Topeng Sidhakarya – Nilai Tattwa

sidhakarya5

BAGIAN 4

Pada dasarnya ajaran agama (Hindu) memberikan pengetahuan tentang tujuan dan bagaimana cara hidup. Weda yang sebagai sumber ajaran Agama Hindu, demikian juga Dharmasastra, Wiracarita, Purana, Kitab-Kitab Agama, hendaknya dijadikan suatu pegangan, bagaikan obor untuk menerangi jalan dalam kegelapan, agar kita tahu mana yang patut dan tidak patut untuk dilaksanakan. Orang yang berpegang teguh pada agama, akan lebih bisa menempuh jalan yang benar dan bisa lebih cepat berjalan, menuju tempat tujuan yaitu kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat, dari pada orang yang tidak beragama. Agama juga memberikan keberanian serta ketahanan dalam menghadapi hidup, karena sinar harapan selalu diberikan oleh pelita agama itu. Tetapi manusia tidak cukup hanya mengetahui agama melainkan harus menghayati dan mengamalkan agama tersebut.

Penghayatan terhadap agama memberikan faedah yang luar biasa, karena agama mengandung ajaran-ajaran moral yang tinggi, maka orang yang menghayati agama akan memiliki daya dorong untuk berbuat baik, yang jauh lebih meyakinkan dari pada orang yang tidak beragama. Disamping itu penghayatan terhadap agama memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Manusia memerlukan kepuasan di luar kebutuhan pisik, dia memerlukan seni, keindahan, ingin dipuji, ketenangan bathin yang jauh lebih kompleks.

Sejarah telah membuktikan dari sejak manusia itu ada, sudah mengenal berbagai macam kepercayaan, apakah berupa pemujaan terhadap nenek moyang, pemujaan kekuatan alam dan lain-lainnya, tetapi semua mereka itu menginginkan adanya suatu bentuk pemujaan kepada sesuatu yang gaib (Koentjaraningrat, 1972 : 231).

Dalam ajaran agama Hindu untuk mencapai tujuan hidup itu ada empat jalan, yang disebut dengan Catur Marga, yaitu : Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga. Bhakti Marga, mengutamakan penyerahan diri dan pencurahan rasa; Karma Marga, mengutamakan kerja tanpa pamerih, yang mana pengabdian sebagai motivator dari geraknya; Jnana Marga, mengutamakan akal yang membangkitkan kesadaran; Raja Marga, mengutamakan pengendalian diri dan konsentrasi.

Manusia yang akalnya hebat tetapi tanpa rasa, juga tidak baik, dapat menyebabkan sombong, sebaliknya orang yang rasa (emosinya) tinggi, tanpa diimbangi oleh akal yang sehat akan menjadi “kadewan-dewan“, bhakti dan jnana perlu hebat, tetapi agar seimbang. Akal yang hebat, rasa yang kuat akan sangat berguna kalau dapat diarahkan ke suatu tujuan yang baik, untuk itu diperlukan konsentrasi, supaya jangan menyimpang dari arah. Kalau akal dan rasa sudah seimbang, arah sudah terpusat, maka orang akan bisa mencapai apa yang menjadi sasarannya.

Dengan demikian ke empat jalan itu diharapkan dapat dilaksanakan bersama-sama, dengan keseimbangan, untuk menjacapai tujuan dalam kehidupan ini.

Bhakti Marga, adalah penyerahan diri yang tulus ikhlas. Gejala-gejala Bhakti Marga dalam kehidupan sehari-hari, adalah :

Kerinduan untuk bertemu. Di dalam agama Hindu keinginan bertemu itu dapat diwujudkan dengan sembahyang. Demikian orang yang sudah tergetar dengan rasa untuk ingin bertemu, dengan melaksanakan persembahyangan dengan taat dan setiap saat sembahyang tiba, dia merasakan kerinduan yang amat mendesak.

Keinginan untuk berkorban. Rasa bhakti menimbulkan suatu keikhlasan untuk berkorban. Hal ini dapat kita lihat bagi umat Hindu di Bali pada umumnya, jika sudah untuk kepentingan upacara,mereka rela mengorbankan tenaga dan materi, hal inilah yang disebut dengan yadnya.

Keinginan untuk menggambarkan. Bagi umat Hindu di Bali, dengan Arca, Pratima (Topeng) dan banten-banten, perwujudan seperti Dewa-Dewi, Catur, Bebangkit, adalah merupakan gambaran dari Tuhan, begitulah seolah-olah rupanya Tuhan. Apa gambar itu benar ? Tetapi itu adalah simbol. “Simbol berarti saya bersatu bersama-Nya, atau penyatuan bersama”.

Melenyapkan rasa takut. Orang yang bhakti kepada Tuhan, hutan yang lebat dengan ular berbisa dengan binatang buasnya, tidak akan menghalangi keinginannya untuk berbhakti. Di tengah malam yang gelap, seorang bhakta dia berani sendiri untuk “ndewasraya” di tempat-tempat suci.

Melahirkan rasa seni. Keinginan untuk menggambar Tuhan, dapat kita lihat di Bali, Pura-Pura yang dibangun selalu diukir dengan indah. Perlengkapan upakara seperti jajan, penuh beraneka macam dan warna, sebagai lambang bhakta. Penjor, lamak dan lain sebagainya adalah mengandung simbol dan penuh dengan kreasi seni. Seni pahat, seni ukir dapat diselamatkan di Bali, karena agama Hindu yang dipeluk di Bali adalah Bhakti Marga. Seni taripun bisa bertahan dan hidup berkembang di Bali karena agama Hindu. Demikianlah hubungan seni dengan Bhakti Marga adalah sangat erat, saling mengisi dan saling menguatkan, serta saling memperkaya, karena dasarnya yaitu rasa.

Melahirkan rasa terharu dan melankolik. Orang yang bhakti sering kita jumpai saat sembahyang, keluar air matanya, air mata yang aneh, bukan karena sedih dan bukan pula karena gembira, melainkan air mata karena terharu. Rasa terharu juga ditimbulkan dari bunyi-bunyian, seperti gambelan dan kekidungan. Menurut Aji Ghurnita, gambelan yang melagukan Semarpagulingan, suaranya mengharukan dan melankolik, sedih tetapi manis. Demikian pula kekidungan yang dilagukan di Pura-Pura nadanya melankolik, seperti orang sedih dan rindu.

Munculnya Mythologi. Disamping simbol-simbol berupa pratima, arca, topeng, banten, bhakti marga sangat suka menggunakan mythologi, sebagai tuntunan untuk memantapkan rasa bhakti. Mythologi itu umumnya berupa ceritra-ceritra yang berisi kias, yang bisa diartikan secara filosofis bagi orang-orang intelek dan bisa merupakan ceritra-ceritra yang menarik, bagi anak-anak, tetapi tidak lepas dari ajaran yang bersifat tuntunan hidup yang terkandung di dalamnya. Mythologi keagamaan yang ada hubungannya dengan kesenian, kita mengenal mythologi Barongswari, mengenai terjadinya tari Telek, Topeng Bang, Barong, yang dihubungan dengan Dewa Tri Murti. Jadi mythologi disamping mempunyai arti keagamaan karena dihubungkan dengan Dewa-Dewa yang menyelamatkan manusia, juga mempunyai fungsi sebagai pelestarian seni, hiburan, yang dihubungkan dengan permohonan keselamatan. Lontar Siwagama, Tantu Panggelaran, Sri Purana Tattwa, Glagahpuhun, Babad-Babad dan Purana-Purana, penuh dengan berbagai macam mythologi. Di dalam mythologi Dewa-Dewa dipersonifikasikan digambarkan sebagai manusia penolong, penuh dengan cinta kasih, pemaaf dan ceritra-ceritra semacam ini membikin masyarakat awam, lebih mantap bhaktinya. Di lain pihak bagi orang yang suka berfilsafat, juga tidak akan rugi dengan mythologi-mythologi ini karena bisa dikupas dan diartikan secara ilmiah atau filosofis.

Oleh karena itu jika dikaitkan dengan pementasan Topeng Sidhakarya, yang bertolak dari Babad Sidhakarya dan nilai-nilai keagamaan yang hidup dan berkembang di Bali, maka nilai tattwa ( Katattwaning Sidhakarya ), yang dapat kita petik, adalah sebagai berikut :

Agama Hindu dalam menanamkan ajarannya seperti yang tersebut di atas, sering kali mempergunakan simbol-simbol. Jika diperhatikan simbol itu berarti “saya bersatu bersama-Nya atau penyatuan bersama“.

Dalam ajaran Hindu di Bali, simbol, mengandung makna suci, karena berhubungan erat dengan kesucian (mahasuci), seperti :

  • Barong Ket, lambang Dewa Iswara.
  • Rangda, lambang Dewi Durga.
  • Topeng Bang, lambang Dewa Brahma.
  • Telek, lambang Dewa Wisnu.
  • Topeng Sidhakarya, lambang Brahmana Keling/ Yogiswara/Pendeta Agung.

Membicarakan Katattwaning Topeng Sidhakarya, dapat diambil beberapa pokok pikiran, yaitu :

Jika melihat dari bentuk/wujud Topeng Sidhakarya, warna putih, matanya sipit berlobang (mata bolong) dengan posisi setengah melingkar (segi tiga tumpul), memakai cudamanik/urna, giginya tonggos (gigi atas menonjol keluar), wajah setengah manusia setengah demanik (raksasa), rambut panjang sebahu, memakai kerudung marajah, penari membawa bokoran yang berisi canangsari, dupa, beras kuning, sekar ura dengan uang kepengnya.

  • Warna putih, melambangkan kesucian, kesuburan dan kesejukan.
  • Mata sipit berlobang (setengah lingkaran/segi tiga tumpul), adalah lambang konsentrasi (meditasi). Setengah lingkaran adalah Ardhacandra, segi tiga adalah lambang Nada.
  • Cudamanik/urna, adalah lambang kawicaksanaan atau kebijaksanaan.
  • Gigi tonggos, adalah lambang kebengisan, keperkasaan (aeng).
  • Wajah setengah manusia dan setengah demanik, lambang angker dan juga menakutkan.
  • Rambut panjang sebahu, lambang agombak (lambang pendeta Budha).
  • Ada kudung dan rerajahannya, lambang Wijaksara, Modre, Lokanatha, Panten yakni aksara-aksara suci.
  • Membawa bokor, berisi canang sari, dupa, sekar ura dengan uang kepengnya, adalah lambang persembahan.

Jika memperhatikan uraian tersebut di atas, rupa-rupanya bentuk seperti ini melambangkan Buddha Tantrayana, yang berkembang di Bali dari aliran Bhairawa Bhima Sakti, yang lebih menonjol pemujaan Sakti (Dewi). Aliran ini berkembang di Bali diperkirakan pada abad ke-13 (1284), yakni penyerangan Kertanegara (Raja Singhasari) ke Bali. Sedangkan Topeng Sidhakarya, diidentikan dengan Pendeta Budha.

Jika diperhatikan uang kepeng yang dipergunakan itu sering kali berjumlah mengikuti konsep Samkhya. Namun konsep Samkhya tidak murni diterapkan di Bali, namun bersatu dengan konsep Yoga, dengan 25 tattwasnya, seperti : 3, 9, 11, 17, 21, 33, 108, 225. Di Bali timbullah konsepsi : 2 + 1, 3 + 1, 5 + 1, 9 + 1, 11 + 1.

Jika memperhatikan Babad Bebali Sidhakarya, yakni pergolakan antara Dalem Waturenggong dengan Brahmana Keling (Konsep Rwabhineda), yang berakhir dengan penyatuan (syncretisme). Hal itu melambangkan bahwa pada awalnya paham Siwa dan Buddha, di tanah kelahirannya (India) bertentangan, namun di Indonesia khususnya di Bali dapat bersatu, sesuai dengan yang disebutkan dalam Kekawin Sutasoma (Rwaneka dhatu winuwus wara buddha wiswa, bhinneka rakwa ri kapan kena parwa nosen). Sampai dewasa ini dapat kita warisi dalam upacara-upacara besar, sering Pendeta Siwa dan Buddha, bersama-sama muput yadnya.

Dalam perkembangan selanjutnya setelah Dalem Waturenggong “didiksa” menjadi Rajarsi (Raja yang menjadi Rsi), beliau mengalihkan perhatiannya kepada paham Wisnu (Wisnupaksa), karena Wisnu adalah Dewa Pemelihara/Pangayom, yang sesuai dengan fungsi raja. Danghyang Dwijendra yang pada mulanya beliau adalah Buddhapaksa, tetapi setelah mengambil istri di Daha, beliau mengalih menjadi penganut Siwapaksa, sampai beliau berada di Bali. Brahmana Keling adalah lambang Budhapaksa. Maka itu berkembang paham “Tri Wisesa“, yaitu : Siwapaksa, Budhapaksa dan Wisnupaksa (Kertha Bhujangga, lp.12a). Dalam perkembangan selanjutnya di Bali pemimpin upacara adalah Tri Sadhaka, pendeta Siwa, Buddha dan Rsi Bhujangga, dengan atribiut Eka Sara Wisara (Siwa), Dwi Sara Wisara (Buddha) dan Panca Sara Wisara (Wisnawa).

Jika memperhatikan Kudung dengan Rerajahannya, mengandung nilai Tri Kona, yakni Utpeti, Sthiti dan Pralina. Hal itu dilambangkan dengan Tri Aksara, yakni : MANG UNG ANG = Utpeti; ANG UNG MANG = Sthiti; UNG MANG ANG = pralina.

Topeng Sidhakarya dalam upacara Nyenuk, berfungsi sebagai pengantar dana persembahan para dewa, Panca Dewata (Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa), kepada dewa yang mendapatkan persembahan.

Maka Topeng Sidhakarya mengandung nilai keyakinan, bahwa dengan pementasan Topeng Sidhakarya, yakin yadnya yang dilakukan telah berhasil. Keyakinan perlu diimbangi dengan pemahaman dan pelaksanaannya.

bersambung…BAGIAN 6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s