Pura Luhur Entap Sai

Pura Luhur Entap Sai terletak di Puncak Gunung Bon pada ketinggian 1364 m dari permukaan laut, dari Desa Bon kurang lebih 5 km. Desa Bon terletak di pedalaman dalam wilayah keperbekelan Belok/Sidan Kecamatan Petang, Kabupaten Badung ± 50 km dari Denpasar. Dari ujung utara Desa Tinggan/Plaga dengan melalui jalan setapak ke arah Timur Laut sejauh kira-kira 3 km, setelah menuruni lembah, melintasi 2 sungai dan mendaki daerah perbukitan maka perjalanan sampai ke Desa Bon. Namun perjalanan sekarang lebih singkat, karena telah dibangun Jembatan Tukad Bangkung.

Di utara Desa Bon terletak Pura Penataran Agung Pucak Bon, sebagai pesimpangan Pura Luhur Entap Sai. Dari pura ini dengan berjalan kaki ke arat barat laut melintasi tanah perladangan serta menelusuri hutan belukar, setelah mendaki lereng timur Gunung Bon kira-kira 2 jam perjalanan maka sampailah di Pura Pengubengan. Setelah melewati pura tersebut dan melewati daerah pendakian yang makin menerjal maka akhirnya tibalah di Pura Luhur Entap Sai di Puncak Gunung Bon. Oleh karena pura itu terletak di puncak Gunung Bon maka pura tersebut juga dinamakan Pura Luhur Pucak Bon.

Rupa-rupanya pura yang disebut dengan nama Pucak mempunyai kedudukan yang penting pada masyarakat Bali terutama yang ada di pegunungan, karena kedudukan pura tersebut diemong oleh sejumlah masyarakat desa adat. Hal ini mengingatkan kita pada kedudukan Pura Pucak Penulisan (Pura Tegeh Koripan) dan Pura Besakih (Dr. R. Goris, 1969,87). Adapun Pura Pucak Penulisan diemong oleh sejumlah desa di Pegunungan Kintamani dengan sebutan Gebog Domas (kesatuan masyarakat yang berjumlah 800 keluarga) yang dibagi menjadi kesatuan yang lebih kecil yang disebut dengan Gebog Satak (kesatuan masyarakat yang berjumlah 200 keluarga). Dan Pura Besakih diemong oleh masyarakat yang disebut pragunung Besakih (Drs. I Gusti Ngurah Bagus, 1972, 20-21).

Adanya suatu pura pucak itu bertambah penting peranannya apabila ia terkait dengan dinasti kerajaan tertentu, seperti yang diperlihatkan oleh Pura Pucak Penulisan dalam hubungannya dengan Dinasti Warmadewa dan Pura Besakih dengan Dinasti Gelgel, Klungkung (Dr. R. Goris, 1969, 9393-101). Demikian pula Pucak Bon mempunyai peranan yang penting karena hubungannya dengan Dinasti Kerajaan Mengwi (G.J. Grader, 1960,162).

Di sebelah timur Desa Bon terdapat Pura Pesiraman/Beji yang dinamakan Pesiraman Penataran. Selain Pesiraman Penataran terdapat lagi pesiraman yang terletak pada lereng bagian utara Gunung Bon.


Sejarah Pura

Usaha untuk mengetahui sejarah Pura Luhur Entap Sai rasanya jauh dari jangkauan walaupun di pura tersebut ditemukan beberapa peninggalan arkeologis. Hal ini disebabkan karena sifat dari data arkeologis tersebut belumlah lengkap sebagaimana sifat data arkeologis pada umumnya.

Untuk memperoleh gambaran mengenai riwayat pura ini hanyalah berdasarkan informasi belaka. Dikatakan oleh I Gusti Ngurah Oka, pengemong Pura Pucak Bon bahwa berdasarkan cerita rakyat, Dang Hyang Nirartha pernah melaksanakan Yoga Semadhi pada suatu tempat di ujung yang paling timur dari Gunung Pengelengan. Berkat kepurnasidhian dari semadhi beliau, rakyat yang jauh berada di lereng pegunungan mencium bau yang harum mewangi, meliputi daerah seluruh pegunungan. Dengan adanya bau harum itulah gunung itu lalu dinamakan Gunung Bon dan dari tempat asal mula munculnya bau tersebut didirikan sebuah pura yang dinamakan Pura Pucak Bon.

Lain lagi cerita Gede Dani, Pemangku Pura Pucak Bon, tentang asal usul Pura Luhur Entap Sai. Dikatakan oleh beliau bahwa Bhatara di Gunung Panulisan selalu “simpang” di Pura Pucak Bon apabila mau pergi ke Gunung Pengelengan dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itulah Pura Pucak Bon itu dinamakan Pura Luhur Entap Sai yang berarti Pura Luhur yang diselalu disinggahi para Dewa. Entap artinya singgah dan Sai artinya selalu.


Susunan Pelinggih

Pura Luhur Entap Sai terdiri dari satu halaman yang juga merupakan puncak Gunung Bon. Pura ini tidak dibatasi oleh tembok akan tetapi dikelilingi pepohonan. Di sini terdapat beberapa pelinggih, yaitu :

  1. Padmasana
  2. Mundak Sari
  3. Pahyasan

Padmasana terletak di sudut timur laut, di sebelah selatannya terletak Mundak Sari dan pada bagian barat daya dari halaman pura terletak sebuah Bale Pahyasan.


Peninggalan Arkeologis

Di pura ini ditemukan beberapa peninggalan arkeologis berupa sebuah Lingga Yoni, dua buah Lingga, dua buah batu bulat panjang (Fragmen Lingga), sebuah Arca Nandi dan sebuah batu yang berbentuk kuncup teratai (fragmen puncak bangunan). Lingga Yoni tersebut terletak pada Bale Mundak Sari. Menurut keterangan Pemangku Gede Dani sebelum terjadi gempa bumi tahun 1917, Lingga Yoni itu ditempatkan di sebuah meru tumpang 7. Oleh karena pesimpangan Pura Luhur Entap Sai adalah Pura Penataran Agung Pucak Bon maka di sinipun juga didirikan Meru tumpang 7.

Sebuah lingga bersama dengan dua buah fragmen lingga berada di bagian halaman di antara Padmasana dan Mundak Sari. Lokasinya dikelilingi oleh tanaman “andong” karena masih disucikan. Lingga yang lainnya terletak bersama-sama dengan Arca Nandi dan fragmen puncak bangunan di halaman depan bangunan Mundak Sari.

Selain benda-benda arkeologis tersebut masih ada lagi sebuah Lingga Yoni di Pura Pengubengan yang terletak di Bale Mundak Sari. Dari segi tata upacara piodalan, rupa-rupanya kedua Lingga Yoni tersebut di atas saling berhubungan.


Latar Belakang Kepercayaan Masyarakat Setempat

Masyarakat Desa Bon dan sekitarnya sebagaimana juga kebanyakan masyarakat di Bali, mempunyai kepercayaan bahwa peninggalan purbakala dianggap masih keramat sehingga masih tetap dipandang suci bahkan masih diupacarai dalam bentuk upacara piodalan. Oleh karena itu tidak jarang terjadi suatu peninggalan purbakala di Bali terutama yang masih dipandang suci tidak diberikan orang lain merabanya.

Itulah sebabnya Dr. A. J. Bernet Kempers mengatakan bahwa sebagian besar peninggalan-peninggalan purbakala di Bali bukanlah benda mati sebagaimana digambarkan oleh perkataannya. Kita tidak bisa menyampingkan tradisi setempat, khususnya tradisi dan kepercayaan terhadap peninggalan-peninggalan arkeologis sebab masa sekarang dan masa lampau tidak dapat dipisahkan (Dr. A. J. Bernet Kempers, 1960, 5).

Demikian menurut keterangan Pemangku Gede Dani, penduduk Desa Bon dan sekitarnya percaya bahwa Lingga Yoni dan peninggalan purbakala lainnya di Pura Luhur Entap Sai adalah merupakan warisan nenek moyang yang masih tetap dianggap keramat dan khususnya terhadap Lingga Yoni tersebut dinamakan “Pajenengan“.

Peninggalan purbakala lainnya terletak di tanah disebut “Pertiwi“. Pejenengan tersebut juga disebut “Tapakan Bhatara“. Menurut keterangan Pemangku Jero Wayan Rinten, Tapakan Bhatara ini dianggap sebagai sumber pemberi kesuburan dan keselamatan hidup dan dinamakan “Bhatara Sri Amerta (Bhatara Çri Amrta)“. Pura tempat Bhatara Sri Amerta tersebut dinamakan Pura Luhur Entap Sai.


Upacara dan Upakara Piodalan

Yang menarik perhatian adalah upacara dan upakara piodalan yang dilaksanakan di Pura Luhur Entap Sai. Terlihat jelas betapa eratnya hubungan tradisi tersebut dengan peninggalan-peninggalan purbakala yang terdapat di sana khususnya terhadap Lingga Yoni. Disamping itu hubungan tidak dapat dipisahkan antara Pura Luhur Entap Sai, Pura Pengubengan, Pura Penataran Pucak Bon dan Pesiraman. Upacara piodalan meliputi tata pelaksanaan piodalan dan upakara piodalan adalah “Banten” yang disiapkan pada piodalan tersebut.

Menurut Pemangku Jero Wayan Rinten, upacara piodalan di Pura Luhur Entap Sai diatur dan dilaksanakan dalam 3 jenis piodalan, yakni :

  1. Piodalan Ngebekin
  2. Piodalan Madudus Alit
  3. Piodalan Madudus Agung

Piodalan tersebut dipusatkan pada Pura Penataran Pucak Bon yang dianggap sebagai pesimpangan dari Pura Luhur Entap Sai. Pada prinsipnya 3 jenis piodalan tersebut proses upacaranya adalah serupa, khususnya terhadap Lingga Yoni itu.


Piodalan Ngebekin

Dalam jenis piodalan pertama (nista) yang dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Kawolu yang disebut “Pengebekin” terdapat 2 upacara pokok yaitu upacara mohon tirtha dan upacara pemujaan yang diselesaikan oleh Pemangku. Salah satu tujuan upacara tersebut mengharapkan agar tanaman padi di sawah mereka menjadi subur dan buahnya penuh berisi.

Upacara pertama adalah mohon tirtha di Pesiraman Penataran. Tirtha yang diperoleh ditempatkan dalam “sujang” yang diiringi dengan upacara kemegahan dibawa naik ke puncak. Sampai di Pura Pengubengan, Banten “Sok Tamukuran” yang telah disiapkan sebelumnya dihaturkan kepada Bhatara Pajenengan (Lingga Yoni). Setelah itu pemangku pura mengambil Lingga dari Yoninya, kemudian ditempatkan di atas “bokor” perak yang harus dijunjung oleh seorang laki yang belum pernah kawin. Lingga tersebut kemudian di “wasuh pada” (disiram) dengan sebagian tirtha yang dimohon dari Pesiraman Penataran tersebut. Setelah itu Lingga ditaruh lagi pada Yoninya. Tirta wasuh pada dengan sebagian tirtha yang tinggal, terus dibawa ke puncak. Sampai di puncak hal yang sama yaitu upacara wasuh pada. Banten sok Tamukuran yang telah siap dihaturkan kepada Bhatari Sri Amerta. Oleh pemangku, Lingga diambil dari Yoninya dan ditaruh di atas bokor. Lingga ini diwasuh pada dengan sebagian tirtha tadi, sehingga tirtha wasuh pada menjadi satu. Tirtha wasuh pada dimasukkan lagi ke dalam sebuah “batil” perak.

Sementara upacara tersebut berlangsung, acara lain adalah juga mohon tirtha di Pesiraman Luhur. Tirtha yang didapat dari Pesiraman Luhur ini tidak melalui proses wasuh pada tetapi dengan cara “matur piuning” (memberi tahu) kehadapan Bhatara Sri Amerta. Kedua jenis tirtha tersebut kemudian dibawa turun dan ditempatkan di “Bale Pelik” Pura Penataran Pucak Bon.

Upacara selanjutnya adalah upacara pemujaan. Sementara upacara berlangsung para pemuja berdatangan, bukan saja dari Desa Bon tetapi juga dari masyarakat wilayah Desa Belok/Sidan. Mereka datang menghaturkan sembah kehadapan Bhatara Sri Amerta yang pada waktu piodalan tersebut dianggap sudah bersthana di Meru Tumpang 7 di Pura Penataran itu. Setelah menghaturkan sembah, tirtha wasuh pada tadi dipercikan dan diminum oleh para pemuja. Mereka telah puas dan bahagia karena langsung mendapatkan berkah kesejahteraan sebagai sari kehidupan dari Bhatara Sri Amerta. Tirtha yang berasal dari Pesiraman Luhur dimohon untuk dibawa pulang untuk dipercikkan pada sawah ladang mereka. Mereka selalu berharap agar tetap dapat anugerah dari Bhatara Sri Amerta yang dianggap sebagai Dewa yang dapat memberi kesuburan pada sawah dan ladang mereka.

Oleh karena upacara wasuh pada bertujuan untuk memohon kesuburan maka kami menduga tirtha wasuh pada itulah yang dipercikkan pada sawah ladang mereka yang lama kelamaan tanpa disadari mengalami perubahan sebagaimana tradisi yang diwarisi sampai saat ini. Hal ini dapat dibandingkan dengan upacara wasuh pada di Pura Gunung Manukaya Tampak Siring yang dilaksanakan sampai saat ini tanpa mengalami suatu perubahan karena tirtha wasuh pada itulah yang dipakai untuk memercikkan sawah ladang mereka.

Perlu diketahui mengenai banten Lingga Yoni yang disebut Sok Tamukuran. Menurut keterangan Pemangku Jero Wayan Rinten, banten ini terdiri dari seponjok nasi dan jajan (dibuat dari ketan). Seponjok nasi tersebut ditaruh di atas bagian dalam 2 buah ujung daun pisang yang diletakkan menengadah. Sedangkan jajannya ditaruh di bawah 2 buah ujung daun pisang yang kemudian diletakkan tertelungkup. Menarik lagi jajan tersebut tidak boleh memakai gula yang berwarna merah. Menurut keterangan Pemangku Jero Wayan Rinten, Banten Sok Tamukuran adalah simbul dari unsur laki (Purusa) dan perempuan (Pradana). Nasi di atas daun pisang yang diletakkan secara menengadah dianggap sebagai simbul Pradana sedangkan jajan yang diletakkan tertelungkup dipandang sebagai simbul Purusa. Banten semacam itulah yang dihaturkan kehadapan Bhatara Sri Amerta yang berwujud Lingga Yoni.

Apabila keterangan pemangku itu benar bahwa upakara Sok Tamukuran sebagai simbul pertemuan laki perempuan maka kami menduga nama Sok Tamukuran berasal dari Sok Temu Kuren, karena Temu Kuren berarti pertemuan laki dan perempuan. Rasanya itulah pula sebabnya Lingga sebagai simbul Purusa pada waktu upacara wasuh pada harus dijunjung oleh seorang laki sedemikian juga jajan banten Sok Tamukuran sebagai simbul laki harus menggunakan gula putih.

Dalam mithologi Hindu, Lingga dianggap sebagai simbul Dewa Çiwa dan Yoni dianggap simbul saktinya (Claire Holt, 1967, 24). Berdasarkan latar belakang kepercayaan tersebut di atas maka dapatlah diketahui bahwa Lingga Yoni yang dinamakan Bhatara Sri Amerta dianggap Dewa yang berfungsi sebagai penguasa keselamatan kehidupan yang menganugerahkan keselamatan dan kesuburan. Dengan demikian dapatlah diduga bahwa Lingga Yoni yang dianggap Dewa dan dinamakan Bhatara Sri Amerta seperti tersebut di atas adalah simbul dari Dewa Çiwa dengan saktinya Dewa Uma (Parwati). Dewa Çiwa dengan saktinya tersebutlah yang dipuja sebagai Bhatara Sri Amerta yang dianggap sebagai Dewa penguasa keselamatan kehidupan dan Dewi Kesuburan. Dengan demikian kami menduga bahwa nama Pura Pucak Bon yang juga dinamakan Pura Luhur Entap Sai berhubungan dengan fungsi pura tersebut, yaitu sebagi pura fungsionil untuk memohon kesuburan sebagai sari dari kehidupan. Apabila dugaan kami itu benar, maka pada mulanya Pura Pucak Bon namanya bukanlah Pura Entap Sai melainkan Pura Untap Sari (Untap = mohon, Sari = sari kehidupan). Nama Untap Sari lama kelamaan susut menjadi Entap Sai sebagai nama yang diwarisi sampai saat ini.

Upacara piodalan Ngebekin disamping menggunakan menggunakan banten Sok Tamukuran juga menggunakan :

  1. Banten palupuhan dengan daging itik dihaturkan kehadapan Bhatara Sri Amerta
  2. Banten palupuhan dengan daging babi hitam dihaturkan kehadapan Bhatara Kabeh di Pura Pucak Bon
  3. Sanganan kukus dengan “unti putih” (gula merah tidak boleh dipakai) disertai “ajengan” dengan daging ayam.


Piodalan Madudus Alit

Piodalan Madudus Alit yang dilaksanakan setiap 5 tahun pada Purnama Kedasa adalah termasuk Piodalan Madya. Di sini upacara mohon tirtha tidak dengan “wasuh pada” tetapi dengan matur piuning kehadapan Bhatara Sri Amerta. Upacara dalam tingkat madya ini diselesaikan oleh seorang Pedanda Çiwa. Upakara meliputi :

  1. Banten suci dan catur rebah dihaturkan pada Bhatara yang bersthana pada masing-masing pelinggih.
  2. Banten suci dan catur niri dihaturkan pada Bhatara yang bersthana pada Sanggar Surya.


Piodalan Madudus Agung

Piodalan Madudus Agung yang tergolong upacara tingkat utama dilaksanakan setiap 10 tahun sekali juga pada Purnama Kedasa. Upacara ini disertai pula dengan Upacara Ngusaba Nini. Pelaksanaan upacara nunas tirtha sama dengan upacara tingkat madya, sedangkan upakara piodalannya dilengkapi dengan :

  1. Banten paselang yang upacaranya diselesaikan oleh Ida Pedanda Budha
  2. Upacara Madudus Agung diselesaikan oleh Ida Pedanda Çiwa.

Melihat jenis upacara dan upakara yang dilaksanakan pada piodalan Ngebekin, Madudus Alit dan Madudus Agung, maka dapatlah dikatakan bahwa Upacara Ngebekin yang disertai dengan wasuh pada adalah upacara yang amat tua usianya. Dengan demikian maka banten Sok Tamukuran dan banten Palupuhan yang khususnya dihaturkan kehadapan Lingga Yoni yang dianggap sebagai Bhatara Sri Amerta mungkin pula merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak dahulu setidak-tidaknya lebih dahulu dari upacara dan upakara yang dilaksanakan pada upacara Piodalan Madudus Alit maupun Madudus Agung.


Krama Pemaksan

Selain masyarakat Desa Bon, pada saat ini Pura Luhur Entap Sai diemong oleh sejumlah masyarakat desa yang termasuk wilayah Perbekelan Belok/Sidan meliputi : Penikit, Sidan, Selantang, Belok, Lowak, Sekar Mukti dan Jempanang. Di luar daerah tersebut masih ada lagi beberapa masyarakat yang menjadi penyiwi pura tersebut antara lain Desa Tambakan (Singaraja) dan Desa Catur (Kintamani).


Kesimpulan

  1. Sesuai dengan kenyataan fungsi pura tersebut sebagai Pura Pucak adalah pura fungsionil dalam hubungannya dengan pertanian dan kesuburan
  2. Peninggalan-peninggalan arkeologis yang terdapat di Pura Luhur Entap Sai tergolong kuno dan bersifat Çiwaistis
  3. Dalam jaman Kerajaan Mengwi, pura tersebut diayomi oleh Kerajaan Mengwi
  4. Tradisi dan kepercayaan terhadap Lingga Yoni di Pura Luhur Entap Sai merupakan tradisi yang sudah tua usianya yang masih hidup sampai saat ini di Bali.
Advertisements

6 thoughts on “Pura Luhur Entap Sai

  1. Sapunapi ritatkala titiang nangkil. Sampun wenten jro mangku sane sayage nyangra ring pura ? Sukma. Dumogi wenten restu pacang nangkil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s