Pura Ulunswi – Sejarah

Pendahuluan

Nama pura ini adalah “Pura Ulunswi“. Masyarakat setempat kadang-kadang menyebutnya Pura Gede.

Secara etimologis kata Ulunswi dapat diuraikan sebagai berikut:

Ulun yang berasal dari kata Ulu yang artinya atas, kepala, pusat atau sumber, sedangkan kata Swi artinya sawah. Keterangan ini sesuai dengan keterangan yang ditulis dalam Lontar Uttara Kanda Dewa Purana Bangsung, lembar ke-18. Disamping itu arti kata Swi, juga berarti air. Jadi Pura Ulunswi artinya Ulun Sawah atau Ulun Carik, atau pusat/sumber kemakmuran sawah. Dengan demikian Pura Ulunswi berarti pura pusat kemakmuran sawah.

Pura Ulunswi ini terletak di sebelah selatan Banjar Mendega Desa Jimbaran, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Jaraknya lebih kurang 15 km di sebelah selatan Kota Denpasar, mengikuti jurusan jalan raya dari Denpasar ke Ulu Watu, dan pura terletak di sebelah barat jalan raya menghadap ke timur.

Keadaan alam sekitarnya adalah susunan pedesaan dan pura berada di tengah-tengah desa dilindungi oleh perumahan-perumahan penduduk. Di depan pura di seberang jalan raya, di sebelah timurnya, terdapat Pasar Jimbaran yang dikelilingi oleh toko-toko.

Desa Jimbaran adalah suatu desa di Pantai Selatan dekat tanah genting Pulau Bali, sehingga keadaan udara di sana cukup panas. Keadaan desanya datar dan luas sesuai dengan namanya sendiri, yaitu Jimbaran yang berarti lebih luas.


Sejarah Pura

Mengenai penyusunan sejarah pendirian Pura Ulunswi di Jimbaran itu secara menyeluruh masih kekurangan bahan-bahan atau data-data yang lebih lengkap seperti : prasasti, purana pura tersebut, style bangunan, type arca-arcanya dan lain sebagainya. Mengingat pura itu telah mengalami restorasi dan perluasan, maka sulitlah menelitinya, dari segi arsitektur klasik dan beberapa arca-arca yang ada di sana, tata letaknya sudah tidak beraturan lagi sehingga dengan demikian sulitlah menghubungkannya dengan kronogram yang terkandung di dalamnya.

Data historis primer yang dipergunakan untuk mengetahui sejrah pura ini adalah keterangan-keterangan tertulis yang terdapat dalam beberapa lontar yang kami peroleh di Bali yang menguraikan atau menyinggung tentang Pura Ulunswi itu. Adapun lontar-lontar itu adalah :

Lontar Usana Dewa (Koleksi Perpustakaan Universitas Udayana Denpasar)

Di dalam lembar ke-17 lontar ini ada disebutkan :

“………nihan prateka kutara ring Bali kaungwan denira Empu Kuturan, bhiseka maring majapahit, magawe maring Bali unggwan Bhatara kabeh, Bhatara ring Batu Madeg, Bhatara ring Matu Panyeneng, Bhatara ring Pintu Aji, Bhatara Kadhaton, Bhatara ring Tengah Mel, Bhatara ring Tukabyang, Bhatara ring Batur Kawu, Bhatara ring Kapatigan, ring Pujung, Bhatara ring Ulu Watu, ring Manisan, ring Sakenan, ring Marga Laya, Bhatara ring Limasanak, nga, Dewa ring Delod Peken, Pengulun Gelgel, penyungsungan para punggawa ring Bali, wite tuwah Majapahit, nga, sapungkus sang bakabhumi panyeneng ring Ulunswi, ika maka uriping sawah……..”

Maksudnya :

“………….inilah hal ikhwal keadaan di Bali, diletakkan oleh Beliau Empu Kuturan, yang dinobatkan dari Majapahit (maksudnya Jawa), membawa ke Bali linggih Bhatara semua, Bhatara di Batu Madeg, Bhatara di Batu Panyeneng, Bhatara di Pintu Aji, Bhatara di Kedaton, Bhatara di Tengah Mel, Bhatara di Tukabyang, Bhatara di Batur Kawu, Bhatara di Kapatigan, di Pujung, Bhatara di Ulu Watu, di Manisan, di Sakenan, di Margalaya, Bhatara di Limasanak, yaitu Dewa di Lod Peken. Maka ulu Gelgel, pemujaan para punggawa di Bali, asalnya adalah Majapahit yaitu yang bernama Bakabhumi bersthana di Ulunswi itu menjadi jiwanya sawah………..”


Lontar Ilikita

Yang tersimpan di Puri Gede di Mengwi, ada menyebutkan sebagai berikut :

“…….nguni kala nira I Gusti Agung Dimade mintar saking Gelgel angungsi alas Jimbaran, ing kana sira angrabes wana nuli angwangun wisma kalane angrabas wana, hana katemu pura alit madyaning alas Jimbaran. Kaucap pangasthanan Ida Bhatara rambut Sadhana mwah Bhatara Ulunswi, wyadin Maspahit, urip gaga mwah sawah panyiwyan, wong acacarik, mwah ajanggala. Punika kaahyun kapanggihin antuk Ida lawan ta waneh sapamadeg ira Cokorda Made Munggu natha Mengwi kaping 5, pura inucap malih kapangengin……..”

Maksudnya :

“……dahulu ketika beliau I Gusti Agung Dimade pindah, dari Gelgel menuju hutan Jimbaran, di sana beliau merabas hutan, terus mendirikan pondok. Ketika merabas hutan, ada dijumpai pura kecil di tengah hutan Jimbaran, disebut linggih Ida Bhatara Rambut Sadhana dan Bhatara Ulunswi beserta Maspahit, jiwa dari pada ladang dan sawah, pemujaan orang yang berpencaharian di sawah dan ladang. Itulah diperbaiki diperbesar oleh beliau. Selain daripada itu, pada masa pemerintahan beliau Cokorda Made Munggu Raja Mengwi yang kelima, pura tersebut telah diperbesar……..”


Lontar Babad Mengwi

Koleksi Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, di dalam lembar ke-74 lontar ini ada disebutkan sebagai berikut :

“………tucupa mangke, strinira Cokorde Made Agung, sang amundering Mengwi, kang anuwuhaken wangsa, apatra Gusti Luh Asem, aputra stri, abhiseka I Gusti Ayu Agung Ratu, datu tan pakrama neher apegala apuri ring Puri Dalem, Gusti Luh Patilik, asuta I Gusti Agung Made Agung, ri wus nira wrda malih inaturan stri saking Nambangan, anak I Gusti Tegeh Kori aputra I Gusti Bongan, kapaicayang ring Ngurah Made ring Pamecutan, den I Gusti Ayu Oka, apan ri mangkana, sira I Gusti Ayu Oka jumeneng natha Putri ring Kawyaraja, kinaryangan puri ring Kaleran-kawan, kapatadtadin kawula utaranya Dalung-gaji, tekening Jimbaran, neher asantana ring Denpasar………”

Maksudnya :

“………katakan sekarang, istrinya Cokorde Made Agung, yang memerintah di Mengwi, yang mengadakan keturunan, beristri Gusti Luh Asem, berputra istri, bernama I Gusti Ayu Agung Ratu, perawan tua tidak bersuami lalu madiksa (menjadi pendeta) bertempat tinggal di Puri Dalem, Gusti Luh Patilik, berputra I Gusti Agung Made Agung, ketika beliau tua lagi diaturi istri dari Nambangan, anak I Gusti Tegeh Kori, berputra I Gusti Ayu Bongan, diserahkan kepada Ngurah Made di Pamecutan oleh I Gusti Ayu Oka, karena ketika itu beliau I Gusti Ayu Oka menjadi Raja Putri di Mengwi, dibuatkan Puri di Kaleran-Kawan, diberi bekal (tadtadan) rakyat batas utaranya Dalung Gaji, sampai ke Jimbaran, lalu berketurunan di Denpasar……”


Lontar Babad Jimbaran

Koleksi I Ketut Suweca di Desa Jimbaran. Di dalam lembar ke-8 lontar ini disebutkan sebagai berikut :

“……mwah wuwusen ta sira Dalem Petak Jingga apan sira pini singgih dening sawonging Jimbaran, raris sira angwangun paryangan stana bhatara meru tumpang solas ingaranan ta Ulunswi. Hana pwa ya sentana nira I Gusti Anglurah Tegeh Kori, samawita ring Dalem Petak Jingga sira ta kenenira amangkunin, palinggih bhatara ring Ulunswi……”

Maksudnya :

“…….lagi katakanlah beliau Dalem Petak Jingga, karena beliau dimuliakan oleh seluruh rakyat di Jimbaran, lalu beliau membuat pura lingga bhatara, meru tumpang solas, dinamailah itu Ulunswi. Ada keturunan I Gusti Ngurah Tegeh Kori, bakti kepada Dalem Petak Jingga, dialah disuruh beliau menjadi pemangku, palinggih Bhatara Ulunswi………”

Sebelum dianalisa keterangan-keterangan di dalam lontar-lontar tersebut di atas, maka kami ketengahkan suatu keterangan dari Ida Pedanda Gde Pemaron di Munggu, adalah sebagai berikut :

“Pada mulanya Pura Ulunswi itu adalah pura kecil yang dibuat oleh Empu Kuturan bersama dengan pendirian Pura Sad Kahyangan di Bali. Pura ini dibuat di dalam hutan yang luas (sekarang bernama Jimbaran) sebagai pusat atau sumber kemakmuran sawah. Kemudian I Gusti Agung Dimade lari dari Gelgel karena dikejar oleh Laskar Dalem, lalu beliau menuju hutan Jimbaran untuk menyembunyikan diri. Di dalam hutan itu I Gusti Agung Dimade menjumpai sebuah palinggih kecil, bernama Ulunswi. Di sanalah beliau berdoa mohon agar beliau selamat dari kepungan pasukan Dalem yang mengejarnya dan beliau berkaul akan memperbaiki dan memperbesar pura itu. Permohonan beliau itu berhasil. Setelah beliau mendapat kejayaan dan kebesaran sampai menguasai sebagian Pulau Bali, yaitu batas timurnya sebelah Sungai Petanu, batas utaranya berbatasan dengan daerah kekuasaan Panji Sakti di Buleleng. Batas selatannya terus tembus ke Pantai Laut Selatan, batas baratnya tembus sampai ke Pantai Barat Pulau Bali. Bahkan sampai ke Blambangan di Jawa Timur. Lalu putra beliau memenuhi kaul beliau yaitu memperbaiki dan memperbesar Pura Ulunswi. Beliau membuat palinggih tumpang 11 di pura itu. Oleh karena terjadi ketegangan-ketegangan politik dan suasana jaman itu kurang aman, maka untuk memudahkan pemujaan terhadap Bhatara-Bhatara Sad Kahyangan Jagat Bali, lalu beliau membuat pelinggih-pelinggih pesimpangan Sad Kahyangan Jagat Bali berbentuk padma sebanyak 6 buah dan palinggih-palinggih itu diletakkan di dalam meru yang bertumpang sebelas itu. Oleh cucu beliau yaitu Cokorda Munggu, juga Pura Ulunswi itu diperbaiki lagi. Setelah itu ketika terjadinya perkawinan I Gusti Ayu Bongan yaitu putri Mengwi dengan I Gusti Ngurah Pamecutan di Denpasar lalu daerah kekuasaan Mengwi dari Desa Dalung ke selatan sampai ke laut diserahkan sebagai pembawaan kawin kepada I Gusti Ngurah Pamecutan. Kemudian daripada itu terjadilah ketegangan fisik antara Mengwi dengan Badung, sehingga Mengwi sulit lagi bisa pergi ke Pura Ulunswi di Jimbaran. Lalu Raja Mengwi membuatlah suatu pesimpangan Pura Ulunswi dan dibangun di Desa Seseh, yang ada sampai sekarang.

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut di atas, maka keterangan yang diperoleh dari lontar-lontar tersebut, maupun keterangan-keterangan lisan yang diperoleh dari orang-orang yang mengetahui tentang keadaan Pura Ulunswi itu, terutama keterangan Ida Pedanda Gde Pemaron di Munggu, maka dapatlah diambil suatu kesimpulan mengenai sejarah Pura Ulunswi itu, ialah sebagai berikut :

Pura Ulunswi di Jimbaran itu pada mulanya dibuat oleh Empu Kuturan, sekitar abad ke-11 sejaman dengan pembuatan Pura Kahyangan Jagat di Bali. Di muka meru besar bertumpang 11 di Pura Ulunswi itu, terdapat arca kuno, type abad ke-17, yang diletakkan berjejer, yaitu Arca Dewata Nawa Sangga, berbentuk Rudra di Selatan, Arca Panca Pandawa, berbentuk Bhima di Tengah dan Arca Dewa Astha Wasu, berbentuk Gana Patya di Utara. Kami menduga arca-arca tersebut adalah suatu kronogram. Kalau dugaan kami itu benar, maka dapatlah diartikan :

  • Arca Dewata Nawa Sangga : bernilai 9
  • Arca Panca Pandawa : bernilai 5
  • Arca Dewa Astha Wasu : bernilai 8

Oleh karena berbentuk kronogram, maka pembacaannya adalah dari kiri ke kanan, sehingga menunjukan angka 958 Çaka atau 1036 Masehi.

Adapun tahun 1036 itu adalah masa Empu Kuturan di Bali. Hal ini dikuatkan oleh keterangan prasasti Batu Madeg di Besakih yang berangka tahun 963 Çaka atau 1041 Masehi, yang menyebutkan kedatangan Mpu Kuturan ke Bali. Dari Purana Bali, didapat keterangan bahwa kedatangan Empu Baradah ke Bali adalah menemui kakaknya yaitu Empu Kuturan di Silayukti.

Dari sumber-sumber tersebut di atas, memberikan keyakinan bahwa Pura Ulunswi di Jimbaran itu adalah dibuat pada tahun 1036 Masehi atau pada abad ke-11, sesuai dengan keterangan yang tersebut dalam keterangan yang tersebut di dalam Lontar Usana Dewa.

Keterangan di atas ada persesuaiannya dengan keterangan di dalam Babad Jimbaran dimana di dalam bagian pendahuluannya menyebutkan Dalem Petak Jingga, pindah dari Gelgel menuju Hutan Jimbaran, yang kemudian membuat Meru Tumpang 11 dinamai Ulunswi. Kalau diteliti lebih lanjut yang menyebut Dalem Petak Jingga itu sesuai dengan peristiwa yang menimpa I Gusti Agung Dimade, yang lari dari Gelgel menuju hutan luas di Jimbaran, yang kemudian memperbesar Pura Ulunswi itu. Hanya dalam hal itu terdapat perbedaan nama dari pelaku peristiwa itu. Kami cenderung atau menduga yang disebut “Dalem Petak Jingga” itu adalah I Gusti Agung Dimade, yang menurunkan Dinasti Mengwi, yang mewilayahi Desa Jimbaran sebab di dalam Babad Mengwi dan juga Pamancangah Dalem, tidak dikenal Dalem Petak Jingga. Disamping itu sudah menjadi kelaziman di jaman yang lampau bahwa orang yang tidak berani menyebutkan nama raja yang sebenarnya sebagai tanda bakti kepadanya, melainkan menyebutnya dengan nama kiasan saja.

Lebih lanjut perbaikan Pura Ulunswi itu dilakukan oleh Cokorda Munggu, sebagai Raja Mengwi yang kelima. Menurut keterangan di dalam Ilikita yang tersimpan pada Puri Agung Mengwi. Perbaikan itu rupa-rupanya terjadi pada tahun 1685 Çaka atau tahun 1763 Masehi dan sebagian dari sisa bangunannya itu masih ada sekarang berupa daun pintu beserta ulap-ulap dari Kori Agung Pura itu dan pada ulap-ulap itulah didapatkan angka tahun tersebut di atas.

Selanjutnya ketika terjadi perkawinan antara I Gusti Ayu Bongan yaitu Putri Kerajaan Mengwi dengan I Gusti Ngurah Pemecutan di Denpasar lalu daerah kekuasaan Mengwi dari Desa Dalung ke selatan sampai ke laut, diserahkan sebagai pembawaan kawin kepada I Gusti Ngurah Pemecutan dan sejak itulah Pura Ulunswi itu rupa-rupanya diemong oleh Puri Pemecutan di Denpasar, Pura Ulu Watu diemong oleh Jero Kuta di Denpasar dan Pura Sakenan di Serangan diemong oleh Jero Kesiman di Kesiman. Keterangan terjadinya peristiwa perkawinan itu, termuat dalam Babad Mengwi. Kemudian dari pada itu, terjadilah ketegangan politik antara Mengwi dengan Badung, sehingga Mengwi sulit lagi jika pergi ke Pura Ulunswi di Jimbaran lalu Raja Mengwi membuatlah Pesimpangan Pura Ulunswi, dan dibangun di Desa Seseh yang masih ada sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s