Dharma Wacana – Kedamaian Hati

OM Suastiastu.

Kehidupan di dunia ini adalah amat rumit dan banyak masalah. Dalam menghadapi kerumitan itu, merasa susah, merasa jengkel, putus asa dan lain-lainnya. Bila seseorang bertemu dengan kekasihnya, maka sesaat ia merasa berbahagia, seolah-olah dunia ini sorga adanya. Setelah itu ia berpisah dan diumpat, maka ia menjadi jengkel dan kalap, dunia ini dianggap gelap adanya. Setiap orang mengalami persentuhan dengan dunia ini menjadikan mereka mengadakan jawaban terhadap sentuhan itu yang selalu menimbulkan gejolak dalam hatinya.

Bila pemikiran orang diarahkan dengan dunia luar saja, maka ia akan selalu menjadi resah dan tidak mengalami kedamaian hati. Sentuhan dengan dunia luar inilah akan membawa akibat harga diri, sifat keakuan, ingin kekuasaan dan sebagainya.

Semuanya itu bukanlah bentuk-bentuk dari kedamaian hati. Walaupun susah dan senang adalah merupakan kenyataan dalam hidup ini namun orang perlu mengatasinya, guna mendapatkan kedamaian hati.

Untuk itulah orang hendaknya memandang ka dalam dirinya sendiri, memandang sang pribadi secara jujur, yang merupakan jati dirinya, yang benar dan yang tak dapat ditipu. Bila orang dapat menemukan sang diri, mendengarkan kata hatinya, ia niscaya akan mendapatkan ketentraman. Oleh karena itu menjadi manusia janganlah terlalu loba pada dunia ini, karena selama loba menguasai, selama itu juga keresahan meliputinya.

Maka itu kita perlu istirahat sewaktu-waktu, duduk tepekur menenangkan diri, menjalankan kebajikan, seseorang akan bertemu dengan kedamaian dan Tuhan akan mendekat. Sumber ketenangan berada dalam diri. Tuhan tidak jauh tempatnya dari diri sendiri. Bila ia tidak dijumpai dalam diri sendiri, maka dimanapun juga ia tak dapat dijumpai. Maka itu untuk mendapatkan ketenangan, ketentraman adalah dengan jalan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan.

Ajaran tentang pendekatkan diri dengan Tuhan adalah merupakan ajaran penghayatan agama. Karena agama selalu mengajarkan kebenaran dan mengajak orang untuk berbuat kebenaran. Namun sampai di mana orang berbuat kebenaran, tergantung dari penghayatan orang terhadap petunjuk-petunjuk agama.

Jadi dengan demikian dan disertai dengan penuh keyakinan, maka agama akan tetap hidup mewarnai corak hidup masyarakat.

Agar geraknya masyarakat sesuai dengan tujuan itu maka itu perlulah adanya pemimpin yang memimpin. Seperti mobil agar tentu jalannya perlu adanya sopir yang mengendalikannya.

Demikian juga halnya manusia. Setiap orang adalah pemimpin, setidak-tidaknya pemimpin dirinya sendiri. Memimpin diri sendiri amatlah sulit, karena diri sendiri itu amat bengal dan selalu bergejolak. Orang-orang yang tidak dapat memimpin dirinya sendiri, akan goyang pendiriannya dan karena itu akan mudah diperbudak oleh nafsu jahat.

Demikian juga memimpin orang banyak bukanlah suatu hal yang mudah. Karena mempunyai kekuasaan, kadang-kadang pemimpin itu bisa takabur. Kesempatan memimpin digunakan menuruti hawa nafsu, sehingga lupa akan dirinya. Iapun menjadi pencuri tersembunyi dan menindas orang lain.

Apabila demikian halnya maka hanya kehancuranlah yang akan ditunggu, karena kebenaran tidak bisa diajak begitu. Oleh karenanya menjadi pemimpin terletak nasib sekumpulan orang. Apakah baik atau buruk nasib itu tergantung dari pemimpinnya. Supaya pemimpin itu baik, agamalah harus dipedominya, supaya menjadi orang yang bermoral, berbudi pekerti yang luhur serta mulia, serta menjadi panutan. Seorang pemimpin haruslah orang yang arif bijaksana, dapat menahan diri, jujur, suka bekerja. Pemimpin itu bukanlah tukang debat, suka membuat masalah, tetapi tidak pernah menyelesaikan masalah dengan berdasarkan kebenaran yang membawa kedamaian hati.

Jadi untuk mencapai kedamaian hati, agama harus menjadi pedoman.

OM Santih Santih Santih OM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s