Topeng Sidhakarya – Pendahuluan

Umat beragama mutlak melaksanakan upacara. Dalam pelaksanaan upacara sering disertai dengan tarian. Seni tari yang menyertai pelaksanaan upacara agama itu sering disebut tarian sakral.

Di Bali sampai saat ini tarian sakral masih tetap bertahan dan lestari. Hal ini terjadi karena salah satunya adalah pendukungnya tidak berani merubah atau meninggalkan begitu saja, karena diyakini akan membawa malapetaka bagi kehidupan.

Dapat dipahami bahwa pendukung tari sakral selalu akan melaksanakannya dalam kaitannya dengan upacara agama. Karena dengan keyakinan bahwa tari itu mempunyai peranan penting untuk mengantarkan harapan memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mendasar baik secara pribadi maupun orang banyak.

Harapan di atas tersirat bahwa dengan menarikan tarian sakral itulah sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap Tuhan. Kemudian beliau berkenan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahtraan dan kebahagian hidup.

Untuk menghindari pengertian yang baur tentang seni tari, sejalan dengan perkembangan seni tari itu sendiri, maka dibuatlah rumusan klasifikasi tarian ke dalam tiga golongan, yakni :

  1. Tari Bali atau Wali, adalah suatu tari yang pementasannya sebagai pelaksanaan upacara. Tarian ini tidak mengandung ceritera, hanya mengandung simbolis religius, seperti terlukis dalam tarian Rejang, Pendet, Sanghyang, Baris Gede.
  2. Tari Bebali, adalah tari yang pementasannya menunjang jalannya upacara yakni sebagai sarana pengiring. Tarian ini dipentaskan bersamaan dengan upacara berlangsung dan tarian ini mengungkap suatu ceritera, yang disesuikan dengan upacara yang diselenggarakan saat itu.
  3. Tari Balih-Balihan, adalah tari yang tidak termasuk sakral, hanya berfungsi hiburan dan tontonan yang mempunyai unsur dasar seni tari yang luhur, seperti : Tari Legong, Tari Janger, Tari Joged dan lain-lainnya.

Sesuai dengan penggolongan tari Bali yang termuat dalam Keputusan Seminar Seni Sakral dan Profan dalam Bidang Tari, Topeng Pajegan digolongkan dalam Tari Bebali. Menurut keputusan seminar tersebut di atas, yang dimaksud dengan Tari Bebali adalah tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara di Pura-Pura ataupun di luar Pura-Pura serta memakai lakon. Pementasan Topeng Pajegan biasanya untuk melengkapi “upakaranya” suatu upacara keagamaan, yakni Panca Yadnya. Tanpa kehadiran dari Topeng Pajegan itu suatu upacara dianggap belum sempurna.

Pada umumnya Topeng Pajegan disajikan di halaman “dalam” sebuah tempat persembahyangan atau pada tempat-tempat suci lainnya. Pementasannya dilaksanakan bersamaan dengan berlangsungnya suatu upacara, ketika seorang /atau lebih “Padanda” (pendeta) melakukan upacara itu. Pementasan Topeng Pajegan biasanya tidak memerlukan dekorasi dan pelakunya beraksi di muka barungan gamelan yang mengiringinya.

Topeng Pajegan biasanya mengambil lakon dari Babad atau Sejarah. Akan tetapi lakon apapun yang dipentaskan kehadiran seorang tokoh yang disebut “Sidhakarya” mutlak ada. Adapun arti yang terkandung dalam Sidhakarya itu ialah selesainya suatu upacara yang diadakan. Sedangkan sarana lain yang menyertai pementasan Topeng Sidhakarya adalah dengan membawa “sekar ura, bija kuning, uang kepeng“, sebagai sesajen, lambang pemberkahan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983 : 25).

Wujud Topeng Sidhakarya itu sangat menakjubkan berbentuk denawa bertaring di atas, serupa dengan Topeng Wayang Wong atau Barong Kedingkling. Tokoh Sidhakarya berfungsi pula untuk menetralisir Bhutakala (bhuta masiha), memupuk keharmonisan hubungan manusia (manusa sidhya masiha) dan persembahan kepada dewa-dewa (dewa mantara masiha).

Topeng Sidhakarya ini juga dikenal oleh masyarakat Bali (anak-anak) sebagai topeng “pengejukan“, karena pada waktu menaburkan sekar ura dengan uang kepengnya serta menangkap anak-anak, diberikan uang kepeng, disamping sebagai lambang berkah, mungkin pula maksudnya sekedar untuk memberikan keseriusan, sehingga di hati anak-anak ada pergulatan perasaan antara takut dan berani (Putra, tt. : 15).

bersambung…BAGIAN 2

Advertisements

One thought on “Topeng Sidhakarya – Pendahuluan

  1. Pingback: Topeng Sidhakarya – Pengertian | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s