Ogoh – Ogoh…. Kini….

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Raksasa.

Selain wujud Raksasa, ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Surga dan Naraka, seperti: naga, gajah, garuda, widyadari, bahkan dewa. Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar ogoh-ogoh.

Dalam fungsi utamanya, ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.

Selain bernilai estetis unik, ogoh-ogoh juga menyimpan makna mistis. Sebenarnya, ogoh-ogoh punya satu fungsi pokok yaitu mengusir roh jahat di lingkungannya. Dengan demikian alam semesta akan terbebas dari segala mara bahaya.

Ogoh-ogoh tidak hanya disegani kawula muda. Anak kecil sampai orang dewasa pun tertarik pada ogoh-ogoh. Salah satu alasannya karena bentuknya yang estetis meskipun tampangnya menyeramkan.

Di era sekarang, ogoh-ogoh lebih dominan difungsikan untuk perlombaan karya seni. Tujuannya menggali kreativitas anak muda di Bali atau sekedar untuk arak-arakan penghibur masyarakat menjelang Nyepi.

Namun, tahukah Anda, ogoh-ogoh ternyata punya sisi mistis tersendiri? Fungsi magis ini sering kali tersingkirkan karena ogoh-ogoh telanjur dikenal untuk perayaan. Karena semakin bergesernya fungsi ogoh-ogoh dari waktu ke waktu, ogoh-ogoh semestinya dikembalikan lagi ke fungsi dasarnya. Seni dan kreativitas boleh-boleh saja dituangkan dalam ogoh-ogoh tapi tidak menghilangkan makna religinya.

Sebenarnya sebelum ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa, seharusnya terlebih dahulu dilakukan upacara pasupati. Apa sih yang dimaksud pasupati itu? Pasupati itu sejenis upacara pemberkatan ogoh-ogoh yang sudah rampung dibuat. Tujuannya agar ogoh-ogoh itu memiliki kekuatan magis positif untuk mengusir roh jahat yang disebut “Bhuta Kala“. Ogoh-ogoh yang telah rampung kemudian diarak ramai-ramai diiringi sekaa truni yang membawa obor di depannya.

Hal itu semakin menorehkan kesan bahwa ogoh-ogoh adalah simbolis diaraknya atau kalahnya roh jahat bhuta kala. Usai diarak, dia kemudian dibakar di setra atau perempatan desa. Pembakaran ini mempunyai maksud dilebur dan dimusnahkannya roh bhuta kala baik di alam semesta dan yang terpenting pada diri sendiri. Sederhananya, arakan ogoh-ogoh bermakna menangnya “Dharma” melawan “Adharma“.

Namun, akhir-akhir ini sering kali saya temui di beberapa daerah, ogoh-ogoh itu hanya di fungsikan untuk arak-arakan penglipur lara masyarakat serta ajang seru-seruan anak muda. Malah kadang dipajang di pinggir jalan sebagai pameran. Hal ini boleh-boleh saja, tapi terkesan menghilangkan kesan magis ogoh-ogoh itu sendiri.

Masyarakat hendaknya memperhatikan nilai magisnya. Ogoh-ogoh dicetuskan dengan suatu makna positif bagi alam semesta. Jadi masyarakat tak boleh salah pengertian. Karena ogoh-ogoh di samping dilihat dari nilai estetikanya juga harus diperhatikan fungsi atau makna mistis yang terselip di dalamnya.

Masih soal larangan, perwujudan ide pun menjadi salah satu isu. Sekarang tidak boleh mengangkat tema politik ataupun hal terkait perhelatan Pileg, April 2014 seperti halnya yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini kabarnya untuk menghindari terjadinya bentrokan kepentingan, antara yang ingin membela atau memberikan kritik kepada salah satu calon yang akan bertarung.

Untuk bisa mewujudkan ogoh-ogoh sedemikian rupa dengan detail dan wajah yang jauh lebih menawan, tentu saja berimbang dengan biaya yang dihabiskan oleh masing-masing Sekaa Teruna yang ada di Bali. Kabarnya untuk menghasilkan satu karakter ogoh-ogoh dibutuhkan dana berkisar Rp 5 juta hingga Rp 15 juta.

Walaupun dengan dana yang sedikit ataupun sangat besar, makna dan fungsi ogoh-ogoh agar kembali ke arah yang benar, yakni untuk menetralisir Bhuana Agung dan Bhuana Alit dari pengaruh negatif yang ada di sekitar kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s