Nyepi sebagai Introspeksi

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936 yang dirayakan umat Hindu se-Indonesia tahun ini jatuh pada Senin, 31 Maret 2014. Rangkaian perayaan meliputi melasti, tawur agung, dan catur brata penyepian merupakan momen reflektif bagi umat Hindu dalam menjaga keseimbangan alam dan diri sendiri sehingga tercipta kehidupan yang mendamaikan jiwa.

Umat Hindu meyakini bahwa kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan di dunia dapat dicapai dengan melaksanakan ajaran Tri Hita Karana. Ajaran itu bermakna tiga hubungan harmonis, menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan Sang Pencipta, antara manusia dan lingkungan/alam semesta, serta antara manusia satu dan lainnya.

Kealpaan manusia menjaga harmonisasi dengan alam, seperti penggundulan hutan atau menghilangkan kawasan hijau dapat memicu terjadinya banjir atau tanah longsor. Bencana alam yang tidak kita kehendaki itu, acap kali menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda tidak sedikit.

Demikian juga bila kita abai menjaga harmonisasi hubungan antarmanusia maka yang terjadi adalah kondisi seperti saat ini yang disesaki oleh gejolak dalam berbagai bidang, seperti kegaduhan situasi politik menjelang Pileg tanggal 9 April 2014, pertengkaran dan perang opini antar partai dan antar politikus tiap saat kita saksikan lewat berbagai media massa. Masing-masing pihak berusaha menjatuhkan lawannya, baik dengan cara yang elegan maupun dengan cara menohok secara langsung dan keras.

Juga yang tidak kalah menyedihkan begitu banyak konflik kepentingan yang terjadi pada masyarakat yang kemudian berujung pada kekerasan, kekerasan antar kelompok, bahkan akhir-akhir ini begitu banyak terjadi kekerasan terhadap anak.

Salah satu makna pelaksanaan Hari Raya Nyepi, yakni momentum untuk introspeksi, saya kira sangat relevan bila kita kaitkan dengan situasi kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini. Introspeksi dapat dikatakan sebagai perjalanan ke dalam diri untuk mengetahui secara jernih dan jujur semua pikiran, perkataan dan perbuatan yang kita lakukan selama ini.

Sudahkah semua itu memenuhi berbagai norma yang sepatutnya kita pedomani, seperti norma agama, kepatutan dan kesantunan, serta norma hukum? Introspeksi dapat kita ibaratkan bercermin dengan jujur dan cerdas dan upaya itu bukan perkara mudah. Pasalnya, menemukan kekurangan, kelemahan, dan kesalahan diri, butuh sikap arif dan bijak serta tingkat spiritual yang memadai.

Tanpa kearifan maka yang hadir malah ketidakjujuran sebagai pembelaan diri atau berbagai alasan pembenar dan pemaaf bagi diri sendiri. Pada akhirnya kita tidak akan pernah dapat menemukan langkah tepat untuk memperbaiki diri, sebaliknya membiarkan untuk terus terjebak pada kesalahan dan kekeliruan berkepanjangan.

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi mewajibkan umat Hindu melaksanakan Catur Brata, yang bisa diartikan empat pantangan selama 24 jam, yakni tidak menyalakan api atau penerangan (amati geni), tidak melakukan aktivitas kerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak diperkenankan bersenang-senang/menikmati hiburan (amati lelanguan). Melaksanakan brata penyepian ini dimaksudkan untuk memberikan ruang dan waktu yang berkualitas utama guna melakukan perenungan dan intorspeksi diri secara baik serta sekaligus sebagai sarana kontemplasi, refleksi dan merumuskan proyeksi serta prioritas yang hendak diwujudkan ke depan.


Keunggulan Rohani

Musuh dalam diri yang acap menggoda dan berusaha menguasai hati dan pikiran kita, sebenarnya dapat kita taklukkan atau kendalikan, tidak saja dengan kecerdasan intelektual tetapi juga dengan meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Musuh itu antara lain sifat tamak, sombong, rasa ingin selalu marah, iri hati, selalu berprasangka buruk serta mau menang sendiri.

Terkait dengan rutinitas keseharian kita yang dipenuhi hingar-bingar keramaian, adakalanya butuh suasana sepi dan sunyi untuk melihat seberkas cahaya terang dalam diri yang akan membasuh dan membersihkan hati kita sehingga mampu menangkal berbagai godaan yang dapat menjerumuskan ke jurang derita panjang. Hal ini selaras dengan ucapan Adi Sankarcarya, filsuf besar India pada abad ke-8, yakni, sepi adalah pintu pertama menuju keunggulan rohani.

Tentu saja Nyepi hanyalah momentum untuk introspeksi karena sesungguhnya sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, kita wajib memiliki kesadaran untuk terus-menerus mencerahkan batin. Upaya itu bertujuan supaya langkah kita pada esok hari lebih baik dibandingkan dengan hari ini.

Memperbaiki kualitas diri, akan meningkatkan nilai-nilai untuk saling menghargai dan menghormati dalam kesetaraan, kebersamaan, dan keberagaman yang mendamaikan dan meningkatkan nilai luhur lainnya. Manakala bisa melakukan dengan baik, niscaya mengantarkan kita pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih damai dan lebih elok. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936. Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.


Sumber : Putu Adhi Sutrisna (dihimpun dan diedit oleh I Wayan Adi Sudiatmika)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s