Mengenal Pura Dhang Kahyangan di Kabupaten Badung

Pura Dhang Kahyangan adalah merupakan bagian dari Kahyangan Jagat di Bali yang merupakan tempat suci untuk memuja Ida Sanghyang Widhi atau manifestasi-Nya.

Pura Petitenget

Oleh karena Pura Dhang Kahyangan merupakan Pura Kahyangan Jagat, maka Pura Dhang Kahyangan adalah pura-pura yang berstatus umum dan merupakan sungsungan jagat.

Semua Pura yang tergolong dalam Pura Dhang Kahyangan adalah pura-pura yang ada hubungannya/kaitannya dengan dharmayatra (perjalanan suci) Danghyang Nirartha.

Atas dasar keterangan di atas yang merupakan Hasil Paruman Sulinggih Parisada Hindu Dharma Indonesia Propinsi Bali Tahun 1997/1998, maka sebagai bahan acuan adalah Lontar Dharmayatra Danghyang Dwijendra dan Dwijendra Tattwa.

Secara ringkas perjalanan suci Danghyang Dwijendra di Bali dapat disampaikan sebagai berikut :

  1. Danghyang Dwijendra yang oleh masyarakat Hindu di Bali lebih dikenal dengan sebutan Padanda Sakti Wawurawuh, adalah seorang pendeta yang berasal dari Majapahit. Suatu ketika beliau mengadakan perjalanan suci ke Bali dengan diiringi oleh istri dan putra-putri beliau. Dalam penyebrangannya ke Bali beliau mendarat dengan selamat di lokasi Pura Purancak sekarang. Dari sini kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah timur dan sampai di Desa Gadingwani. Dari sini beliau kemudian melanjutkan perjalanannya sampai di Desa Kaba-Kaba dan selanjutnya akan menuju Desa Mas.
  2. Di dalam perjalanan beliau disambut oleh Bendesa Mundeh dengan maksud untuk berguru. Kemudian beliau berkenan memberikan ajarannya di Desa Mundeh. Sebagai rasa bakti dari masyarakat Desa Mundeh kepada Danghyang Dwijendra maka di sana kemudian didirikan sebuah bangunan suci yang diberi nama Pura Resi/Pura Kawitan Resi.
  3. Dari Desa Mundeh beliau melanjutkan perjalan ke arah timur laut, sampailah beliau di tempat yang ada mata airnya yang jernih dan sekitarnya ditumbuhi bunga yang beraneka warna. Tempat ini kemudian didirikan tempat suci yang diberi nama Pura Wulakan/Pura Tamansari, sedangkan desa sekitarnya disebut Mangopuri, berkembang menjadi Mangupuri dan lambat laun lebih dikenal dengan sebutan Mengwi. (Tucapa sang Pandita anyujur mangalor wetan laku nira, ring hawan katemu punang lwah ring samipaning nadi kulwan hana wulakan, wenya atyanta maha pawitra, maha tis, ring pinggirnya rinengga ring sarwa kusuma manedeng sari, angambwakan gandha, sumar amerik angasepi irung, turah-turahnya tuhun mangarasmin, angasoraken langoning sasih Kapat, dadya kandeg ta sira salila, sarwa angelaraken yoga samadhi, dinuluran pujastuti mwang japa mantra utama, kunang unggwaning ayoga, teher ingaranan Pura Wulakan, Pura Tamansari namanira waneh, mwah sahitering Pura ika, sinung aran Manghopura, yadyapi Mengharajya).
  4. Selanjutnya oleh Bendesa Kapal beliau dimohon datang ke Desa Kapal, untuk memimpin upacara pujawali di Purasada Kapal. ( ………….karengwa pwa de Ki Bandesa Kaphal turunan ikeng Patih Ulung, yan sira sang Pandita hana ngkaneng Menghapura, sighra-sighra pwa ya amedek ingkana, anuhur sang Pandya, dadinya sumimpang ring Purasada ring desa Kaphal. ……… ri samangkana atur Ki Bandesa Kaphal, sukha sira sang Pandya kadi panuhuranira Ki Bandesa, tan titanen ring hawan, saksana dateng ring Kaphal, tumuli sang Resi umanjing ring jeroning parhyangan, tur alungguh ring piyasan ring ulon, tumuli Danghyang Dwijendra andiksani swakaryane ring Purasada).
  5. Dari Desa Kapal beliau melanjutkan perjalanan menuju Desa Tuban. Demikianlah perjalanan Danghyang Dwijendra akhirnya sampai di Desa Mas.
  6. Berita tentang perjalanan Danghyang Dwijendra tersebar sampai di Puri Gelgel Klungkung. Pada waktu itu yang memerintah di Gelgel adalah Raja Dalem Waturenggong. Danghyang Dwijendra kemudian diminta agar berkenan tinggal di Gelgel untuk membimbing sang raja dalam bidang keagamaan. Di sini Danghyang Dwijendra tinggal cukup lama, sampai Dalem Waturenggong berguru dan disucikan. Setelah cukup lama di Gelgel, beliau mohon diri pada sang raja, untuk melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai Pulau Bali.
  7. Diceritrakan setelah Danghyang Dwijendra sampai di daerah Jembrana, suatu ketika beliau lewat di depan suatu Parhyangan. Oleh penjaga parhyangan tersebut Danghyang Dwijendra diharuskan untuk menghaturkan sembah. Kalau tidak, dikhawatirkan nantinya akan diterkam oleh harimau dalam perjalanan. Pada mulanya beliau tidak mau, karena dipaksa akhirnya mau juga. Namun ketika beliau menghaturkan sembah dihadapan pelinggih Parhyangan tersebut, tiba-tiba saja bangunan tersebut roboh. Melihat kejadian itu penjaga Parhyangan menjadi takut dan akhirnya mohon maaf atas segala kesalahannya. Disamping itu ia juga minta agar Danghyang Dwijendra berkenan memperbaiki bangunan tersebut. Sebagai rasa hormatnya kepada Danghyang Dwijendra untuk bisa dijadikan sungsungan di tempat tersebut. Danghyang kemudian memberikan beberapa helai rambutnya untuk disungsung di sana, sehingga tempat tersebut sekarang bernama Pura Rambutsiwi.
  8. Selanjutnya Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai, dengan bekal seperlunya, sampailah beliau pada sebuah tebing yang tinggi, amat indah serta menawan hati, sehingga beliau berkeinginan untuk mendirikan Parhyangan di sana. Ketika itu datanglah para bendega sedang menangkap ikan, merekalah diberi tahu oleh sang Pendeta, mendirikan Parhyangan, di atas tebing yang indah itu, Parhyangan itu disebut Pura Pakendungan, di wilayah Tabanan. Dari sini terus bergerak ke arah perbukitan di bagian selatan Pulau Bali. Di daerah perbukitan itu kemudian beliau beryoga dan beliau mendirikan parhyangan yang disebut Pura Uluwatu. Disamping itu beliau mendirikan sebuah Pangasraman, disebut Pangasraman Bukit Gong. Dari Uluwatu beliau melanjutkan perjalanan ke timur melalui daerah yang berbukit-bukit sampailah beliau di Guha Batu Pageh, terus menuju Bwalu, menyusur pantai selatan. Daerah ini merupakan daerah yang kering dan tandus sehingga perjalanan tersebut amat melelahkan bagi Danghyang Dwijendra. Selanjutnya beliau melepaskan lelah di daerah perbukitan yang agak menjorok ke laut. Saat Danghyang Dwijendra bermaksud untuk mensucikan diri. Namun daerah ini amat kering, sehingga sulit untuk mendapatkan air. Akhirnya beliau menancapkan tangkai payungnya di tanah. Dari tempat itu akhirnya keluar air yang amat jernih dan suci. Air inilah nantinya dipergunakan untuk mensucikan diri. Di tempat ini pula didirikan sebuah bangunan suci yang bernama Pura Gunung Payung. (Dalam pustaka Dharmayatra Danghyang Dwijendra, disebutkan : ” ….. raju sira umungsi ring Bwalu, jumujug ring tembinging samudra, kidul wetaning Bwalu, hana menjot, ri ngkana sira araryan tur tinancebaken catranira ngkana, saksana hana metu banyu sumirat sakeng patancebaken nikang payung, ika pinaka pasocanira, pinariwreta ikang sindhu dening wwang, ngkana unggwaning amertha, teher inaranan Pura Bukit Payung, kateka-tekeng mangke”).
  9. Dari Bukit Payung beliau menuju arah utara di pinggir pantai, tidak jauh dari sana ada dua Giliwatu (pulau kecil) , di sana beliau istirahat, serta mengarang Kakawin Anyang Nirartha.
  10. Setelah Danghyang Dwijendra melanjutkan perjalanannya sampailah beliau di Gelgel. Entah berapa lamanya tinggal di Gelgel, beliau mohon diri kepada Dalem Waturenggong, untuk pergi ke Mas, dengan tujuan mensucikan (apodgala) para putra-putranya. Adapun setelah putra-putranya didiksa dengan membagikan semua harta keliliran, lalu beliau melanjutkan perjalanan, meninggalkan Desa Mas, menuju arah pantai, dekat Pura Masceti, beliau memuja dengan kusuk, sehingga Ida Bhatara Masceti mendekati Danghyang Dwijendra, berupa “teja makalangan” dan beliau berdialog dengan Bhatara Masceti. “Tan wenang Danghyang mangubhakti reh sampun siddha sakahyun, Sanghyang Brahma masarira, sang wiryasa, sujati sampun patut ngungsi acintya bhuwana, punapi mawinan Danghyang seneng ring Bali“, mangkana Danghyang mirengang wacana Bhatara Masceti. (Tidak wajar Danghyang menyembah, karena sudah berhasil segala yang diinginkan, karena telah berbadankan Sanghyang Brahma, amat mulia, sungguh semestinya sudah menyatu dengan Hyang Widhi. Apa sebabnya Danghyang senang tinggal di Bali ?”, demikianlah sabda Bhatara Masceti).
  11. Danghyang Dwijendra menjawab, ” Titiang kari ngantos paswecan Hyang ring titiang (Hamba hanya menunggu petunjuk Hyang Widhi)”. Bhatara Masceti memberikan petunjuk, “Kelod kawuh Rudrane malingga. (Di barat daya stana dewa Rudra)”.
  12. Entah berapa lamanya Danghyang Dwijendra bersama Bhatara Masceti melalui Desa Serangan dan sampailah beliau di Desa Krobokan.
  13. Tak terduga beliau sampai di pantai barat Krobokan, Danghyang Dwijendra melihat sebuah bukit menjorok ke laut, layaknya perahu yang siap untuk mengantarkan penumpangnya menuju langit Siwa loka untuk moksah. Bhatara Masceti memaklumi pikiran Danghyang Dwijendra dan beliau berkata, “Danghyang titiang maninggalin, apan jati tuara dadi ajak dadua ka luhur, da dwapara dadinya, yan dwapara tan sidheng kapti sane katuju, katon sikiang jiwa elingang
  14. Mendengar pesan Bhatara Masceti, Danghyang Dwijendra amat berbahagia. Beliau akan bersiap-siap ke Uluwatu, lalu peti
    pacanangannya, tempat sirihnya ditaruh di tempat itu. Kebetulan beliau melihat Ki Bhuta Ijo, bersembunyi di semak-semak. Danghyang Dwijendra berdialog dengan Ki Bhuta Ijo, sebagai berikut, “Bhuta Ijo iba mai dini paekang da takut“. I Bhuta Ijo manyembah, manegak ipun manangkil, wiyakti manguntul. Danghyang raris mawacana, “Ih Bhuta Ijo iba mangebag pacanangan manirane dini, yan hana wang apti angrusak iba ngamusuhin“. I Bhuta Ijo mangiring, manyumbah raris matur , “titiang nunas sasikepan sanjatayang titiang mangemit“. Raris kaicen mantra mandi kawisesan. Danghyang malih ida mawacana, “petin manirane didi jani Bhuta Ijo manengetang, apan iba suba sakti, jani nira ngawastanin tegale dini madan petitenget, kawuwus wastanya kateka-tekeng mangke“.
  15. Berdasarkan uraian di atas bahwa di areal terjadinya Pura, yang mana Danghyang Dwijendra menaruh pacanangannya dan dikawal oleh Ki Bhuta Ijo. Pacanangan tempat sirih, berupa sebuah peti dan dikeramatkan, yang dalam bahasa Bali disebut “tenget” atau keramat, sehingga daerah tersebut diberi nama Petitenget yang artinya peti pacanangan yang keramat/kotak sirih yang keramat.
  16. Setelah beliau menitipkan pacanangan kepada Ki Bhuta Ijo, beliau melanjutkan perjalanan ke Uluwatu. Di tempat inilah beliau menyatukan jiwa raga dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk moksah.
  17. Diceritrakan kembali Ki Bhuta Ijo yang mendapat tugas menjaga pacanangan Danghyang Dwijendra. Ki Bhuta Ijo sangat setia menjaganya, setiap orang yang datang ke tempat itu, kembalinya pasti sakit, bahkan sampai meninggal. Karenanya Kelihan Krobokan berusaha membantu warganya. Kebetulan Kelihan, mendengar berita tentang keberadaan Danghyang Dwijendra di Uluwatu. Kelihan segera berangkat ke Uluwatu, menghadap Danghyang Dwijendra, tiba di sana duduk dan menghaturkan sembah, seraya mengatakan, “Hamba Kelihan Krobokan, menghadap hendak memohon hidup, masyarakat Krobokan semuanya mengalami kesusahan dan kesakitan. Memang benar ada tegal, namun mendatangkan kesengsaraan, tak tahu penyebabnya”. Menjawablah Danghyang Dwijendra : “Pacananganku ada di sana dijaga oleh Ki Bhuta Ijo, siapapun ke sana pasti takut dan ngeri. Ki Bhuta Ijo penyebabnya. Sekarang buatlah sebuah Gedong tempat Bhatara Masceti, dahulu bapa bersama beliau dapat mampir ke Sakenan lalu ke Krobokan. Tiba di sana pacanangan itu bapa taruh. Ki Bhuta Ijo yang menjaganya. Dialah yang mengkramatkannya, sebabnya disebut Petitenget. Berikanlah persembahan kepada ki Bhuta Ijo, berupa jeroan babi mentah, dilengkapi dengan segehan agung, matabuh tuak arak, sajikan pada saat Pujawali. Jika sudah diberi caru, berhentilah Ki Bhuta Ijo berbuat demikian. Senanglah ia memberikan perlindungan dan keselamatan dan buatkanlah pelinggih”. Senanglah hati Kelihan Krobokan lalu menyembah mohon diri, kembali pulang ke Krobokan.
  18. Kembali diceritrakan tatkala Danghyang Dwijendra, dimohon untuk datang ke Gelgel oleh Dalem, lalu beliau melakukan perjalanan dari Pulaki menuju timur, melalui dataran tinggi, pada suatu ketika sampailah beliau di pegunungan Carangsari, beliau beristirahat di ujung tertinggi suatu dataran tinggi (pucak). Pada saat beliau melanjutkan perjalanan, pajeng/tedung yang dibawanya ketinggalan di pucak tersebut, maka itu dataran itu disebut Pucak Tedung dan Pura yang dibangun disebut Pura Pucak Tedung. Di tempat ini beliau memberikan anugrah kepada orang-orang desa, yang merupakan pangemong Pura Pucak Tedung, dalam upacara penguburan/pembakaran mayat, dapat memohon air suci (nunas tirtha) yang disebut dengan Tirtha Pangentas. Rupa-rupanya dalam perkembangan selanjutnya karena untuk sampai di Pucak Tedung (saat itu) amatlah sulit, lalu dibuatkanlah penyawangan di Desa Kerta, yang disebut Pura Panataran. Untuk masyarakat Desa Petang, Desa Kerta, diperkenankan memohon tirtha pangentas di Pura Panataran.

Berdasarkan uraian ringkas Dharmayatra Danghyang Dwijendra, yang ada kaitannya dengan Pura Dhang Kahyangan di Badung, adalah sebagai berikut ;

  1. Pura Wulakan/Pura Tamansari, di Banjar Alangkajeng, Mengwi.
  2. Purasada, di Desa Kapal, Mengwi.
  3. Pura Gunung Payung/Pura Bukit Payung, di Desa Kutuh, Kuta Selatan.
  4. Pura Uluwatu dengan Goa Gong, di Desa Pecatu, Kuta Selatan.
  5. Pura Guha Batupageh, ring Desa Ungasan, Kuta Selatan.
  6. Pura Petitenget, di Desa Krobokan, Kuta Utara.
  7. Pura Pucak Tedung, Desa Sulangai, Petang
Advertisements

One thought on “Mengenal Pura Dhang Kahyangan di Kabupaten Badung

  1. Pingback: Pura Kahyangan Jagat | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s