Nilai Keagamaan Dalam Kesusastraan Bali

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Ndan Sang Hyang Weda paripurnakna sira,

Maka sadhana Sang Hyang Itihasa, Sang Hyang Purana,

Apan atakut Sang Hyang Weda ring akedik ajinya, ling nira :

Kamung Hyang, haywa tiki umara ri kami, ling nira,

mangkana rakwa katakut.

(Sarasamuscaya, 46)


Kunang kengetakna, sasing kajar de Sang Hyang Sruti,

Dharma ngaranika, sakajar de ning Sang Hyang Smreti kuneng,

Dharma ta ngaran ika, Sistacara kunang, acara nika sang Sista Dharma

ta ngaran ika, Sista ngaran Sang Satyawadi, Sang Apta, Sang patirthan,

Sang Panadahan Upadesa, samksepanika katiga Dharma ngaranika.

(Sarasamuscaya, 47)


Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari Itihasa dan Purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya : Wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang kepadaku, demikian konon sabdanya, karena takut.


Maka yang patut diingat adalah, segala yang diajarkan oleh Sang Hyang Sruti, disebut Dharma, semua yang diajarkan Smreti pun Dharma pula namanya itu, demikian pula tingkah laku Sang Sista, disebut juga Dharma, Sista artinya orang yang berkata jujur, yang setia pada kata-katanya, orang yang dapat dipercaya, orang yang menjadi tempat pensucian diri, orang-orang yang memberikan ajaran-ajaran atau nasihat-nasihat, singkatnya ketiga-tiganya disebut dengan Dharma.


Kesusastraan Hindu di Indonesia

Masa pemerintahan Pu Sendok (929 – 947) munculnya kitab suci Sang Hyang Kamahayanikan, yang memuat ajaran agama Buddha Mahayana.

Pemerintahan Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama (abad 10), terjadi suatu proyek besar “Mangjawaken Byasamata” adalah membahasa Jawakan ajaran-ajaran Bhagawan Byasa, yakni Mahabharata atau Astadasaparwa, yang berbahasa Sansekerta, disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna. Tetapi yang kita wariskan sampai saat ini hanya ada 8 Parwa yang berbahasa Jawa Kuna, yaitu : Adi Parwa, Wirata Parwa, Udyoga Parwa, Bhisma Parwa, Asrama Parwa, Mausala Parwa, Prasthanika Parwa dan Swargarohana Parwa. Disamping itu juga diadakan kegiatan membahasa Jawakan hasil karya Bhagawan Balmiki, yakni Ramayana. Khususnya bagian akhir Ramayana, yaitu : Uttara Kandha.

Pemerintahan Erlangga, adalah raja keturunan Bali, yakni : Raja Dharmodayana Warmadewa. Pada masa ini digubah Kekawin Arjuna Wiwaha oleh Mpu Kanwa, adalah sebuah kitab Kekawin yang diminati oleh masyarakat Hindu di Bali sampai saat ini.

Pada masa Kediri (abad 11dan 12), pada masa ini muncul pula kesusastraan Jawa Kuna, seperti :

  • Kekawin Bharatayuddha oleh Mpu Sedah, Mpu Panuluh.
  • Hariwangsa dan Gatotkacasraya oleh Mpu Panuluh.
  • Smaradahana oleh Mpu Dharmaja.
  • Sumanasantaka oleh Mpu Triguna.

Pada jaman Majapahit, pada masa ini pujangga besar, seperti : Mpu Tantular, Mpu Prapanca dan Mpu Tan Akung, banyak para Kawya yang hidup masa itu.

  • Arjunawijaya dan Sutasoma oleh Mpu Tantular.
  • Negarakerthagama oleh Mpu Prapanca.
  • Wrettasancaya, Siwaratrikalpa, Patibrata, Banawa Sekar oleh Mpu Tan Akung.

Pada masa Jaman Gelgel, (abad 16), ketika masa pemerintahan raja Dalem Waturenggong, mengenal adanya Dang Hyang Dwijendra, beserta muridnya Ki Gusti Dawuh Baleagung, adalah dua pengarang yang produktif dari jaman tersebut.

Dang Hyang Dwijendra, antara lain mengarang :

Mayadanawantaka, Anyang Nirartha, Dharma Sunya Keling, Kidung Sebun Bangkung, Sara Kusuma, Ampik, Kidung Madya Muter, Legarang, Mahisa langit, Ewer, Dharma Pitutur, Wasisthasraya, Kawya Dharmaputus, Mahisa Pegat Kung, Wilet Demung Sawit, Gegutuk Menur, Brati Sasana, Siwa Sasana, Putra Sasana, Tuan Sumeru, dan sebagainya.

Ki Gusti Penyarikan Dawuh Baleagung, mengarang :

Rareng Canggu, Wilet Wukir Padelegan, Segaragunung, Karasnagara, Jagultua, Wilet Mayura, Anting-anting Timah, dsbnya.

Pada masa pemerintahan Dalem Bekung, ada pengarang yang bernama Pangeran Talaga, beliau mengarang : Kidung Rangga Wungu, Amurwa Tembang, Amretamasa, Patol, Wilet Sih Tan Pegat, Rara Kedura, Kebo Dungkul, Caruk Amretamasa.

Pengarang yang lain yaitu Kyayi Pande Bhasa, mengarang Arjuna Pralabdha.

Sedangkan pengarang Bali pada abad 20, yakni Ida Padanda Made Sidemen, mengarang : Purwagamasasana/Siwagama, Kekawin Cayadijaya, Candrabhairawa/Dharmawijaya, Singhalanggyala, Kalpa Sanghara, Kalepasan, Manuk Dadali, Purwaning Gunung Agung, Kidung Rangsang, Kidung Pisaca Harana, Geguritan Salampah Laku, mungkin ada karya beliau yang lain.


Kesusastraan Hindu di Bali

Gedong Kirtya Singaraja, yang didirikan pada tahun 1929, adalah sebuah perpustakaan yang terbesar di Bali, yang menyimpan naskah-naskah lontar beserta salinannya. Klasifikasi yang dilakukan terhadap naskah lontar tersebut, dapat digolongkan menjadi beberapa jenis :

  1. Weda (Weda, Mantra, Kalpasastra)
  2. Agama (Palakerta, Sasana, Niti).
  3. Wariga (Wariga, Tutur, Kanda, Usada)
  4. Itihasa (Parwa, Kakawin, Kidung, Geguritan)
  5. Babad (Pamancangah, Usana, Uwug)
  6. Tantri (Tantri, Satua) dan belakangan ditambah dengan Lelampahan.

Pembagian seperti itu telah menunjukkan beberapa jenis naskah Bali tersebut, namun perlu diberikan kejelasan tentang isi masing-masing naskah tersebut, sebagai berikut :

  1. Naskah-naskah keagamaan dan ethika adalah naskah-naskah yang yang digolongkan ke dalam jenis Weda, Mantra dan Puja. Kalpasastra, Tutur, Sasana dan Niti. Weda, Mantra dan Puja sudah diketahui adalah naskah-naskah yang memuat mantra-mantra pemujaan yang diucapkan oleh para pemuka agama dalam suatu upacara, namun aturan-aturan upacaranya, tertuang dalam jenis naskah-naskah Kalpasastra. Naskah Tutur dan juga Tattwa, memuat ajaran-ajaran filsafat dan kerokhanian, sedangkan naskah Sasana, memuat aturan tingkah laku dan naskah Niti memuat aturan dan ajaran kepemerintahan dan kepemimpinan.
  2. Naskah-naskah kesusastraan meliputi : Parwa, Kakawin, Kidung, Geguritan, Parikan dan Satua. Parwa adalah karya prosa, berbahasa Jawa Kuna yang merupakan adaptasi dari epos-epos dalam bahasa Sanskerta (Mahabharata), sedangkan Kakawin adalah karya puisi Jawa Kuna yang berpolakan karya sastra Kawya Sanskerta, yaitu dibangun oleh panjang pendek suara (guru laghu), serta bilangan suku kata tertentu. Jenis naskah Kakawin ini sangat digemari di Bali, pertama-tama karena keindahan bahasanya lalu sampai pada ketinggian isinya. Kidung adalah karya sastra puisi berbahasa Kawi Bali (Jawa Tengahan), mempunyai pola tertentu, berkaitan dengan jumlah suku kata dan bunyi akhir tiap jumlah suku kata tertentu. Geguritan adalah jenis karya sastra yang termasuk paling banyak ditemui. Parikan adalah karya sastra yang berpola pupuh, namun dipakai untuk menyadur karya-karya sastra berbahasa Jawa Kuna yang terpilih. Sedangan Satua adalah karya sastra lisan yang kemudian ditulis, kadang-kadang diolah disesuaikan dengan kaidah bahasa tulisan.
  3. Naskah-naskah Sejarah dan Mythologi, biasanya memakai judul Babad, Pamancangah/Bancangah, Usana, Prasasti dan Uwug atau Regreg. Naskah-naskah yang berjudul Babad amat banyak dijumpai.
  4. Naskah-naskah pengobatan dan penyembuhan, pada umumnya memakai judul Usadha, dengan uraian teoritisnya termuat dalam beberapa naskah Tutur, namun ada juga beberapa naskah pengobatan, tidak memakai kata Usadha, malah yang terpenting diantara memakai judul Budha Kecapi.
  5. Naskah-naskah yang menguraikan tentang pengetahuan kearsitekturan, biasanya memakai judul Asta Kosala, Asta Kosali, Asta Bhumi, Swakarma, Wiswakarma dan yang lain-lainnya. Disamping itu ada juga naskah-naskah yang memuat kode ethik arsitek tradisonal (Dharmaning Undagi) dan uraian yang berhubungan dengan upacara penyucian bangunan.
  6. Naskah-naskah yang digolongkan sebagai Leksikografi dan tata bahasa, adalah naskah-naskah berjudul Adiswara, Ekawalya, Krethabhasa, Suksmabhasa, Dasanama. Ada juga naskah yang berjudul Krakah Sastra dan Krakah Modre.
  7. Naskah-naskah hukum ada juga ditemukan dalam Kepustakaan Bali. Beberapa diantaranya adalah Adigama, Dewagama, Kutaramanawa, Purwadigama. Naskah-naskah hukum yang ditulis, berjudul Krethasima, Paswara, Awig-Awig dan yang lainnya lagi.
  8. Naskah yang memuat tentang astronomi, biasanya memakai judul Wariga dan Sundari. Naskah-naskah ini banyak dijumpai, menguraikan masalah-masalah penentuan iklim, hari baik dan buruk bagi suatu pekerjaan yang dilakukan.

Gambaran umum tentang jenis-jenis serta isi naskah-naskah Bali telah menunjukkan bahwa di Bali tidak saja disimpan banyak naskah, namun isinya juga berneka menyangkut berbagai bidang ilmu pengetahuan, agama dan kesusastraan. Semuanya itu merupakan nafas pulau Bali ini akan memberikan kehidupan baginya, di samping nantinya memberikan warna atau identitas tersendiri baginya.

Apabila kita membaca karya sastra yang begitu digemari di Bali, kitapun segera mengetahui, bahwa karya-karya sastra itu sarat mengandung Nilai-Nilai Keagamaan. Secata tradisional adanya nilai-nilai keagamaan tersebut merupakan syarat penting bagi mutu sebuah karya sastra.

Maka itu Sastra-Sastra Bali adalah sumber nilai keagamaan, yang senantiasa disegarkan dengan penuh kreatif oleh para pengarang dalam berbagai bentuk karya sastranya. Maka di Bali karya sastra dapat hadir, bagaikan semacam “kitab suci”, yang dibaca, dinyanyikan sampai dihayati nilai-nilai yang terkandung. Nilai-nilai yang terkandung itu dijadikan suatu pedoman di dalam bertingkah laku dan dijadikan ukuran dalam memberi penilaian pada aktifitas tertentu.

Untuk itu marilah kita selamatkan naskah-naskah karya sastra, yang merupakan suatu Museum, yang banyak menyimpan nilai-nilai yang nantinya dapat dipakai pedoman hidup. Marilah baca, nyanyikan naskah karya sastra itu dan galilah nilai-nilai yang terkadung di dalamnya, nantinya dapat ditularkan kepada generasi berikutnya, sehingga merupakan pedoman dalam bertingkah laku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s