Subak dan Keberadaannya

Pendahuluan

Pulau Bali adalah pulau terkenal di Nusantara, demikian juga di seluruh dunia. Oleh karena itu banyak orang luar yang datang ke Bali, baik sebagai peneliti demikian juga sebagai wisatawan. Rupa-rupanya yang menyebabkan orang-orang luar datang ke Bali, antara lain : alam Bali, tata krama, sistem persubakan dan lain-lain.

Alam Bali

Pulau Bali, datarannya amat luas dan indah, adanya Kahyangan-Kahyangan yang berjejer di tepi pantai dan di lereng-lereng gunung, dengan keberadaan Kahyangan itu menambah indahnya alam Bali, sehingga dengan keasrian dan kesuciannya, dapat menarik minat orang-orang untuk datang ke Bali.

Tata Krama

Dalam kehidupan dan pergaulan orang-orang Bali, berlaku tata krama “salunglung sabhayantaka” dan “paras-para upa sarpanaya“. Maksudnya : Salunglung dari kata sa + luhung-luhung; sa artinya bersama-sama; luhung artinya baik, bahagia. Jika dalam keadaan baik hendaknya dapat dinikmati bersama-sama. Sabhaya dari sa + bhaya; sa artinya bersama-sama; bhaya artinya bahaya, kesulitan. Jika ada bahaya atau ada kesulitan, hendaknya dihadapi bersama-sama. Antaka, artinya mati. Jika ada orang mati, hendaknya dibantu dalam kegiatan keagamaan. Jadi konsepsi Salunglung sabhayantaka, adalah suatu tata krama yang luhur, dimiliki oleh orang-orang Bali, yakni baik-buruk, diterima, dihadapi bersama-sama.

Demikian juga konsepsi paras-para upa sarpanaya, yakni sikap yang penuh toleransi, bantu-membantu dalam kehidupan, baik suka maupun duka. Para artinya orang lain; upa artinya dekat; sarpana artinga bantu-membantu.

Subak

Subak adalah organisasi (sekaa) para petani, dalam rangka mengatur pembagian air, melalui empangan-empangan sesuai dengan luasnya tanah. Yang mengatur pembagian air itu diketuai oleh Pakaseh (paka + ser; paka = sebagai kepala; ser = air) dan dibantu oleh Pangliman (membantu dalam mengatur pangairan).

Dengan adanya organisasi petani itu, dengan sistem pengairan yang teratur dan adil, lebih-lebih dengan masuknya agama Hindu, yang menjadi dasar keberadaan Subak di Bali, sehingga dresta/tradisi yang mengakar dan berkulturasi dengan agama dan budaya Hindu, sehingga Subak mendapat perhatian dari penguasa saat itu, maka itu banyaklah orang ingin mengetahui keberadaan Subak di Pulau Bali.


Subak dan Keberadaannya

Subak yang merupakan organisasi/sekaa para petani, dalam mengatur pembagian air di persawahan, maka subak dengan Pakaseh dan Pangliman mengatur pembagian air secara teratur dan adil, dengan menggunakan sistem “temuku“, “tetekan“, sesuai dengan luas tanah sawah yang akan dialiri air. Sehingga pembagian air akan merata dari hulu sampai ke hilir, disamping itu tidak terlepas dari upacara dan upakara.

Keberadaan Subak di Bali dapat diketahui dari sumber-sumber tertulis, yakni : Purana, Babad (sumber tradisi) dan Prasasti.

Dari Purana dan Babad, ada disebutkan keberadaan Subak dihubungkan dengan kedatangan Rsi Markandeya di Bali, yang dimuat dalam “Tattwa Bhuwana Rsi Markandeya“. Dalam pustaka itu disebutkan bahwa kedatangan Rsi Markandeya ke Bali dari Jawa Timur, dari Desa Damalung, di lereng Gunung Rawung, beliau datang ke Bali dengan 400 kepala keluarga.

Beliau dengan para pengikutnya, merabas hutan untuk kegiatan pertanian, guna mendapatkan sumber kehidupan, maka bidang-bidang tanah, dipakai untuk bercocok tanam, untuk menyambung hidup di Bali. Maka bidang tanah-tanah tersebut, ada yang kering dan ada juga yang dialiri air. Pembagian tanah tersebut yang nantinya di sebut “Suwak” yang nantinya lebih dikenal dengan “Subak“. Bidang tanah yang tidak dialiri air, disebut panegalan, yang nantinya disebut Subak Tegal dan yang mendapatkan aliran air disebut dengan Subak Toya, atau sering disebut dengan istilah Subak saja.

Sedangkan dalam Prasasti-Prasasti Bali Kuno, seperti :

  • Prasasti Sukawana A1 , tahun 882 Masehi, ada disebut kata “huma” dan “parlak“; huma artinya sawah dan parlak artinya tegalan.
  • Prasasti Bebetin A1, tahun 986 Masehi, ada disebut “undagi lancang” artinya tukang perahu; “undagi batu“, artinya tukang batu; “undagi pangarung“, tukang membuat terowongan; “kilan” pembagian air (di Bali disebut Kekalen).
  • Prasasti Pandak Bandung, tahun 1071, sudah disebutkan adanya “kasuwakan” yang berarti Subak
  • Prasasti Klungkung, tahun 1072 Masehi, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu; ……. masukatang huma, di kadandan di errara di kasuwakan rawas ……. Artinya : Pengukuran pembuatan sawah di Kadandan, dekat Sungai Aa di Subak Rawas.
  • Prasasti Trunyan A, 891 Masehi, disebutkan “ser danu” air danau; Ser inilah yang berkembang menjadi Pakaser/Pakaseh.
  • Dalam kitab Nagarakerthagama, jaman Majapahit, disebutkan ada pimpinan “asedahan” yang sekarang disebut dengan “Sedahan” yang ikut mengatur persubakan.

Dalam perkembangan selanjutnya kehidupan dan perkembangan Subak dan Subak Tegal, tidak dapat dipisahkan dengan penguasa, yang memberikan pengayoman terhadap kelestarian Subak. Pada masa Kerajaan Mengwi, di sekitar tahun 1770 Masehi, ada disebutkan, bahwa Raja Mengwi, sangat memperhatikan Subak, untuk kesejahteraan rakyatnya. Pada masa pemerintahan Cokorda Nyoman Mahyun, banyak dibangun tanggul-tanggul, terowongan air, yang sebelumnya telah membuat sawah di Subak Balangan, Subak Bregiding, Subak Babakan Bengkel, Subak Bwangga dan Subak Karang Dalem, serta banyak menanam kelapa di tanah tegalan, di Salakan, di Balangan, di hutan Baha, dan banyak lagi di tempat-tempat yang lain, itu semuanya untuk menambah penghasilan, mensejahterakan rakyatnya. Demikian juga beliau menata tentang tata krama di desa-desa, yang dinamakan Awig-Awig, itulah yang dilaksanakan dari masa pemerintahan Raja Mengwi dan tradisi ini berlanjut sampai sekarang. Serta bila ada hama yang menyerang tetanaman yang merusak persawahan dan tegalan, bagaimanapun ganasnya, segera beliau berangkat ke tempat yang diserang hama, menyebabkan hama ketakutan dan menghilang, yang mengakibatkan tanaman menjadi subur dan berhasil baik, sehingga rakyat bertambah makmur dan sejahtera di wilayah kekuasaan Raja Mengwi.

Kemampuan ini beliau dapatkan tatkala beliau bertapa di Nusa Penida, di Puncak Mundi, beliau mendapatkan anugrah dari Bhatara Dalem Nusa, agar beliau sungguh-sungguh memperhatikan kemakmuran dan kesejahtraan rakyatnya, lebih-lebih mengenai persubakan. Jika beliau telah kembali ke Puri Mengwi, hendak di pintu masuk Pamrajan mendirikan sebuah Tugu, stana Dalem Peed, sebagai penolak hama dan penolak semua yang berbuat jahat.

Tradisi itu berlanjut sampai saat ini, jika ada persawahan/tegalan yang diserang hama, maka Krama Subak memohon tirtha ke Pamrajan Puri, untuk diperciki di hulu empelan/bendungan dan di sekeliling sawah/tegalan tersebut. Lebih-lebih beliau “Cokorda” berkesempatan turun ke lapangan di mana hama itu menyerang, hanya dengan kencing di empelan atau mencuci kakinya, hama pengganggu semua musnah.

Ada suatu permasalahan yang timbul, yakni bendungan/tanggul telaga Taman Ayun, mengalami jebol, setelah diperbaiki jebol kembali, maka itulah beliau memohon kehadapan Bhatara di pucak Bukit Pangelengan, dengan melakukan tapa brata yang sangat teguh, maka dalam yoganya datang orang-orang laki yang berpakaian serba aneh, yakni memakai daun pisang kering “kraras“. Lalu salah seorang berkata, ” Ai, cucuku Raja Mengwi, apa tujuan cucuku, datang menghadap ke tempat ini? katakanlah dengan kesungguhan dan kejujuran”.

Setelah beliau sang raja menjelaskan tentang tujuan kedatangannya, maka orang tersebut memberikan petunjuk, bendungan/tanggul itu kuat, tetapi belum ada dasar “padagingan“, sehingga terjadilah seperti sekarang ini. Nantinya ada suatu pertanda “padagingan” itu akan ada dan terbukti, yakni ada manusia yang tenggelam, setelah itu lakukanlah upacara Pamrayascita Bhumi dan mempersembahkan tarian seperti yang cucu saksikan sekarang ini. Jika hal itu telah dilaksanakan dengan baik, tanggul kuat, air mengalir dan sawah yang ada, yang dapat aliran air dari telaga, akan menjadi subur dan terhindar dari hama. Namun ingat sampaikan kepada masyarakat sekitarnya, jika ada orang yang kawin, belum diupacarai tidak boleh lewat di areal itu, jika melanggar akan mendapat kutukan dari penghuni bendungan tersebut.

Rupa-rupanya atas dasar itulah di tanggul/bendungan telaga Taman Ayun, setiap ada upacara Piodalan di Pura Taman Ayun, dipersembahkanlah tarian Baris yang memakai pakaian dari daun kraras dan dilengkapi dengan upacara Pakelem.

Menurut ceritra yang dituturkan oleh Guru Soka dari Banjar Munggu Mengwi, seorang penari Topeng, sebelum dilaksanakan upacara tersebut setiap 6 bulan, ada saja yang tenggelam di telaga Taman Ayun dan sawah yang mendapat aliran air dari telaga Taman Ayun, akan mengalami gagal panen dan diserang oleh hama, maka itulah ada upacara Tulak Tunggul di tempat itu.

Sehingga setelah mereka panen, krama Subak menghaturkan sawinih ke Puri dengan terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pamrajan Puri Mengwi, sebagai ucapan rasa terimakasih kepada Hyang.

Oleh karena itu tradisi ini berlanjut sampai saat ini, yang dilanjutkan oleh beliau Panglingsir Puri, Anak Agung Gde Agung, yang merupakan keturunan warih Raja Mengwi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s