Dewa Yajna – 1

Pengertian Yajna

Kata Yajna adalah kata yang berasal dari Bahasa Sansekerta, yang berasal dari akar kata “yaj“, yang berarti memuja, menyembah, menghormat, mendoa, berupacara, berselamatan, berkorban, memberi dan beramal.

Yang dalam bentuk perubahannya, menjadi kata :

  1. Yajna (h), berarti pujaan, persembahan, penghormatan, doa, upacara dan korban suci.
  2. Yajana, berarti pelaksanaan dari yajna atau sering diartikan Yajna Karma.
  3. Yajus, berarti aturan tentang yajna.
  4. Yajamana, berarti orang yang memimpin yajna.
  5. Yajamani, berarti para pendeta/pinandita yang mengurus/mengatur perlengkapan dan jalannya yajna.

Dengan memperhatikan pengertian etymologi kata yajna tersebut di atas, maka jelaslah bahwa yajna itu merupakan suatu tatanan hidup lahir bathin bagi manusia, guna menyatakan rasa setia bhakti dan pengabdian yang suci, sebagai umat beragama, yang diwujudkan dalam bentuk bermacam-macam dana punia atau amal kebaktian/ kebajikan yang tulus ikhlas dan suci murni, baik dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, maupun dengan selamatan dan pujaan.

Oleh karena demikian maka yajna itu mempunyai ruang lingkup yang amat luas dan juga memberikan pengaruh yang amat besar terhadap prikehidupan manusia baik jasmani maupun rokhani.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa kata “yajna” bukanlah berarti sempit semata-mata, sebagaimana halnya sering dimaksudkan dalam tanggapan masyarakat pada umumnya, yaitu dalam arti persembahan sesajen atau upakara ritual saja. Akan tetapi setiap amal kebajikan atau dana punia yang dilaksanakan dengan penuh keyakinan dan pengabdian yang suci murni dan tulus ikhlas dan tanpa ikatan pamerih tertentu, itulah sebenarnya yang dimaksud dengan Yajna.

Pengertian Dewa Yajna

Dewa Yajna adalah salah satu dari Panca Yajna. Pengertian Dewa Yajna, adalah suatu persembahan suci yang dilakukan secara tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi termasuk manifestasi Beliau, Dewa dan Bhatara. Yajna itu biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, menurut perhitungan hari-hari yang baik untuk melakukan upacara dan dapat pula dilakukan setiap saat menurut keadaan atau kehendak seseorang untuk menghaturkan suatu persembahan.

Dewa Yajna pada dasarnya dapat dilaksanakan dengan lima (5) cara, yaitu : Drewya Yajna, Tapa Yajna, Yoga Yajna, Swadhyaya Yajna dan Jnana Yajna.

  • Drewya Yajna, berarti pemujaan terhadap Hyang Widhi dan Dewa, Bhatara dengan upakara bebanten.
  • Tapa Yajna, berarti memuja Hyang Widhi dengan menjalankan tapa. Tapa artinya melatih diri dengan mempersatukan tujuan untuk mencapai cita-cita yang tertinggi, bersatunya Atman dengan Brahman.
  • Yoga Yajna, berarti suatu persembahan atau kebaktian dengan cara melaksanakan yoga, yaitu memusatkan pikiran dalam keadaan samadhi, tertuju kepada Hyang Widhi dan Dewa Bhatara
  • Swadhyaya Yajna, berarti suatu persembahan atau kebaktian kepada Hyang Widhi, Dewa Bhatara dengan jalan mengorbankan diri untuk mempelajari kitab-kitab suci, mendidik diri sendiri ke arah kesucian serta melaksanakan persembahyang setiap hari.
  • Jnana Yajna, berarti suatu persembahan atau kebaktian kepada Hyang Widhi, Dewa Bhatara, dengan cara menekankan kepada pengorbanan atau mengamalkan ilmu pengetahuan keagamaan dan ilmu pengetahuan lainnya kepada sesama makhluk.

Keterangan mengenai jenis yajna tadi, disebutkan dalam Bhisma Parwa, sebagai berikut :

“Hana drewya yajna ngaranya, yajna maka sadhanang drewyopakarana, salwiring saji, hana mwah Tapa yajna, yajna maka sadhanang tapa, hana ta Yoga yajna, ngaranya waneh lwihning yoga yajna waneh, haneng Swadhyaya ring sarwa sastra, kunang ikang sinangguh yajna bheda sangkeng samyag jnana yajna ngaranya, yatika inabhyasa sang wiku sang angangge brata, ika ta kabeh, ikang Jnana Yajna juga lwih”

Pelaksanaan Dewa Yajna

Dalam pelaksanaan upacara-upacara Dewa Yajna dapat digolongkan menjadi dua (2) yaitu :

  • Nitya Karma Yajna / Nitya Karma Puja. Upacara ini dilakukan tiap-tiap hari dan bersifat sederhana dalam bentuk materiil, dalam bentuk canang, pada tempat suci tertentu yang dipandang suci. Mabanten Jotan, yakni mempesembahkan upacara sehabis memasak atau sebelum memulai makan nasi, yang dilakukan setiap hari di tempat-tempat tertentu, dapat dimasukkan dalam Nitya Karma Yajna, yang pada hakekatnya merupakan pelaksanaan dari Yajna Sesa. Selain itu persembahan setiap hari, seperti : Puja Tri Sandhya dan Puja Surya Sewana, dapat pula dimasukkan dalam Nitya Karma Yajna, yang merupakan bagian pelaksanaan dari Yoga Yajna.
  • Naimitika Karma Yajna /Naimitika Karma Puja. Upacara ini dilakukan secara berkala yakni pada hari-hari tertentu. Berkalanya upacara ini ada yang berdasarkan hari tertentu, purnama, tilem, sasih dan tahun.

Upacara Dewa Yajna yang dilakukan pada hari tertentu, ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus.

Upacara Dewa Yajna yang bersifat umum, seperti :

  1. Hari Kliwon, adalah hari samadhinya Dewa Siwa. Patutlah menghaturkan “canang wangi-wangian” di Pamrajan/Sanggah dan juga di atas tempat tidur.
  2. Hari Kajeng Kliwon, adalah upacara untuk Durgadewi. Patutlah mempersembahkan seperti pada hari Kliwon, dilengkapi dengan segehan manca warna.
  3. Hari Anggara Kliwon, adalah upacara untuk Dewa Rudra. Patutlah menghaturkan wangi-wangian, bunga harum, asep menyan astanggi dan canang, di Pamrajan/Sanggah.
  4. Hari Buda Kliwon, adalah upacara untuk Sanghyang Ayu, guna mencapai kesucian bathin. Patutlah menghaturkan canang yasa, canang wangi dan kembang payas, di Pamrajan/Sanggah dan di atas tempat tidur.
  5. Hari Buda Wage, adalah upacara untuk Bhatari Manik Galih, guna mencapai ketentraman bathin dan menghindari diri dari pengaruh indria. Patutlah melakukan upacara di Sanggah/Pamrajan dan di lumbung.

    Hari Buda Wage, disebut juga dengan Rarahinan Buda Cemeng atau Buda Ireng. Rarahinan Buda Cemeng itu datang setiap 1 bulan sekali (35 hari), atau dalam waktu 6 bulan Bali, peredaran wuku di Bali, ada 6 Buda Cemeng, yaitu : Buda Cemeng Wukir, Buda Cemeng Warigadian, Buda Cemeng Langkir, Buda Cemeng Menail dan Buda Cemeng Klawu. Dalam Pustaka Sundarigama, ada disebutkan :

    Buda Wage, Buda Cemeng ngaran, kalinganya suksmaning adnyana nirmala, pegating indriya, ya ta yoga nira Bhatari Hyang Manik Galih, nurunaken Sanghyang Omkara Amreta, ri jeng praja mandala. Aturakena wangi-wangi, ring Sanggar, mwang ring luhuring aturu mwang duluranania aturaken ring Bhatari Sri, kunang dulurana dyana ring latri“.

    Artinya :

    Buda Wage Buda Cemeng namanya, keterangannya adalah, mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, yakni putusnya sifat kenafsuan ( pengendalian diri/indria ). Pada saat itu yang beryoga adalah Bhatara Hyang Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sanghyang Omkara Amreta (inti hakekat kehidupan) di dunia ini, maka itu patutlah melakukan widhi widhana : wangi-wangi, memuja di sanggar dan di atas tempat tidur, serta menghaturkan kepada Dewi Sri, lalu melakukan renungan suci pada malam harinya.

    Dalam praktek keagamaan di Bali, upakaranya dilengkapi dengan berbagai macam canang dan sejenisnya. Demikian juga Bhatara Hyang Manik Galih, diberi gelar Bhatara Sri Sadhana, Bhatara Rambut Sadhana, dewa kemakmuran dan kesejahteraan. Maka itulah perayaan rarahinan Buda Cemeng itu adalah untuk memohon anugrah kehadapan beliau, agar diberikan anugrah cukup pangan dan melimpahkan kesejahtraan dan kemakmuran.

  6. Hari Saniscara Kliwon, adalah upacara untuk Sanghyang Paramawisesa. Patutlah menghaturkan canang dan wangi-wangian, di sanggah/Pamrajan.
  7. Hari Soma Kliwon, adalah upacara untuk Sanghyang Tri Murti. Patutlah menghaturkan upacara : nyanyah geti-geti gringsing, pisang mas, wangi-wangian dan canang sari di Palinggih Gedong Sri, di lumbung dan di pulu (tempat beras).
  8. Hari Anggara Wage Sinta, adalah upacara untuk Bhatara Mahadewa, yang berfungsi sebagai dewa kekayaan. Patutlah menghaturkan suci daksina, sesayut merthasari, pras panyeneng, canang lenga wangi buratwangi dan tadah pawitra, di bale pahiyasan di Pamrajan.
  9. Hari Buda Kliwon Sinta, adalah upacara untuk Dewa Paramesti Guru. Patutlah menghaturkan daksina, pras ajuman, suci, panyeneng, sesayut panca lingga, canang wangi dan canang maraka di sanggar Kamulan, disertai sesayut pageh urip dan prayascita. Selain itu ada pula caru berupa nasi lima warna dan nasi sasah diletakkan mengarah kelima penjuru pada halkaman Pamrajan/Sanggah.
  10. Hari Saniscara Landep, adalah upacara untuk Bhatara Siwa yang juga disebut Sanghyang Pasupati. Patutlah menghaturkan tumpeng putih kuning, canang dan sedah who, di Pamrajan/Sanggah. Upacara untuk Sanghyang Pasupati : sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha, suci daksina, pras ajuman, canang wangi dan tadah pawitra, pada segala jenis senjata perang.
  11. Hari Redite Umanis Ukir, adalah upacara untuk Bhatara Guru. Patutlah menghaturkan sesayut pangambeyan, sedah lekesan dan kawangi pada Sanggah Kemulan.
  12. Hari Anggara Kliwon Kulantir, adalah upacara untuk Bhatara Mahadewa. Patutlah menghaturkan soda kuning, sedah woh, sedah lekesan, canang, wangi-wangian, pada Pamarajan/Sanggah.
  13. Hari Saniscara Kliwon Wariga, adalah upacara untuk Sanghyang Sangkara. Patutlah menghaturkan : pras tulung sesayut, tumpeng, bubur, tumpeng agung, panyeneng, tetebus, pada Pamrajan/Sanggah dan kepada diri sendiri natab “sesayut cakrageni“.
  14. Hari Soma Pon Warigadian, adalah upacara untuk Bhatara Brahma. Patutlah menghaturkan sedah who, pada Paibon dilengkapi dengan bunga yang harum.
  15. Hari Wrespati Wage Sungsang, adalah upacara pesucian terhadap semua Dewa Bhatara. Patutlah menghaturkan pesucian pada Pamarajan/Sanggah, Pura, disertai “parerebuan, pangresikan dan bunga, wangi-wangian” Hari ini disebut Sugian Jawa.
  16. Hari Sukra Kliwon Sungsang, upacara penyucian diri sendiri, disebut Sugian Bali. Patutlah melakukan pamrayascita, serta matirtha panglukatan dalam rangka menyambut Hari Galungan.
  17. Hari Minggu Pahing Dungulan, adalah upacara turunnya Sang Kala Tiga. Hari ini disebut Panyekeban, artinya pengekangan hawa nafsu.
  18. Hari Soma Pon Dungulan, adalah hari untuk melakukan Yoga Samadhi, dalam menghadapi turunnya Sang Kala Tiga. Hari ini disebut Panyajan.
  19. Hari Anggara Wage Dungulan, adalah upacara untuk Sang Kala Tiga, yaitu Sang Kala Dungulan, Sang Kala Dangastra dan Sang Kala Amangkurat. Patutlah melakukan upacara pacaruan pada perempatan jalan di desa pakraman.
  20. Hari Buda Kliwon Dungulan, adalah Hari Galungan. Upacara ditujukan kepada Hyang Widhi dan Dewa Bhatara. Upacara yang patut dipersembahkan : tumpeng pengambeyan, penek wewakulan, ajuman, sedah who, kembang payas, pasucian, wangi-wangian, canang selengkapnya pada pelinggih di Pura, Pamarajan/Sanggah atau tempat suci lainnya.
  21. Hari Redite Wage Kuningan, adalah hari kembalinya Dewa Bhatara ke Kahyangan. Hari ini disebut Ulihan. Patutlah menghaturkan tipat kelanan, canang raka dan wangi-wangian.
  22. Hari Soma Kliwon Kuningan, adalah hari Pamacekan Agung. Patutlah mabanten Segehan Agung dengan panyambleh ayam semalulung, di depan pintu masuk rumah.
  23. Hari Buda Pahing Kuningan, adalah upacara untuk Dewa Wisnu. Patutlah menghaturkan tumpeng ireng, sedah lekesan, wangi-wangian di Paibon.
  24. Hari Sukra Wage Kuningan, adalah hari Penampahan Kuningan. Upacaranya sama dengan pada Hari Panampahan Galungan.
  25. Hari Saniscara Kuningan, adalah Hari Kuningan. Pada hari itu turunlah para Dewa Bhatara dan Pitra yang suci. Menghaturkan : sega selanggi, tebog, pasucian, canang sangkep, gegantungan, tamyang, caniga dan selengkapnya, pelaksanaannya sama dengan hari Galungan.
  26. Hari Buda Kliwon Pahang, adalah Hari Pegatwakan, yaitu selesainya pawarah Ida Bhatara kepada manusia dan selesainya perayaan Galungan.
  27. Hari Saniscara Kliwon Uye, disebut Tumpek Kandang. Upacara untuk Sanghyang Rare Angon, sebagai pemelihara ternak. Upacara : daksina, suci, pras, penek, ajuman, soda prani putih kuning, canang lengawangi buratwangi, pada Pamrajan/Sanggah. Adapun upakara pada ternak : tumpeng, sesayut, panyeneng, pabersihan, jerimpen dan canang raka. Untuk ternak babi : katupat balekok. Untuk bangsa burung : katupat sida purna, katupat bagia, panyeneng, tetebus dan kembang payas.
  28. Hari Saniscara Kliwon Wayang, disebut Tumpek Wayang. Upacara untuk Dewa Iswara. Upacara : daksina, suci, pras ajuman, rayunan prangkat, sedah who, canang raka dan pasucian.
  29. Hari Saniscara Umanis Watugunung, adalah upacara untuk Dewi Saraswati, sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Upacaranya : suci, pras daksina, ajuman, sesayut Saraswati, banten Saraswati, segara gunung, perangkat putih, daksina pangadegan, kembang payas, sekar cane dan canang yasa.
  30. Hari Redite Pahing Sinta, adalah Hari Banyu Pinaruh, merupakan rangkaian Hari Saraswati. Patutlah pagi-pagi mandi dengan air kumkuman. Setelah itu menghaturkan labaan nasi pradnyan dan jamu-jamuan harum. Selanjutnya nyurud banten Saraswati dan banten labaan itu.

Pada hari yang bersifat khusus :

  • Hari Purnama menurut sasih tertentu, seperti : Purnama Kapat, Purnama Kedasa dan lain sebagainya.
  • Hari Tilem Kesanga, adalah upacara Tawur Kesanga. Yang maknanya membersihkan alam dari segala kekotoran, dalam masa mengakhiri masa satu tahun Saka.

Demikianlah pelaksanaan-pelaksanaan dari pada upacara Naimitika Karma Puja / Naimitika Karma Yajna yang lazim dilakukan oleh umat Hindu khususnya di Bali.

Disampaing Nitya dan Naimitika Karma Yajna, ada juga yang disebut dengan ” Karya Dewa Yajna “. Menurut lontar Catur Wedya, Karya Dewa Yajna itu seperti : Mlaspas, Mamungkah, Wraspatikalpa, Nyatur Rebah, Nyatur Niri dan sebagainya.

Salah satu contoh pelaksanaan Dewa Yajna dapat dilihat melalui video berikut :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s