Topeng Sidhakarya – Tinjauan Sejarah

BAGIAN 2

Untuk menyusun suatu sejarah keberadaan topeng di Bali adalah suatu hal yang amat sulit. Hal ini disebabkan kurangnya data dan informasi tentang seni pertunjukan topeng di Bali. Walaupun demikian, kita masih perlu melihat kembali peninggalan-peninggalan kuna, seperti : lontar, prasasti, relief-rilief dan sumber lainnya.

Dalam Prasasti Jaha di Jawa Tengah yang berangka tahun 840 Masehi, mengungkapkan adanya seni pertunjukan topeng. Prasasti Jaha ini dikeluarkan oleh Raja Sri Lokapala, dalam prasasti itu menyebutkan jenis-jenis seni pertunjukan, sebagai berikut : aringgit (seni pertunjukan wayang), atapukan (seni pertunjukan topeng), abanwal (seni lelucon), dan lain-lainnya.

Di dalam prasasti di atas jelaslah bahwa ada kata “atapukan” yang berarti topeng atau seni pertunjukan topeng.

Demikian juga dalam Prasasti Balitung, berangka tahun 907 Masehi, juga ada menyebutkan tentang pertunjukan topeng, yang berbunyi sebagai berikut :

” …………Sang Hyang Tangkil Hyang (mamidu), si Nalu macarita (berceritra) Bhima Kumara dan mangigel (menari) sebagai Kecaka, si Jaluk macarita (berceritra) Ramayana, si Mung Muk mamirus (berakting) dan mabanl (melucon), si Galigi mawayang (mempertunjukan wayang), untuk para leluhur dengan ceritra Bhima Kumara. Setelah itu para bangsawan bersiap-siap untuk bermain judi, sementara ada dua orang yang nampaknya juga bersiap-siap untuk mengadakan sejenis hiburan, dengan memakai pakaian “atapukan” atau topeng.

Di Bali dalam Prasasti Bebetin, yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

” ………. pande mas, pande besi, pande tembaga, pamukul (juru tabuh bunyi-bunyian), pagending (biduan), pabunjing (penari), papadaha (juru gupek), pabangsi (juru rebab), partapuka (topeng-tapel), parbwayang (wayang) ……… turun di panglapuan si singhamandawa (dibuat oleh pegawai di Singhamandawa), di bulan beskha (kedasa/10), hari pasaran wijayamanggala, tahun saka 818 (896 Masehi), yaitu pada masa pemerintahan Raja Ugrasena di Bali.

Dalam Prasasti Pandak Bandung (993 Saka/1071 Masehi), Prasasti Blantih (1059 Masehi) disebutkan ada kata “atapukan” (topeng-tapel). Sedangkan dalam Kesusastraan Jawa Kuna pada tengah kedua abad ke-14, masa puncak keemasan Majapahit di Jawa Timur. Dalam kitab Pararaton menyebutkan “anapuk“, dalam Kitab Kidung Sunda, menyebutkan topeng sebagai “anapel“, sedangakan dalam kitab Negarakertagama, menyebutkan topeng sebagai “raket“.

Dengan demikian tradisi pertunjukan topeng di Bali dan di Jawa, sejak abad IX telah diprasastikan. Hal ini menyatakan bahwa pertunjukan topeng sebelumnya sudah berkembang bahkan seniman mendapatkan kedudukan yang istimewa.

Dari berbagai sumber yang telah membahas kemunculan tradisi tari topeng sebagai seni pertunjukan lebih menukik ke jaman pemerintahan Sri Dalem Waturenggong. Merunut munculnya pertunjukan topeng di Bali (Bandem, 1995) menyebutkan sekitar tahun 1665-1686, ketika cucu Dalem Waturenggong, yakni Dalem Di Made, seorang keturunan Patih Jelantik, yang bernama I Gusti Pering Jelantik, mengkomposisikan sebuah pertunjukan dramatari topeng. Beliau menarikan topeng-topeng jarahan dari Blambangan yang dulunya diperoleh oleh leluhurnya Ki Patih Ularan dan Jelantik memperoleh kemenangan dalam menyerang kerajaan Blambangan. Setiap ada upacara besar keagamaan yang diprakarsai oleh pihak Puri, topeng-topeng itu ditarikan. Ketika pergolakan kemelut politik pemerintahan di Klungkung, Patih Jelantik pindah dari Gelgel ke Blahbatuh dengan membawa serta topeng-topeng tersebut dan distanakan di Pura Panataran Topeng. Tidak kurang dari 21 topeng kuno yang disakralkan oleh keluarga Puri Jelantik di Blahbatuh. Satu diantara banyak topeng itu adalah Topeng Sidhakarya, yang selalu hadir ketika ada upacara besar nuwur topeng paturun di sana masolah. Tradisi pertunjukan topeng kaitannya dengan upacara di Pura dan di Puri berlangsung terus dan bahkan menjadi bagian penting dengan kaitan ritual keagamaan dewasa ini (Catra Nyoman, 2007 :11).

Munculnya topeng Sidhakarya sebagai bagian tak terpisahkan pada ritual keagamaan, erat kaitannya dengan babad Bebali Sidhakarya. Alur ceritra dalam kisah itu secara langsung bertutur tentang kisah Dalem Sidhakarya. Dalam Babad Sidhakarya yang disalin dan diterjemahkan oleh I Nyoman Kantun, SH.,MM dan Drs. I Ketut Yadnya, ringkasannya adalah sebagai berikut :

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460 ā€“ 1550) di Gelgel, ketika beliau mengadakan upacara besar “Ekadasarudra dan Nangluk Mrana” di Besakih, datanglah Brahmana (walaka) dari Keling. Beliau mencari saudaranya ke Bali dan yang diakui saudaranya adalah Dalem Waturenggong sendiri. Sudah tentu Brahmana ini dianggap gila oleh para pengayah (pelayan) dan segera diusir.

Karena bersikeras ingin bertemu dengan saudaranya, maka dengan paksa para pembantu karya mengusirnya Brahmana ini. Bersungut-sungut sambil mengutuk agar rakyat diserang gering (penyakit), gering mrana marajalela, untuk menyerang tumbuh-tumbuhan dan wewalungan (binatang), sejagat Bali. Keadaannya benar-benar demikian, hingga karya tidak bisa dilaksanakan, karena pengayah semuanya sakit, tanam-tanaman tidak berhasil.

Atas petunjuk Sunya atau Sanghyang Widhi, dititahkan oleh Dalem untuk mencari Bramana Keling tersebut di Bandananegara dan untuk dibawa menghadap Dalem di Besakih. Dalem memohon belas kasihan Brahmana Keling agar kesempurnaan Pulau Bali dapat dikembalikan dan karya bisa terlaksana, dengan janji bila keadaan dapat dikembalikan sebagai sediakala, Dalem menerima Brahmana sebagai saudara dan diberi gelar Dalem Sidhakarya. Brahmana Keling meminta “saksi pituhu” yang membenarkan segala yang diucapkan.

Ayam ini putih harus dijawab putih dan benar-benarlah ayam itu menjadi putih. Pohon kelapa ini berbuah dan benar-benarlah pohon kelapa yang tadinya tidak berbuah menjadi berbuah. Dengan itu karya berhasil dilaksanakan (sidhakarya).

Dalem Waturenggong menepati janji, beliau memberi gelar Dalem Sidhakarya, kepada Sang Brahmana Keling. Selanjutnya Dalem Sidhakarya, mengaku sebagai rajanya segala “mrana” (tikus, walangsangit dan lain-lainnya). Dalem menitahkan pula untuk sidhanya setiap upacara/upakara di Bali, agar memohon jatu karya ke Pura Dalem Sidhakarya, yang berupa Catur Wija dan Panca Taru dan dinasehatkan pula jangan memaki hama/mrana.

Demikianlah ringkasan ceritra/sejarah Topeng Sidhakarya, yang terdapat dalam babad Bebali Sidakarya.

bersambung…BAGIAN 4

Advertisements

One thought on “Topeng Sidhakarya – Tinjauan Sejarah

  1. Pingback: Topeng Sidhakarya ā€“ Fungsi dan Makna Dalam Upacara | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s