Patung Dalam Agama Hindu – 2

Patung Bhuta/Raksasa

Patung Bhuta/Raksasa biasanya ditempatkan sebagai Dwarapala (penjaga pintu), pada gapura sebuah candi/tempat pemujaan. Sebagai penjaga pintu, maka patung tersebut diwujudkan dengan wajah garang, memperlihatkan taring dengan mata melotot (dedelingan). Malahan beberapa diantaranya memakai mahkota, subang, kalung, selempang, gelang dan ikat pinggang dengan hiasan tengkorak. Tangannya membawa senjata, khadga (pedang) dan pisau. Ada juga dwarapala yang membawa ular.

Patung Bhima Sakti di Bencingah Puri Ageng Mengwi

Sedangkan patung dwarapala yang terdapat di Pura-pura di Bali, tidak segarang dwarapala di Jawa, namun tanda-tandanya, mata melotot, taring yang tajam.


Patung Rsi

Rsi adalah orang suci yang dianggap sebagai penerima wahyu dari Tuhan/orang suci yang menyampaikan ajaran agama Hindu. Rsi sering juga disebut dengan Bhagawan. Seorang diantaranya Rsi yang terkenal di Indonesia bernama Agastya. Rsi Agastya adalah murid Dewa Siwa yang paling dicintai, sehingga Rsi Agastya dianugrahi ilmu oleh gurunya yang bernama Siwajnana. Berkat ilmu yang dimiliki Rsi Agastya dipandang sebagai keluarga Siwa dan dipuja sebagai Bhatara Guru. Disamping itu Rsi Agastya dikatakan sebagai penyebar agama Hindu dari India ke Asia Tenggara dan Indonesia (I. B. Mantra, tt : 196). Dalam tempat pemujaan, penempatannya selalu berada di relung selatan dari Candi Siwaistis.

Di Bali selain Rsi Agastya, dikenal Sapta Rsi, yaitu : Narada, Numanglang, Wrehaspati, Sukra, Wyasa, Kanwa dan Janaka. Kelompok Rsi itu biasanya ditempatkan pada komplek Pura.

Di Pura Mawospahit, Gerenceng Denpasar beberapa patung Rsi ditempatkan pada kanan kiri gapura sebelum memasuki Jeroan/halaman dalam. Di Pura Sakenan, Serangan, beberapa patung Rsi didapati menghias bagian tubuh candi, sama penempatannya dengan patung Sapta Rsi yang menghias bagian tubuh dari candi di Purasada Kapal.


Patung Binatang/Wahana

Binatang-binatang tertentu dianggap sebagai wahana/kendaraan dari dewa. Sebagai wahana sering pula binatang tersebut dianggap sebagai binatang suci. Pada permulaannya wahana dari dewa tersebut bentuknya setengah manusia dan setengah binatang, yaitu berbadan manusia dengan kepala binatang. Dalam perkembangan selanjutnya, wahana itu kemudian berbentuk binatang. Sebagai kendaraan, pada umumnya patung wahana tersebut ditemukan sedang mendukung dewa yang bersangkutan, namun ada pula yang berdiri sendiri.

Beberapa binatang yang merupakan wahana dari dewa tertentu, antara lain :

  1. Angsa, wahana dari Dewa Brahma/Dewi Saraswati
  2. Garuda, wahana dari Dewa Wisnu
  3. Lembu Nandi, wahana dari Dewa Siwa Mahadewa
  4. Serigala, wahana dari Dewa Siwa Bhairawa
  5. Singha, wahana dari Dewi Durga
  6. Gajah, wahana dari Dewa Indra
  7. Kuda dengan kereta, wahana Dewa Surya/Candra
  8. Burung Merak, wahana dari Dewa Kartikeya


Filosofisnya

Seperti apa yang telah diuraikan di atas, tentang pengertian arca, pratima, bedogol dan togog. Namun dalam kesempatan ini akan diuraikan prihal itu dari segi tattwanya (filsafat) tentang keberadaannya. Arca itu adalah hasil dari renungan untuk melambangkan sesuatu, yang mana apa yang menjadi pemikiran sangging menyatu dengan hasil karyanya, itulah yang disebut hasil kerja yang baik dan utama. Kata arca berarti : gineng (renungan), regep (konsentrasi). Pengertian arca dan pratima tidak jauh berbeda, pratima juga berarti gambar, pujaan atau pralambang. Arca dan pratima itu berwujud dewa dan ada juga yang berupa arca pangiring, seperti : gajah, harimau, naga, garuda dan sebagainya. Arca pangiring, disebut dengan pacanangan, palinggihan, ingon-ingon (binatang peliharaan) para dewa bhatara. Ada lagi yang disebut bedogol dan togog, ada yang menjadi sendi (penyangga tiang/saka/adegan) dan ada juga sebagai dwarapala, yang ditempatkan pada pamedalan (pintu ke luar/pamesuan) Pura. Wujudnya menyerupai binatang dan ada juga yang berwujud wanara (kera). Sedangkan pada pamedalan (dwarapala) ada yang berwujud wanara dan raksasa.

Dalam ajaran tattwa agama Hindu, ada ajaran yang disebut dengan Tri Marga, yakni :

  1. Karma Marga, artinya sujud bakti kepada Hyang Widhi, melalui kerja yang tulus ihlas, seperti : ngayah, memundut, matani-tani, menanam memelihara pepohonan, phala bungkah, phala gantung, pala kasimpar.
  2. Bhakti Marga, artinya menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Hyang Widhi, seluruh tri kaya dipersembahkan, seperti : tingkah laku yang baik, tutur kata yang baik, pikiran yang baik. Segala hasil yang diproleh dipersembahkan kepada Hyang Widhi, hasil matani-tani, hasil tata krama, yang berupa tari-tarian, pralambang (arca, patung), gambar, ukir-ukiran. Walaupun baru berupa gambaran, lama-kelamaan akan menjadi pralambang (papindan) dan akan menjadi arca, pratima dan sejenisnya.
  3. Jnana Marga, artinya orang yang telah memahami tattwa, sempurna dalam pengetahuan dari hasil yoga dan samadhi. Orang yang demikian itu tidak memerlukan sarana lagi, baik yang berupa banten, arca, pratima, karena telah dibya jnana, japa mantra, puja weda.

Dalam Adi Parwa, ada disebutkan :

Tatkala Sang Ekalawya, ingin berguru kepada Rsi Drona, tetapi ditolaknya. Walaupun demikian, Sang Ekalawya karena baktinya kepada sang guru Rsi Drona, lalu ia membuat papindan/lambang, yang menyerupai wajah Rsi Drona, papindan itulah yang selalu direnung, disembah dengan ketulusan hati (sakatelinging ambek), akhirnya Sang Ekalwya berhasil menerima pengetahuan kadhanurdharan (ilmu memanah)

Dalam pustaka Purwagamasasana, disebutkan :

Bhatara Guru/Sanghyang Siwa merasa sedih karena telah mengutuk istrinya Dewi Uma menjadi Dewi Durga, yang tinggal di setra gandhamayu. Lalu beliau merubah wujudnya menjadi Kala Rudra Maya, untuk dapat bertemu dengan dewi Durga di setra gandhamayu. Pada saat itu dewi Durga sudah berubah wujud menjadi Panca Durga (Bhagawati, Durgadewi, Ninidewati, Laksmidewi dan Giriputridewi). Tatkala itu Sanghyang Tri Samaya (Brahma, Wisnu, Iswara) merasa kawatir karena Hyang Siwa Guru sudah berubah wujud menjadi Kala Rudra Maya dan dewi Durga menjadi Panca Durga. Untuk menghilangkan kekhawatirannya, beliau Sanghyang Tri Samaya berapat, setelah mengambil keputusan, yakni agar Sanghyang Kala Rudra dan Dewi Durga kembali ke asalnya. Lalu beliau membawa papindan/gambaran, dari blulang yang diukir, ditarikan di atas kelir, papindan itu menyerupai wujud Sanghyang Siwa Guru dan wujud Dewi Uma, demikian juga wujud para dewa, papindan itulah yang disebut dengan wayang. Setelah wayang dikerjakan, Sanghyang Tri Samaya, mencari-cari tempat Sanghyang Siwa Guru dan Dewi Uma, tatkala itu beliau sudah bersthana di Bale Panjang (Bale Agung), Hyang Siwa Guru sudah berubah wujud Kala Maya, dengan nama Sang Jutisrana dan Durgadewi bernama Sang Kalikamaya.

Lalu sang Tri Samaya, memohon kepada Raja Galuh yang bernama Aji Batatipati, agar membuat dan menghidangkan Caru Pancasya, darah yang bercampur dengan daging mentah dan dipimpin oleh Bhagawan Sidhayoga, agar dipersembahkan di hadapan Bale Agung.

Sanghyang Tri Samaya, membuat bale panggungan lengkap dengan kelirnya, tempat mempertontonkan wayang, Hyang Iswara menjadi dalang, Hyang Wisnu dan Hyang Brahma menjadi pangabih (pembantu) yang disebut dengan katengkong/tututan, yang diceritrakan adalah perjalanan Sanghyang Siwa Guru dan Dewi Uma, menjadi Sang Kala Rudra Maya dan Dewi Durga.

Atas pertunjukan itu beliau berdua sadar akan diri dan kembali berwujud seperti semula, lalu Sang Ardhanareswari kembali ke Siwa Loka.

Disebutkan pula dalam pustaka Purwagamasasana :

Bhagawan Salukat, bepergian ke Sabrang Melayu, berganti nama Sang Bheksakarma, saat itu beliau berjumpa dengan orang yang sedang beryadnya pada Prasada Candi Batu, yang dipimpin oleh para wiku. Bhagawan Bheksakarma memasuki areal Candi, dengan tujuan untuk menonton pelaksanaan yadnya. Ketika itu ada orang kasihan kepadanya dan diberikan hidangan (lungsuran), tetapi beliau tidak mau, demikian juga beliau dipaksa untuk sembahyang pada candi tersebut, walaupun menolak dengan alasan Brahmana Jawa tidak boleh sembahyang sembarangan. Tetapi karena dipaksa, lalu beliau mengatupkan ke dua tangannya, seketika candi itu roboh. Orang-orang Sabrang Melayu takut dan sedih karena bangunan sucinya roboh akibat prilakunya, maka dengan rasa sedih dan malu, lalu memohon maaf agar candinya bisa berdiri lagi. Jika dapat berdiri lagi, mereka berjanji untuk menobatkan sang Bheksakarma untuk menjadi raja di Sabrang Melayu. Sang Bheksakarma tidak mau menjadi raja, karena bukan keturunan ksatria, tetapi untuk memperbaiki Candi mereka bersedia. Diperintahnya orang-orang Melayu untuk membuat kabaseng, yakni sebuah wakul yang berisi wangi-wangian, dililit dengan kain putih, dihias dengan bunga yang serba harum, lengkap dengan upakaranya. Setelah peralatannya siap, maka Bhagawan Bheksakarma lalu memimpin upacara tersebut, dengan puja mantra lengkap dengan mudranya, keesokan harinya Candi Watu itu telah berdiri seperti sediakala. Sang Bheksakarma mohon diri unuk kembali ke Iswara loka.

Dalam pustaka Uttarakandha disebutkan :

Tatkala Bhatara Indra bercengkrama di puncak Gunung Kailasa, bersama permaisuri dan widyadhara-widyadhari. Tatkala itu datanglah Sang Rahwana mencoba kesaktiannya, dengan menggoyang kaki gunung, sehingga bagaikan gempa, Sang Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga gunung, naik ke puncak gunung, sehingga terjepitlah tangan Sang Rahwana, akhirnya mohon maaf serta minta tolong. Sang Mahakala dan Nandiswara mengabulkan permohonannya, tetapi dengan janji, tatkala jaman Dwapara ke Kali Yuga, sang Rahwana akan mati dibunuh oleh manusia yang berkepala kera.

Bhatara Indra lalu memberikan anugrah kepada Mahakala dan Nandiswara, karena jasanya, menjadi dewanya Apit Lawang.

Dalam Purwagamasasana disebutkan :

Jika mendirikan Parhyangan, hendaknya ma-Tri Mandala (tigang sargah), seperti : Nista Mandala (Bhur), Madya Mandala (Bhuwah) dan Uttama Mandala (Swah). Pada masing-masing mandala boleh membuat patung, agar sesuaikan dengan fungsinya. Nista Mandala (Bhur Loka), patung yang berwujud bhuta/raksasa/ manusia; Madya Mandala (Swah Loka), patung berwujud Rsi, widyadhara-widyadhari, gandharwa-gandharwi dan di Uttama Mandala, arca/pratima yang berwujud dewa dan para Rsi yang tergolong Sapta Rsi kelompok Siwa. Segala sesuatu bangunan/palinggih dewa, supaya berdasarkan sastra, yakni Widhi Sastra.

Pemujaan terhadap leluhur, kawitan, lelangit telah merupakan suatu tata krama kehidupan umat Hindu di Bali, sering diwujudkan dalam bentuk patung/arca/pratima, yang ditempatkan pada candi/pura, yang berwujud Siwa Guru, Wisnu, Indra, termasuk patung perwujudan raja yang telah berhasil melaksanakan yasa kertinya dan setelah mendapatkan upacara sraddha.

Tetapi setelah kedatangan Danghyang Dwijendra di Bali, Candi Padharman yang merupakan sthana Dewa Pitara, tidak lagi dalam bentuk patung perwujudan, arca, pratima, melainkan mengikuti petunjuk/ tata cara Nglinggihang Dewa Pitara, diganti dengan Daksina Palinggih, disthanakan di Pamrajan atau Sanggah Kamulan Rong Tiga, di kanan (tengen) dewa pitara laki (lanang) dan kiri (kiwa) dewa pitara perempuan, itulah sebabnya disebut dengan-dengen, pamrajan rong tiga disebut Pamrajan Dengen/Sanggah Dengen. Demikian disebut oleh Usana Dewa.

Kutipan :

Kramaning makarya arca, arca pangiring, tapel palelawatan, taru sane wenang angge arca dewa, arca pangiring, kottamanya candana, madhya campaka, nistanya majagau mwang sarwa taru sane sekarnya merik. Nanghing yan pacang angge tapel, punggalan barong, sane sampun lumbrah mangge, wantah taru pule, bentaro, wenten taler nganutin unjuk lungsur tapel, upami : dalem sidhakarya, dalem astra wijaya,papatih, taler ngangge taru campaka mwang taru sekar merik sane lianan, sajawaning taru sane keni sapa Aji Janantaka. Yaning barong, rangda mwang tapel abyasan sane seosan, pule mwang bentaro, sampun ketah pisan sami ngangge.

Nihan tata kramaning ngawe arca mwang pangiringnya, ngaturang pakeling saha nunas panugrahan ring sanghyang ibu prethiwi mwang ring sedahan panguasa, puniki sane mawasta nuwedin, nanghing yening nenten wenten kantun witnyane, kewala yajnanya laksanayang, wenang sakeng genahe makarya 1). Puput nuwedin, manglaris sang tukang ngawitin makarya, ngreka citta ngarcana rupa warnaning arca sane pacang kakryanin. Yening tarune kantun majujuk, puput ngrekayang ring kahyun, rarisang ngepel utawi mongpong, manut kabuatan, upami yaning ngalih punggalan barong utawi rangda 2). Puputing arca ginawe, malih nglanturang upakaranya, lwirnya : makuhang, nguripang, byakawonin, prascitain, ulapin, plaspasin, pasupatinin, puputang ngantos majauman 3). Karya pamlaspase puniki, nista madhya uttama, manut kabuatan sang adruwe karya, ring nunas arcane, patut ngangge tata lan upakara kadi mendak dewa. Sobhagya yan uttama pangambile, wenang mapaselang, mapan wantah ring paselang ngawijilang dewa. Nanghing yaning arca pangiring, upami : singha, macan garuda, badogol sendi, dwarapala, pnika kewala maplaspas pasupati, nenten madaging pasimpenan mirah sakadi arca dewa4). Lontar Widdhi Sastra Medang Kamulan.


Membuat Arca Dewa

Dalam pembuatan arca sebagai lambang perwujudan para Dewa, ada disebutkan dalam lontar Dewa Tattwa :

“Iti kramaning makarya arca, pangadeganing dewa, yan marupa Iswara Guru, wenang ring Pamarajan Pamijilan. Yan marupa Brahma, ring Pamarajan Kawitan, yan marupa Mahadewa, wenang anggen ring Besakih, ring Desa mwang ring Lumbung. Yan marupa Wisnu, wenang ring Pura Pangulun Empelan, ring Sagara, ring Ulundanu mwang ring Taman. Yan marupa Siwa, ring Kahyangan ring Gunung mwang ring Pura Kawitan Bhumi, mangkana kramaning makarya arca”.

Artinya :

Inilah prihal pembuatan arca, sebagai perwujudan Dewa, kalau berwujud Iswara Guru, tepatnya di Pamrajan Pamijilan. Jika berwujud Brahma, di Pamrajan Kawitan, jika berwujud Mahadewa, dapat dipergunakan di Besakih, di Desa dan di Lumbung. Jika berwujud Wisnu, dapat dipergunakan di Pura Pangulun Empelan, di Segara, di Ulundanu dan di Taman. Jika berwujud Siwa, di Kahyangan yang terdapat di gunung dan di Pura Kawitan Bhumi, demikianlah prihal pembuatan arca.


Kesimpulan

  1. Arca adalah sarana suci, karena dari proses awal telah mempergunakan tata cara tertentu dan dengan upakara.
  2. Arca pangiring, seperti barong, rangda dan sejenisnya, melalui upacara pamlaspas, pasupati dan mapadagingan seperti arca dewa, yang disebut pacanangan atau prakanggen bhatara, sejajar dengan panyarikan, maka itu boleh disembah.
  3. Arca pangiring seperti : singha, gajah, harimau, garuda, badogol, dwarapala dan sejenisnya, hanya melalui proses mlaspas dan pasupati tanpa mapadagingan, maka tidak boleh disembah.
  4. Togog, walaupun bentuk dan wujudnya beraneka warna, bukan sarana suci, karena tidak melalui proses upacara, tidak diplaspas dan dipasupati dapat diperjual belikan.


Saran

Karena arca, pratima dan pacanangan adalah benda suci, yang telah melalui proses upacara keagamaan, maka tidak boleh orang sembarangan yang mengambil benda-benda suci tersebut. Untuk itu jika arca, pratima dan pacanangan itu diambil oleh pencuri, dirusaknya, maka kesuciannya terganggu atau hilang. Maka sebaiknya benda-benda suci itu, tidak digunakan lagi sebagai sarana pemujaan dengan kata lain diganti dengan yang baru dengan proses sebagai petunjuk-petunjuk sastra agama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s