Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 2

Lanjutan dari : Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 1


Itihasa dan Purana

Kitab Itihasa termasuk kelompok Upaweda. Kata Itihasa, berasal dari iti-ha-asa, artinya sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata, pada bagian Adi Parwa, yaitu Bhagawan Byasa.

Itihasa adalah kitab epos atau wiracarita, yang menceritrakan sejarah perkembangan raja-raja dan Kerajaan Hindu di masa lampau. Itihasa merupakan karya sastra yang bersifat spiritual, di mana ceritranya penuh fantasi, romantis, kewiraan dan mythologi.

Kitab Itihasa terdiri dari Ramayana dan Mahabharata.

Kitab Ramayana digubah oleh Maharesi Walmiki. Kitab Ramayana ini berbahasa Sanskerta, terdiri dari tujuh buku, disebut Sapta Kandha. Jumlah syairnya 24.000 sloka.

Ketujuh Kandha itu, yaitu :

  1. Bala Kandha, menceritrakan masa kanak-kanak Sang Rama, dengan saudara-saudaranya.
  2. Ayodhya Kandha, menceritrakan penobatan Sang Rama menjadi raja Ayodhya, tetapi batal, akibat prilaku Dewi Kekayi, agar Sang Bharata putranya dinobatkan menjadi raja.
  3. Aranyaka Kandha, menceritrakan Sang Rama, Dewi Sita dan Sang Laksmana, pergi ke hutan. Dalam hutan Dewi Sita diculik oleh Rahwana.
  4. Kiskendha Kandha, menceritrakan pertemuan Sang Rama dengan raja Kiskendha yaitu Sang Sugriwa. Dengan pertolongan Sugriwa, Sang Rama bersiap-siap menyerang Alengkapura, negerinya Rahwana.
  5. Sundara Kandha, menceritrakan pemberangkatan Sang Anoman dari Gunung Mahendra, menuju Negeri Alengka.
  6. Yuddha Kandha, menceritrakan peperangan Rama dengan Rahwana dan penobatan Wibisana menjadi Raja Alengka.
  7. Uttara Kandha, menceritrakan asal usul kelahiran Rama, Dewi Sita, Rahwana, Kusa dan Lawa.

Di Indonesia ceritra Ramayana amat digemari oleh masyarakat. Kekawin Ramayana yang berbahasa Jawa Kuna, adalah merupakan kitab Kekawin yang tertua di Indonesia, diperkirakan disusun pada abad ke-9, pada masa pemerintahan Raja Mataram Dyah Balitung.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh Maharesi Wyasa. Isinya adalah kisah peperangan antara Pandhawa dengan Korawa dan kemenangan ada di pihak Pandhawa. Kitab Mahabharata terdiri dari 18 Parwa disebut Astadasa Parwa. Kedelapan belas Parwa itu yaitu:

  1. Adi Parwa, menceriterakan kelahiran para Pandhawa dan Kaurawa.
  2. Sabha Parwa, menceriterakan tentang perjudian dan kekalahan pada pihak Pandhawa.
  3. Wana Parwa, menceriterakan kisah pembuangan Pandhawa ke hutan
  4. Wirata Parwa, menceritakan penyamaran Pandhawa di Wirata selama satu tahun.
  5. Udyoga Parwa, menceriterakan tentang usul perdamaian antara Pandhawa Kaurawa di bawah pimpinan Sri Kresna.
  6. Bhisma Parwa, menceriterakan Resi Bhisma sebagai Panglima Perang Kaurawa.
  7. Drona Parwa, menceriterakan tentang Resi Drona sebagai Panglima Perang Kaurawa.
  8. Karna Parwa, menceriterakan tentang Sang Karna sebagai Panglima Perang Kaurawa.
  9. Salya Parwa, menceriterakan tentang Salya sebagai Panglima Perang Kaurawa.
  10. Sauptika Parwa, menceriterakan tentang terbunuhnya Panca Kumara oleh Aswatama.
  11. Stri Parwa, menceriterakan tentang Sang Drestarastra, Dewi Gandhari, Pandhawa, Sri Kresna dan para janda pahlawan datang ke Kuruksetra guna memberikan upacara kepada para pahlawan yang gugur di medan perang
  12. Santi Parwa, menceriterakan tentang para Pandhawa matirthayatra ke dalam hutan, Begawan Wyasa dan Sri Kresna memberi nasehat kepada Yudhistira.
  13. Anusasana Parwa, menceriterakan tentang kewajiban-kewajiban ksatria.
  14. Aswamedha Parwa, menceriterakan Sang Yudhistira melaksanakan upacara Aswamedha selama satu tahun.
  15. Asramawasika Parwa, menceriterakan tentang Sang Drestarastra, Dewi Gandhari, Dewi Kunti bertapa di hutan selama tiga tahun dan meninggal karena api suci Sang Drestarastra.
  16. Mausala Parwa, menceriterakan tentang hancurnya kerajaan Yadawa dengan matinya Sang Baladewa dan Sri Kresna.
  17. Mahaprasthanika Parwa, menceriterakan tentang pemberangkatan Sang Panca Pandawa bersama Dewi Drupadi ke dalam hutan untuk melakukan Yoga. Istana kerajaan diserahkan kepada Sang Parikesit putra Sang Abimanyu.
  18. Swargarohana Parwa, menceriterakan tentang kehidupan Pandawa di Sorga.

Disamping kitab-kitab Itihasa terdapat juga kitab-kitab Purana, yang merupakan kitab suci Hindu, bagi golongan Saiwa dan Waisnawa, yang menjadi pegangan langsung. Isi dari Purana yakni tentang ceritra-ceritra kuno, yang dikumpulkan dari ceritra-ceritra yang hidup di kalangan masyarakat, yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia.

Kitab-kitab Purana terdiri dari 18 Mahapurana (Purana besar) dan 18 Upapurana (Purana kecil). Ke-18 Purana itu, yaitu : Brahmapurana, Padmapurana, Wisnupurana, Wayupurana, Bhagawatapurana, Naradapurana, Markandeyapurana, Agnipurana, Bhawisyapurana, Brahmawaiwartapurana, Linggapurana, Warahapurana, Skandhapurana, Wamanapurana, Kurmapurana, Matsyapurana, Garudapurana dan Brahmandapurana.

Kitab-kitab Purana disamping kitab-kitab Itihasa, dapat digolongkan sebagai gudang ilmu pengetahuan agama yang sangat besar. Kitab-kitab tersebut disusun oleh para Resi, yang dimaksudkan untuk menjabarkan ajaran suci Weda yang demikian luas, penuh kandungan spiritual, filosofis, moralitas, edukatif dan lain-lain.

Kitab Purana dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

  1. Kelompok Satwika

    Kelompok Purana Satwika adalah kitab-kitab Purana yang menguraikan tentang Dewa Wisnu sebagai Dewa pujaan yang utama. Adapun yang tergolong Purana Satwika adalah Wisnupurana, Naradhapurana, Bhagawatapurana, Garudapurana, Padmapurana, Warahapurana.

  2. Kelompok Rajasika

    Kelompok kitab Purana Rajasika adalah kitab-kitab Purana yang isinya menguraikan tentang pemujaan Dewa Brahma sebagai Dewa yang utama. Purana yang tergolong Purana Rajasika adalah Brahmandapurana, Brahmawaiwartapurana, Markandeyapurana, Bhawisyapurana, Wamanapurana, Brahmapurana.

  3. Kelompok Tamasika

    Kelompok kitab Purana Tamasika adalah kitab-kitab Purana yang menguraikan tentang pemujaan kepada Dewa Siwa sebagai Dewa yang tertinggi. Purana yang tergolong Purana Tamasika adalah Linggapurana, Siwapurana, Matsyapurana, Skandhapurana, Kurmapurana, Agnipurana.

Walaupun isinya berbeda-beda, namun pada umumnya Purana memuat lima (5) hal yang menjadi corak khusus dari padanya, yang disebut Pancalaksana. Ke lima ciri ini adalah :

  1. Sarga, yaitu penciptaan alam semesta.
  2. Pratisarga, yaitu penciptaan kembali dunia, setiap kali dunia yang ada itu lenyap. Berlangsungnya dunia ini hanyalah satu hari Brahma.
  3. Wamsa, yaitu asal usul para dewa dan para Resi.
  4. Manwantarani, yaitu pembagian waktu satu hari Brahma dalam 14 masa. Dalam tiap-tiap masa itu diciptakanlah manusia baru sebagai turunan Manu, manusia pertama.
  5. Wamsanucarita, yaitu sejarah raja-raja yang memerintah di dunia.

Waktu berlangsungnya dunia ini disebut satu hari Brahma. Satu hari Brahma dibagi menjadi 4 yuga (Catur Yuga), yaitu :

  1. Kretayuga, jaman mas. Dalam jaman ini tidak ada kejahatan sama sekali, adanya hanya baik saja, maka manusia tidak memerlukan sesuatu kitab suci.
  2. Tretayuga, jaman perak. Manusia sudah kenal baik dan buruk. Kejahatan meningkat sudah sampai 25%, maka manusia memerlukan satu buah kitab suci (Weda), sebagai bimbingan dan pegangan hidup.
  3. Dwaparayuga, jaman perunggu. Kejahatan meningkat sampai 50 %. Maka manusia memerlukan dua kitab suci (Weda), untuk memimpinnya ke arah kebaikan.
  4. Kaliyuga, jaman besi. Jaman ini berlangsung sampai hari ini. Kejahatannya sudah 75%, makin lama makin menghebat. Manusia memerlukan tiga kitab suci (Weda), untuk dapat mengekang diri, agar jangan terjerumus ke dalam kejahatan (Seperti keyakinan kita, menjelang hari kiamat nanti Wisnu akan menjelma menjadi Kalki Awatara, sebagai penyelamat dunia).


Kitab-Kitab Agama dan Darsana

Kitab-kitab agama mengajarkan penyembahan Tuhan dalam manifestasi tertentu. Ada tiga macam kitab agama yaitu: Saiwa Agama, Waisnawa Agama, dan Sakta Agama. Saiwa Agama mengantarkan orang pada ajaran Saiwa Sidhanta dan Pratyabhijna, dalam ajaran Saiwa Agama orang memuja siwa sebagai Tuhan yang tertingggi dalam bermacam-macam wujud. Ajaran Saiwa Sidhanta amat besar peranannya dalam perkembangan Agama Hindu di Indonesia. Waisnawa Agama Tuhan di puja sebagai Wisnu dan pada Sakta Agama Tuhan di puja sebagai Dewi, Ibu Dunia sebagai Sakti.

Buku-buku yang lain yang khusus mengajarka filsafat Hindu adalah termasuk kelompok kitab Darsana. Kitab Darsana yang mengakui kekuasaan Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad ada enam Darsana disebut Sad Darsana. Keenam Darsana itu yaitu:

  1. Samkhya

    Menurut tradisi yang mula-mula mengajarkan ajaran Samkhya adalah Maharesi Kapila. Samkhya mengajarkan ajaran yang sistematis tentang proses perkembangan kejadian alam semesta.

  2. Yoga

    Tokoh aliran ini adalah Maharesi Patanjali. Yoga mengajarkan tentang penyucian dan pengendalian diri baik jasmani maupun rohani.

  3. Waisesika

    Pendiri ajaran ini adalah Maharesi Kanada. Waisesika mengajarkan pengetahuan yang menuntun orang untuk mengenal hakekat kepribadian atau jati diri.

  4. Nyaya

    Pendiri ajaran ini adalah Maharesi Gotama. Isinya tentang filsafat logika.

  5. Mimamsa

    Pendiri ajaran ini adalah Maharesi Jaimini. Mimamsa mengajarkan dasar-dasar ajaran Dharma dan lebih menekankan pada ritual daripada ajaran etika.

  6. Wedanta

    Pendiri ajaran ini adalah Badarayana dengan kitabnya Wedanta Sutra. Wedanta mengajarkan bahwa Brahman adalah realitas tertinggi. Tujuannya adalah mencapai kelepasan, melenyapkan penderitaan dan melepaskan diri dari Awidya. Selain tokoh Wedanta Badarayana ada juga Sankara, Ramanuja dan Madhwa.

Di Indonesia Ajaran Agama Hindu dalam Weda, Upanisad, Itihasa, Purana, Darsana disadur dalam bahasa Jawa Kuno atau bahasa Sansekerta kepulauan, bahasa Jawa dan Bahasa Bali. Semuanya itu ditulis dalam daun lontar yang dianggap merupakan warisan budaya dan agama. Lontar-lontar di Bali menurut C. Hooykaas dikelompokan menjadi enam, seperti Weda, Agama, Wariga, Itihasa, Babad, dan Tantri.

Demikianlah sumber-sumber ajaran Agama Hindu yang dapat kita warisi di pulau Bali.


Tamat.

Advertisements

One thought on “Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 2

  1. Pingback: Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 1 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s