Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Pada tanggal 26 Mei 2014, salah satu agenda pembelajaran Diklat Pim IV Angkatan V Kabupaten Badung adalah melaksanakan visitasi. Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau yang sering disebut dengan Bajra Sandhi menjadi tujuan visitasi adalah untuk menumbuhkan rasa cinta dan wawasan berbangsa dan bernegara, khususnya untuk mengenang perjuangan pahlawan-pahlawan kita dalam rangka merebut serta mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia, khususnya perjuangan pahlawan yang terjadi di Pulau Dewata ini.

Pada tulisan saya kali ini berisi tentang Deskripsi Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB), yang sejujurnya baru kali ini saya sempat masuk ke dalam monumen padahal selama terbangun dan berfungsi saya hanya melihat dari luar saja. Ternyata monumen ini banyak berisikan materi-materi perjuangan rakyat Bali dan tentunya sangat berguna untuk menumbuhkembangkan kebanggaan berbangsa dan bernegara, khususnya menjadi bagian dari warga Bali.


Sejarah Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Museum Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi) tercetus pada tahun 1980 yang berawal dari ide Prof. Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu adalah Gubernur Bali. Ia mencetuskan ide awalnya tentang museum dan monumen untuk perjuangan rakyat Bali. Lalu pada tahun 1981, diadakan sayembara desain monumen, yang dimenangkan oleh Ida Bagus Yadnya, dia adalah seorang mahasiswa jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra

Lalu pada tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama dan selama kurang lebih 13 tahun pembangunan monumen selesai. Tahun 2001, bangunan fisik monumen selesai. Setahun kemudian, pengisian diorama dan penataan lingkungan monumen dilakukan. Pada bulan September 2002, SK Gubernur Bali tentang penunjukan Kepala UPTD Monumen dilaksanakan.

Dan akhirnya, pada tanggal 1 Agustus 2004, pelayanan kepada masyarakat dibuka secara umum, setelah sebelumnya pada bulan Juni 2003 peresmian monumen dilakukan oleh Presiden RI pada saat itu, yakni Ibu Megawati Soekarnoputri.

Monumen ini terletak di kawasan Lapangan Renon yang tentunya sangat menarik perhatian bagi semua orang karena tempatnya yang terawat dengan baik dan bersih dan lengkap dengan menara yang menjulang ke angkasa yang mempunyai arsitektur khas Bali yang indah. Lokasi monumen ini juga sangat strategis karena terletak di depan Kantor Gubernur Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali tepatnya di Lapangan Niti Mandala Renon. Tempat ini merupakan tempat pertempuran jaman kemerdekaan antara rakyat Bali melawan pasukan penjajah. Perang ini terkenal dengan sebutan “Perang Puputan” yang berarti perang habis-habisan. Monumen ini didirikan untuk memberi penghormatan pada para pahlawan serta merupakan lambang penghormatan atas perjuangan rakyat Bali.

Museum ini menjadi simbol masyarakat Bali untuk menghormati para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman, serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.

Bentuk museum ini diambil berdasarkan cerita Hindu pada saat Pemutaran Gunung Mandara Giri oleh Para Dewa dan Raksasa guna mendapatkan Tirta Amertha atau Air Suci Kehidupan.

Dinamakan Museum Bajra Sandi karena bentuk museum ini seperti Bajra atau Genta yang dipakai oleh para pemimpin Agama Hindu dalam mengiringi pengucapan japa mantra pada saat melakukan upacara Agama Hindu. Adapun bagian-bagian yang penting dalam museum ini adalah sebagai berikut :

  • Bangunan Museum yang menjulang melambangkan Gunung Mandara Giri
  • Guci Amertha dilambangkan dalam bentuk Kumba (periuk) tepat bagian atas museum.
  • Naga yang melilit museum melambangkan Naga Basuki yang digunakan sebagai tali dalm pemutaran Mandara Giri.
  • Kura-kura yang terdapat di bagian bawah museum merupakan simbul dari Bedawang Akupa yang digunakan sebagai alas pemutaran Mandara Giri.
  • Kolam yang terdapat disekeliling museum merupakan simbul dari Lautan Susu yang mengelilingi Mandara Giri tempat beradanya Air Suci Kehidupan atau Tirtha Amertha.


Bentuk Bangunan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Letak monumen tersebut sangat strategis sebab berada persis di depan Kantor Gubernur Bali, atau tepatnya di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar. Luas bangunan monumen itu adalah 4.900 m2 (70 m x 70 m) dan luas tanah 138.830 m2 .

Monumen ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, baik secara horizontal maupun vertikal, yaitu:

Secara horizontal

Secara horizontal adalah susunan bangunannya berbentuk segi empat bujur sangkar, simetris dan mengacu pada konsep Tri Mandala, yaitu:

  1. Sebagai Utama Mandala adalah pelataran/gedung yang paling di tengah
  2. Sebagai Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala
  3. Sebagai Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar yang mengitari Madya Mandala

Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala tersusun menjadi 3 lantai yaitu:

  1. Utamaning Utama Mandala adalah lantai 3 yang berposisi paling atas berfungsi sebagai ruang ketenangan, tempat hening-hening menikmati suasana kejauhan di sekeliling monumen
  2. Madyaning Utama Mandala adalah lantai 2 berfungsi sebagai tempat diaroma yang berjumlah 33 unit. Lantai 2 ini sebagai tempat pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Di bagian luar sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekeliling.
  3. Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar gedung monumen, yang terdapat ruang informasi, ruang perpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Di tengah-tengah ruangan terdapat telaga yang diberi nama sebagai Puser Tasik, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.


Secara vertikal

Secara vertikal, terbagi menjadi tiga bagian yaitu mengacu pada konsep Tri Angga. Konsep Tri Angga adalah:

  1. Utama atau kepala, yaitu tidak berisi apapun atau kosong yang merupakan simbul keabadian.
  2. Madya atau badan yaitu terdapat pajangan diorama
  3. Nista atau kaki, yaitu terdapat taman-taman

Selain Tri Angga dan Tri Mandala terdapat juga nilai filosofis, yaitu pemutaran Gunung Mandara Giri oleh para dewa dan raksasa yang bekerja sama guna memperoleh Tirta Amertha.


Diorama Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Pada monumen ini perjalanan sejarah masyarakat Bali tergambar jelas melalui 33 unit diorama. Diorama-diorama tersebut disusun melingkar mengikuti kontur ruangan. Setiap diorama berisi patung-patung lengkap dengan setting lingkungan alamiahnya. Untuk memudahkan pengunjung dalam memahami isi diorama tersebut, pada bagian luar terdapat label informasi dalam tiga bahasa : Bahasa Bali dalam Aksara Bali, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Di bagian-bagian awal diorama ditampilkan manusia purba pada masa berburu dan meramu. Di sana digambarkan Pithecanthropus erectus sedang berburu babi dengan kapak genggam. Bagian selanjutnya menggambarkan perkembangan masyarakat Bali pada masa kerajaan, masa penjajahan, masa revolusi fisik, hingga pasca kemerdekaan. Pada bagian akhir diilustrasikan proses pembangunan Universitas Udayana yang berlangsung pada tahun 1975.


Adapun kesimpulan yang dapat saya simpulkan dalam kegiatan visitasi ini adalah :

  1. Monumen Perjuangan Rakyat Bali merupakan sebuah monumen untuk mengenang kerja keras dan perjuangan heroik dari rakyat Bali sebelum dan sesudah kemerdekaan.
  2. Dalam monumen ini memiliki nilai relegius seperti sering disebut dengan Bajra Sandi karena bentuk museum ini seperti Bajra atau Genta yang dipakai oleh para pemimpin Agama Hindu dalam mengiringi pengucapan japa mantra pada saat melakukan upacara Agama Hindu.
  3. Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini melambangkan semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Hal ini mengingat kemerdekaan Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
  4. Dalam membangun monumen ini terdapat beberapa makna kehidupan manusia dengan istilah budaya Hindu seperti menggambarkan Tri Mandala dan Tri Angga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s