Patung Dalam Agama Hindu – 1

Pengertian

Dalam tulisan ini yang dimaksud patung adalah semua perwujudan dalam bentuk tiga dimensi, baik dalam ukuran besar maupun kecil. Pengertian tiga dimensi dalam suatu bentuk apabila benda yang ingin diwujudkan dapat dilihat dari tiga arah, yakni arah muka, belakang dan samping. Dalam istilah yang umum (ilmu purbakala) patung itu sering disebut dengan arca.

Patung Siwa di Murudeshwara Temple

Di Bali dibedakan pengertian mengenai patung, seperti : arca, pratima, togog, bedogol, pacanangan yang sering disebut palinggihan/wahana.

Arca dan pratima kedua-duanya adalah merupakan perwujudan dewa dan bhatara dalam bentuk patung yang digunakan sebagai sarana untuk memudahkan konsentrasi di dalam persembahyangan yang sebenarnya ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasi -Nya, bukanlah arca itu atau pratima itu Sang Hyang Widhi.

Perbedaan arca dengan pratima, hanyalah dari segi ukuran dan bahan yang digunakan. Biasanya arca dalam ukuran yang lebih besar, umumnya bahannya dari kayu pilihan, seperti : candana, cempaka, majagau dan beberapa kayu yang berbau harum. Sedangkan pratima umumnya lebih kecil, yang biasanya dibuat dari mas, perak dan uang kepeng dan lain-lainnya. Masih terdapat sebutan pralingga, patapakan, palinggihan, yang dianggap sebagai sthana (linggih) dari bhatara, dewa, ada yang berupa permata dan ada juga berwujud binatang (pasu), seperti : gajah, harimau, sapi, garuda, naga dan sebagainya.

Baik arca, pratima maupun pralingga disthanakan pada tempat suci (Pura) dan pada waktu upacara piodalan biasanya disthanakan di Bale Pangaruman/Peliksari.

Bedogol adalah patung yang dibuat dari batu, batu padas ataupun kayu, biasanya dibuat dalam ukuran yang lebih besar. Dilihat dari segi lokasi penempatannya tampaknya bedogol itu mempunyai fungsi magis dan dekoratif. Dalam sebuah pura bila bedogol itu di tempatkan di depan gedong, candi bentar, paduraksa sebagai dwarapala (penjaga pintu), maka bedogol itu kemungkinan berfungsi magis juga berfungsi dekoratif. Patung tersebut biasanya diwujudkan dengan membawa senjata-senjata tertentu (atribiut).

Bila bedogol itu ditempatkan pada lokasi yang dianggap mempunyai magis, seperti : pempatan/catuspatha, pahteluan/marga tiga dan pada lokasi lain, yang dianggap mempunyai magis, maka bedogol itu berfungsi magis.

Togog adalah patung dalam ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan bedogol. Biasanya togog itu tidak dimagiskan, dimaksudkan hanya sebagai dekoratif belaka.


Jenis dan Fungsi

Dalam hubungannya dengan sistem kepercayaan dan upacara keagamaan dalam agama Hindu, berdasarkan fungsinya, patung itu dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, antara lain : patung dewa, patung perwujudan, patung wahana/binatang, patung resi, patung raksasa/bhuta.

Patung Dewa

Patung Dewa pada garis besarnya dapat digolongkan menjadi dua bagian, yakni : Istadewata dan Dewadikpalaka.

Istadewata

Istadewata adalah dewa yang diyakini sebagai dewa paling tinggi, di antara dewa-dewa yang lain. Sebagai media konsentrasi (pemusatan pikiran) dalam pemujaan, dewa tersebut diwujudkan dalam simbul-simbul tertentu, antara lain berwujud patung (arca, pratima, pralingga) dan ditempatkan pada tempat suci, seperti candi dan pura. Dalam bentuk dewa tersebut diwujudkan memakai ukuran, bhusana dan hiasan dengan atribiut/tanda-tanda atau laksana tertentu berdasarkan ketentuan-ketentuan dan Silpasastra.

Dewa tertinggi dalam agama Hindu adalah Dewa Tri Murti. Dewa tersebut adalah manifestasi Tuhan sebagai pencipta (uttpeti), pemelihara (sthiti) dan pengembali ke asal (pralina). Dewa Brahma, sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Iswara sebagai pamralina, masing-masing Dewa tersebut memiliki wahana/kendaraan dan Sakti. Dewa Brahma wahananya angsa dan saktinya Dewi Saraswati. Dewa Wisnu mempunyai wahana burung Garuda dan saktinya bernama Dewi Sri atau Laksmi. Dewa Iswara wahananya Lembu Nandi dan Saktinya Dewi Durga atau Uma (Parwati). Diantara Dewa Tri Murti tersebut Dewa Iswara/Siwa dipandang sebagai dewa tertinggi dan dipuja sebagai dewa yang utama.

Dalam bentuk patung Dewa Brahma biasanya diwujudkan berkepala empat, sehingga disebut Dewa Catur Mukha, dengan masing-masing kepala mengarah keempat penjuru mata angin. Selain itu Dewa Brahma bertangan empat, disebut Catur Bhuja, masing-masing membawa :

  1. Benda berbentuk bulat (padma)
  2. Aksamala/Genitri
  3. Kamandalu
  4. Camara

Dewi Saraswati diwujudkan bertangan empat, dengan membawa :

  1. Aksamala
  2. Padma
  3. Wina
  4. Pustaka

Dewa Wisnu juga diwujudkan bertangan empat dan masing-masing tangannya membawa :

  1. Gada
  2. Sangkha
  3. Cakra
  4. Padma

Saktinya Dewi Sri (Laksmi), biasanya diwujudkan bertangan dua :

  1. Satu tangan membawa setangkai padi
  2. Tangan yang lainnya membawa benda, akan tetapi dengan sikap memberi (wara mudra)

Dewa Siwa/Iswara diwujudkan memakai mahkota, yang pada bagian depannya dihias dengan ardha candrakapala (bulan sabit), di bawah sebuah tengkorak. Dewa Siwa dikenal dengan Dewa Trinetra, karena mempunyai mata ketiga pada bagian dahi.

Tangannya empat dan masing-masing membawa :

  1. Trisula
  2. Aksamala
  3. Camara
  4. Kamandalu

Saktinya Dewi Durga sebagai Durgamahisasuramardhini (Durga pembunuh raksasa dalam wujud kerbau), biasanya bertangan delapan (cunda) dengan membawa :

  1. Cakra
  2. Kadga
  3. Busur
  4. Panah
  5. Sangkha
  6. Prisai
  7. Ekor Mahisa
  8. Rambut Raksasa (Museum Pusat, 4/MP/AR/75 : 8).

Dewi itu kelihatannya sebagai menari dengan menginjak punggung mahisa dengan sikap yang disebut alidasana. Dalam bentuk lain, Dewa Siwa dengan saktinya sering disimbulkan dengan Lingga Yoni.

Pada komplek Candi Hindu di Prambanan, penempatan patung Tri Murti tersebut diatur sebagai berikut :

  1. Patung Dewa Brahma ditempatkan pada sebuah candi (Candi Brahma), yang terletak di selatan
  2. Patung Dewa Wisnu ditempatkan pada sebuah candi (Candi Wisnu) yang terletak di utara.
  3. Patung Dewa Siwa ditempatkan pada sebuah candi (Candi Siwa) yang terletak ditengah-tengah

Selain Dewa Tri Murti, dewa yang tertinggi terdapat pula kelompok dewa pendamping yang biasanya dianggap sebagai kelompok keluarga dewa Siwa, yaitu : Agastya (murid Siwa), Ganesa (putra Siwa), Durga (sakti Siwa).

Patung dewa tersebut ditempatkan pada candi Siwa dan diatur sebagai berikut :

  • Patung Dewa Siwa, ditempatkan pada garbhagreha (ruang utama).
  • Patung Agastya, menempati ruang samping selatan/relung.
  • Patung Dewa Ganesa, ditempatkan pada ruang samping belakang/relung menghadap ke belakang.
  • Patung Dewi Durga menempati ruang samping utara/relung menghadap ke utara

Di depan garbhagreha terdapat patung Mahakala dan Nandiswara, patung tersebut sebagai dwarapala (penjaga pintu), masing membawa gada dan camara.

Agastya diwujudkan berbadan gemuk, perut gendut dan memakai jenggot. Tangan sebanyak dua, masing-masing kamandhalu dan aksamala. Selain itu membawa camara yang dibelit dengan bahukiri dan trisula tertancap pada bagian sebelah kanan (A.J. Bernet Kempers, 1959 :80).

Ganesa juga berbadan gemuk, perut gendut dengan berbelalai seperti gajah. Tangan sebanyak empat dengan membawa :

  1. Mangkok
  2. Parasu/kapak
  3. Aksamala
  4. Patahan taring

Ganesa dianggap dewa sangat sakti, dapat menolak serta menghancurkan segala rintangan atau mara bahaya, sehingga disebut pula Dewa Wighneswara. Sebagai dewa penolak bahaya di Bali, patung Ganesa sering ditempatkan di Catuspatha, Margatiga, di tepi sungai pinggir jurang dan di tempat lain yang dipandang angker.


Dewa Dikpalaka

Dewa Dikpalaka sering disebut Dewa Lokapala adalah kelompok Dewa penguasa penjuru mata angin yang kesemuanya tidaklah lain dari pada manifestasi dari Dewa Siwa. Kelompok itu adalah : Asta Dewata, Dewata Nawasanggha dan Ekadasa Rudra.

Dalam aliran Siwa Siddhanta sebagaimana yang dianut di Bali khususnya Dewa Siwa sebagai dewa yang utama, dianggap mempunyai tiga manifestasi pokok sebagai penguasa alam semesta, yaitu :

  1. Siwa bersifat sekala (mewakili segala wujud dan bentuk yang memenuhi dunia ini) dan berkedudukan di Nadir.
  2. Sadasiwa, bersifat sakala niskala bertempat di pusat
  3. Paramasiwa, bersifat niskala, tanpa wujud dan bentuk, bertempat di Zenith

Selain manifestasi Siwa tersebut di atas, masih terdapat manifestasi yang lain yang disebut Asta Dewata, sebagai penguasa delapan penjuru mata angin. Bersama dengan Dewa Siwa, kelompok Asta Dewata, menjadi Nawa Dewata atau Dewata Nawasanggha (kelompok sembilan dewa).

Bila dengan Sadasiwa dan Paramasiwa maka kelompok dewa itu dinamakan Eka Dasa Rudra (sebelas manifestasi Siwa).

Di Bali Dewa Dikpalaka itu dikenal pula dengan nama dewa pangider-ideran dengan jumlah paling banyak sebelas dan inilah disebut dengan Eka Dasa Rudra. Susunannya adalah sebagai berikut :

  1. Siwa, di Nadir
  2. Sadasiwa, di pusat
  3. Paramasiwa, di Zenith
  4. Iswara, di timur
  5. Maheswara, di tenggara
  6. Brahma, di selatan
  7. Rudra, di barat daya
  8. Mahadewa, di barat
  9. Sangkara, di barat laut
  10. Wisnu, di utara
  11. Sambhu, di timur laut


Patung Perwujudan

Yang dimaksud dengan patung perwujudan, adalah patung yang menggambarkan seorang raja/tokoh dengan pakaian kebesaran atau dengan wujud dewa, karena raja tersebut dianggap sebagai penjelmaan dari dewa tertentu. Biasanya patung perwujudan itu dibuat setelah seorang raja/tokoh meninggal dunia dan terhadapnya telah dilaksanakan upacara keagamaan antara lain upacara Sraddha yaitu upacara penyucian terhadap roh (mungkin sejenis upacara memukur di Bali). Umumnya patung perwujudan itu ditempatkan pada candi/tempat pemujaan lainnya yang khusus didirikan untuk keperluan tersebut.

Atribut/tanda-tanda dari patung perwujudan itu pada dasarnya sama dengan atribut dari dewa yang menitisnya. Nampaknya perbedaannya dengan patung dewa hanya terlihat dari sikap tangan patung perwujudan itu. Beberapa diantara patung perwujudan itu menunjukkan sikap tangan menyembah (anjali mudra). Selain itu ada membawa kuncup bunga padma.

Di Jawa Timur ada patung perwujudan Wisnu di atas Garuda, diduga berasal dari Candi Belahan adalah patung perwujudan Raja Airlangga. Patung Harihara dari Candi Sumberjati, merupakan patung perwujudan dari Raden Wijaya (A.J. Kempers, 1959 : 82)

Di Bali di Pura Tegeh Koripan di puncak Gunung Penulisan, banyak terdapat patung perwujudan raja. Antara lain adalah patung sejoli, dengan angka tahun 933 Saka, diduga patung perwujudan Raja Udayana dengan Mahendradatta (K. Linus, 1982 : 16).


bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s