Ogoh-Ogoh – Antara Ritual dan Pertunjukan Seni (1)

Pendahuluan

Bali merupakan daerah yang kaya akan seni dan budaya. Kesenian dan kebudayaan yang berkembang di daerah Bali banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur agama Hindu. Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan umat Hindu di Bali untuk memvisualisasikan nilai-nilai ajaran agama Hindu. Dahulu kala masyarakat Bali kerap menciptakan suatu kesenian dan budaya yang diperuntukkan sebagai yadnya atau persembahan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga sampai saat ini di Bali masih dikenal berbagai jenis tari-tarian serta gamelan yang di anggap sakral karena jenis tarian atau gamelan tersebut hanya dipentaskan sebagai sarana pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Contoh lain dari kesenian yang kini telah menjadi budaya masyarakat Hindu di Bali adalah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh dapat didefinisikan sebagai karya seni para seniman perupa yang memakai bahan dasar dari bambu dan kayu, berbentuk patung besar dan rupanya bisa mengambil tema peran antagonis, pewayangan dan dari ceritra tantri maupun simbol-simbol seperti binatang.

Ogoh-ogoh ini dikenal sebagai salah satu sarana dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Saka, tepatnya sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau yang disebut dengan Hari Pengerupukan. Secara umum, masyarakat Bali menganggap ogoh-ogoh tersebut sebagai perwujudan bhuta kala atau kekuatan negatif yang biasanya diwujudkan dengan rupa raksasa (setan) yang menyeramkan.

Ogoh-gogoh diarak pada hari Pengerupukan, yakni sehari sebelum Nyepi. Pada hari Pengerupukan ini hampir seluruh desa yang ada di Bali menggelar acara pawai ogoh-ogoh. Pelaksanaan pawai ogoh-ogoh ini biasanya dilaksanakan pada petang hari (sandi kala) sampai malam hari, dengan tujuan untuk menetralisir pengaruh-pengaruh negatif butha kala (setan) sehingga mereka tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan berubah menjadi dewa yang menciptakan kebahagiaan bagi umat manusia.

Dalam prakteknya, ogoh-ogoh tidak hanya dibuat pada saat perayaan Nyepi saja, ogoh-ogoh juga dapat dijumpai pada parade atau pawai Pesta Kesenian Bali. Bentuk atau wujud ogoh-ogohpun kini tidak terbatas hanya raksasa (butha kala) saja, namun bentuk atau wujud ogoh-ogoh mulai beraneka ragam, ada yang berwujud tokoh kartun, dewa-dewa seperti dewa Ganesha, Rama dan Kresna, dan sampai orang mabuk atau anak punk. Bentuk-bentuk ogoh-ogoh yang seperti tersebut muncul baik itu untuk perayaan pengerupukan ataupun pada pawai Pesta Kesenian Bali atau parade ulang tahun kota atau event lainnya.

Dari kenyataan tersebut muncul keragu-raguan di masyarakat Bali apakah ogoh-ogoh itu merupakan suatu budaya yang memiliki nilai yang sakral atau hanya semata-mata untuk pertunjukan atau sebagai barang hasil kesenian saja. Bentuk atau wujud ogoh-ogoh yang beraneka ragam juga memunculkan problema, karena masyarakat Bali secara umum mengenal ogoh-ogoh sebagai wujud setan (butha kala), sedangkan sekarang permasalahannya muncul berbagai bentuk ogoh-ogoh yang beraneka ragam.


Sejarah Tahun Saka di Bali

Tahun Saka adalah perhitungan tahun yang menganut sistem perhitungan Surya (matahari) seperti yang dijabarkan oleh Singgin (1981) “…tahun Saka yang menganut sitem tahun matahari dengan mongsonya (sasih di Bali) yang umurnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik….” Tahun Saka ini dicetuskan oleh Raja Kasnika I pada tahun 78 masehi di India (Titib,1989). Menurut cerita tradisi Jawa, Tahun Saka itu sampai ke Indonesia karena disebarkan oleh seorang pendeta Hindu yang disebut sebagai Sang Aji Saka. Diperkirakan yang dimaksud dengan Sang Aji Saka adalah Rsi Agastya yang diberi gelar sebagai Hyang Hari Candani, dan merupakan rsi yang berasal dari India yang melakukan darma yatra mengarungi samudra luas untuk menyebarkan darma. (Singgin, 1981).


Hari Raya Nyepi

Hari raya Nyepi merupakan hari raya suci agama Hindu yang dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia setiap satu tahun sekali.

Secara harfiah kata Nyepi berasal dari kata sepi atau sunyi, yakni me-Nyepikan bhuana alit dan bhuana agung (Suarjaya, 2006). Dalam pelaksanaan hari raya Nyepi ini ada empat hal yang harus dipatuhi. Keempat hal tersebut dikenal dengan Catur Brata Penyepian, yang terdiri dari amati geni yang artinya tidak menghidupkan api atau tidak berapi-api, amati karya yang berarti tidak bekerja atau menghentikan pekerjaan, amati lelungan yang artinya tidak bepergian, dan amati lelanguan yang berarti tidak melampiaskan hawa nafsu atau indria (Sujara, 1975).


Sejarah Singkat Hari Raya Nyepi

Perayaan hari raya Nyepi guna memperingati Tahun Baru Saka dilegalisir oleh Parisada Hindu Dharma Pusat (PHDI Pusat) pada tahun 1959. Sebelum tahun 1959 tersebut sebenarnya masyarakat Bali telah mengenal istilah Nyepi namun perayaan Nyepi tersebut lingkupnya masih kecil, yakni hanya dilakukan di tingkat desa. Sedangkan, perayaan Nyepi tersebut tidak dilaksanakan untuk menyambut tahun Baru Saka melainkan perayaan Nyepi ini dilakukan sebelum perayaan suatu upacara di desa yang bersangkutan.

Perayaan Nyepi yang dilaksanakan di tingkat desa tersebut masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat Bali sampai sekarang, perayaan Nyepi semacam ini dikenal dengan istilah Nyepi Desa. Meski demikian makna dari perayaan Nyepi pada waktu itu sama seperti makna perayaan Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Saka, yakni untuk menetralisir kekuatan negatif dan positif sehingga menimbulkan keseimbangan, serta membersihkan Bhuana Agung (makrokosmos/alam semesta) dan Bhuana Alit (mikrokosmos/diri manusia).

Pada tahun 1964 perayaan Nyepi dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Saka tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Bali saja, namun mulai dirayakan secara nasional. Sejak tahun 1983 sesuai dengan surat Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1983, hari raya Nyepi ditetapkan sebagai libur nasional.

Perayaan Nyepi yang dilakukan pada saat Tahun Baru Saka harus dilaksanakan dengan mengamalkan Catur Brata Penyepian yaitu; amati geni yaitu tidak menghidupkan api, sehingga pada pelaksanaan Nyepi kita harus begelap-gelapan. Hal ini sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam yaitu tidak boleh marah karena api merupakan lambang amarah. Selain itu, menurut kepercayaan Hindu awal terciptanya dunia ini hanya ada kegelapan, begitu pula dalam pergantian hari juga harus melewati proses kegelapan atau malam hari. Sehingga pada waktu peralihan tahun kita juga bergelap-gelapan dengan tujuan agar tahun baru yang kita sambut benar-benar dimulai dengan lembaran baru; amati karya yakni tidak boleh bekerja atau beraktifitas, amati lelanguan atau tidak boleh bersenang-senang seprti berjudi dan sejenisnya; amati lelungan artinya tidak boleh bepergian. Dari keempat pantangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada hari raya Nyepi kita semua diharapkan melakukan yoga samadi untuk memahami dirisendiri dan menyadari kesalahan atau kekurangan diri masing-masing.


Rangkaian Upacara Nyepi

Perayaan Hari Raya Nyepi merupakan suatu prosesi upacara yang terdiri dari serangkaian upacara yang menjadi satu. Adapun serangkaian upacara tersebut adalah upacara melasti atau melis/mekiis, tawur
kesanga (pengerupukan), Nyepi (sipeng) dan terakhir Ngembak Geni. Semua upacara tesebut terikat antara yang satu dengan yang lain, karena pelaksanaan upacara tersebut merupakan tahapan-tahapan penetralisiran bhuwana agung (makrokosmos) dan bhuwana alit (mikrokosmos). Penjelasan lebih lanjut mengenai rangkaian pperayaan Nyepi adalah sebagai berikut:


Melasti

Melasti adalah upacara yang dilaksanakan dengan tujuan untuk membersihkan bhuwana agung (alam semesta) beserta isinya, seperti yang disampaikan oleh Sujara (1975), “Melasti nganyudang malaning gumi, ngamet tirta amerta“, yang artinya pada saat melasti kita membuang segala kekotoran yang ada di dunia, dan mengambil air keabadian.

Dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan pembersihan atau penyucian segala sarana dan prasarana yang digunakan untuk sembahyang. Pada upacara melasti ini juga dilaksanakan pengambilan tirta amerta (air keabadian), sehingga upacara melasti ini dilaksanakan di pantai, sungai atau mata air terdekat tergantung pada desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan) yang dianut oleh umat di desa yang bersangkutan.


Tawur Kesanga

Setelah melasti, upacara berikutnya dikenal dengan upacara tawur kesanga yang jatuh sehari sebelum upacara Nyepi (sipeng). Tawur juga dikenal dengan istilah mecaru, yakni korban suci yang dipersembahkan kepada para bhuta kala untuk menetralisir unsur-unsur negatif yang mereka miliki supaya tidak mengganggu kesejahteraan umat manusia sehingga keharmonisan, hidup berdampingan, selaras, serasi dan seimbang bisa terwujud (Suarjaya, 2006).

Kegiatan tawur atau mecaru tingkat besar (upacara besar) yang dilaksanakan mulai dari tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, banjar, hingga ke rumah umat masing-masing. Sarana dan prasarana yang dipergunakan dalam pelaksanaan tawur dibedakan di masing-masing tingkatan tersebut. Sesuai dengan Pedoman hari raya Nyepi 24 Maret 1993 sesaji caru yang diperlukan untuk masing-masing tingkatan adalah sebgai berikut

  • Tingkat Propinsi, Tawur Kesanga dilengkapi dengan prayascita dan sesayut Dirgayusa Gumi beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di Catuspata (persimpangan empat)
  • Tingkat Kabupaten, dilaksanakan Panca Kelud, 5 ekor ayam (ayam berwarna) ditambah dengan itik belangkalung, asu bangbungkem, beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di Catuspata.
  • Tingkat Kecamatan, dilaksanakan Panca Sanak, 5 ekor ayam (ayam berwarna) ditambah itik belangkalung beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di Catuspata.
  • Tingkat Desa, dilaksanak Panca Sata, 5 ekor ayam (ayam berwarna) ditambah itik belangkalung beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di catuspata atau di ujung hilir desa atau di jalan depan bale agung.
  • Tingkat Banjar, dilaksanakan Caru Eka Sata, seekor ayam brumbun, urip 33 (urip bhuwana) dan kelengkapannya.
  • Rumah umat masing-masing; di sanggah/merajan, menghaturkan peras, ajuman, daksina, canang lewangi, buratwangi, nunas tirta dan bija/beras kuning; di natar sanggah/merajan menghaturkan segehan nasi cacah 108 tanding ulam jejeron mentah, segehan agung a soroh, dengan tetabuhan arak, berem, tuwak dan toya anyar, dihaturkan/diayabkan kehadapan Sang Bhuta kala dan Sang Kala Bela/Kala Raja; di jabaan (pintu masuk halaman rumah) mendirikan/nancebang sanggah cucuk dan ngunggahang banten daksina, ajuman, peras, banten daksina tumpeng ketan, sesayut panyeneng, jangan-janganan/lauk kacang ranti dan kacang panjang. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelanan, canang dan sujang/cambeng yang berisi tuwak, arak beem, dan air bersih. Di bawahnya menghaturkan segehan agung a soroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam brumbun dan tetabuhan arak, berem, tuwak dan air tawar. Setelah selesai menghaturkan pecaruan semua anggota keluwarga dalam rumah tangganya masing-masing mabyakala, maprayascita dan natab sesayut lara melaradan di halaman rumah/ natah kecuali yang belum meketus.

Meskipun sarana dan prasarana yang digunakan pada tingkatan-tingkatan tersebut berbeda namun makna dari pelaksanaan caru atau tawur itu sebenarnya sama saja, yakni menetralisir kekuatan-kekuatan negatif alam semesta. Sarana dan prasarana yang berbeda hanya disebabkan oleh besar kecilnya upakara yang berhubungan dengan luasnya batasan upacara tawur atau caru itu. Di tingkat provinsi yang batasannya lebih luas digelar upacara tawur yang lebih besar (utama) dibanding tingkatan yang lain dan begitu seterusnya hingga sampai di tingkat paling sempit yakni rumah masing-masing umat dengan upacara yang paling sederhana (nista).

Pelaksanaan upacara tawur yang dilaksanakan di tingkat provinsi dipuput atau dihantarkan oleh tiga jenis pendeta atau sulinggih yang dikenal dengan tri sadhaka, yang terdiri dari peranda Siwa yang bertugas untuk menurunkan dewa-dewi (kekuatan positif), dan peranda Bujangga yang bertugas menaikkan derajat Bhuta (kekuatan negatif), dan peranda Buda yang bertugas menyatukan atau mempertemukan kedua unsur kekuatan tersebut di tengah-tengah sehingga kekuatan positif dan negatif tersebut menyatu dan menjadi stabil kembali. Petang hari atau sandi kala (pertemuan antara sore hari dan malam hari) pada hari tawur kesanga, sore harinya dikenal sebagai pengerupukan. Pada pengerupukan ini biasanya dimanfaatkan sebagai waktu pelaaksanaan parade ogoh-ogoh yang di buat oleh masing-masing sekehe truna truni (perkumpulan remaja) yang ada di desa masing-masing.


Nyepi (Sipeng)

Upacara Nyepi (sipeng) adalah rangkaian upacara yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu setelah tawur kesanga dilaksanakan. Upacara Nyepi yang jatuh setiap tahu ini dilaksanakan dengan mentaati Catur Brata Penyepian seperti yang telah dijelaskan di atas. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan tapa
brata dan upawasa (puasa), dan berusaha untuk mengintrospeksi diri terhadap apa yang telah diperbuat pada tahun sebelumnya.

Seperti apa yang disampaikan pada upanisad, dijelaskan bahwa Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya bersunyi-sunyi, bersunyi-sunyi bathin dengan melaksanakan semadi, tafakur, merenungkan perbuatan-perbuatan, tingkah laku kita di tahun yang telah silam; mulat sarira mengadakan introspeksi diri kepada diri atas dosa-dosa kekhilafan yang pernah dilakukan pada tahun lalu dengan tujuan untuk memperbaharui atau memperbaiki perbuatan, tingkah laku kita untuk di tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan Nyepi (sipeng) itu selain bertujuan untuk ajang mengintrospeksi diri juga diharapkan sebagai momen untuk berusaha memahami essensi diri atau jati diri. Hal ini dilakukan melalui jalan yoga samadhi, karena pada saat melakukan pelaksanaan yoga samadhi diharapkan umat mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri sehingga mampu memahami dirinya sendiri dan nantinya pada saat mengijak tahun baru umat mengerti akan dirinya sendiri sehingga mampu berbuat lebih baik dari sebelumnya.


Ngembak Geni

Rangkaian upacara terakhir hari raya Nyepi adalah Ngembak Geni yang dilaksanakan sehari setalah hari Nyepi (sipeng). Hari ini juga disebut sebagai hari labuh brata atau hari lebar puasa. Pada hari Ngembak Geni ini umat Hindu biasanya mengunjungi sanak-saudara guna bersilaturahmi dan saling maaf-memaafkan atas apa yang telah mereka perbuat selama setahun kebelakang.

Di Bali kegiatan tersebut dikenal dengan istilah mesimakrama. Selain bersilaturahmi, pada hari ngembak geni ini diharapkan tercapainya keharmonisan sesuai dengan Tri Hita Karana; hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan alam (palemahan), dan manusia dengan manusia (pawongan). Sehingga tahun baru benar-benar menjadi hari yang baru dan lembaran baru dalam menjalani hidup, karena semuanya telah dinetralisir dan mampu bekerja kembali sesuai dengan fungsinya masing-masing.


Mecaru dan Butha Kala

Mecaru adalah suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali sebagai salah satu wujud yadnya yang dikenal dengan istilah “Bhuta Yadnya” yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, tanah, cahaya, udara. Dalam golosarium tesis “Ogoh-Ogoh Dalam Ritual Nyepi : Sebuah Peristiwa Budaya Baru” karya Indrayana kata pecaruan, didefinisikan sebagai upacara Bhuta Yadnya yang ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai buta kala.

Dalam pelaksanaannya pada setiap acara mecaru selalu ada binatang yang dijadikan kurban. Semakin besar upacara pecaruan yang digelar maka semakin banyak binatang yang dikurbankan. Menurut kepercayaan Hindu hewan-hewan serta tumbuhan yang digunakan untuk upacara mecaru atau kurban akan mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi di kehidupannya mendatang.

Seperti apa yang disebutkan dalam kitab Manawa Dharma Sastra Buku V sebagai berikut :

Osadhyan pacwo wriksasti Yancah paksinastatha Yajnartham nidhanam praptah Prapnu wantyutsritih punah (40)

Tumbuh-tumbuhan semak pohon-pohonan, ternak, burung-burung dan yang lainya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dengan tingkatan yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.

Kata Bhuta Kala secara etimologi, berasal dari kata Bhu yang berarti unsur alam, dan Kala yang berarti energi atau kekuatan. Jadi dapat disimpulkan bahwa bhuta kala berarti unsur kekuatan atau energi alam (air, api, tanah, cahaya, udara/angin). Butha kala sering kali disimbolkan sebagai mahluk yang menyeramkan dan suka mengganggu umat manusia.

Hal ini disebabkan oleh pemvisualisasian masyarakat Hindu terhadap kekuatan unsur alam, misalnya jika air yang terlalu besar tentunya akan sangat berbahaya karena bisa menimbulkan banjir atau tsunami, angin yang besar bisa menimbulkan topan, cahaya yang besar bisa menimbulkan kebutaan dan kebakaran akibat panasnya, tanah dalam kekuatan besarnya dapat berupa longsor, dan api yang besar bisa menimbulkan kebakaran. Sehingga secara umum banyak yang beranggapan bahwa bhuta kala itu adalah setan atau raksasa yang membahayakan manusia karena mereka membayangkan unsur kekuatan alam tersebut ke dalam wujud manusia yang menyeramkan.

Dalam berbagai pustaka Hindu yang ada di Bali baik itu yang berupa ceritera-ceritera ataupun lontar (parwa, lontar lebur sangsa, yama tatwa, whidi sastra, purwa bumi kemulan) bhuta kala didefinisikan sebagai dewa-dewa, atma, atau roh-roh yang berdosa serta mendapatkan hukuman, turun ke dunia untuk mendapatkan penyucian, penebusan atau penyupatan. Ketika bhuta kala yang berada di dunia biasanya sering menimbulkan gangguan kepada kehidupan manusia.

Maka dari itu pecaruan yang merupakan upakara yang diperuntukan untuk menetralisir unsur-unsur negatif bhuta kala serta menyucikannya sehingga mampu kembali ke posisinya semula dan sebaliknya diharapkan nantinya para butha kala ini bisa membantu kehidupan umat manusia dalam memperoleh kemakmuran. Selain itu, seperti yang telah disampaikan sebelumnya caru juga diyakini oleh unat Hindu berfungsi untuk membantu binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan yang dipergunakan untuk persembahan tersebut mendapatkan posisi yang lebih tinggi di kehidupannya mendatang.


bersambung…bagian 2

Advertisements

One thought on “Ogoh-Ogoh – Antara Ritual dan Pertunjukan Seni (1)

  1. Pingback: Ogoh-Ogoh – Antara Ritual dan Pertunjukan Seni (2) | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s