Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 1

Weda

Sumber ajaran agama Hindu yang tertua adalah Weda. Semua ajaran agama Hindu dijiwai oleh ajaran Weda, walaupun sering dalam bentuk yang berbeda. Semangat ajaran Weda meresapi seluruh ajaran agama Hindu. Ia laksana sumber air yang terus-menerus mengalir melalui sungai-sungai yang panjang, sepanjang abad dan melalui daerah-daerah yang luas. Karena panjangnya masa dan luasnya yang dilalui, wajahnya dapat berubah, namun inti ajarannya selalu dan dimana-mana sama.

Weda adalah wahyu Tuhan atau sabda suci Tuhan yang diterima olen para Maharesi. Hal ini disebutkan dalam Kitab Bhumikabhasya, karya Maharesi Sayana. Dikatakan Maharesi itu Mantra Drestah, maksudnya orang-orang yang dapat melihat mantra-mantra itu.

Kitab suci Weda dikenal dengan nama-nama sebagai berikut :

  1. Kitab Sruti, artinya kitab Weda adalah wahyu Tuhan yang diterima melalui pendengaran atas kemekaran intuisi para Maharesi.
  2. Kitab Rahasya, artinya kitab Weda mengandung ajaran yang amat rahasia, yakni menyangkut tentang tujuan hidup yang tertinggi berupa moksa.
  3. Kitab Mantra, artinya Weda memuat nyanyian-nyanyian pujaan.

Berdasarkan uraian di atas maka Weda mempunyai pengertian yang luas, yakni sebagai sumber ajaran Agama Hindu.


Bahasa Weda

Kitab suci Weda mempergunakan bahasa Sanskerta Weda. Nama Sanskerta dipopulerkan oleh Maharesi Panini, seorang penulis tata bahasa Sanskerta (Wyakarana Sanskerta). Bahasa Sanskerta Weda disebut juga dengan Daiwi Wak, atau Sabda Dewata. Disamping Maharesi Panini dikenal juga Maharesi Patanjali, sebagai penulis kitab Bhasa, demikian juga Maharesi Katyana.


Maharesi Penerima Wahyu

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Weda itu adalah wahyu Tuhan yang diterima oleh para Maharesi. Dengan demikian bahwa wahyu Weda tidaklah diterima oleh seorang Maharesi saja, melainkan oleh beberapa orang Maharesi, dalam waktu yang berbeda-beda.

Wahyu dalam bahasa Sanskerta disebut dengan Sruti. Sruti artinya pendengaran. Wahyu itu hanya dapat didengar oleh orang-orang yang mempunyai kesucian yang tinggi. Tanpa kesucian yang tinggi orang tidak akan mampu mendengar atau menerima sabda Tuhan.

Adapun para Maharesi penerima wahyu yang amat terkenal, ada tujuh orang disebut Sapta Resi. Ketujuh Maharesi itu adalah Maharesi Gretsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasidta dan Maharesi Kanwa.

Disamping ketujuh Maharesi itu masih banyak lagi para Maharesi penerima wahyu Tuhan. Maharesi Wyasa adalah Maharesi yang terkenal yang mengkodifikasikan Weda dan dibantu oleh empat Maharesi, yaitu :

  1. Maharesi Pulaha, menghimpun kitab Reg Weda Samhita.
  2. Maharesi Jaimini, menghimpun kitab Sama Weda Samhita.
  3. Maharesi Waisampayana, menghimpun kitab Yajur Weda Samhita.
  4. Maharesi Sumantu, menghimpun kitab Atharwa Weda Samhita.


Umur Kitab Weda

Kitab suci Weda yang diyakini oleh umat Hindu sebagai Anadi Ananta, yang berarti tiada berawal dan tiada berakhir. Walaupun demikian para sarjana baik sarjana barat maupun timur, mencoba menentukan kapan wahyu itu diturunkan. Para sarjana itu antara lain :

  1. Lokanya Tidak Shastri, Weda telah diturunkan 6000 tahun sebelum Masehi.
  2. Bal Gangghadar Tilak, Weda telah diturunkan 4000 tahun sebelum Masehi.
  3. DR. Haug, memperkirakan bahwa Weda telah turun 2400 tahun sebelum Masehi.
  4. DR. Max Muller, memperkirakan bahwa Weda telah turun 1200 tahun sebelum Masehi.
  5. Heine Gelderen, bahwa Weda diturunkan 1500 – 1000 sebelum Masehi.
  6. Sylvain Levy, memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar 1000 tahun sebelum Masehi.
  7. W. Stutterheim, memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar 1000 – 500 sebelum Masehi.

Berdasarkan perkiraan di atas jelaslah bahwa wahyu Weda telah turun ke dunia berabad-abad sebelum Masehi, dengan demikian kitab suci Weda sangat tua usianya


Kitab Sruti

Sebagai wahyu Tuhan maka Weda disebut Sruti, yang secara harafiah berarti apa yang didengar, yaitu didengar dari Tuhan. Orang Hindu yakin bahwa kitab Weda bukan hasil karya manusia. Weda adalah kekal. Weda adalah nafas Tuhan, kebenaran yang kekal, yang dinyatakan atau diwahyukan oleh Tuhan, kepada para Maharesi. Bentuk apa yang diwahyukan adalah mantra-mantra. Sesudah mantra-mantra dibukukan, lalu dibagi menjadi 4 bagian atau pengumpulan (samhita), yaitu :

  1. Reg Weda, terdiri dari 10.552 mantra. Berisi mantra-mantra dalam bentuk puji-pujian, yang dipergunakan untuk mengundang para dewa, agar berkenan hadir pada upacara kurban, yang diadakan bagi mereka. Pendeta yang menyanyikan puji-pujian itu disebut Hotr (Hotar).
  2. Sama Weda, terdiri dari 1.875 mantra. Isinya hampir sama dengan Reg Weda, kecuali beberapa nyanyian. Perbedaannya dengan Reg Weda, ialah bahwa puji-pujian disini diberi lagu (sama = lagu). Pendeta yang menyanyikan Sama Weda, disebut Udgatr (Udgatar).
  3. Yajur Weda, terdiri dari 5.987 mantra. Berisi yajus atau rapal, diucapkan oleh pendeta yang disebut dengan Adwaryu, yaitu pada saat melaksanakan upacara kurban.
  4. Atharwa Weda, terdiri dari 5.987 mantra. Berisi mantra-mantra sakti. Mantra-mantra ini dihubungkan dengan bagian hidup keagamaan, seprti tampak dalam bentuk sihir dan tenung. Sihir-sihir itu mengandung maksud untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan sebagainya.

Mula-mula kitab yang terakhir ini tidak diakui sebagai kitab suci, sehingga kitab Reg, Sama dan Yajur Weda, disebut dengan Trayi Widya. Tetapi lama-kelamaan diakui juga, karena kepercayaan rakyat sangat kuat sekali kepada kitab Atharwa Weda. Selain dari pada itu, raja-raja banyak yang mengambil pendeta-pendeta dari golongan ini, sebagai pendeta istana.

Menilik nama-nama tempat yang terdapat dalam Reg Weda, dapat diperkirakan bahwa wahyu ini dikodifikasikan di daerah Punyab sekarang. Nama-nama itu antara lain : Kubha (Kabul), Studri (Sutley), Suvastu (svat), Kumu (Kurram), Yamuna (Yumna), Suryanavar (Srinagar), Samudra (hilir sungai Sindhu).

Ketiga Weda yang lain rupanya dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua aliran sungai), ialah lembah sungai Gangga dan Yamuna.

Masing-masing Weda memiliki kitab Brahmana pada umumnya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra, dalam rangkaian upacara. Disamping kitab Brahmana, kitab-kitab Catur Weda memiliki juga kitab-kitab Aranyaka dan Upanisad. Kitab Aranyaka sering disebut dengan kitab hutan. Isinya adalah penjelasan-penjelasan bagian mantra dan Brahmana. Kitab Upanisad merupakan bagian yang sangat penting dalam hubungannya dengan kitab-kitab Sruti. Upanisad mengandung ajaran suci untuk : melenyapkan kebodohan (awidya) dan mengantarkan atma mencapai Brahman (moksa).

Dilihat dari isinya kitab Brahmana digolongkan dalam Kitab Karma Kandha. Sedangkan kitab-kitab Upanisad digolongkan Kitab Jnana Kandha. Menurut tradisi kitab Upanisad seluruhnya berjumlah 108 buah buku. Dua belas diantaranya merupakan Upanisad yang sangat penting, yaitu : Isa, Kena, Katha, Prasna, Mundaka, Mandukya, Aiteriya, Taittitiya, Chandogya, Bhrehadaranyaka, Kausitaki dan Swetaswatara Upanisad.


Wedangga dan Upaweda

Kitab-kitab Wedangga (cabang Weda) adalah merupakan buku pedoman tentang cara mempelajari Weda. Terdiri dari 6 cabang, disebut Sadangga Weda, yang terdiri dari :

  • Siksa (phonetika), menguraikan tentang petunjuk-petunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat, sesuai dengan tinggi rendah tekanan suara.
  • Wyakarana (tata bahasa), menguraikan tentang tata bahasa yakni tata bahasa Sanskerta.
  • Chanda (lagu), membicarakan aspek ikatan bahasa dalam Weda yang disebut lagu.
  • Nirukta, etimologi bahasa Sanskerta.
  • Jyotisa (astronomi), menguraikan tentang tata surya, bulan dan benda-benda akasa yang lainnya, yang dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya.
  • Kalpa, isinya berhubungan dengan kitab-kitab Brahmana dan Kitab-kitab Mantra.

Kitab Kalpa, terdiri dari beberapa bidang, antara lain :

  1. Bidang Srauta, isinya tatacara melakukan upacara yadnya, baik dalam tingkatan upacara besar, upacara kecil dan upacara harian (sehari-hari).
  2. Kitab Grehya, isinya tentang tata cara pelaksanaan yadnya oleh masyarakat khususnya orang yang telah berumah tangga.
  3. Bidang Dharmasastra, isinya tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara.
  4. Bidang Silpasastra, isinya tentang tatacara pembuatan bangunan suci.

Berdasarkan isinya kitab Wedangga, dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu yang berhubungan dengan pengetahuan bahasa, seperti : Siksa, Wyakarana, Nirukta dan Chanda, serta kelompok yang berhubungan dengan upacara yadnya, seperti : Kalpa dan Jyotisa.

Disamping kelompok Wedangga ada juga kitab-kitab yang dekat hubungannya dengan Weda, sebagai penunjang pemahaman ajaran Weda, kelompok itu disebut dengan Upaweda. Kitab Upaweda, terdiri dari beberapa cabang ilmu, antara lain : Arthasastra, Ayur Weda,Gandharwa Weda, Dhanur Weda, Kamasastra.

  1. Arthasastra, tentang pokok-pokok pemikiran dalam bidang politik. Tohoh-tokoh penulis kitab Arthasastra, ialah : Bhagawan Brehaspati, Maharesi Chanakya (Kautilya).
  2. Ayur Weda, menguraikan tentang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Gandharwa Weda, menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni.
  3. Dhanur Weda, menguraikan tentang siasat perang dan ilmu menggunakan senjata.
  4. Kamasastra (Kamasutra), menguraikan segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah. Kitab Kamasastra yang terkenal adalah karangan Bhagawan Watsyayana.


bersambung…

Advertisements

One thought on “Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 1

  1. Pingback: Sumber-Sumber Ajaran Agama Hindu – 2 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s