Pura Petitenget

Penyusunan sejarah Pura dapat dirunut lewat ceritra-ceritra rakyat (folklor) yang keberadaannya lebih dulu dari lontar, babad, prasasti. Namun dalam folklor terjadinya Pulau Bali, bermula dari keinginan Hyang Pasupati, yang berstana di pucak Gunung Sumeru, yang disebut Pucak Prabhu LinggaPucak Stana Dewa“, ingin membuat pulau baru, sehingga pucak Gunung Sumeru dipotong, potongan tersebut dibawa ke arah timur, yang menjadi Gunung Agung atau Gunung Tohlangkir.

Setelah Bali tercipta, maka ada tercatat Raja Bali Kuna yang pertama, dengan catatan prasasti, yakni Sri Kesari Warmadewa, sekitar tahun saka 835 (Sara Wahni Murti) dan berakhir pada Raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, akibat penyerbuan Majapahit.

Sekitar tahun saka 1126, pulau Bali diperintah oleh seorang raja putri bergelar Bhatara Sri Parameswara Hyaning Hyang Adi Dewa Lencana. Pada masa itu keraton di Balingkang memerintah Raja Mayadanawa, yang tak mau tunduk kepada Raja Kerthanagara, yang bergelar Bhatara Siwa Buddha. Karenanya Bali diserang oleh Kerthanagara, di bawah pimpinan Ki Kbo Parud dan Ki Kbo Sasab Bungalan, berhasil mengalahkan Raja Danawaraja, pada tahun 1284.

Selanjutnya, raja Bhatara Sri Parameswara Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana, mengaku tunduk kepada Raja Siwa Buddha, serta menghadiahkan putrinya, dengan harapan dijadikan permaisuri, namun oleh Kerthanagara diangkat menjadi anaknya, dengan gelar Tribhuwana, yang dinikahi oleh Raden Wijaya. Hal ini disebutkan dalam kutipan di bawah ini :

“…….singgih pakulun hyang parameswara, yeki hana sutaninghulun putri sanunggal, yaya inatura ri sira parameswara, maka puspanjali patik rahadyan, tulusa parameswara tarimana sarana puspajalininghulun; ri huwus mangkana aturira dewa adi lencana, garjita twasira bhatara, saha ngandika ri sira putri cili, uduh dewa cili dyah ayu kita, lah maparek kita rike; ngke sira sumendi lawang ingong haywa sumendya. Ika hana sanakta rwang siki, tunggal saking tanjungpura, bhiniseka rajapatni, yeka dewi saking madhura ingaranan jayendra dewi, mwang kita anakku apan kita saking Bangli, kita inaranan dewi bangli, mangke manira maweh ri kita nama bhiseka Tribhuwana, mangkana caritanira dewi bangli haneng singhasari”

Terjemahan :

” ……Daulat Tuanku Hyang Parameswara, ini ada seorang putri hamba, ia hamba persembahkan kepada Tuanku, agar sudi kiranya tuanku menerimanya, bagaikan persembahan bunga. Setelah demikian persembhan dari Dewa Adi Lencana, amat berbahagia hati Bhatara dan berkata : Uduh Dewi Sang Dyah yang jelita, mendekatlah ke mari, sekarang anakku sebagai penjaga pintuku dan janganlah khawatir. Itu ada saudaramu dua orang, seorang berasal dari Tanjungpura, yang bernama Rajapatni, yakni Dewi Madhura yang bernama Dewi Jayendra. Dan kalian merupakan anakku dari Bangli, kalian dinamakan Dewi Bangli, sekarang aku memberikan julukan Tribhuwana. Demikian ceritra beliau Dewi Bangli di Singhasari”.

Kemudian pada saat Majapahit diperintah oleh Raden Kalageme – Jayanegara, kembali Bali diserang, yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada dan terakhir berhasil mengalahkan Patih Ki Pasung Grigis, akibat tipu muslihat Patih Gajah Mada. Sejak ini para Arya dan bahkan beberapa pendeta berdatangan ke Bali. Salah seorang pendeta dari Jawa Timur yang datang ke Bali, adalah Danghyang Nirartha dan lebih dikenal dengan abhiseka Padanda Sakti Wawurawuh. Selanjutnya dikisahkan Danghyang Dwijendra (pendeta yang maha agung), setelah menyucikan Dalem Waturenggong, beliau berjalan dengan tenang menuju arah selatan. Danghyang Nirartha membawa Peti Pacanangan, karena semua hartanya telah dibagikan kepada putra-putranya. Beliau tiba di Desa Mas beserta istrinya, yang kebetulan saat itu Hari Panampahan Kuningan, sehingga Pangeran Mas menghaturkan hidangan dan di tempat itu nantinya dibangun Pura, diberi nama Pura Pangajengan.

Selanjutnya, Danghyang Dwijendra meninggalkan Desa Mas, menuju arah pantai, dekat Pura Masceti, beliau memuja dengan kusuk sehingga Ida Bhatara Masceti mendekati Danghyang Dwijendra, berupa teja makalang dan beliau berdialog dengan Bhatara Masceti, yakni :

“tan wenang danghyang mangubhakti reh sampun siddha sakahyun, sanghyang brahma masarira, sang wiryasa, sujati sampun patut ngungsi acintya bhuwana, punapi mawinan danghyang seneng ring bali” mangkana danghyang mirengang wacana bhatara masceti (Dwijendra Tattwa).

Terjemahan :

“Tidak benar Danghyang menyembah karena telah berhasil segala yang diinginkan, karena telah berbadankan Sanghyang Brahma, amat sakti, sungguh semestinya sudah menyatu dengan Hyang Widhi”, apa sebabnya Danghyang senang tinggal Bali ?” Demikian Danghyang mendengarkan kata-kata Bhatara Masceti.

Kemudian Danghyang Dwijendra menjawab : “Titiang kari ngantos pituduh paswecan Hyang ring titiang” artinya : Hamba masih menunggu petunjuk Hyang pada hamba“.

Bhatara Masceti kembali menjawab : “Kelod kawuh Rudrane malingga” artinya : Di Barat daya Siwa Rudra tempatnya.

Bhatara Masceti mengajak Danghyang Dwijendra bercengkrama di laut, sampailah beliau di Serangan. Penduduk Serangan melihat sinar merah dan kuning diiringi bau harum semerbak dan penduduk Serangan duduk bersila dan menyembah. “Siapakah gerangan paduka ?” Danghyang Dwijendra menjawab, kemudian terjadilah dialog antara penduduk Serangan dengan Danghyang Dwijendra, sebagai berikut :

“bapa tuwi pandita jati. danghyang wawurawuh pasajnaning bapa, ngiring bhatara masceti malancaran ring pasisi, twara matra dini rawuh”. I wong serangan sami miragiang, gelis ipun matur bhakti. “inggih sweca turun ka jagat serangan, durusang inggih ledangang, bhatara iriki malinggih sareng kalih, sungsung titiang sareng jagate iriki”. danghyang dwijendra manyawurin : “ne sekar kancing gelung, ne dini jani linggihang, linggih wangunang candi, dini sungsung antuk jagate makejang, buin gedong juga wangunang linggih bhatara masceti, apan ida iring bapa”. Dwijendra Tattwa).

Terjemahannya :

“Bapa adalah pendeta bernama Danghyang Wawurawuh, mengikuti Bhatara Masceti beranjangsana ke tepi laut, tiada terpikirkan sudah sampai di tempat ini.”. Masyarakat Serangan semua mendengarkannya dan segera menyembah. “Ya Danghyang berkenan turun ke daerah Serangan, hendaknya perkenan Bhatara berdua berstana di sini, kami akan memujanya”. Danghyang Dwijendra menjawab : “Ini bunga kancing gelung, ini tempatkan di sini dan buatkan candi, puja bersama-sama oleh masyarakat di sini. Disamping itu juga buatkan gedong tempat berstananya Bhatara Masceti, karena beliau yang Bapa iring”.

Demikianlah terjadinya Pura Sakenan di Serangan, sebagai stana Danghyang Dwijendra dan Bhatara Masceti.

Kemudian, Danghyang Dwijendra dan Bhatara Masceti melanjutkan perjalanan sambil bercengkrama. Tak terduga beliau sampai di pantai barat, Kerobokan, Danghyang Dwijendra melihat sebuah bukit menjorok ke laut layaknya perahu yang siap untuk mengantarkan penumpangnya menuju “langit dan Siwa Loka” untuk moksah. Bhatara Masceti memaklumi pikiran Danghyang Dwijendra dan beliau berkata:

“danghyang titiang maninggalin, apan jati twara dadi ajak dadua ka luhur,da dwapara dadinya, yan dwapara tan sidheng kapti sane katuju, katon sikiang jiwa elingang”.

Terjemahan :

Danghyang hamba mohon diri karena sungguh tidak boleh berdua ka luhur, jangan dwapara (bimbang), jika dwapara jelas tidak akan berhasil apa yang menjadi tujuan. Ingatlah hendaknya jiwa itu disatukan.

Mendengar pesan Bhatara Masceti demikian, Danghyang Dwijendra sangat berbahagia dan gembira. Beliau bersiap-siap akan ke Uluwatu, lalu “pacanangannya” atau tempat sirihnya di taruh di tempat itu. Kebetulan beliau melihat Ki Bhuto Ijo, bersembunyi di semak-semak. Danghyang Dwijendra berdialog dengan Ki Bhuto Ijo, sebagai berikut :

“bhuto ijo iba mai dini paekang da takut”, I bhuto ijo manyembah, manegak ipun manangkil, wiyakti manguntul. Danghyang raris mawacana :”ih bhuto ijo iba mangebag pacangan manirane dini, yan hana wang apti ngrusak iba ngamusuhin’, I bhto ijo mangiring, manyumbah raris matur :”titiang nunas sasikepan sanjatayang titiang mangemit’. Raris kaicen mantra mandi kawisesan. Danghyang malih ida mawacana :”petin manirane dini jani bhuto ijo manengetang, apan iba suba sakti, jani nira mangwastanin tegale dini madan petitenget, kawuwus wastanya kateka tekeng mangke”.

Terjemahan :

“Bhuto Ijo mari ke sini jangan takut”. Si Bhuto Ijo menyembah, duduk ia menghadap, dengan menunduk. Kemudian Danghyang berkata :”Ih Bhuto Ijo, kamu menjaga pecananganku ini di sini, jika ada orang yang berniat merusak, kau harus mengusirnya”. Si Bhuto Ijo menuruti sembari menyembah dan berkata :”Hamba mohon jimat pakai senjata untuk berjaga”. Kemudian dianugrahi mantra yang berwasiat. Kembali Danghyang berkata: “Petiku di sini, kamulah yang mensakralkan, karena kamu sudah sakti, kini aku menamai tegalan ini bernama Petitenget sampai sekarang.

Berdasarkan keterangan di atas bahwa di areal tempat terjadinya Pura, yang mana Danghyang Dwijendra menaruh pecanangannya dan dikawal oleh Ki Bhuto Ijo. Pecanangan tempat sirih, berupa sebuah peti dan dikeramatkan, yang dalam bahasa Bali disebut “tenget“, keramat, sehingga daerah tersebut diberi nama Petitenget, peti pecanangan yang keramat/kotak sirih yang keramat.

Kemudian setelah menempatkan peti pecanangan tersebut, Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menuju Uluwatu. Kebetulan sesampainya di sana, layarnya patah, sehingga layar bertiang tiga itu, dikutuk agar menjadi Meru Tumpang Tiga dan dipuja oleh orang banyak, sebagai tempat suci arwah Danghyang Dwijendra. Di tempat itu beliau menyatukan jiwa raga dengan Ida Sanghyang Widhi untuk moksah.

Diceritrakan kembali keadaan Ki Bhuto Ijo yang mendapat tugas menjaga pecanangan Danghyang Dwijendra. Ki Bhuto Ijo sangat setia menjaganya, setiap orang yang datang ke tempat itu, kembalinya pasti mengalami sakit, bahkan sampai meninggal. Karenanya Kelihan Kerobokan berusaha membantu warganya. Kebetulan Kelihan, mendengar berita tentang keberadaan Danghyang Dwijendra di Uluwatu.

Kelihan segera berangkat ke Uluwatu, menghadap Danghyang Dwijendra, tiba di sana duduk dan menghaturkan sembah. Berkatalah Danghyang Dwijendra :”Dari manakah anda tumben datang ke sini ?”.

Kelihan Kerobokan lalu berkata :”Hamba kawula dari Kerobokan, menghadap hendak memohon hidup, masyarakat Kerobokan semuanya mengalami kesusahan dan kesakitan. Memang benar ada tegal, namun mendatangkan kesengsaraan, tak tahu penyebabnya“.

Menjawablah Danghyang Dwijendra : “Pecananganku ada di sana dijaga oleh Ki Bhuto Ijo, siapapun ke sana pasti takut dan ngeri. Ki Bhuto Ijo penyebabnya. Sekarang buatlah sebuah gedong, tempat Bhatara Masceti, dahulu bapa bersama beliau, dapat mampir ke Sakenan lalu ke Kerobokan. Tiba di sana pecanangan itu bapa taruh. Ki Bhuto Ijo yang menjaganya. Dialah yang mengkramatkannya, sebabnya disebut Petitenget. Nah itulah sekarang hendaknya dipuja, ingat Ki Bhuto Ijo berikan persembahan. Adapun persembahan itu dagingnya berupa jeroan babi mentah, dilengkapi dengan segehan agung. Kelengkapannya matabuh tuak arak, sajikan pada saat puja wali. Ki Bhuto Ijo diberi caru, karena ia menjaga di sana dan amat sakti. Jika sudah diberi caru, berhentilah Ki Bhuto Ijo berbuat demikian. Senanglah ia memberikan perlindungan keselamatan. Jika tidak dibuatkan pelinggih, ia akan menyakiti, karena ia memang ditugasi demikian oleh ida Bhatara Masceti“.

Senang hati Kelihan Kerobokan lalu menyembah mohon diri untuk segera pulang.


Jika diperhatikan komplek di Pura Petitenget, ada tiga kelompok pelinggih, yakni :

  1. Bagian yang paling utara adalah Pura Petitenget, lengkap dengan pelinggih-pelinggihnya.
  2. Jaba tengah tempat pelinggih Ki Bhuto Ijo, yang bertugas mengawasi pecanangan Danghyang Dwijendra.
  3. Bagian selatan adalah Pura Ulun Tanjung.


Kesimpulan    

Berdasarkan data-data yang terurai di atas, dapatlah kita petik beberapa pokok-pokok pikiran, yaitu :

  1. Pura Petitenget adalah pura yang sudah amat tua keberadaannya, serta pembangunannya tetap berlanjut sesuai dengan perkembangan.
  2. Pura Petitenget adalah tempat pemujaan atau peringatan atas jasa-jasa Danghyang Dwijendra.
  3. Pura Petitenget tergolong Pura Umum, karena disungsung oleh semua lapisan masyarakat.
  4. Pura Petitenget juga merupakan Dang Kahyangan, yang mana ada hubungannya/kaitannya dalam perjalanan suci (dharmayatra) Danghyang Dwijendra.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s