Ogoh-Ogoh Lambang Bhutakala

Pengertian dan Asal Muasal Ogoh-Ogoh

Kata ogoh-ogoh berasal dari Bahasa Bali, diduga berasal dari kata ogah atau ogah-ogah yang artinya bergoncang.

Pada awalnya ogoh-ogoh dibuat pada waktu upacara Pitra Yajna, merupakan perwujudan sang kalayu sekar dan semeton catur. Ogoh-ogoh sang kalayu sekar berwujud manusia, berbusana akancut, akampuh, mampok-ampok, apepetet, anyungklit keris, abebadong, apatitis dengan rambut sasobratan atau agelung kakendon. Adakalanya berdestar, tetapi rambutnya tetap sasobratan, memakai gelangkana dan gelang kaki. Demikian pada umumnya ogoh-ogoh sang kalayu sekar, kalau yang meninggal orang laki.

Jika sang kalayu sekar wanita, busana dan atributnya disesuaikan busana dan atribut wanita. Polah pada umumnya silasana, angadeg, madhyaning ngekapada (perwujudan ogoh-ogoh sang kalayu sekar laki). Sedangkan kalau wanita atimpuh/wajrasana.

Ogoh-ogoh perwujudan sang kalayu sekar digunakan dalam prosesi Upacara Ngayehang Pitra dan Mamanah Tirtha Ening, posisinya di belakang tiga sampir. Sekembali dari ngayehang pitra atau mamanah tirtha ening, ogoh-ogoh perwujudan sang kalayu sekar ditaruh di natah, sebelah kanan dari sang kalayu sekar dibaringkan, dengan perlengkapan upakara dan eteh-eteh pangabenan. Pada hari subha dewasa pakutangan, ogoh-ogoh perwujudan sang kalayu sekar, dibawa ke setra dalam prosesi pakutangan. Setelah proses pembakaran sawa, sampai berwujud sekah dengan persembahan saji dan tarpana di bale salunglung dan kasapa dening wiku pamuput, lalu dibakar bersamaan dengan bade, wadah atau papaga.

Perwujudan sameton catur yang bersama-sama lahir dari guhagarbha (yeh nyom, rah, lamad dan ari-ari), dilambangkan dengan wujud Catur Bhutakala atau Cingkarabala, yakni : Sang Suratma, Sang Mahakala, Sang Dorakala dan Jogormanik.

Ogoh-ogoh Catur Bhutakala merupakan perwujudan Sameton Catur ini diletakkan di keempat sudut sanan wadah. Kalau papalihan wadah dalam tingkat yang lebih banyak, di atas sanan wadah yang paling bawah ini ogoh-ogoh Catur Bhutakala atau Catur Cingkarabala diletakkan. Di keempat sudut waton papalihan bade atau wadah itu diletakkan ogoh-ogoh Catur Widyadhara atau Widyadhari, penempatan perwujudan ogoh-ogoh seperti itu adalah lambang bahwa wadah/bade adalah merupakan proses perjalanan sang atman sang kalayu sekar, akan tiba di neraka atau sorga (bandingkan dengan perjalanan Sang Panca Pandhawa ke sorga dalam Swargarohanaparwa).

Pada waktu mengarak ogoh-ogoh, baik dalam prosesi upacara Ngayehang Pitra dan Mamanah Tirtha Ening, maupun pada saat subhadewasa pakutangan, pada waktu para pangayah negen ogoh-ogoh, negen bade/wadah, karena diguncang-guncangkan, diogah-ogah, lambang perwujudan Sang Kalayu Sekar, Catur Bhutakala/Cingkarabala, Catur Widyadhara/i, yang dipasang sedemikian rupa di keempat sudut sanan wadah, bergerak oyag-oyog atau ogah-ogah, sehingga lambang perwujudan itu disebut OGOH-OGOH.


Sarwa Bhutakala

Pada awal tahun 1980-an, secara sporadis di kota Denpasar dan sekitarnya, pada saat pelaksanaan Upacara Pangrupukan, Maorob-oroban, Masembar Tri Katuka, yang merupakan rangkaian dari Upacara Bhuta Yajna, tiba-tiba muncul prosesi ogoh-ogoh. Wujud lambang Bhutakala-nya pun amat beragam, mulai dari bhutakala, raksasa, danuja, daitya, asura, yathudana dan paisaca. Bahkan dalam tahun-tahun berikutnya muncul ogoh-ogoh kreasi, seperti : dinosaurus, bahkan ada produk teknologi baru, seperti Harley Davidson, pesawat ruang angkasa, yang kemudian banyak menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat, baik dalam forum formal seperti rapat-rapat, seminar, serasehan dan sejenisnya, sampai polemik di media massa, terutama media cetak.

Sebenarnya permasalahan itu tak perlu terjadi, kalau pihak yang berkompeten dan berwenang, mampu memberikan tuntunan berdasarkan konsep, aspek-aspek eksistensi bhutakala, mulai dari konsep lambang, filsafat, dalam berbagai wujud bhutakala itu yang terungkap dalam Dharmasastra dan Riptaprasasti, berbagai lontar di Bali, terutama lontar-lontar Mpulutuk Abhutayajna, maupun berbagai versi dan misi dan versi lontar Atmaprasangsa.

Tujuan menyomyakan sarwa bhutakala, saat persembahan dan pemujaan Tawur Agung Kesanga, sampai caru di karang sikut satak, setiap keluarga batih pada waktu Caitramasa (Tileming Sasih Kesanga). Karena keesokkan harinya, mulai dari prabhatakala (jam 06.00), suklapaksa, tang pisan, Sasih Kedasa, kita patut nyepiang Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, dengan Catur Brata Panyepiannya (amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan). Sehingga selaras sekali kalau yang disomyakan adalah sarwa bhutakala, karena yang disepikan itu bersifat total dan utuh (bhuwana agung dan bhuwana alit).

Berbagai lambang wujud bhutakala yang patut dibuat dengan atribut, warayang, polah sebagai pemurtian
Pancamahabhuta adalah permurtian Sang Kala Tiga Wisesa, yakni : Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat. Kalau ingin membuat lambang bhutakala saptawara, rinciaannya ada tujuh Bhutakala, seperti : Bhuta Ulusingha, Bhuta Ulu Kuda, Bhuta Ulu Gajah, Bhuta Ulu Lembu, Bhuta Ulupaksi, dan sebagainya.

Bhuta Kala pamurtian Dewata Nawa Sangha, adalah : Bhuta Abang – Dewa Brahma, mawarayang Dandha/Gada; Bhuta Ireng – Dewa Wisnu; mawarayang Cakra; Bhuta Jenar – Mahadewa, mawarayang Nagapasah; Bhuta Petak – Dewa Iswara, mawarayang Bhajra; Bhuta Sliwah/Bhuta Brumbun/Bhuta Mancawarna – Dewa Siwa, mawarayang Padma; Bhuta Dadu – Dewa Mahesora, mawarayang Dhupa; Bhuta Jingga – Dewa Rudra, mawarayang Moksala; Bhuta Wilis – Dewa Sangkara, mawarayang Angkus; Bhuta Biru – Dewa Sambhu, mawarayang Trisula. Demikianlah Bhutakala pamurtian Dewata Nawa Sangha, yang jumlahnya sembilan profil Bhutakala.

Disamping Bhutakala seperti tersebut di atas, ada pula jenis-jenis Bhutakala yang lain, seperti : Kamangmang, Tangan-Tangan, Bhuta Laweyan, Katugtug/Cokor-cokor, Basang-basang, Bhagamandala, Purusamandala, Tonya, Mamedi, Gamang, Bregenjong, Bregenjeng, Pangu-pangu, Bhuta Edan, bahkan ada Bhuta Solo (dalam lontar Saa).


Ogoh-Ogoh Saat Pangrupukan

Dalam pustaka lontar Sundarigama, dalam upacara Pangrupukan, Mabuu-buu, Maobor-oboran, Masembar Tri Katuka, hal itu harus dipatuhi, tidak ada mengemukakan kepatutan menggunakan Ogoh-ogoh. Tetapi kenyataannya telah membuktikan, pada awal tahun 1980-an, di lingkungan banjar-banjar, tiba-tiba muncul prosesi ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan. Tahun-tahun berikutnya telah mawabah sampai ke pelosok desa di Bali.

Di masing-masing banjar dimotori oleh Sekaa Truna/i. Selanjutnya perkembangannya sampai ke seluruh Nusantara, terutama di daerah-daerah transmigrasi. Bahkan sampai di Jakarta, di ibu kota Repubik Indonesia ini masyarakat umat Hindu penduduk Jakarta juga membuat ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan. Pada mulanya tumbuh sporadis, akhirnya membudaya bukan hanya di bumi Nusantara saja bahkan mendunia.

Ritual atau tradisi ini sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada krama Hindu dalam hal perayaannya, yang selalu hendaknya menjaga kesucian Rarahinan Nyepi, yang dilandasi dengan pikiran yang suci. Agar jangan suasana kesucian diganggu oleh keberadan ogoh-ogoh, yang dapat menimbulkan citra yang kurang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s