Gerebeg atau Makotek di Desa Adat Munggu

Gerebeg atau lebih dikenal dengan Mekotek merupakan salah satu tradisi di Bali yang hanya ada di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Perayaannya tepat pada Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Hari Raya Galungan. Pelaksanaan upacara Mekotek pada awalnya diselenggarakan untuk menyambut armada perang Kerajaan Mengwi yang melintas di daerah Munggu yang akan berangkat ke medan laga, juga dirayakan untuk menyambut pasukan saat mendapat kemenangan perang dengan kerajaan Blambangan di Pulau Jawa.

Perayaan mekotek ini dulunya menggunakan tombak dari besi, yang memberikan semangat pasukan ke atau dari medan perang, namun seiring perubahan waktu dan untuk menghindari peserta terluka, maka tombak diganti dengan tongkat dari pulet yang sudah dikuliti yang panjangnya sekitar 2 – 3.5 meter. Perayaan di Hari Raya Kuningan, peserta berpakaian pakaian adat madya, berkumpul di Pura Dalem Munggu, hampir seluruh warga yang terdiri 15 banjar dari umur 12 – 60 tahun ikut merayakannya. Kemudian tongkat kayu diadu sehingga menimbulkan bunyi “tek-tek” ditimbulkan sehingga membentuk sebuah kerucut/piramid, bagi yang punya nyali ataupun yang mungkin punya kaul naik ke puncak kumpulan tongkat kayu dan berdiri di atasnya seperti komando yang memberikan semangat bagi pasukannya.

Komando yang berdiri di atas kumpulan tongkat akan memberi komando layaknya panglima perang dan menabrakanya dengan kelompok lain, dengan diiring sebuah gamelan sehingga memacu semangat peserta upacara. Walupun sedikit membahayakan tetapi memang cukup menyenangkan, tidak jarang yang terjatuh tidak bisa sampai puncak, tapi semua gembira, senang, tidak ada amarah.

Inti lain yang dapat dipetik dari tradisi Grebek Mekotek atau perang kayu, perang tak selalu menyebabkan permusuhan dan korban jiwa. Keunikan tradisi sering dijadikan tontonan wisata oleh wisaman yang kebetulan liburan di Bali.


Sejarah Gerebeg atau Mekotek

Untuk membicarakan masalah Gerebeg atau Makotek di Desa Adat Munggu, perlu kiranya melihat sejarah masa lampau, yakni keberadaan Kerajaan Mengwi di sekitar abad ke- 17. Raja Mengwi yang I adalah I Gusti Agung Putu disebut juga I Gusti Agung Sakti dengan abhiseka Gusti Ngurah Made Agung.

Pada suatu ketika terjadilah suatu perselisihan antara Raja Buleleng Ki Gusti Panji Sakti dengan Raja Mengwi, tetapi pada akhirnya terjadilah suatu perdamaian, dengan menyerahkan seorang putri Buleleng yang bernama Gusti Ayu Panji dan beberapa pengiringnya warga Mayong yang menjadi anggota balawadwa/prajurit Truna Goak. Disamping itu kira-kira pada tahun 1717 daerah Blambangan dan Jembrana yang saat itu di bawah kekuasaan Buleleng diserahkan ke Mengwi.

Sesudah Raja Mengwi Gusti Ngurah Made Agung menerima ke dua daerah itu lalu beliau diberi gelar Cokorda Sakti Blambangan. Gelar yang baru ini menunjukkan akan kebesaran dan kemuliaan baginda raja, mencapai kekuasaan sampai ke daerah Blambangan. Pada masa itulah Kerajaan Mengwi mencapai puncak kebesarannya dan disegani oleh kerajaan lainnya di Bali.

Kerajaan Mengwi mempunyai balawadwa atau prajurit yang terkenal teguh dan sakti yakni Truna Batantanjung dan Truna Munggu. Truna Batantanjung mempunyai tugas menjaga keamanan di daerah pesisir selatan dan Truna Munggu bertugas menjaga keamanan Kerajaan Mengwi.

Akibat hasutan dari Kompeni kepada Raja Mataram, untuk merebut kembali Blambangan dari Raja Mengwi, niscaya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat akan terjamin. Oleh karena itu Baginda Raja Mataram lalu mengambil keputusan hendak membebaskan seluruh Jawa Timur dari kekuasaan orang-orang Bali.

Sesudah selesai mengatur segala persiapan dan perlengkapan, pada penghabisan tahun 1729, pasukan Mataram yang jumlahnya cukup besar mulai bergerak menuju Blambangan.

Gusti Ngurah Panji Made, yang menjadi kepala daerah di Blambangan, melihat kedatangan musuh dengan tiba-tiba itu dan tidak sempat melapor baik ke Mengwi maupun ke Buleleng. Terpaksa mengadakan perlawanan sekuat tenaga, dengan pasukan pengawal dengan jumlah kurang lebih 600 orang. Oleh karena jumlah pasukan musuh jauh lebih besar, sehingga Blambangan dapat dikuasai oleh Mataram.

Kepala daerah gugur, hampir segenap pasukan pengawal juga mengalami nasib yang sama. Hanya tinggal 8 orang yang masih hidup, mereka dapat menyeberang Selat Bali. Mereka pergi ke Buleleng melaporkan keadaan di Mataram ke pada Gusti Ngurah Panji Gde, yakni putra mahkota Raja Buleleng yang telah wafat.

Seketika itu juga Raja Buleleng Gusti Ngurah Panji Gde, menyikapinya dengan menyampaikan kepada Raja Mengwi, bahwa Blambangan telah jatuh ke tangan Mataram dan adiknya selaku penguasa daerah mati terbunuh.

Raja Mengwi dan Buleleng dengan pernyataan baginda akan menuntut balas. Sementara itu kekuatan balawadwa/prajurit Buleleng dan Mengwi, siap sedia untuk berangkat ke Blambangan, melakukan pembalasan.

Pada tahun 1730 pasukan atau angkatan perang Buleleng dan Mengwi bersatu menyeberangi Selat Bali, termasuk juga bantuan dari Kerajaan Sukawati sebanyak 700 orang. Namun kekuatan Mataram yang dibantu oleh pihak Kompeni dengan persenjataan yang lengkap, maka pasukan Bali dapat dipukul mundur.

Walaupun demikian Kerajaan Mengwi, Buleleng dan Sukawati selalu bersatu dan bertekad menguasai Blambangan.

Namun pada akhir tahun 1731, gerakan itu mengalami hambatan, karena Raja Mengwi II yang bernama Gusti Agung Made Alangkajeng, dengan gelar resminya Gusti Ngurah Made Agung, wafat. Hal itu menyebabkan Mengwi di dalam kesibukan karena menyelenggarakan upacara “palebon” baginda raja yang baru wafat itu. Bahkan sampai berbulan-bulan menyiapkan upacara yang besar, banyak menghabiskan tenaga, harta untuk kepentingan itu. Peristiwa inilah yang merintangi langkah Mengwi untuk menyerang Blambangan.

Setelah para pembesar Mengwi melakukan sidang untuk menetapkan raja pengganti, lalu diambil keputusan mengangkat Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, menjadi raja Mengwi yang ke-III. Gusti Agung Nyoman Alangkajeng adalah saudara muda dari baginda raja almarhum, beliau dinobatkan dengan gelar Cokorda Munggu, karena sebelum diangkat menjadi raja beliau tinggal di Desa Munggu.

Cokorda Munggu setelah dilantik, lalu menyatakan hasratnya untuk merebut kembali daerah Blambangan. Maka itu beliau memilih sebagai pimpinan pasukan yang awalnya sebagai penyelidik adalah Gusti Agung Made Kamasan, yang mempunyai pengetahuan politik yang amat tinggi, dengan disertai oleh pasukan Munggu yang dikenal dengan Truna Munggu.

Sebelum berangkat ke Blambangan para Truna Munggu lengkap dengan persenjataannya, mohon anugrah di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, dengan maksud agar mendapatkan kemenangan dengan “mamasupati persenjataan“.

Dalam perjalanan ke Blambangan yang diketuai oleh Gusti Agung Made Kamasan, berpesan kepada pasukannya agar tidak melakukan kegiatan perang, sebelum ada perintahnya, karena melihat situasi di lapangan.

Dengan taktik dan daya upaya yang matang pasukan Mengwi dapat mengasut orang-orang Blambangan, agar mau ikut membantu perlawanan Mengwi melawan Kompeni dan Mataram. Semua taktik itu berhasil dengan mulus maka pasukan Mengwi bersama-sama dengan masyarakat Blambangan dapat menguasai Blambangan dengan tiada perlawanan yang berarti.

Mulai saat itulah Blambangan kembali dapat dikuasai oleh Mengwi dan menetapkan Gusti Agung Made Kamasan, diangkat menjadi kepala daerah di Blambangan. Karena kemampuan dan kebijaksanaannya, rakyat Blambangan merasa dapat pengayoman sehingga merasa aman dan kesejahteraan terjamin.

Kekuasaan terhadap Blambangan, diperkirakan sampai tahun 1764, dengan terjadinya insiden di Mengwi dan di Jembrana, sebagai pertanda Mengwi tidak terfokus pada kekuasaan di Blambangan.

Atas kemenangan itulah di Mengwi, di Singhasari (Blahkiuh) dan di Munggu diadakanlah upacara kemenangan, yakni dengan sebutan Gerebeg/Makotek, yakni permainan tombak. Awalnya memakai tombak yang sungguh-sungguh, tetapi ada kekhawatiran dari pihak pemerintah Belanda, maka mulai sekitar tahun 1940, permainan itu dilarang. Dengan terjadi pelarangan yang amat keras dari Belanda, maka kegiatan itu dihentikan, namun terjadilah keanehan-keanehan di masyarakat khususnya di Desa Munggu, yakni penyakit merajalela yang menyerang penduduk dan di sawah tegalan diserang oleh hama.

Atas dasar itulah mohon petunjuk kepada orang pintar dan memohon pengampunan kepada beliau yang dilinggakan di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, atas anugrah dan petunjuk itulah kembali digelar upacara Gerebeg/Makotek, tetapi tidak memakai tombak melainkan memakai galah/tongkat.

Disamping upacara Gerebeg/Makotek itu sebagai lambang kemenangan atas keberhasilan menguasai Blambangan dan akhirnya juga untuk mengusir mrana/marana, agar masyarakat khususnya desa Munggu mengalami kesejahtraan dan kemakmuran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s