tujuan Keluarga Berencana dihubungkan dengan Tujuan Agama

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan Keluarga Berencana ialah mewujudkan kesejahteraan sosial pada tiap-tiap keluarga khususnya demi seluruh rakyat dan bangsa pada umumnya. Dalam hal kesejateraan sosial pada tiap-tiap keluarga lebih ditekankan ialah keluarga kecil, sehat dan sejahtera.

Kalau tujuan Keluarga Berencana di atas dihubungkan dengan tujuan agama Hindu sangat identik dan cocok adanya. Dapat dikatakan demikian dengan bertolak dari tujuan agama : “Moksartham jagathitaya ca iti dharmah“, artinya adalah tujuan agama Hindu mencapai kesejahteraan jasmani (jagathita) dan kebahagiaan rohani (moksa).

Berkenaan dengan hal tersebut di atas sudah jelas secara prinsip antara tujuan Keluarga Berencana dengan tujuan agama adalah sama penekanannya untuk mewujudkan kesejateraan sosial. Hanya saja dari sudut agama Hindu, penekanan kesejahteraan sosial itu lebih dirinci lagi dengan ketentuan bahwa untuk mendapatkan kesejahtraan sosial harus dilandasi dengan “Dharma“. Bukan hanya sekedar mencapai kesejahteraan sosial saja. Hal ini dinyatakan demikian karena keluhuran tujuan akan tetap mempunyai nilai luhur serta utama apabila diusahakan dengan jalan yang luhur pula yakni ajaran Dharma.

Ajaran tujuan hidup manusia dalam agama Hindu, disebut Catur Purusa Artha atau Catur Warga. Catur artinya empat; Purusa artinya manusia; Artha artinya tujuan. Catur Purusa Artha berarti empat tujuan hidup manusia, yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Keempat bagian itu disebut juga Catur Warga, yakni empat tujuan hidup manusia yang terjalin erat. Dharma adalah kepatutan atau kewajiban hidup. Artha adalah harta benda, yang meliputi Tri Bhoga, yakni Bhoga, makanan dan minuman (Wareg); Upabhoga, pakaian perhiasan yaitu sandang (Wastra); Paribhoga, pendidikan (Waras), rumah (Wesma) dan hiburan (Waskita). Kama adalah keinginan, yakni keinginan mempertahankan hidup dan keinginan melanjutkan keturunan. Moksa adalah kebahagiaan rohani, baik semasih hidup maupun nantinya atma/jiwa menyatu dengan sumber-Nya. Apabila keempat itu telah terpenuhi, maka kesejahteraan dan kebahagiaan tercapai.


Hubungan Keluarga Berencana dengan Catur Asrama

Bertitik tolak dari tujuan Keluarga Berencana dan tujuan agama Hindu, prinsip sasaran yang dituju yang hendak dicapai adalah membangun manusia yang berkualitas, yang sehat jasmani dan rohani.

Apabila Keluarga Berencana dihubungkan dengan konsepsi ajaran Catur Asrama dan Catur Purusa Artha, mempunyai arah yang sama agar tercapainya manusia yang sehat, sejahtera, berbudi pekerti yang luhur serta mulia, mempunyai hubungan yang selaras dengan sesama, dengan lingkungan dan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Catur Asrama, kehidupan manusia dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu Brahmacari, Grehastha, Wanaprastha dan Bhiksuka.

Brahmacari, adalah tingkatan hidup manusia dalam masa belajar, yakni yang menjadi fokus adalah Dharma. Dharma yang dimaksud adalah belajar sopan santun (sila), berkorban (yajna), mengendalikan diri (tapa), belajar bersedekah (dana), belajar ilmu pengetahuan agama (para widya), belajar pengetahuan umum (para widya), rajin sembahyang (yoga).

Grehastha, adalah tingkatan hidup berumah tangga, yang menjadi tujuannya adalah Artha dan Kama. Dalam tingkatan ini diprogramkan untuk membentuk, membangun dan membina rumah tangga (ingat 5 Wa). Tujuan utama orang berumah tangga adalah untuk mendapat keturunan yang sehat, sejahtera dan bahagia, hal ini disebut dengan Suputra.

Maka jelaslah hubungan Keluarga Berencana, Catur Asrama, Catur Purusa Artha, adalah membentuk dan membina rumah tangga ini diatur batas kelahiran, agar dapat terwujud keluarga sehat, sejahtera dan bahagia.

Keluarga Berencana menegaskan walaupun jumlah anak sedikit, laki perempuan sama saja, asalkan tercapainya manusia/anak yang berkualitas (suputra), itulah yang merupakan suatu harapan.

Dalam ajaran agama Hindu, pustaka Slokantara, menyebutkan :

“Hana pwekang wang agawe talaga satus, alah ika dening magawe talaga tunggal, lewih ikang magawe talaga. Hana pwekangwang gumawe talaga satus, alah ika phalanya dening wang gumawayaken yajna pisan, atyanta lewihing gumawayaken yajna. Kunang ikang gumawe yajna ping satus, alah ika phalanya denikang manak sanunggal, yan anak wisesa”.

(Bila ada orang yang membuat sumur seratus, dikalahkan dengan membuat waduk satu buah, sungguh mulia orang yang membuat waduk itu. Bila ada orang membuat waduk seratus, pahalanya lebih sedikit dari pada melakukan yadnya sekali, amat utama orang yang melakukan yadnya itu. Adapun orang yang melakukan korban seratus kali, lebih sedikit pahalanya dari pada berputra tunggal, bila putra itu mulia”.

Jika kehidupan berumah tangga dapat dilakukan dengan baik, maka dapat dilanjutkan dengan Wanaprastha, suatu kehidupan yang sudah mulai meninggalkan unsur-unsur duniawi, sudah terfokus dengan peningkatan rohani, yakni persiapan menuju Moksa. Dengan meningkatkan kerohanian, melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi.

Bila kehidupan Wanaprastha sudah mantap, maka kehidupan selanjutnya adalah Bhiksuka, yakni hidup menjadi orang suci, hanya satu tujuannya adalah moksa.

Jadi jelaslah kehidupan berumah tangga, bukan banyak anak yang dipentingkan namun walaupun tunggal, yang penting anak yang mulia (suputra)

Demikianlah yang dapat kami sampaikan hubungan Keluarga Berencana dengan ajaran agama Hindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s