Topeng Sidhakarya – Fungsi dan Makna Dalam Upacara

BAGIAN 3

Bagi penganut agama Hindu, menurut ajaran sastra Agama, wajib melaksanakan Panca Yadnya, yakni : Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Melaksanakan Panca Yadnya itu dilatarbelakangi oleh unsur keyakinan adanya tiga hutang yang disebut Tri Rna (Rena), yaitu : Dewa Rna, Resi Rna dan Pitra Rna.

Dewa Yadnya, disebutkan :

“Salwiring umarpana karya ring dewa miwah sajining bhatara, makadi ring Kawitan, sang sampun munggah ring Panataran, lwiripun Mapadagingan, Mangenteg, Manyapuh, Mlaspasin, Ngodalin, Patirthayan, Aci Pujawali, Tedun sekar mahayu-hayu, Usabha, Pamagpag Toya mwah pangastiti tatkalaning wulan hayu” (Lontar Bayi Loka Tattwa : 2a)

(Segala persembahan yang ditujukan kepada Dewa, persembahan kepada Bhatara, seperti Bhatara Kawitan, yang sudah berstana di Panataran (tempat suci), seperti : Mapadagingan (Mapasimpen Pancadhatu), Mangenteg, Manyapuh, Mlaspasin, Ngodalin, Patirthayan, Aci Pujawali, Tedun sekar mahayu-hayu, Usabha, Pamagpag Toya, demikian juga persembahan pada hari Purnama dan Tilem).

Pada upacara dalam tingkatan Madhya lebih-lebih yang Utama, dipentaskan Topeng Sidhakarya, sebagai tari sakral (Wali dan Bebali), dengan maksud sebagai suatu simbolis pengusir bhutakala agar tidak mengganggu pelaksanaan yadnya atau nyomya bhutakala, agar dapat membantu pelaksanaan yadnya (dari bhuta kasupat menjadi dewa). Menurut keyakinan umat Hindu di Bali, kekuatan bhutakala juga bermanfaat bagi kehidupan manusia, bukan untuk dimusuhi.

Pementasan Topeng Sidhakarya dalam hubungannya dengan pelaksanaan Dewa Yadnya, sebagai simbol sidanya karya (puput lan mapikolih).

Demikian juga dapat diperhatikan pementasan Topeng Sidhakarya adalah pada tiga hari setelah upacara puncak, yakni pada Upacara Nyenuk. Pada upacara ini Topeng Sidhakarya dipentaskan adalah untuk menerima tamu para Dewata yang membawa perlengkapan upacara, untuk suksesnya pelaksanaan yadnya. Hal ini disebutkan dalam Kakundangan Sidhakarya, sebagai berikut :

Kascaryan nghulun, manawa hana wang prapta, adulur-dulur mabhusana sarwa endah, nghulun atanya mangke. Ih, saking ndi pakanira wawu dateng, sang abhusana petak ?

Manira saking Keling, ring purwa desa unggwan nghulun, utusan ira Hyang Bhatara Iswara.

Paran de ra dateng ?

Nghulun mamawa phala bungkah, phala gantung, iwak suku ro, iwak ginuling, katur ring sang aduwe karya, ksamakena, moghi-moghi amangguh siddhaning karya.

Lumaris kita rumanjing !

Ih, saking ndi pakanira wawu dateng, sang abhusana abang ?

Manira saking Keling, ring daksina desa unggwan nghulun, utusanira Hyang-hyanging Bhatara Brahma.

Paran de ra dateng ?

Nghulun amawa phala bungkah, phala gantung, iwak suku pat ingolah, katur ring sang adruwe karya, ksamakena, moghi-moghi dirghayusa wet urip.

Lumaris kita rumanjing !

Ih, saking ndi pakanira wawu dateng, sang abhusana jenar ?

Manira saking Keling, ring pascima desa unggwan nghulun, utusanira Hyang-Hyanging Bhatara Mahadewa.

Paran de ra dateng ?

Nghulun amawa phala bungkah, phala gantung, iwak laku dening dada, helar, puput ingolah, ksamakena, moghi-moghi amangguh labdha karya, murah sandang pangan.

Lumaris kita rumanjing !

Ih, saking ndi pakanira wawu dateng, sang abhusana ireng ?

Manira saking Keling, ring lor desa unggwan nghulun, utusanira Hyang-Hyanging Bhatara Wisnu.

Paran de ra dateng ?

Nghulun amawa phala bungkah, phala gantung, iwak mina ingolah, mantiga ginuling, katur ring sang adruwe karya, ksamakena, moghi-moghi sang amangun karya hayu, hilang papanya, mangguh dirghayusa.

Lumaris kita umanjing !

Ih, saking ndi pakanira wawu dateng, sang abhusana poleng ?

Manira saking Keling, ring madhya desa unggwan nghulun, utusan ira Hyang-Hyanging Bhatara Siwa Guru, pinayungan Sanghyang Akasa, kasangga dening Sanghyang Ibu Prethiwi.

Paran de ra dateng ?

Nghulun mamawa sarwa phala bungkah, phala gantung, sarwa olahan, mantiga, katur ring sang adruwe karya, Hyang-Hyanging Ida Bagus Sidhakarya, manawa hana kurang, luputa manira kabeh, ksamakena, moghi-moghi labdha karya.

OM hayu wreddhi, yaso wreddhi, wreddhi pradnya sukhasriyam, dharma santana wreddhisca, samtute sapta wreddhayah. OM purnam bhawantu. OM sukham bhawantu. OM sriyam bhawantu. OM astu tatastu astu swaha (Kakundangan Sidhakarya).

Berdasarkan kutipan di atas, bahwa peranan Topeng Sidhakarya, adalah untuk mensukseskan jalannya upacara yadnya.

Bhuta Yadnya dalam kitab Panca Yadnya, diartikan suatu korban suci yang bertujuan untuk membersihkan alam dari kekotoran, melakukan penyupatan kepada bhutakala, yang sejenis makhluk hidup, yang tingkatannya lebih rendah dari manusia dan memelihara untuk dapat menjadi berguna bagi kelangsungan kehidupan di bumi ini (Mas Putra, 1995: 109).

Dalam pustaka Carcaning Caru, Bhuta Yadnya itu adalah :

“tawur mwang kapujaning tuwuh, hana pawungwan kunda wulan, makadi walikrama, eka dasa dewa mandala, salwiring caru nistha madhya uttama”.

(Tawur dan upacara terhadap tumbuh-tumbuhan, kunda wulan, seperti walikrama, ekadasa dewa mandala dan segala jenis caru, nista madhya uttama).

Pada umumnya pementasan Topeng Sidhakarya dapat dilakukan pada Caru dalam tingkatan madhya dan utama, yakni : dari tingkatan Wrehaspatikalpa, yakni caru yang telah menggunakan lima ekor ayam (panca sata), ditambah dengan itik bulu sikep dan asu bang bungkem. Demikian juga caru-caru yang dalam tingkatan yang lebih tinggi (utama), seperti : Panca Kelud, Baliksumpah dan Tawur, yang tujuannya adalah sangat berkaitan antara tujuan pementasan Topeng Sidhakarya, yaitu menjaga keseimbangan alam, melakukan penyupatan terhadap bhutakala, sehingga berguna dalam kehidupan.

Rsi Yadnya, adalah :

” kapujan sang pandita mwang sang wruh ring kalinganing dadi, ………….. angaturaken punya ring resinggana saha bhojana mwang widhi widhana kabeh”.

(Rsi Yadnya itu adalah : menghormati sang Pandita (wiku) dan hormat kepada yang memahami tentang kehidupan makhluk, serta mempersembahkan dana punya kepada orang-orang suci, seperti makanan dan upakara selayaknya).

Sedangkan dalam pengertian secara umum, Rsi Yadnya itu adalah suatu upacara peningkatan kesucian hidup dari walaka menjadi pendeta. Upacara sejenis itu disebut dengan upacara Padiksan/Padwijatian. Dalam upacara Padiksan/Padwijatian itu jelaslah menggunakan upacara madhya atau uttama, yakni tingkatan Catur Rebah. Seseorang yang didwijati jelas ada Nabe (guru kerokhanian) yang mengsyahkan (napak), menjadi Sulinggih, dengan gelar atau abhiseka sesuai dengan pemberian Nabe. Perlu diungkapkan bahwa Calon Diksa, yang telah ditapak oleh Nabe, harus mentaati perintah Nabe, seperti : Catur Bandhana Dharma, Aguru Susrusa dan yang lain-lainnya, sesuai dengan Wiku Sasana, Wreti Sasana, Silakrama, Catur Yuga.

Yang pokok adalah tentang Catur Bandhana Dharma, empat yang harus ditaati oleh Diksita, yaitu : Amati Raga, ada upacara seperti orang mati, yang maksudnya untuk dapat mengendalikan indria. Amari Aran, mengganti nama dari agama walaka menjadi bhiseka Wiku atau Sulinggih (Padanda, Resi, Bhagawan, Mpu, Dukuh), dan nama ini tidak boleh diganti di tengah jalan, berlaku sepanjang hidup. Amari Wesa, mengganti pakaian, dari pakaian walaka menjadi pakaian Sulinggih, seperti : gelung rambut, aprucut bagi Sulinggih Siwa dan agombak bagi Sulinggih Budha. Amari Sasana, meninggalkan prilaku walaka dan mentaati Wiku Sasana.

Pada saat upacara puncak inilah sepatutnya dipentaskan Topeng Sidhakarya, agar yang didiksa/ditasbihkan berhasil mengikuti ajaran-ajaran kesulinggihan (sidhakarya).

Pitra Yadnya, adalah :

“pamrestisthaning sawa, saha tarpana pitra, lwirnya saking wawu pejah ikang janma, riningkes, inabenan, inupakara sawanya, sawa Preteka, ngarannya, ri huwus putus samangkana, angasthi wedhana, ngarorasin, mamukur, maligya, ngluwer, ika maka panelasing pitra yajna, Atma Wedhana ngarannya, mwang amretistha ikang Dewa Pitara, Siwa Yajna ngarannya” (Lontar Agama Tirtha : 2b).

(Mengupacarai sawa (mayat), dengan persembahan tarpana (hidangan untuk pitra), dari baru mati orang itu, dimandikan dan digulung, diabenkan, sesuai dengan upakara terhadap mayat, hal itu disebut Sawa Preteka, setelah upacara itu selesai dilanjutkan dengan upacara Angasthi Wedhana, seperti ngrorasin, mamukur, maligya, ngluwer, itu adalah akhir dari upacara Pitra dan setelah itu ada upacara ngalinggihang disebut SiwaYadnya, namanya).

Dalam proses upacara Sawa Preteka, ada namanya upacara Ngaskara, yakni penyucian bagi sawa, yakni Panca Maha Bhuta, agar suci kembali ke asalnya. Pada upacara setingkat ini minimal ada ayaban yang disebut Bebangkit dan yang memimpin (muput), harus Sulinggih. Karena Sulinggih sudah menerima upacara itu pada saat Upacara Amati Raga. Ketika ini boleh dipentaskan Topeng Sidhakarya, agar sesuai dengan harapan kembalinya kesucian Panca Maha Bhuta yang membentuk Sthula sarira.

Demikian juga pada waktu Ngrorasin dalam pengertian Mamukur, Nyekah, Maligya, Ngluwer, sebaiknya juga dipentaskan Topeng Sidhakarya, dengan keyakinan sidhanya Sanghyang Atma kembali ke asalnya (sangkan paran).

Manusa yadnya, adalah :

“aweh amangan ring karaman, angaci-aci angga sarira, saking patemwaning pawarangan”.

( Manusa Yadnya, adalah memberikan makanan dan minuman kepada orang tua, menyucikan badan, di mulai dari saat pertemuan pawiwahan).

Upacara Manusa Yadnya, terdiri dari : Garbhadana (Magedong-gedongan), Jatakarma (Rare Embas), Kepus Udel, Tutug Kambuhan, Nyambutin, Ngotonin, Tumbuh gigi, Makupak (tanggal gigi), Ngrajasawala/Ngrajasingha, Matatah, Mawinten, Pawiwahan.

Dalam upacara Manusa Yadnya, dalam masyarakat umum, amat jarang kita jumpai, pementasan Topeng Sidhakarya. Namun bagi masyarakat tertentu, seperti : Golongan Puri, terutama pada saat upacara Ngrajasawala/Ngrajasingha, dipentaskan Topeng Sidhakarya, agar sesuai dengan tujuan pelaksanaan upacara itu yaitu agar Sanghyang Smara Ratih, memberikan kekuatan iman kepada yang bersangkutan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Demikian pula ada upacara “Abhiseka Ratu“, seseorang dari golongan Puri yang akan memegang warisan “treh/trah” raja. Pada saat itu sepatutnya dipentaskan Topeng Sidhakarya, mengandung maksud agar mendapat kharisma (taksu), sebagai seorang “panglingsir Puri“.

Pementasan Topeng Sidhakarya, pada umumnya bersamaan dengan Sulinggih memulai memuja, sampai berakhir. Namun yang perlu diperhatikan adalah kapan Topeng Sidhakarya itu dapat memasuki areal atau tempat upacara. Mengingat akhir dari upacara yadnya itu adalah Pamuspan. Maka sebaiknya Topeng Sidhakarya itu memasuki tempat upacara adalah sebelum persembahyangan dimulai, karena nantinya Tirtha Sidhakarya akan diperciki sebagai lambang sidhanya karya.

bersambung…BAGIAN 5

Advertisements

One thought on “Topeng Sidhakarya – Fungsi dan Makna Dalam Upacara

  1. Pingback: Topeng Sidhakarya – Nilai Tattwa | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s