Purasada

Purasada letaknya di desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dalam Pura ini terdapat pelinggih pokok yang berupa Persada atau Candi, yang indah dan menjulang tinggi. Disamping pelinggih-pelinggih pokok ada juga beberapa pelinggih di bagian utara dan timur persada. Sebagian dari ciri-ciri yang terdapat di Purasada ada unsur yang bersamaan dengan Pura Luhur Uluwatu dan Pura Sakenan, yang semuanya merupakan lambang gunung pusat dunia.

Untuk mengungkapkan sejarah Purasada, amatlah sulit karena belum adanya dijumpai berupa prasasti, yang menguraikan keberadaan Pura tersebut. Namun demikian ada beberapa lontar yang menyebut keberadaan Purasada.

Dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ada disebutkan sebagai berikut :

” ……ri sampun kentel kang sagara mangdadi prethiwi, pinaka linggan ira Dewi Basundhari, maka ngaran Sanghyang Dewi Prethiwi, ri kala nganyut galih ira Hyang Dewi Manik Galih, para Hyang Dewa Dewata, mangiring Ida Bhatara Guru, manyantos Kapal. Ri sampun hanane ikang Kapal, jejel penuh madaging muatan, rawuh Ida Sanghyang Samara ratih, mangranjing ring sajeroning adnyanan muatan Kapal, mawetu kasmaran raris asanggama, mangdadi letuh ikang Kapal, hana ngawetana. Hana sabda akasa, sabeh sekar para Dewata, Resi, Bhagawan, Ida sanghyang Pasupati, angreka ring tengahing sagara, kawastu kapal ika mangdadi prethiwi, maka linggan Hyang Manik Galih, maka linggan Hyang Prethiwi, nama waneh Bhatari Sri Murti, kaemban olih Hyang para Dewata kabeh, mwang para Resi, kawula sadaya. Tanah sane kentel, genah kapal ika mangdadi Gelgel Jagat Kapal, ngaran Jagat Kapal.

……..kawastu de Bhatara Pasupati, ingaranan Banoa Bangsul, maka lingganira Sanghyang Dewi Sri Manik Galih, ngaran Dewi Sri Murti. Genah ika kakawasa olih Sri Maharaja Sek Sukaranti, sira anggawe togog, sang kapendem ring genah ika. Apan hana sabdan Bhatara Pasupati, maka linggan Hyang Dewi Manik Galih, ngaran Dewi Sri Murti. Ri samangkana kinarya Candi Maha Agung, ri tengahnya kahasti antuk togog ika kinargana, pinaka atman Dewi Manik Galih kang apapasih Dewi Sri Murti, sira pinaka dewaning kauripaning manusa kang hana ring Bangsul. Ri kana sira kadinarmeng ingaranan Candi Purasada.

……..ring Candi Purasada sira angwangun Pura Kahyangan ira Bhatara Guru, ika kanggen tuweling jagat Bangsul kang pertama. Mwah irika kawangun juga Kahyangan ira Dewi Manik Galih pinareng lawan sira Bhatara Jayengrat, maka swaminira dangu, ika pitweling kauripan ikanang manusa ring Banoa Bangsul” (Gagalihan Lontar Kutara Kandha Dewa Purana Bangsul).

Dalam kitab Raja Purana Bali (anonim), ada disebutkan bahwa setelah adanya Pulau Bali, lalu didirikanlah beberapa Pura, yang tempatnya terpencar di seluruh tanah Banoa Bangsul (Pulau Bali), hingga di gunung-gunung untuk Kahyangan Dewa Dewata dan Resi sekalian, tempat-tempat itu untuk dipergunakan oleh orang-orang Bali, untuk memuja keagungan Tuhan selama-lamanya, seperti :

  1. Pura Candi Purasada, di Desa Kapal (Mengwi – Badung), merupakan Kahyangan Tuhan Bhatara Guru, untuk memperingatkan asal mulanya kejadian tanah Bali ini dan Kahyangan Dewi Manik Galih, bersama Bhatara Jayengrat, yang menerima wahyu tentang tata kehidupan manusia di Bali.
  2. Pura Kentel Bumi, letaknya di Desa Tusan (Banjarangkan – Klungkung), yakni untuk memperingati kejadian adanya Pulau Bali oleh Bhatara Guru. Tempat ini dahulunya adalah tempat beryoganya para Dewa dan Resi, Bhagawan Narada, Bhagawan Cakru, Sanghyang Lumanglang, Bhatara Brahma dan Mahadewa.
  3. Pura Dalem Dasar, letaknya di Gelgel, daerah Klungkung, tempat pemujaan orang-orang Bali, memperingati terbentuknya dasar Pulau Bali, yang disebut dengan Sapta Patala, dewa yang bersemayam di Pura itu adalah Sanghyang Antabhoga.
  4. Pura Gowa Lelawah,, letaknya diantara Klungkung dan Karangasem, untuk pemujaan orang-orang Bali, kepada Tuhan yang bersemayam di dasar bumi, namanya Gowa Batu Hitam, merupakan kahyangan Sanghyang Kala dan Dewi Sutengsu, yang disebut juga Bhadawang Geni dan Naga Gombang.
  5. Pura Sagara Agung, letaknya di pantai utara Buleleng, untuk pemujaan orang-orang Bali kepada Tuhan yang berkahyangan di dasar lautan di bawah bumi, yang disebut langit air, merupakan kediaman Sanghyang Bharuna, Bhagawan Erwa dan Sanghyang Suleman.
  6. Pura Naga Loka, letaknya di pantai utara Buleleng, bagian barat, untuk tempat pemujaan orang-orang Bali, memuja Tuhan, yang dipuja Sanghyang Bhadawang Nala dan Naga Gombang.
  7. Pura Er Jeruk, letaknya di tepi timur bagian daerah Karangasem, untuk pemujaan bumi dan air, bernama Sanghyang Aria Jati.
  8. Pura Purancak, di Jembrana, yakni untuk tempat persembahyangan orang-orang Bali, yang berada di bawah tanah yang disebut Prethiwi Jati (Siti Dharani), bernama Sanghyang Ibu Prethiwi dan Dewi Ketek Meleng.
  9. Disamping itu banyak pula didirikan Pura besar maupun kecil di Bali, yakni untuk pemujaan terhadap Tuhan dan Dewa, dalam rangka memperingati perjalanan Beliau menciptakan dan memberi perlindungan kepada pulau Bali dan orang-orang di Bali. Tempat berkumpulnya para Dewa dan para Resi, dibangunlah suatu Pura yang besar, yakni Pura Samuantiga, di Desa Bedulu (Gianyar).

Dalam lontar Dharmayatra Dang Hyang Dwijendra, ada disebutkan sebagai berikut :

” ……….Titanen sadateng ira mareng Desa Mundeh, ingandeg ta sira ngkana ring Ki Bandesa ring desa ika, arepta anuhun pada nira ri Sang Pandhya, tathapinya tan arsa sira Sang Pandhya, apan sedenging ring hawan ipun mapinunas, nghing apan gengning bhakti ika Ki Bandesa, amarikedeh sumungsunge sira, dadya hana panugrahanira punang lebuh pada tapak pangadeganira duk araryan ing kana, saksat pinaka lingga sinungsunge sira ring dlaha, ri huwus mangkana parama suka Ki Bandesa Mundeh, saksana pinahayu pangadeganira, tur dinadyaken Pura, ikang Pura sinung haran Pura Resi tuwin Geriya Kawitan Resi, ling ning waneh, tan kawisiteng Mundeh, tucapa sang Pandita anyujur mangalor wetan laku nira, ring hawan katemu punang lwah ring samipaning nadi kulwan hana wulakan, wenya atyanta maha pawitra, maha tis, ring pinggirnya, rinengga ring sarwa kusuma manedeng sari, angambwaken gandha sumar amerik angasepi irung, turah-turahnya tuhun mangarasmin, angasoraken langoning sasih kapat, dadya ta kandeg sira salila, sarwi angelaraken yoga samadhi, dinuluran pujastuti mwang japa mantra uttama, kunang unggwaning ayoga teher ingaranan Taman Sari, Pura Wulakan namanira waneh, mwah sahitering Pura ika sinung aran Menghapura yadyapi Mangarajya, tan asowe sira hanerika, karengwa pwa de Ki Bandesa turunan ikeng Patih Ulung, yan sira sang pandita hana ngkaneng Menghapura, sighra-sighra pwa ya amedek ing kana, anuhur sang Pandhya, dadinya sumimpang ring Purasada ring desa Kapal, tur amidartaken yanya amawa ilikhita pasung ira Rakryan Mada nguni, inutus amahayu Parhyangan kang ring Bali, mangke ameneri swakarya puja wali, ring Purasada haneng Kapal, ri samangkana atur Ki Bandesa Kapal, sukha sira sang Pandhya kadi panuhuranira Ki Bandesa, tan titanen ring hawan, saksana dateng ring Kapal………” (Dharmayatra Dang Hyang Dwijendra).

Berdasarkan ke dua sumber lontar di atas, bahwa Purasada itu adanya telah lama sekali. Di tempat itu ada bangunan Candi yang amat indah, sebagai tempat pemujaan Sanghyang Dewi Sri Murti, Hyangning Dewi Manik Gali. Disamping itu ada juga dibangun pemujaan terhadap Bhatara Guru, yang dianggap sebagai penyangga Pulau Bali. Demikian juga pemujaan terhadap Bhatara Jayengrat. Sebagai pemujaan terhadap Dewi Sri Murti, yang dipuja sebagai dewanya kehidupan manusia yang ada di Pulau Bali (sira pinaka dewaning kauripaning manusa kang hana ring Bangsul). Dipertegas oleh bhisama Sri Maharaja Dalem Anom Sek Sukaranti, yang diikuti oleh patih beliau Ki Patih Demang Copong, memerintahkan kepada semua pengiring/pengikutnya agar menyembah di Pura tersebut.

Sedangkan dalam pustaka Dharmayatra Dwijendra, disebutkan dalam perjalanan beliau dari Desa Mundeh (Kaba-Kaba), yang peninggalannya di sana disebut dengan Pura Resi atau Geriya Kawitan Resi, dari Desa Mundeh beliau melanjutkan perjalanan ke arah timur laut, sampailah beliau di sebuah sungai dan di sebelah baratnya ada Bulakan (sumber air), tempat itu sangat indah, sejuk menawan hati, yang dikelilingi dengan bunga beraneka warna, dengan mengeluarkan bau harum semerbak, di tempat ini beliau melakukan yoga samadhi, di tempat ini didirikan pura, yakni Pura Taman Sari atau Pura Wulakan (tepatnya di Banjar Alangkajeng, Mengwi). Perihal ini didengar oleh Ki Bandesa Kapal, yang merupakan keturunan Ki Patih Ulung, lalu Ki Bandesa memohon kepada Danghyang Dwijendra, agar perkenan datang ke Purasada di Desa Kapal. Danghyang Dwijendra, lalu pergi ke Desa Kapal yakni di Purasada, yang saat itu ada upacara piodalan.

Dalam kitab Bali Purbakala, oleh Dr.A.J. Bernet Kempers, terbitan tahun 1956, yang diterbitkan Penerbit dan Balai Buku Indonesia, Jakarta; disebutkan bahwa Purasada (atau Prasada) di Kapal, berkaitan erat dengan Ulu Atu dan Sakenan. Pura ini adalah tempat pemujaan kuno keluarga Raja Mengwi. Bangunan yang penting di dalam lingkungan pagar tembok, adalah sebuah Candi (prasada), tempat pemujaan para leluhur raja Mengwi yang telah diperdewa. Bentuk Candi tersebut bercorak candi-candi Jawa Timur. Bangunan aslinya dianggap berasal dari jaman Majapahit.

Ketika Kapal memisahkan diri dari Mengwi, masyarakat desa Kapal harus merawat sendiri pura itu, yang keadaannya semakin lama semakin rusak. Gempa bumi tahun 1917 itu hampir melenyapkan persadanya. Beberapa tahun yang lalu hanya tinggal bagian-bagian kecil saja. Demikianpun Candi Bentarnya yang dibuat dari bata dan indah sekali, sudah retak-retak dan tinggal runtuh saja.

Pada tahun 1949 Dinas Purbakala, memulai pekerjaannya untuk mengumpulkan bagian-bagian yang masih tinggal dari prasada itu yang telah dibongkar oleh penduduk desa. Tahun-tahun belakangan telah dapat dipugar Candi Bentarnya dengan bantuan penduduk desa setempat. Prasadanya (tingginya 16 meter) dan bangunan yang lainnya dari Pura itu telah dibangun kembali oleh penduduk Desa Kapal. Mereka mendapat petunjuk dari orang-tua desa itu yang mengenal prasada sebelum tahun 1917. Bentuk prasada yang baru sesuai benar dengan candi bentarnya. Tubuh bangunannya pejal, sebuah relung kecil di depan menjadi tempat bersemayam sementara bagi para dewa selama ada perayaan di Pura. Dewa ini adalah Dewa Siwa, yang memancarkan delapan dewa lain, ialah delapan dewa penjaga mata angin. Kedelapan dewa ini arcanya ada dipasang di prasada. Demikian juga arca Wisnu, Brahma, yang bersama dengan Siwa, ada arcanya di sisi timur. Deretan bawah dari arca-arca, menggambarkan Saptaresi atau tujuh resi. Perlu rasanya ditandaskan, bahwa semua patung-patung ini dan juga prasadanya sendiri adalah bikinan beberapa tahun kemudian. Walaupun tidak semua dari bagian-bagian di Purasada itu kuno, namun Pura ini merupakan suatu contoh yang istimewa dari keindahan hasil kerja yang dapat dicapai oleh orang-orang desa. Hal ini tidak akan mudah menemukan di pulau-pulau yang lain di dunia, mengenai hal yang semacam ini. Tetapi hal ini di Bali bukanlah merupakan suatu yang luar biasa.

Candi Bentar di Purasada yang telah diperbaiki dengan lengkap, dengan hiasan yang indah, yakni adanya sebuah kepala kala, yang terdapat baik di depan maupun di belakang; seperti gapuranya sendiri maka kepala kalanya terbelah dua pula. Hiasan kepala kala yang sedemikian rupa, terdapat pula di Pura Taman Ayun di Mengwi, yakni pada Palinggih Paibon yang juga merupakan pemujaan leluhur dan ketiga prasadanya ,dibuat dari batu bata. Seluruh permukaan batur Paibon itu dihias, antara lain dengan kepala kala yang terbelah.

Dalam Babad Mengwi ( lemp. 15-16), ada disebutkan, sebagai berikut :

“…………..Ucapen mangke I Gusti Agung Anom, I Gusti Agung Madhe Agung, panelah ira waneh ri wus ira pratistha jumeneng ing Phalwa Desa, tan sah keris kaprabhon Ki Panglipur kinatik ira, maka pangraksan ikang rat, mwah duhung Ki Bharu Pasawahan, kaliliran ira Pangeran Kaphal nguni, tan doh tang kadga Ki Pancar Utah, kang ginamel de Pangeran Buringkit ring usana, mangke prasama pinupul den ira I Gusti Agung Madhe, tekaning bhajra Ki Brahmara, pasung ira pandita Wanasara sang wus amor ring Acintya, mwah bhajra Ki Kembang Lengong, tekaning Siwopakaranan ira Pangeran Kaphal ring kuna. Ika ta prasama ginamel den ira I Gusti Agung Madhe Agung, prasama rarem subhakti sawadweng Kaphal mwang Buringkit.

Wetning widagdan ira ring sastropapati mwang rajaniti, tan ginggang de nira angrakseng rat, ika marmaning wedi asih ikang bala kabeh, ri deniran tan cala ring wuwus. Kunang kang pinaka ghara, putrin ira Kryan Bebengan, sang anama Ni Gusti Luh Bengkel.

Yan pirang warsa lawas nira akuren, ri wus nira wareg ring wisaya, mangkin sampun pwa sira ri meh lalung dewasa, anghing sira tan anuwuhaken wija. Ika mangde putek ring wredayan ira, ling nireng hati : ” Aparan sih gunangku, wus atuha tan asuta ? Sapa ta wenang kumalilira ring kawulangku kabeh ? Mne ri wus ku mulih eng parama sunya ? Mangke tan hana len locittan ira, kewala mangasraya ring sahananing parhyangan”. Mangkana pwa angen-angenira.

Yan apa kunang kala, ri kalaning we rahayu, ngkana ta sira lumekasa mangasraya ring Parhyangan pareng dhayitan ira, sari-sari sira ngeningaken cipta, aneges karsan ing suksma.

Yan pirang lek lawas nira mangkana, uga durung hana sih ning Hyang, sayan putek ring wredayan ira, mangen-angen ri manda bagyan ira. Yan apa kunang kala, kalaning madhyeng latri, jumujug pwa sira ring sthanan ira Bhatareng Pura Sada, tan sah papareng lawan dhayitan ira, irika ta sira ajapa angeningaken cipta, angregep Sanghyang Weda. Ri wus tasak pwa samadhin ira, tinarima pamintanira de nira Hyanghanandharu, saha antiga cumrorot sakeng akasa, tumiba ring ajengan ira, wruh ta sira I Gusti Agung Madhe Agung, mwah atambeh sih ireng priya, hana sih nira Hyang. Ri meh bang-bang wetan, laju pwa sira pamantuka, pareng swamin ira. Tan titanen dina latri, ameteng pwa swamin ira, atyanta ring sukha cittanira I Gusti Agung Made Agung, hinguluran saka harep ira.

Ri geneping panumaya, wetu tang rare jalu sanunggal, dahating listuhayu paripurna, inguluran saka harep ira. Neher sinungan jajuluk, hinaranan I Gusti Agung Putu, dahat kinasihan dening ramebu “.


Kesimpulan

Berdasarkan data-data yang terurai di atas, dapatlah kita petik beberapa pokok-pokok pikiran, yaitu :

  1. Purasada adalah pura yang sudah amat tua keberadaannya, serta pembangunannya tetap berlanjut sesuai dengan perkembangan.
  2. Purasada adalah tempat pemujaan Hyang Dewi Sri Murti, Bhatara Guru (Siwa) dan Bhatara Jayengrat.
  3. Purasada juga adalah tempat pemujaan leluhur Raja Mengwi, yang telah Siddha Dewata.
  4. Purasada tergolong Pura Kahyangan Jagat, karena disungsung oleh semua lapisan masyarakat.
  5. Purasada juga merupakan Dang Kahyangan, yang mana ada hubungannya/kaitannya dalam perjalan suci (dharmayatra) Danghyang Dwijendra.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s