Buda Keliwon Sinta – Pagerwesi

Rarahinan Pagerwesi, jatuh pada hari Buda Keliwon wuku Sinta. Sebelum hari itu tiba, patut kita tinjau beberapa hari penting, yang tidak dapat kita lewati begitu saja, ialah :

  • Soma Ribek, yaitu hari Soma Pon wuku Sinta
  • Sabuh Mas, yaitu hari Anggara Wage wuku Sinta

Apakah arti dari hari-hari itu? Terutama apakah yang perlu dilakukan oleh umat pada hari-hari tersebut? Untuk itu marilah kita kutip ucapan dalam pustaka Sundarigama.


Soma Ribek

“Ata ri wuku Sinta Soma Pon, ngaran Soma Ribek, prakertining Sanghyang Tri Amertha, genahnya ring puku kunang mwang lumbung, aturana widhi-widhana, nyanyah geti-geti gringsing, raka pisang mas, dulurning wangi-wangi, manusyanya haywa manumbuk pari, haywa angadwal beras, katemah de nira Sanghyang Sri, kawenanganya ngastiti Sanghyang Tri Pramana, angisep sarining tattwa adnyana, tan wenang aturu rahina”.

Artinya :

Pada wuku Sinta, hari Senin Pon, disebut Soma Ribek, beryogalah Sang Tri Amertha, tempatnya di Pulu (tempat menyimpan beras) dan di Lumbung, upakaranya : nyanyah geti-geti geringsing, dilengkapi dengan pisang mas, wangi-wangi, orang-orang tidak boleh menumbuk padi, menjual beras, dikutuk oleh Sanghyang Sri, hendaknya memuja Sanghyang Tri Pramana merenung tentang inti sari filsafat dan tidak boleh tidur di siang hari.

Berdasarkan ucapan sastra Sundarigama, dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada hari Senin Pon Sinta, beryoga Sanghyang Tri Amertha, dengan pulu dan lumbung sebagai stananya. Pada hari tersebut umat Hindu disarankan melaksanakan tindakan khusus terhadap padi dan beras, yakni : tidak boleh menjual beras dan menumbuk padi, disamping mengadakan widhi-widhana sekedarnya, dipersembahkan di kedua tempat tersebut. Lebih-lebih pada saat itu kita disarankan untuk memuja Sanghyang Tri Pramana, yaitu tiga unsur yang memberi kekuatan hidup, seperti : Sri, Sadhana dan Saraswati. Yang terpenting kita hendaknya mampu meusatkan pikiran dan memetik-metik ajaran-ajaran kebenaran (tattwa).


Sabuh Mas

“Anggara Wage, Sabuh Mas, pasucyan Bhatara Mahadewa, pakretining ring raja brana mas manik sarwa mule, widhi-widhananya : suci 1, daksina 1, pras panyeneng mwang sesayut Mertha Sari, canang lengawangi, pasucian genahnya ring pasambyangan mwah ring ring genahing aturu kunang. Manusyanya anglarakna sulaksana, haywa lali ring raja kasukan, mas manik ring raga sarira, ika pinaka hayu, aturakena ikang prakerti ika, ri telasnya wenang parid ayab i raga sariranta”

Artinya :

Anggara Wage (Sinta), disebut Sabuh Mas, piodalan Bhatara Mahadewa, berwujudkan pada harta benda mas permata serba mulia, dengan upakaranya : suci 1, daksina 1, pras panyeneng, sesayut merthasari, canang lengawangi, pasucian tempat di pasambyangan (tempat upakara) dan pada tempat tidur. Umat manusia hendaknya melakukan perbuatan baik, jangan lupa terhadap kekayaan mas permata yang ada dalam badan (diri sendiri), itulah yang sebaiknya diberikan persembahan, setelah selesai persembahan, patutlah dimohon dan diaturkan pada diri sendiri.

Pada hari ini adalah beryoganya Sanghyang Mahadewa dengan melimpahkan restunya pada mas permata dan barang yang serba mulia. Kepada umat disarankan untuk melaksanakan asuci laksana, memuliakan mas manik harta benda yang bernilai tinggi, ditambah dengan mengadakan widhi-widhana sekedarnya. Lebih-lebih mas permata, yang serba mulia yang bersemayam pada diri kita sendiri.


Pagerwesi

“Buda Keliwon Sinta, ngaran Pagerwesi, payoganira Sanghyang Paramestiguru, iniring de prawatek dewata kabeh, mangargha apasang lingga, sapakaranya, angastawa ri paduka Hyang Parameswara, widhi-widhananya : suci 1, daksina 1, pras panyeneng, sesayut Panca Lingga, penek ajuman, mwang raka-raka, wangi-wangi saha runtutannya, aturana ring Sanggar Kemulan. Ikang manusyanya asesayut Pageh Urip mwang prayascita, tengahing ratri ayoga samadhi, mwang hana labahaning panca maha bhuta, sega warna anuting urip, sinasah genahnya amanca desa ring natar sanggar, mwang segehan agung 1, saha tetabuhan”

Artinya :

Pada hari Buda Keliwon Sinta, disebut Pagerwesi, piodalan Sanghyang Paramestiguru, yang diiringi oleh para dewata, sepatutnya para pendeta melakukan penghormatan memasang lingga dengan segala prilakunya, memuja Hyang Parameswara. Dengan upakara : suci 1, daksina 1, pras panyeneng, sesayut Panca lingga, penek ajuman, buah-buaham, wangi-wangian, serta perlengkapan yang lain, dipersembahkan di Sanggar Kemulan. Umat manusia natab sesayut Pageh Urip dan prayascita dan malam harinya melakukan yoga samadhi dan ada juga suguhan kepada panca maha bhuta, berupa nasi berwarna sesuai dengan urip arah, ditempatkan di lima penjuru di natar (pekarangan) sanggah, dilengkapi dengan segehan agung 1, lengkap dengan tetabuhan.

Pada hari Pagerwesi, beryogalah Sanghyang Paramestiguru, disertai para Dewa dan Pitara. Pada saat itu umat hendaknya melakukan yoga samadhi, yakni menenangkan hati, serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam pelaksanaannya dilengkapi pula dengan upakara seperlunya, yang dihaturkan di Sanggar Kemimitan, disertai dengan segehan yang diperuntukkan kepada Panca Maha Bhuta.

Dari petunjuk ucapan Sastra Sundarigama, memberikan kias atau perlambang yang berupa pelajaran-pelajaran yang tinggi dan luhur. Dari petunjuk itu lebih terbuktilah bahwa agama Hindu di Bali, tidaklah suatu kepercayaan yang sempit, melainkan benar-benar adalah suatu peradaban yang lengkap. Agama kita tidak sekedar memberikan ajaran, bagaimana hendaknya seorang umat berlaku dan hormat kepada-Nya, tetapi lebih luas dari pada itu agama kita mengajarkan bagaimana seharusnya seorang umat hidup dalam arti yang seluas-luasnya. Bagaimana harus bergaul dengan sesama umat, dengan guru, dengan pemerintah dan dengan mahluk-mahluk yang lainnya. Demikian juga bagaimana hendaknya umat berekonomi, bersosial dan berkebudayaan.

Misalnya : Pada Soma Ribek dan Sabuh Mas, diberikan petunjuk yang jelas, betapa hendaknya kita menilai beras dan padi, serta mas permata dan benda-benda yang mulia lainnya. Karena hakekatnya beras dan padi serta harta benda, adalah merupakan bahan-bahan yang mutlak untuk kehidupan di mayapada ini.

Banyak orang masih berpendapat, bahwa agama Hindu pada umumnya tidak memperhatikan soal-soal benda. Tetapi sebenarnya agama Hindu di Bali adalah sebaliknya. Benda dan materi adalah penting, hanya saja benda atau materi adalah bukan tujuan hidup, melainkan syarat/sarana untuk hidup.

Disamping itu karena beras dan padi serta harta benda yang lainnya, pada hakekatnya adalah karunia Sanghyang Widhi, maka sangat tepatlah bila atas adanya karunia ini kita sujudkan diri dan jiwa kita kepada-Nya.

Sedangkan Pagerwesi adalah pralambang suatu pengendalian diri dengan kuat, agar kita tidak mabuk dengan kekayaan. Melainkan harus adanya rasa bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Untuk mencapai hal itu umat Hindu di Bali, mempersembahkan upakara : suci, pras panyeneng, sesayut Panca Lingga, penek rayunan, raka-raka, wangi-wangi, asep dupa yang harum, dihaturkan di Sanggah Kemulan. Segehan ditujukan kepada unsur-unsur panca maha bhuta, dengan segehan agung dan segehan manca warna, lengkap dengan tetabuhan tuak arak dan berem.

Advertisements

2 thoughts on “Buda Keliwon Sinta – Pagerwesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s