Tumpek Landep – Penghormatan Dewa Brahma dan Unsur Besi

Pada hari ini, Sabtu Keliwon Landep, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Landep. Tumpek Landep yang jatuh tiap 210 hari sekali, merupakan Tumpek pertama yang dirayakan dalam sistem kalender pawukon Bali.

Rerahinan Tumpek jatuh tiap hari terakhir, Saniscara (Sabtu) yang panca wara-nya juga yang terakhir, bertepatan dengan Kliwon. Oleh karena bertemunya sapta wara yang terakhir dengan panca wara yang terakhir maka beberapa kalangan mengartikan tumpek sama dengan tumpuk, puncak, atau ujung. Beberapa kalangan lagi mengatakan kata tumpek berasal dari kata “tu (metu)” yang berarti lahir dan “pek” yang berarti putus atau berakhir. Jika ditinjau dari nilai (urip) hari, hari Sabtu (Saniscara) mempunyai 9 yang merupakan nilai tertinggi dalam Sapta Wara. Sementara dewa yang berkuasa pada hari tersebut adalah Dewa Brahma.

Dalam pengertian Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta, maka dapat ditafsirkan rainan Tumpek merupakan hari kelahiran segala sesuatu yang ada, yang diciptakan, bertumbuh dan berkembang di alam semesta ini. Oleh karena itu, inti dari rerainan ini adalah penghormatan terhadap Dewa Brahma, melalui ciptaannya : segala unsur bumi dan teknologi, tumbuh-tumbuhan, binatang, kesenian, manusia, maupun leluhur-leluhur kita.

Kata Landep, dimaknai sebagai sesuatu yang runcing, yang kuat dan bertenaga. Sehingga, pada hari Tumpek Landep dipakai sebagai media penghormatan terhadap unsur bumi yang merupakan sesuatu yang berbahan baku dari logam, seperti besi, baja, emas, perak, tembaga. Juga termasuk hasil teknologi seperti, aneka mesin, elektronik, otomotif, dan pesawat. Juga termasuk peralatan upacara, senjata, alat kesenian dan rumah tangga seperti keris, tombak, gong, gender, dan lain-lain. Untuk kalangan Pande (pembuat senjata-red), selain mengupacarai alat-alat dari besi, juga yang diupacarai adalah Perapen (tempat pembakaran besi).

Di beberapa tempat di Denpasar, pelaksanaan hari Tumpek Landep biasanya dimulai dengan membersihkan benda-benda yang akan diupacarai. Pembersihan ini bisa dilakukan dengan air (ada yang dengan air kumkuman) atau minyak (ada juga yang dengan minyak cendana/wewangian untuk keris/tombak atau senjata pusaka). Setelah bersih dipakaikan kain (tergantung kebiasaan setempat) dan diberi sasap gantung-gantungan, yaitu sebuah bentuk sampian dari janur yang berisikan daun dapdap yang berfungsi sebagai penglukatan dan pasupati.

Banten yang disiapkan untuk upacaranya yang paling sederhana adalah sejenis banten yang disebut dapetan. Dalam banten dapetan ini, yang membedakannya dari banten dapetan yang biasa dipakai dalam upacara-upacara lainnya adalah sampian nagasari-nya terbuat dari daun endongan, sering juga disebut plawa yang memiliki unsur warna merah.

Nasi tumpeng yang dipakai adalah nasi tumpeng berwarna merah, demikian juga ayam yang dipersembahkan adalah ayam biing atau merah. Juga dilengkapi dengan segehan warna merah. Untuk upacara yang lebih besar biasanya dilengkapi dengan banten sayut pengambian. Di beberapa tempat di Gianyar, banten yang dipakai adalah tebasan, prasita durmangala, banten pebayuh dan satu soroan dengan tujuh tumpeng. Dilengkapi dengan segehan berwarna merah, yang bermakna pemujaan terhadap Dewa Brahma.

***

Pemaknaan Tumpek Landep sebagai pemujaan terhadap Dewa Brahma, Dewa Api dan Pencipta sejajar dengan pelaksanan odalan untuk Ida Ratu Pande di Pura Besakih yang digelar saat Tumpek Landep. Kata Brahma berasal dari akar kata “brh” yang berarti tumbuh, berkembang, berevolusi, yang bertambah besar, yang meluap dari dirinya sendiri.

Brahma adalah manisfestasi Ida Sang Hyang Widhi pada waktu mencipta diwujudkan bermuka empat yang menghadap ke segala penjuru mata angin. Dewa Brahma juga dijuluki Dewa Agni, yaitu manisfestasi Tuhan yang memberikan kekuatan dan menguasai api. Api adalah bentuk energi yang mengisyaratkan bahwa untuk menciptakan sesuatu harus memiliki energi. Tanpa energi, tidak akan pernah tercipta sesuatu apa pun. Sebab, dalam Hindu ada kepercayaan adanya keselarasan antara buana agung dan buana alit, maka dalam diri manusia pun ada api.

Pemakaian tumpeng, ayam, segehan dan daun berwarna merah identik dengan Dewa Brahma dilambangkan dengan warna merah, yang merupakan warna api. Di dunia, warna merah ditunjukkan oleh munculnya matahari di ufuk timur yang ditandai dengan warna merah, begitu juga saat malam menjelang. Api dapat dipahami sebagai suatu bentuk energi, yang menjadi kekuatan dari penciptaan.

Selain memuja Dewa Brahma, beberapa kalangan memaknai hari Tumpek Landep sebagai media pemujaan terhadap Siwa dalam wujud Pasupati, yang memberi jiwa segala ciptaan di dunia. Tentang perayaan Tumpek Landep sebagai pemujaan terhadap Pasupati termuat dalam Lontar Sundarigama yang berbunyi sebagai berikut:

Adapun pada hari Sabtu Kliwon Wuku Landep, merupakan pujawali Batara Siwasambada dan juga sebagai payogan beliau Sang Hyang Pasupati serta pujawali Batara Siwa, persembahan upakaranya terdiri atas tumpeng putih kuning selengkapnya dengan memakai lauk berupa sate, terasi merah, daun dan buah-buahan 29 tanding dipersembahkan di sanggah (tempat suci). Ke hadapan Sang Hyang Pasupati, upakaranya terdiri atas sesayut pasupati, sasayut jayeng perang, sasayut kusumayudha, suci, daksina, peras, ajuman, canang wangi dan pebersihan. Dimohonkan agar semua senjata-senjata perang menjadi runcing dan tiap dipergunakan nantinya mendapatkan kekuatan yang tajam serta pikiran yang kuat, demikianlah yang dimohonkan supaya menjadi bermanfaat dengan baik, pengetahuan dalam panah-memanah sampai pula pada pakaian perangnya.

Pelaksanaan upacara Tumpek Landep tidaklah sama pada tiap daerah. Tetapi, makna yang terkandung di dalamnya nampaknya sama. Yakni, lewat upacara ini manusia diingatkan akan proses penciptaan Tuhan, kemudian disertai dengan penajaman, atau pemberian jiwa kembali, sehingga yang telah tercipta tersebut berguna untuk kesejahteraan dan keselamatan, bukan malah menghancurkan kehidupan. Bila kemudian manusia Bali mempersembahkan sesajen (banten) pada benda-benda teknologi tersebut, tentu bukan berarti manusia Bali memuja atau menyembahyangi benda tersebut, melainkan mengucap puji syukur ke hadapan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Brahma yang telah menciptakan semuanya dan Hyang Pasupati, yang telah memberi jiwa.


Sarana yang Perlu Disiapkan

  1. Membersihkan benda-benda yang akan diupacarai dengan air atau minyak.
  2. Setelah bersih dipakaikan kain (tergantung kebiasaan setempat) dan diberi sasap gantung-gantungan yang berisikan daun dapdap yang berfungsi sebagai penglukatan dan pasupati.
  3. Disiapkan banten dapetan. Dalam banten dapetan ini, yang membedakannya dari banten dapetan yang biasa dipakai dalam upacara-upacara lainnya adalah sampian nagasari-nya terbuat dari daun endongan atau plawa yang memiliki unsur warna merah.
  4. Nasi tumpeng yang dipakai adalah nasi tumpeng berwarna merah, demikian juga ayam yang dipersembahkan adalah ayam biing atau merah. Juga dilengkapi dengan segehan warna merah. Semua warna merah ini bermakna pemujaan terhadap Dewa Brahma.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s