Ogoh-Ogoh – Antara Ritual dan Pertunjukan Seni (2)

lanjutan dari bagian 1


Definisi Ogoh-Ogoh

Secara etimologi kata ogoh-ogoh itu diperkirakan berasal dari kata egah-egoh atau sempoyongan. Kata egah-egoh ini dalam bahasa Bali digunakan untuk menggambarkan gaya berjalan yang sempoyongan dari seseorang yang bertubuh besar atau gendut. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh terdapatnya kata kiasan “care ogoh-ogoh” yang dalam bahasa Indonesia berarti “seperti ogoh-ogoh” yang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki tubuh yang besar dan gendut serta kalau berjalan agak sempoyongan karena menahan berat tubuhnya.

011414_1247_SapuhLegerC1.jpg

Ada juga yang menyebutkan kata ogoh-ogoh berasal dari kata ogah-ogah yang dalam bahasa Bali berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Namun dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1986), ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan.

Jika dilihat dari bentuk visualnya dan bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya, mendefinisikan apa ogoh-ogoh itu memang tidaklah mudah. Hal ini disebabkan oleh perkembangan jaman yang begitu pesat sehingga ogoh-ogoh tidak lagi bisa dijelaskan atau digambarkan secara baku, baik itu dari bahan yang digunakan untuk membuatnya ataupun bentuk dan wujud ogoh-ogoh itu sendiri. Sehingga berbagai definisi muncul untuk menjelaskan apa ogoh-ogoh tersebut.

Namun ada juga yang mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai karya seni para seniman perupa yang memakai bahan dasar dari bambu dan kayu, berebentuk patung besar dan rupanya bisa mengambil tema peran antagonis, pewayangan dan dari ceritra tantri maupun simbul-simbul seperti binatang.

Di lain pihak, Laura Noszlopy (2003) seorang peneliti yang meneliti “Pesta Kesenian Bali; Budaya, Politik, dan Kesenian Kontemporer Indonesia” untuk Yayasan Arts of Afrika mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai patung yang berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan pelekat yang biasanya dibuat oleh kaum remaja Bali sebagai suatu bagian dari perayaan tahunan “upacara pembersihan” (ngerupukan), yang dilaksanakan sehari sebelum perayaan Nyepi, tahun baru Hindu atau hari Nyepi.

Dalam artikel “Day of silent” juga disebutkan sedikit definisi mengenai ogoh-ogoh. Pada artikel tersebut ogoh-ogoh didefinisikan sebagai “monster yang fantastis atau perwujudan buthakala yang terbuat dari bambu“.

Definisi lain juga diberikan oleh Indrayana (2006: 14) yang menyatakan bahwa, “Ogoh-ogoh merupakan karya tiga dimensional berbentuk patung yang dibuat lebih besar dan dapat dipindah-pindah“. Indrayana juga menambahkan bahwa semua ogoh-ogoh tersebut bisa digolongkan sebagai patung, namun tidak semua patung bisa digolongkan menjadi ogoh-ogoh. Hal yang membedakan ogoh-ogoh dengan patung-patung yang lain terletak pada jenis bahan yang digunakan, dimana pada pembuatan ogoh-ogoh digunakan bahan-bahan yang ringan serta lentur dengan tujuan agar bisa diarak keliling desa dan ditarikan.

Dari berbagai definisi itu bisa diarik sebuah persamaan konsep mengenai ogoh-ogoh. Persamaan itu terletak pada ukuran ogoh-ogoh, dimana dari ketiga definisi tersebut setuju bahwa ogoh-ogoh tersebut merupakan patung berukuran yang besar. Namun kiranya persamaan yang dihasilkan tersebut masih belum cukup untuk menggambarkan apa sebenarnya ogoh-ogoh, maka penulis mencoba memformulasikan definisi-definisi tersebut, sehingga penulis menyimpukan ogoh-ogoh merupakan suatu hasil kreativitas atau karya seni yang berbentuk patung tiga dimensi dengan ukuran yang besar yang dibuat dengan mempergunakan bahan-bahan yang ringan dan lentur sehingga patung yang dihasilkan nantinya dapat di arak dan ditarikan oleh sekelompok orang sebagai sebuah pertunjukan.


Bentuk Ogoh-Ogoh

Seiring perkembangan alat dan bahan yang disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi bentuk atau wujud ogoh-ogoh berkembang begitu pesat mengikuti perkembangan jaman. Kini ogoh-ogoh tidak hanya dibuat dengan menggunakan bahan bambu dan kertas pembungkus semen, berbagai bahan kini telah mulai dipakai dalam pembuatan ogoh-ogoh seperti, kawat, sterofoam, kain, dan fiber glass yang memungkinkan para pembuat ogoh-ogoh untuk membuat ogoh-ogoh dengan beraneka ragam bentuk baru yang tidak hanya terikat pada bentuk raksasa semata.

Bentuk ogoh-ogoh dapat digolongkan ke dalam empat jenis bentuk ogoh-ogoh, yang terdiri dari :

  • Ogoh-ogoh Bhuta Kala yakni ogoh-ogoh yang terinspirasi dari sastra Hindu yang berhubungan dengan Bhuta Kala seperti Bhuta Kala pangider-ider, contohnya Sang Bhuta Jangutan, Sang Kala Brengenjeng, Sang Bhuta Taruna, Sang Bhuta Ijo, Lembu Kanya, Bhuta Jingga, Bhuta Langkir, Bhuta Ulu Luwak, Sang Kala Tiga Sakti, dan lain-lain
  • Ogoh-ogoh Dewa Murti atau ogoh-ogoh yang mengambil wujud para dewa seperti Dewa Ganesha, Dewa Wisnu, dan dewa-dewa lainnya
  • Ogoh-ogoh pewayangan yakni ogoh-ogoh yang dibuat dengan mengambil perwujudan tokoh pewayangan seperti Rama dan Sita
  • Ogoh-ogoh dengan tema popular seperti spiderman, pemain sepak bola dan tokoh kartun


Sejarah Munculnya Ogoh-Ogoh

Untuk mengetahui kapan munculnya ogoh-ogoh tersebut secara pasti sangat sulit untuk dilakukan, karena begitu banyak versi mengenai munculnya ogoh-ogoh tersebut. Diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya.

Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan Barong Landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) cikal-bakal dari ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini.

Data lain menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70’an. Berdasarkan keterangan tersebut munculnya ogoh-ogoh itu di Denpasar awalnya hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang saja. Pada tahun 70’an itu, Bapak Nyoman Belot yang berasal dari Denpasar membuat ogoh-ogoh dengan tujuan sebagai permainan anak-anak dan tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Namun, karena dinggap sesuai menjadi simbolisasi perayaan tawur, akhirnya ogoh-ogoh tersebut dipakai pada perayaan Nyepi.

Fakta menyebutkan bahwa ogoh-ogoh itu dipertunjukan secara umum pada saat Pesta Kesenian Bali Pertama, yaitu pada tahun 1978. Dimana pada saat itu, pembuatan ogoh-ogoh ini dipelopori oleh mahasiswa ISI Denpasar (masih STSI pada masa itu). Munculnya ogoh-ogoh itu diperkerakan terjadi secara spontan. Ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengerajin patung yang telah jenuh mematung batu padas, batu atau kayu, namun di sisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.

Sumber lain yakni dari Laura Nozlopy (2003), menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu yang telah menjadi tradisi masyarakat Bali pada saat pengerupukan mulai dikenal pada tahun 80’an, beliau menyatakan, “… ogoh-ogoh, yang ditetapkan sebagai upacara conntemporer dan banyak dibicarakan oleh masyarakat lokal sebagai “tradisi”, mulai diperkenalkan pada tahun 1980’an“.

Pada tahun 1984, ketika Nyepi diresmikan menjadi hari libur nasional masyarakat Bali menyambutnya dengan begitu bahagia, sehingga masyarakat Bali yang berada di daerah Kesiman mengadakan lomba “onggokan” (yang dikenal sebagai ogoh-ogoh saat ini). Meskipun tidak dapat dipastikan kapan ogoh-ogoh itu muncul, karena ada berbagai pendapat yang berbeda mengenai sejarah munculnya ogoh-ogoh itu, namun dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa ogoh-ogoh dikenal oleh masyarakat Bali di saat masyarakat Bali telah merayakan upacara Nyepi tersebut dari generasi ke generasi sebelumnya. Dengan kata lain, kita bisa bilang bahwa ogoh-ogoh itu merupakan hal baru setelah sekian lama upacara Nyepi itu sudah dirayakan oleh masyarakat Bali.


Jenis Ogoh-Ogoh

Seiring dengan perkembangan jaman, ogoh-ogoh tidak hanya di buat pada hari pengerupukan dalam rangka perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka saja, namun ogoh-ogoh juga di buat dalam event-event yang lain seperti pada perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten/Kota dan Pesta Kesenian Bali.

Dari fakta tersebut dilihat dari waktu kapan ogoh-ogoh itu dibuat, ogoh-ogoh dewasa ini dapat digolongkan menjadi dua jenis, yakni :

  • Ogoh-ogoh yang digunakan pada saat pengerupukan dalam rangka perayaan Tahun Baru Saka (ogoh-ogoh ritual)
  • Ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada event-event lain di luar perayaan Nyepi atau Tahun Baru Saka (ogoh-ogoh seni pertunjukan).

Ogoh-ogoh yang dibuat pada saat pengerupukan bersifat lebih terikat karena dalam pembuatannya harus memperhatikan makna ogoh-ogoh sebagai visualisasi bhuta kala yang erat kaitannya dengan proses penetralisiran kekuatan-kekuatan Bhuta Kala itu sendiri. Sedangkan ogoh-ogoh yang dibuat di luar perayaan Nyepi tahun Baru Saka hanya diperuntukkan sebagai suatu karya seni semata sehingga ogoh-ogoh tersebut tidak terikat dengan makna ogoh-ogoh seperti pada perayaan Nyepi Tahun Baru Saka.


Peranan Ogoh-Ogoh Dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Ogoh-ogoh yang telah menjadi budaya bagi masyarakat Bali tentunya sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Secara garis besarnya peranan ogoh-ogoh dalam kehidupan masyarakat Bali dapat di bedakan menjadi dua, yakni :

  • Peranan ogoh-ogoh sesuai dengan jenis ogoh-ogoh tersebut dilihat dari waktu atau kapan ogoh-ogoh itu dibuat (ogoh-ogoh Nyepi dan ogoh-ogoh seni pertunjukan)
  • Peranan ogoh-ogoh yang terlepas dari waktu atau kapan ogoh-ogoh itu dibuat (ogoh-ogoh sebagai pemersatu, dan ogoh-ogoh sebagai produk komersil).

Peranan ogoh-ogoh sesuai dengan waktu kapan ogoh-ogoh ini di buat dapat digolongkan kembali menjadi ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi Tahun Baru Saka (ogoh-ogoh Nyepi) dan ogoh-ogoh yang dibuat pada event-event diluar perayaan Hari Raya Nyepi Tahun baru Saka (ogoh-ogoh seni pertunjukan).


Peranan Ogoh-Ogoh Ritual

Dalam perayaan Tahun Baru Saka atau Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Dimana ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualkan dalam wujud yang menyeramkan, karena jika kekuatan alam itu berlebihan tentunya akan menjadi kekuatan yang merusak dan menyeramkan.


Makna Ogoh-Ogoh Ritual

Pada dasarnya makna yang ditampilkan dalam pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dalam upacara Nyepi yakni pada hari Tawur Kesanga, tepatnya pada petang harinya yang disebut dengan Pengerupukan adalah sama dengan makna upacara tawur atau caru yang digelar pada pagi harinya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tawur Kesanga berfungsi untuk menstabilkan kekuatan-kekuatan negatif tersebut sehingga tidak mengganggu hidup umat manusia.

Hal ini dapat dilihat dari prosesi jalannya pawai ogoh-ogoh itu, dimana sebelum diarak ogoh-ogoh itu di berikan sesaji berupa banten pasupati yang bertujuan untuk membangkitkan atau membangunkan kekuatan-kekuatan negatif tersebut, kemudian ogoh-ogoh itu diarak keliling desa sebagai simbul bahwa kekuatan-kekuatan tersebut berada di sekeliling kita, kemudian pada di tiap-tiap perempatan ogoh-ogoh tersebut diputar ke kanan sebanyak tiga kali yang merupakan simbolisasi perjalanan hidup kita yang terdiri dari utpeti atau dilahirkan, stiti atau hidup, dan pralina atau dilebur.

Jika dihubungkan dengan kekuatan Bhuta (negatif) dapat dikatakan bahwa kekuatan tersebut diciptakan oleh Tuhan, kemudian hidup di antara kita dan akhirnya harus dinetralisir atau dilebur, sehingga pada puncak acara pawai ogoh-ogoh itu semua ogoh-ogoh tersebut dibakar tatu dipralina sebagai perwujudan penetralisiran kekuatan negatif tersebut.


Fungsi Ogoh-Ogoh Ritual

Pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada saat Nyepi selain berfungsi sebagai seni pertunjukan juga berfungsi untuk mempermudah masyarakat Hindu Bali dalam memahami makna upacara tawur kesanga. Diharapkan dengan pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta dengan menggunakan ogoh-ogoh ini masyarakan Hindu Bali yang belum memiliki pemahaman yang mendalam mengenai makna upacara tawur dapat dengan mudah menangkap pentingnya pelaksanaan tawur tersebut demi keseimbangan alam semesta.

Dengan melihat ogoh-ogoh yang berwujud seram yang keliling desa dan pelaksanaan pralina atau pemusnahannya dengan cara dibakar diharapkan masyarakat Hindu Bali mampu membayangkan kekuatan-kekuatan negatif tersebut ada di seketar kita dan harus dinetralisir atau diseimbangkan sehingga tidak menimbulkan bencana dan muncul suatau hubungan yang harmonis.


Peranan Ogoh-Ogoh Seni Pertunjukan

Peranan ogoh-ogoh sebagai seni pertunjukan yang dimaksud di sini adalah peranan ogoh-ogoh yang memang dibuat unutk kepentingan seni pertunjukan saja atau ogoh-ogoh yang dibuat bukan pada saat perayaan Nyepi.

Dimana ogoh-ogoh yang dibuat dalam event-event di luar perayaan Nyepi ini memang murni hanya sebagai hasil kesenian yang diperuntukan untuk menghibur atau pertunjukan dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan Nyepi. Sehingga dapat dibilang peranan ogoh-ogoh pada event-event seperti pada saat Pesta Kesenian Bali hanya sebagai barang seni semata


Makna Ogoh-Ogoh Seni Pertunjukan

Seperti disampaikan di atas, karena pembuatan ogoh-ogoh untuk event-event ini terlepas dari perayaan Nyepi maka di sini ogoh-ogoh yang dibuat mengalami proses kehilangan makna spiritual atau pergeseran makna, dari makna sebagai ogoh-ogoh ritual menjadi ogoh-ogoh seni pertunjukan. Dengan kata lain, ogoh-ogoh dalam event-event ini bukan merupakan perwujudan Bhuta Kala yang menjadi simbolisasi prosesi penetralan kekuatan negatif alam semesta atau Bhuta.

Walaupun dalam prosesnya ogoh-ogoh ini juga dihaturkan sesaji, namun sesaji di sini memiliki essensi yang berbeda dengan sesaji yang dibuatkan pada ogoh-ogoh yang dibuat pada saat pengerupukan dan pada akhir pawai ogoh-ogoh ini dibakar. Sesaji atau banten yang dihaturkan di sini hanya bertujuan untuk memohon keselamatan atau taksu (kharisma) semata dan pembakaran ogoh-ogoh ini juga tidak memiliki makna seperti pada pembakaran atau pralina pada ogoh-ogoh yang dibuat pada saat Nyepi.


Fungsi Ogoh-Ogoh Seni Pertunjukan

Ogoh-ogoh yang di buat pada event-event selain pada perayaan Nyepi juga mengalami sebuah proses pergeseran fungsi dari pertunjukan seni yang mengandung nilai agama menjadi suatu karya seni yang berfungsi sebagai seni pertunjukan saja. Ogoh-ogoh yang dibuat pada event-event semacam ini hanya difungsikan sebagai pemeriah acara dan menarik perhatian masyarakat yang menyaksikannya.

Hal ini dapat kita lihat dari perlombaan ogoh-ogoh yang dilaksanakan di beberapa acara dan menarik perhatian wisatawan sehingga mereka tertarik untuk berkunjung guna menyaksikan pawai ogoh-ogoh tersebut. Karena pawai ogoh-ogoh diyakini diminati oleh masyarakat Bali maupun masyarakat mancanegara. Pergeseran fungsi ini juga berimplikasi terhadap munculnya kesenian instalasi yang terinspirasi dari ogoh-ogoh.


Peranan Ogoh-Ogoh Lainnya

Peranan ogoh-ogoh yang terlepas dari ikatan waktu atau kapan ogoh-ogoh itu dibuat dapat dibedakan menjadi dua, yakni ogoh-ogoh sebagai pemersatu dan ajang kreatifitas dan ogoh-ogoh sebagai produk komersil.

Ogoh-ogoh sebagai pemersatu dan ajang kreatifitas, baik itu untuk perayaan hari Raya Nyepi ataupun untuk perlombaan, biasanya dilaksanakan oleh sekehe Truna-Truni (asiosiasi Remaja) yang ada di masing-masing banjar di desa yang bersangkutan. Dari proses pengumpulan bahan pembuatan rangka, pembalutan, pengecatan finishing serta pengarakan ogoh-ogoh biasanya dilakukan bersama-sama. Karena kebersamaan dan rasa saling memiliki serta rasa tanggung jawab yang mengikat rasa persaudaraan mereka mampu menciptakan rasa persatuan dan kesatuan terutama di kalangan anggota sekehe truna-truni yang bersangkutan.

Namun terkadang karena jiwa pemuda yang biasanya masih labil dan ego maka persatuan dan rasa persaudaran yang timbul akhirnya hanya sebatas di lingkungan banjar saja. Malahan jika mereka tidak mampu mengendalikan diri mereka atau mengendalikan ego mereka maka sering terjadi bentrokan antar banjar pada waktu pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Hal ini kerap terjadi apabila perayaan Nyepi tersebut berdekatan dengan pelaksanaan pemilihan umum, karena ogoh-ogoh dianggap bisa menjadi akar timbulnya bentrokan.

Hal tersebut tentunya sangat tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dimana kita menghendaki dengan dilaksanakannya pawai ogoh-ogoh ini para truna-truni mau bersatu padu untuk mencurahkan kreatifitas mereka dan menggalang persatuan serta ikatan kekeluargaan. Dari pengamatan, hal ini kebanyakan disebabkan oleh ketidakmampuan para truna-truni tersebut menahan diri mereka atau mengendalikan diri mereka, serta terjadinya kesalahan dalam proses pembuatan ogoh-ogoh tersebut dimana dalam proses pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh tersebut banyak truna yang meminum minuman keras sehingga mereka berada dalam keadaan mabuk.

Jadi dapat disimpulkan keadaan seperti inilah yang sebenarnya memicu terjadinya bentrokan dan sungguh disayangkan sekali jika yang disalahkan jika terjadi bentrokan yang dipersalahkan adalah keberadaan ogoh-ogoh yang sebenarnya jika bisa kita laksanakan dengan baik mampu menciptakan peratuan, bukannya perpecahan.

Ogoh-ogoh sebagai produk komersil, akibat dari begitu pesatnya perkembangan ogoh-ogoh dewasa ini membuka peluang usaha bagi para pelaku seni untuk membuat ogoh-ogoh yang dijadikan produk komersil. Hal ini dibuktikan dengan munculnya suatu asiosiasi pengerajin pembuat ogoh-ogoh yang tegabung dalam Gabungan Anak Sesetan yang terletak di jalan Sesetan 213 Denpasar dan Jln. By Pass Ngurah Rai, 443 Denpasar yang merupakan pimpinan Drs. Wayan Candra. Gabungan Anak Sesetan ini dikenal dengan sebutan GASES dimana asiosiasi ini menyediakan jasa pembuatan ogoh-ogoh baik itu untuk perayaan Nyepi maupun pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada event-event tertentu.

Implikasi dari pergeseran makna ogoh-ogoh dari seni pertunjukan yang memiliki nilai spiritual keagamaan yang sekarang marak menjadi seni pertunjukan semata, mengakibatkan munculnya kemungkinan berkembangnya usaha serupa. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pasar yang kian meningkat terutama untuk pembuatan ogoh-ogoh untuk seni pertunjukan di luar perayaan Nyepi.


Pandangan Masyarakat Bali Terhadap Ogoh-Ogoh

Kebanyakan masyarakat Bali dewasa ini memandang ogoh-ogoh hanya dari sisi seni saja. Meskipun ogoh-ogoh yang buat dalam perayaan Nyepi, masyarakat Bali kini terutama para kaum remaja lebih mulai terpengaruh terhadap pergeseran makna dan fungsi ogoh-ogoh sehingga mulai bermunculan ogoh-ogoh yang mementingkan unsur seninya ketimbang makna yang terkandung di dalamnya.

Hal ini dapat kita lihat dari bentuk ogoh-ogoh yang buat dalam perayaan Nyepi yang tidak hanya mengambil bentuk atau perwujudan Bhutha Kala. Dewasa ini ogoh-ogoh yang di buat dalam perayaan Nyepi banyak yang mengambil tema popular seperti tokoh kartun, pemain sepak bola, dan mengangkat fenomena-fenomena yang muncul di masyarakat.

Sebagai sebuah proses kreatifitas memang kondisi ini tidak bisa dielakkan karena tentunya kita tidak boleh membatasi kreatifitas yang dimiliki oleh kaum remaja. Hal itu sah-sah saja sepanjang tidak mengganggu ketertiban umat dalam merayakan hari raya Nyepi karena memang ogoh-ogoh tidak diatur dalam kesusastraan Hindu, dan ogoh-ogoh hanya merupakan upacara tambahan yang memiliki makna sama seperti upacara tawur karena ogoh-ogoh merupakan pemvisualisasian penetralisiran atau penyomiaan kekuatan negatif atau bhuta kala seperti makna tawur itu sendiri, dengan tujuan dengan divisualisasikan umat lebih gampang mengiterpretasikanya.

Karena telah menjadi tradisi seperti yang dikemukakan aleh Nozlopy (2002) sebagi tradisi baru atau “new tradition“, jika perayaan Nyepi tanpa ogoh-ogoh akan membuat perasaan masyarakat Bali khususnya kaum remaja menjadi kurang lengkap.


Kriteria Ogoh-Ogoh

Kriteria ogoh-ogoh yang secara baku memang belum ada sampai saat ini. Karena seperti yang disampaikan di atas ogoh-ogoh tersebut belum diatur dalam kesastraan Hindu. Namun dari definisi, makna dan fungsi ogoh-ogoh seperti apa yang telah dipaparkan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai kriteria atau persyaratan sebuah ogoh-ogoh. Berikut adalah kriteria sebuah ogoh-ogoh yang ditinjau dari definisi, makna dan fungsinya.

Kriteria Ogoh-ogoh Berdasarkan Definisinya

Secara umum kriteria sebuah ogoh-ogoh sesuai dengan definisinya maka jika dilihat dari bahan yang digunakan untuk membuatnya, dapat disimpulkan persyaratan atau kriteria bahan yang digunakan untuk membuat ogoh-ogoh adalah bahan yang ringan dan lentur. Pemilihan bahan ini bertujuan untuk mempermudah pengarapan ogoh-ogoh dan untuk membuatnya bisa ditarikan. Jika ogoh-ogoh dibuat dengan menggunakan bahan yang berat sehingga tidak bisa diarak dan ditarikan maka hasil karya seni tiga dimensi tersebut hanya bisa digolongkan menjadi patung saja, dan bukan ogoh-ogoh.

Jika dilihat dari definisinya semua ogoh-ogoh memang bisa dikategorikan menjadi patung, namun tidak semua patung bisa dikatagorikan sebagai ogoh-ogoh. Dalam hubungannya dengan fungsi dan makna maka kriteria ogoh-ogoh dapat dibedakan menjadi dua yakni kriteria ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi dan kriteria ogoh-ogoh yang dibuat untuk kepentingan seni pertunjukan yang bukan dilaksanakan pada hari raya Nyepi.

Dalam perayaan Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan spiritual yakni sebagai simbol bhuta kala atau kekuatan negatif. Dimana kekuatan negatif atau bhuta kala ini nantinya akan disomya (dinetralisir atau dinaikan derajatnya) sehingga tidak membahayakan umat manusia melaui proses simbolisasi pralina atau dibakar. Jika kita pahami hal tersebut maka kriteria sebuah ogoh-ogoh untuk perayaan Nyepi kalau kita kaitkan dengan pengklasifikasian ogoh-ogoh sesuai dengan bentuknya maka bentuk atau wujud ogoh-ogoh yang sesuai untuk perayaan hari Raya Nyepi adalah ogoh-ogoh yang berwujud Bhuta Kala atau raksasa yang menyeramkan.

Sesuai dengan ceritra-ceritra yang terdapat dalam sastra Hindu sebenarnya ada banyak jenis Bhuta Kala yang digambarkan ke dalam wujud raksasa yang menyeramkan. Sebagai contoh :

  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Jangitan : berbentuk raksasa berwarna putih, dengan tribute berupa bajra, karena merupakan pemurnian dari Dewa Iswara;
  • Ogoh-ogoh Sang Kala Bregenjeng : berwujud raksasa berwarna nila/abu-abu, yang sedang makan bebek belang kalung, dimana terinspirasi ketika Dewa Sambu memurti menjadi Kala dan diberikan tetadahan Caru Panca Sata agar bisa disomya menjadi dewa;
  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Taruna, sesuai dengan namanya “Taruna” yang berarti muda dan merupakan penjelmaan dari Dewa Wisnu yang divisualisasikan dalam bentuk raksasa muda yang gagah dengan dominan warna biru bersenjatakan cakra;
  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Ijo, berbentuk raksasa gundul berwarna hijau dengan perut buncit yang merupakan pemurtian Dewa Sangkara yang letaknya di Tenggara;
  • Ogoh-ogoh Lembu Kanya, berkepala lembu berbadan manusia dengan warna kuning (jenar) yang merupakan pemurtian Dewa Mahadewa yang bersenjatakan nagapasa;
  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Jingga, bentuk ogoh-ogoh yang menyerupai raksasa yang menunggangi anjing (asu belang bungkem) dengan warna orange dimana terinspirasi ketika Dewa Rudra dari arah Barat Daya memurti dalam bentuk bhuta kala;
  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Langkir atau Sang Kala Bang, raksasa merah yang merupakan pemurtian Dewa Brahma dengan bersenjatakan gada;
  • Ogoh-ogoh Sang Bhuta Ulu Luwak, ogoh-ogoh yang berwarna dadu atau merah muda yang merupakan hasil interpretasi penokohan Dewa Maheswara sebagai bhuta kala dengan senjata dupa;
  • Ogoh-ogoh Sang Kala Tiga Sakti, terinspirasi dari pemurtian Dewa Siwa. Divisualkan dengan raksasa yang berkepala tiga, memakai mahkota, karena dipandang menjadi raja bhuta kala, dengan warna brumbun (panca warna). Ogoh –ogoh ini bersenjatakan padma Nyalang dengan delapan sudut.

Jika ogoh-ogoh dibuat tidak pada perayaan hari raya Nyepi maka ogoh-ogoh tersebut kehilangan makna spiritualnya atau bergeser menjadi ogoh-ogoh seni pertunjukan, karena pada event-event selain perayaan Nyepi ogoh-ogoh tersebut bukan merupakan perwujudan Bhuta Kala. Sehingga jika ogoh-ogoh itu dibuat selain pada hari Raya Nyepi maka bentuk atau wujud ogoh-ogoh itu tidak hanya terbatas pada Bhuta Kala saja seperti yang telah dijelaskan di atas, namun bisa mengambil bentuk lain sesuai dengan tema yang diusung.

Selain ogoh-ogoh berwujud bhuta kala, pada event-event di luar perayaan Nyepi bisa berwujud dewa-dewi atau Dewa Murti seperti Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa, Dewa Ganesha, Nara Singa Awatara, maupun Dewa-Dewa lainnya, atau tokoh-tokoh yang ada dalam ceritra pewayangan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana, Sutasoma atau juga tokoh kartun seperti Spiderman dan tokoh pemain sepak bola.


Kesimpulan

Kesimpulan dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ogoh-ogoh yang kita kenal dewasa ini dapat kita kelompokkan menjadi dua jenis, yakni ogoh-ogoh ritual atau ogoh-ogoh yang dibuat untuk perayaan Nyepi dan ogoh-ogoh seni pertunjukan atau ogoh-ogoh yang dibuat pada event event lain yang tidak ada hubungannya dengan perayaan hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka.

Kedua jenis ogoh-ogoh itu dapat dibedakan menurut bentuk, makna, dan fungsinya. Dilihat dari bentuknya, ogoh-ogoh yang dibuat untuk perayaan hari raya Nyepi merupakan ogoh-ogoh yang berwujud Bhuta Kala (raksasa) namun ogoh-ogoh yang dibuat untuk event-event lain yang tidak ada hubungannya dengan perayaan hari raya Nyepi bentuk ogoh-ogoh bisa disesuaikan dengan kreativitas dan kreasi masing-masing karena tidak ada ketentuan yang mengikatnya.

Dari segi makna dan fungsinya, ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi memiliki makna sepritual, yakni sebagai simbolisasi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif (bhuta kala) sehingga memudahkan umat Hindu Bali untuk memahami makna perayaan tawur, sedangkan ogoh-ogoh yang dibuat dalam event-event lain tidak memiliki makna sepiritual dan bergeser menjadi sebuah karya seni pertujukan semata.

Ogoh-ogoh telah melekat dalam kehidupan masyarakat Bali menjadi suatu kebudayaan yang begitu berharga, baik itu ogoh-ogoh yang digunakan untuk upacara Nyepi ataupun untuk event-event yang lain. Selain memiliki makna yang dalam (ogoh-ogoh ritual) ogoh-ogoh juga sangat penting guna mengembangkan kreativitas remaja dalam berkarya seni (ogoh-ogoh seni pertunjukan). Maka dari itu, kebudayaan ogoh-ogoh ini penting untuk kita pertahankan dan kembangkan namun tetap dalam koridor yang sesuai sehingga tidak menimbulkan dampak negatif atau kerusuhan massa.

Melihat timbulnya dua jenis ogoh-ogoh yang timbul dewasa ini diharapkan generasi muda mampu memilih dan memilah bentuk atau wujud ogoh-ogoh yang akan dibuat. Jika ogoh-ogoh itu dibuat untuk perayaan Nyepi maka wujud atau bentuk yang sesuai untuk ogoh-ogoh tersebut adalah wujud bhuta kala. Sedangkan ogoh-ogoh yang dibuat dalam event-event lain yang tidak ada hubungannya dengan perayaan Nyepi bisa mengambil bentuk atau wujud sesuai dengan inspirasi atau kreasi masing-masing dengan tidak mengabaikan norma-norma yang berlaku, sehingga keamanan tetap terjaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s