Pura Ulunswi – Status, Fungsi, Identitas, Upakara dan Upacara

Status Pura

Menurut Lontar Uttara Kanda Dewa Purana Bangsul, lembar ke-28 disebutkan sebagai berikut :

“Ikang aneng nagara krama, ikang Sad Kahyamngan pupul nya mulih, maring Ulunswi, rumaksa uriping sawah kabeh, ikang pwa dharma Ulunswi , dadi bandanganing wong Bali……..”

Maksudnya :

“Adapun yang berada di masyarakat, Sad Kahyangan itu kumpulnya kembali di Ulunswi menjaga jiwanya sawah semua adapun Pura Ulunswi itu, adalah pengikatnya orang Bali………..”

Menurut Lontar Usaha Dewa, lembar ke-17, disebutkan sebagai berikut :

“……….Sang Bhakabhumi anyeneng ring Ulunswi ika maka uriping sawah, pakenenya, kebo cemeng pamapage nuju sasih kapat bandhangan wong Bali ika……….”

Maksudnya :

“……….Sang Bhakabhumi bersthana di Ulunswi, itu menjadi jiwanya sawah, acinya kerbau hitam panyungsungnya, ketika sasih kapat, pengikat orang Bali itu………”

Di dalam Lontar Çri Purana lembar ke-38, disebutkan sebagai berikut :

“………malih ring Bali wenten Bhatarane ngamong bhaga sawah, ika Bhatara urubing geni parabe, alingga ring Badugul, Gunung Pangelengan, Bharata Indra Bhumi malinggih ring Ulunswi gunung idane Gunung Tuluk Biyu ring Trunyan……..”

Maksudnya :

“………lagi di Bali, ada Bhatara yang memegang ladang dan sawah, itu Bhatara Urubing Geni namanya, bersthana di Bedugul, Gunung Beratan, dan di Gunung Pangelengan. Bhatara Indra Bhumi bersthana di Ulunswi, gunung beliau Gunung Tuluk Biyu di Trunyan………”

Dari ketiga urutamn lontar di atas, ditambah pula dengan keterangan-keterangan lontar-lontar yang menyangkut historis pura itu, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa Pura Ulunswi di Jimbaran adalah Pura Tua dan sejajar dengan Sad Kahyangan di Bali berfungsi khusus yakni sebagai jiwanya sawah dan ladang di Bali.


Fungsi Pura

Fungsi Pura Ulunswi itu sudah jelas dikemukakan di dalam lontar-lontar Kusuma Dewa, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Sri Purana, adalah sebagai Jiwanya Sawah dan Ladang di Bali.

Untuk lebih jelasnya, di sini dicantumkan lanjutan dari kutipan lontar-lontar tersebut sebagai berikut :

Lontar Usaha Dewa lembar ke-18 :

“…….asing mangecak acine di Ulunswi makadi panyungsunge di Mas Ceti, makadi Rambut Sadhana, Bhatara Istri, mogha tan pamukti sarining sawah, uwung ring pejangan, ring depukan, ring catwan, pangan kinum, mantuk ring bhatara ring gunung agung, ring batur, sarining sawah ika, trak ikang bhuwana akweh sasab merana, manusa kali sangsara……”

Maksudnya :

“……..setiap tidak melaksanakan upacara di Ulunswi dan juga panyembahan di Mas Ceti dan juga Rambut Sedhana, Bhatara Istri, berakibat tidak mengecap hasil sawah, hampa dipejangan, didepukan, dicatuan, makanan dan minuman, kembali kepada Bhatara Gunung Agung, hasil (sari) sawah itu, melese/kekeringanlah bhumi, banyak hama wereng, orang berjiwa kalut………”

Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, lembar ke-31 dan 32 :

“…….yan angen-cak pangaci-aci kadewa ika kabeh makadi pangaci ring Kahyangan Ulunswi, winastu de Bhatara kabeh, ingamet sarining pari, mwang sarining tetanduran ring sawah kabeh, karananiya tan dadi, tan mupu, wastu uwung ring pasawahan, wung ring pangalapan, uwung ring tenahan, ring depukan, ring jirang, ring pulu, ring ceeng, uwung ring paruk, terus uwung ring weteng, apan tan pasari mertha, wus kalap de bhatara gimawa mantuk maring Gunung Agung, kalumbarin ingon-ingon Bhatara sarwa merana kabeh, tekapte ya lumarep mangrusak sarwa tinandur………”

Maksudnya :

“…….Bila tidak melaksanakan upacara kepada dewa itu semua, demikian pula upacara di kahyangan Ulunswi dikutuk oleh Bhatara semua, karena itu tidaklah menjadi, tidak berhasil, berakibat hampa di sawah, hampa pada ikatan padi, lumbung, di tempat beras, di takaran, hampa di periuk, menerus hampa di dalam perut, karena tidak berisi sari/mertha, sudah diambil oleh Bhatara, dibawa kembali ke Gunung Agung, disebari segala wereng yang dipelihara oleh Bhatara semua datanglah Wereng itu, memasuki segala tanaman………”

Lontar Çri Purana lembar ke-1 :

“……..sapungkure sang bhakabhumi, menyeneng ring Ulunswi, ika mangraksa uriping sarining sawah, ageng pakenane, kebo cemeng, pamapage, nangken, sasih kapat, bandangan, wong Bali ika………..”

Maksudnya :

“……….Kemudian sang Bhakabhumi, bersthana di Ulunswi, itu memegang jiwa dan badan dari sawah, besar upacaranya, kerbau hitam panyongsongnya tiap sasih ke 4 pengikat orang Bali itu………..”


Identitas Pura

Pura Ulunswi di Jimbaran adalah pura induk dan mempunyai pesimpangan-pesimpangan di beberapa tempat yang juga bernama Pura Ulunswi, dan juga berfungsi sama yakni sebagai pemegang jiwa sawah dan ladang, seperti :

  • Pura Ulunswi di Desa Seseh, Kecamatan Mengwi
  • Pura Ulunswi di Klungkung
  • Pura Sri Jong di daerah Tabanan
  • Pura Pakendungan di daerah Tabanan
  • Pura Ulunswi di Moncos


Penyungsung Pura

Secara historis dan menurut keterangan dalam lontar-lontar tersebut di atas bahwa Pura Ulunswi di Jimbaran adalah “Bhandangan Wong Bali” atau pengikat orang Bali yang berfungsi khusus di bidang persawahan dan perladangan. Pada jaman kebesaran Kerajaan Mengwi dahulu, pura itu menjadi penyungsungan Kerajaan Mengwi yang kemudian lalu dilimpahkan dan menjadi penyungsungan Kerajaan Badung.

Disebabkan oleh perkembangan jaman dan perubahan-perubahan sistem pemerintahan di Bali, lalu kenyataan sekarang Pura Ulunswi itu diamong dan disungsung oleh Desa Jimbaran yang terdiri dari 9 banjar sedangkan masyarakat di luar Jimbaran, datang ke sana secara insidentil dalam hubungan mohon keselamatan bagi tanam-tanaman di sawah maupun di ladang.

Pemedek dari luar Desa Jimbaran yang sering datang ke Pura Ulunswi itu, ialah para Pekaseh, Subak dan Krama Carik, untuk memohon keselamatan tanaman di sawah atau di lingkungannya masing-masing.


Denah dan Susunan Pelinggih

Pura Ulunswi di Jimbaran menghadap ke timur seluruhnya, berbeda halnya dengan pura pada umumnya di Bali. Diduga bahwa adanya pelinggih-pelinggih yang keseluruhannya menghadap ke timur itu adalah pertanda bahwa pura itu berkiblat ke Gunung Semeru di Jawa Tengah, yang menurut “Lontar Tantu Panggelaran” sebagai sthana Bhatari Pasupati. Hal ini ada persesuaiannya dengan Pura Gunung Rawung di Desa Taro yang palinggihnya menghadap ke Timur, karena berkiblat ke Gunung Rawung di Jawa Timur (Pura Tua). Kemungkinan yang kedua adalah karena ada kaitannya Pura Ulunswi itu dengan Pura Batur dan Pura Besakih.

Struktur pekarangan Pura Ulunswi itu terdiri dari dua halaman, yakni :

  1. Jaba Pura atau halaman luar, yang terletak di pinggir jalan raya jurusan Denpasar – Uluwatu
  2. Jeroan atau halaman dalam

Sekeliling pura itu dibatasi dengan tembok yang tinggi dan masih baik. Jaba pura dengan jeroan dibatasi dengan tembok yang tinggi. Di Jaba Pura terdapat candi bentar dan disebelah kiri kanannya terdapat pohon beringin. Jalan masuk ke jeroan melalui kori agung yang besar, berbentuk candi kurung dan di sebelah kanannya ada kori kecil yang disebut babetelan, untuk jalan keluar masuk bagi orang-orang yang ke dalam pura itu. Kori agungnya terbuat dari batu bata, dalam bentuk langsing, sehingga hal itu mengingatkan kepada lanjutan kepada type bangunan pada jaman Majapahit. Tetapi kori agung itu telah mengalami beberapa restrasi, kecuali daun pintu beserta ulap-ulapnya masih merupakan peninggalan dari Cokorda Munggu yang dibuat pada tahun 1763 Masehi.

Di depan Kori Agung itu terdapat Arca Dwara Phala, berbentuk raksasa yang diletakkan di sebelah kiri kanan tangga masuk. Arca itu adalah arca yang digolongkan kuno (± abad 18), karena masih memakai wajralepa. Luar pura itu seluruhnya adalah 96 meter x 66 meter = 6336 meter persegi atau 63,36 are, terdiri dari Jaba Pura yang luasnya 66 meter x 30 meter = 1980 meter persegi = 19,80 are dan Jeroan Pura yang luasnya 66 meter x 66 meter = 4356 meter persegi = 43,56 are.

Mengenai keadaan pelinggih-pelinggih serta bangunan serta isinya masing-masing di Pura itu adalah sebagai berikut :

  1. Pada Jaba Pura, tidak terdapat palinggih atau bangunan
  2. Pada Jeroan terdapat :
  • Meru besar bertumpang 11 dan di dalam meru ini terdapat 6 buah palinggih yang berbentuk Padma terbuat dari kayu. Meru ini adalah palinggih Bhatara Bhakabhumi dan 6 buah padmasana itu adalah palinggih pasimpangan Sad Kahyangan Jagat Bali
  • Gedong besar bertiang 4 : Palinggih Ratu Sasuhunan. Menurut Lontar Çri Purana ini palinggih Ratu Gede Sabuh Mas, yang memegang walang sangit.
  • Gedong kecil bertiang 4, disebut Gedong Sudha Mala, palinggih siapa, belum jelas
  • Gedong besar bertiang 4, palinggih Ratu Pamayun. Menurut Lontar Çri Purana ini palinggih Ratu Gede Langkeran, yang memegang tikus.
  • Gedong banyak bertiang 6, palinggih Ratu Prancak
  • Gedong kecil bertiang 4, palinggih Taksu Iringan
  • Gedong kecil bertiang 4, palinggih Ratu Taksu Agung
  • Balai Pangaruman atau Tajuk pangapit palinggih meru tumpang 11 fungsinya untuk menghiasi pralinggan Ida Bhatara
  • Balai Gong, fungsinya untuk tempat gong, jika ada pujawali di pura itu
  • Balai Petandingan, fungsinya sebagai tempat membuat bebanten, ketika pujawali di pura itu
  • Balai kecil bertiang 4, palinggih Balang Tamak
  • Balai Tajuk atau Piyasan rangkaian palinggih Balang Tamak, fungsinya sebagai tempat bebanten untuk balang tamak ketika pujawali di pura itu. Palinggih Balang Tamak itu asalnya diletakkan di Jaba Pura. Ketika diadakan perbaikan pura itu, lalu palinggih Balang tamak itu dipindahkan dan ditempatkan di Jeroan pada sudut Timur Laut Pura Ulunswi itu dan palinggihnya menghadap ke barat, berlawanan dengan arah palinggih lainnya di Pura Ulunswi itu
  • Balai Penyimpenan (bangunan modern) untuk tempat menyimpan unen-unen Bhatara berupa Barong
  • Balai Perantenan, fungsinya sebagai tempat memasak untuk bebantenan dalam rangka pujawali di pura itu
  • Sumur (2 buah), tempat mengambil air untuk upacara-upacara
  • Kori Agung berbentuk Candi Kurung, fungsinya sebagai tempat pemedalan Bhatara
  • Kori kecil, berfungsi sebagai tempat bebetelan tempat keluar masuk pura bagi masyarakat
  • Pohon beringin yang mengapit Candi Bentar pemdalan pura tersebut
  • Candi Bentar pemedalan pura itu yang paling depan

Catatan : Menurut Lontar Sri Purana, di sebelah selatan meru tumpang 11 (gedong setumpul) sebagai linggih Bhatara-Bhatara Bhaka Bhumi (Sanghyang Indra Bhumi) adalah palinggih berbentuk Tepasana sebagai linggih Sang Kalasunya yaitu : Sedahan Bhatara di Ulunswi yang memegang Empangan dan parit-parit. Palinggih itu mestinya terletak di sebelah selatan palinggih Ratu Gede Blengkeran, tetapi kenyataannya sekarang di sana terdapat palinggih berbentuk Gedong Banjah sebagai Palinggih Ratu Perancak. Besar kemungkinan Palinggih ini dimaksudkan sebagai palinggih Ratu Kalasunya itu.

Di dalam Pura Ulunswi itu tidaklah banyak terdapat pralingga-pralingga. Pada bagian puncak dari meru tumpang 11 itu tersimpan 2 buah prerai (gambar muka) yang menurut pemangku di sana berbentuk Çiwa dan Budha. Tetapi prerai itu baru beberapa tahun yang lampau dibuat oleh Ida Pedanda di Geriya Bindhu.

Adapun prerai atau pralingga yang kuno, dan juga ada beberapa peralatan milik Pura Ulunswi telah terbakar habis pada jaman penjajahan Jepang, yang disimpang di rumah seorang pengemong Pura itu di Banjar Pesalikan di Desa Jimbaran. Pada palinggih-palinggih yang tidak ada pralingga-pralingga atau pratima-pratima yang dijumpai sekarang ini.

Arca-arca batu padas ada beberapa di sana dan yang terpenting adalah tiga buah arca padas pada abad ke-17 berbentuk Arca Rudra, Arca Bhima dan Arca Ganapathi yang menurut dugaan kami, bahwa arca-arca itu adalah kronogram tentang tahun pendirian Pura Ulunswi itu sebagaimana telah diuraikan di depan.


Upacara dan Upakara

Hari piodalan Pura Ulunswi itu adalah pada hari : Sukra Pahing Dungulan, tiap 210 hari sekali. Upacara rerahinannya ialah tiap hari Purnama, Sukra Paing, Sugihan Bali, Tumpek Kuningan, Banyu Pinaruh, dan Tumpek Uye.

Pada hari Purnama Sasih Kelima, Desa Jimbaran melakukan upacara Ngusaba Desa yang diikuti oleh semua pura yang ada di wilayah Desa Jimbaran, bertempat di Pura Desa, di sana Bhatara di Pura Ulunswi dihaturi pula ke Pura Desa. Waktu piodalan di Pura Ulunswi, Bhatara nyejer hanya satu hari saja, ketika itu beliau dihaturi wali Baris/Pendet.

Apa yang dijumpai sekarang mengenai upacara di Pura Ulunswi itu, berbeda dengan keterangan-keterangan yang diperoleh dalam lontar-lontar seperti : Usana Dewa, Kuttra Kanda, Dewa Purana Bangsul dan Sri Purana.

Dari ketiga lontar tersebut di atas, diambil intinya bahwa setiap sasih Kapat, patutlah menghaturkan pemendak Bhatara yang berstana di Pura Ulunswi dengan memakai aci berupa kerbau hitam. Ketika itu, patut memohon tirtha ke Batur dan Gunung Agung dan selanjutnya para Krama Carik memohon tirtha ke Pura Ulunswi, untuk dipergunakan pada masing-masing sawah/ladang. Lebih lanjut Lontar Usana Dewa menyebutkan bahwa “bila ada halangan (candala) di empangan (empelan) di Ulunswi patut malik sumpah caru panca wali krama“. Keterangan ini memberi petunjuk, bahwa Pura Ulunswi itu berfungsi penting.

Terjadinya perbedaan hari upacara dan piodalan itu, disebabkan hari piodalan yang sekarang ini mengambil dari selesainya pura itu diplaspas besar dahulu. Hal ini dimungkinkan pula menurut keterangan di dalam Lontar Dewa Tattwa.

Mengenai upacara pemendak Bhatara dengan kerbau hitam, rupa-rupanya pada jaman belakangan ini tidak pernah dilakukan. Hal ini logis terjadinya karena ada ekses ketegangan politik antara bekas Kerajaan Mengwi dengan bekas Kerajaan Badung jaman dahulu, yang mengakibatkan terlantarnya pemeliharaan Pura Ulunswi Jimbaran.

Bebanten yang dipergunakan pada upacara-upacara di Pura Ulunswi itu ialah :

  • Banten Piodalan memakai banten yaitu : peras pengambeyan dan perlengkapannya lagi.
  • Untuk rerahinan memalai banten : sodahan, canang-canang dan segehan.

Kalau upakara atau bebanten itu dibandingkan dengan upacara yang tersebut di dalam lontar-lontar di atas, maka keadaannya sekarang jauh menciut, dari ketentuan banten yang patut dipakai di Pura Ulunswi itu. Pada pokoknya setiap sasih Kapat patutlah menghaturkan karya yang memakai “Titi mamah kerbau hitam” yang bermakna memendak bhatara di Pura Ulunswi itu dan secara filesofis bertujuan atau memohon kesuburan tanam-tanaman di sawah dan ladang di daerah Bali.

Selain itu patutlah mengadakan “aturan-aturan” tertentu sebagai pemendak tirtha ke Batur dan ke Gunung Agung dalam rangkaian upacara di Pura Ulunswi itu. Mengenai jenis-jenis bebanten aturan itu secara mendetail disebutkan di dalam lontar-lontar : Usana Dewa, Kuttara Kanda, Dewa Purana Bangsul dan Sri Purana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s