Agama Sebagai Pedoman Hidup

Seperti telah kita sadari bersama bahwa setiap orang memerlukan makan dan minum. Tanpa makan dan minum orangpun akan mati, karena alat-alat tubuhnya tidak dapat berfungsi lagi. Karena itu orang harus makan dan minum, tetapi harus tahu aturan makan dan minum. Setelah makan dan minum terpenuhi maka manusia memerlukan pakaian dan rumah. Pakaian melindungi tubuh dari panas dan dingin dan dari sentuhan benda-benda keras, demikian juga pakaian berfungsi sebagai perhiasan.

sidhakarya5

Dari cara orang berpakaian orang akan dapat menduga jiwa seseorang karena pakaian pencerminan jiwa. Rumah merupakan tempat berteduh dari panas dan hujan, tempat membaringkan diri untuk melepaskan lelah dan juga sebagai tempat tidur, tempat melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan yang memakai, maka baik pakaian maupun rumah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Setelah kebutuhan tersebut di atas terpenuhi, yang merupakan kebutuhan material, orangpun masih memerlukan kebutuhan-kebutuhan lain, seperi kebutuhan rohani, hiburan-hiburan, kasih sayang, agama dan yang lainnya.

Dalam hidup ini orang memerlukan hiburan. Oleh karenanya perlu menonton pertunjukan-pertunjukan, seperti pertandingan olah raga, pertunjukan kesenian, keindahan alam, keindahan lukisan dan lain-lainnya. Kasih merupakan kebutuhan manusia sejak kecil. Ketika kecil manusia mendapat curahan kasih dari ibu, kemudian setelah dewasa ia memerlukan kasih orang lain, ia memerlukan teman. Maka itu orang hendaknya selalu kasih mengasihi dalam hidupnya. Di dalam kasih orang akan merasa hidupnya berbahagia dan berarti. Disamping merupakan sumber kasih dan menjadi curahan kasih, maka teman menjadi juga tempat berlindung. Tetapi manusia adalah mahluk yang tak sempurna dan mahluk yang lemah, ia tidak berdaya menghadapi hukum alam dan kedasyatan lingkungannya. Ia pasti pernah sakit, tua dan akhirnya mati. Tiada teman dan saudara tempat berlindung agar terhindar dari semua ini. Hanya Tuhanlah tempat orang berlari dan mencari perlindungan. Pada Tuhanlah seseorang akan mendapat kekuatan dalam menghadapi hidup ini dan padanyalah orang merasa mendapat perlindungan terakhir yang paling aman. Dengan demikian manusia memerlukan Tuhan dan karena itu memerlukan agama, karena agama adalah jalan mengantarkan orang untuk datang mendekat pada Tuhan. Tuhan adalah asal dan kembalinya semua mahluk (Sanghyang Sangkan Paraning Sarat)

Oleh karena itu agama merupakan suatu landasan, pegangan atau pedoman hidup yang kokoh dan kekal, ibarat landasan bangunan, di mana bangunan harus didirikan. Jika landasan itu tidak kuat, maka mudah benar bangunannya roboh. Demikian juga halnya dalam kehidupan manusia, bila tidak berpedoman pada agama, sebagai landasan yang kokoh dan kekal, maka kehidupannya tidak berarti, akan selalu mengalami penderitaan.

Dengan berpegang teguh pada agama atau berpedoman pada ajaran kerohanian sebagai yang terdapat di dalam kitab suci Upanisad (Wedanta), Tattwa-tattwa (tutur-tutur), mulai dengan konsep ajaran, yang mengakui tunggalnya jiwatma (roh) semua mahluk dengan Brahma (Tuhan), yang tutur di Bali sering disebut dengan nama Sanghyang Paramasiwa (Sanghyang Widhi Wasa).

Di dalam Upanisad terdapat suatu sloka yang berbunyi, sebagai berikut : “Tat Twam Asi”,”Brahma Atma Aikyam”, “Brahma Atma Asmi”, Sarwam Khalu Idam Brahman” yang artinya Itu adalah kamu, Brahma dan Atma (jiwatma) adalah tunggal dan semua yang ada adalah ciptaan-Nya.

Oleh karena jiwatma semua mahluk tunggal dengan Brahma, maka jiwatma suatu mahluk tunggal juga dengan semua jiwatma dan jiwatma kitapun tunggal dan sama dengan jiwatma semua mahluk.

Kesadaran akan tunggalnya jiwatma (roh) kita, maka kita akan merasakan dengan renungan kebijaksanaan yang dalam, bahwa kita sebenarnya satu dan sama dengan mahluk yang lain.

Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa berada dimana-mana dan tunggal. Menjadi suatu dasar hidup segala ciptaan-Nya yang berpisah-pisah. Sebagaimana matahari yang menyinari segala pelosok, meskipun ribuan rumah yang membatasi tembok-tembok yang tinggi, akan tetapi sinar matahari akan menyinari semuanya dan sinar serta panas pada tiap-tiap rumah itu berasal dari matahari yang tunggal. Begitulah jiwatma-jiwatma dalam semua mahluk, diasingkan satu dengan yang lainnya dengan badan yang berbeda-beda, dihidupkan pada dasarnya oleh Sanghyang Widhi Wasa.

Dengan agama sebagai pedoman dan pegangan hidup, yang mendasarkan ajarannya kepada ke-Esaan Sanghyang Widhi Wasa, maka berarti setiap perbuatan yang baik dan tak baik, yang dilakukan oleh seseorang pada orang lain, berarti juga berbuat baik atau tidak baik pada diri sendiri. Umpamanya : melukai tangan, juga akan mempengaruhi bagian badan yang lainnya, meskipun tidak ada lukanya, karena dirasai sakit itu datangnya dari bagian badan. Jika kita merasakan ini, maka kita akan selalu berbuat baik, untuk kebaikan semua mahluk, (ingatlah akan pengertian Tat Twam Asi, Aham Brahma Asmi, Sarwam Khalu Idam Brahman, Brahma Atma Aikyam). Tetapi oleh karena kita jarang menyadari hal kebenaran ini, perlu adanya aturan-aturan dalam berprilaku, yang pada dasarnya menghalangi perbuatan menyiksa orang lain dan juga diri sendiri.

Sebagaimana disebutkan dalam Bhagawad Gita, X, sloka 20 :

Aham atma gudakesa
Sarwa bhtasayasthitah
Aham adis ca madhyam ca
Bhutanam anta ewa ca.

Maksudnya :

Wai Arjuna, Aku adalah Atma, yang bersemayam di dalam hati semua mahluk dan Aku awal mula, pertengahan dan akhir mahluk itu

Selanjutnya dalam Bhagawad Gita X, sloka 39, disebutkan :

Yascapi sarwa bhutanam
Bijam tad aham arjuna
Na tad asti wina yat syah
Maya bhutam caracaram

Maksudnya :

Wahai Arjuna, Akulah benih segala mahluk dan tidak ada suatu ciptaan yang bergerak maupun tidak bergerak, tanpa Aku.

Dan Akhirnya dalam Bhagawad Gita XIII, sloka 27, disebutkan :

Saman sarwesu bhutesu
Tusthantam parameswaram
Winas yastsw awinasyantam
Yah pasyati sa pasyati.

Maksudnya :

Orang yang melihat Tuhan yang kekal dan abadi(tidak dapat binasa) bersemayam merata di dalam semua mahluk yang tidak kekal (dapat binasa), dialah sebenarnya yang melihat.

Jadi agama (Hindu) yang merupakan pedoman dan pegangan hidup, sehingga dalam kita berprilaku menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Jika bertentangan dengan itu akan timbul tidak keselarasan dalam kehidupan ini, dari itu kebenaran dan keadilan mutlak berdasarkan ajaran agama.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga dapat dipakai renungan dalam kehidupan ini demi tercapainya keserasian hidup “Salunglung sabhayantaka” dan “Paras paropa sarpana ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s