Saraswati

Dalam konsepsi ajaran Hindu, Tuhan itu adalah Esa, tidak ada duanya. Saraswati adalah salah satu personifikasi aspek Tuhan Yang Maha Esa. Inspirasi yang mengidentifikasi beliau sebagai dewa kebijaksanaan berasal dari Weda. Rig Weda I. 3. 10-12 memberikan orang informasi untuk usaha mencari kebijaksanaan dan menuntun orang pada jalan yang terang dan jalan kebijaksanaan.

      Pāwakā nah saraswatī, wājebhir wājiniwatī, Yajnam wastu dhi yāwasuh.

Dengan kekuatan dan dengan kekayaan, semoga Saraswati yang cemerlang dengan penuh kasih sayang berkenan pada persembahan kami.

    –

Gayitrī sunrtānam, cetantī sumatīnām, Yajnam dadhe, Saraswatī.

Dia yang memberi semangat pada nyanyian yang menggembirakan, Dia yang memberikan ilham pada pikiran yang mulia, Semoga Ia, Saraswati menerima persembahan kami.


Maho Arnaoh Saraswatī, pracetayati ketuna, dhiyowiswa wirajati.

Oh Saraswati, sungai yang besar, Dia yang dengan cahayanya memberikan terang, Dia menerangi setiap pikiran yang mulia.

Di dalam kitab suci Weda, Dewi Saraswati adalah personifikasi kata-kata, yang dengan kata-kata itu pengetahuan dikomunikasikan. Ia menyerap masuk ke dalam diri para Resi. Barang siapa yang dikasihi akan menjadi orang bijaksana. Dalam Mahabharata Ia adalah Ibunya Weda.

Ia disamakan dengan Saraswati, istri/Dewi Brahma, Dewi kebijaksanaan. Uraian-uraian Saraswati sebagai Dewi Kebijaksanaan melanjut dalam sastra-sastra setelah Mahabharata. Di Indonesiapun Saraswati Dewi Kebijaksanaan, Ia dipanggil Wagiswari, Raja kata-kata, “dewaning pangaweruh“, Dewa Pengetahuan. Dalam Saraswati Stawa, Ia diindentikan dengan aspek Siwa dalam pangider-ider.

OM SANG Saraswati sweta warnayai namah swaha, OM BANG Saraswati rakta warnayai namah swaha, OM TANG Saraswati pita warnayai namah swaha, OM ANG Saraswati kresna warnayai namah swaha, OM OM ING Saraswati wiswa warnayai namah swaha.

OM SANG hormat pada Saraswati, yang berwarna putih, OM BANG hormat pada Saraswati, yang berwarna merah, OM TANG hormat pada Saraswati, yang berwarna kuning, OM ANG hormat pada Saraswati, yang berwarna hitam, OM OM ING hormat pada Saraswati,yang berwarna semua warna.

Dalam puja ini Dewi Saraswati diindentikan dengan SA BA TA A I, singkatan dari Sajyojata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora dan Isana, yaitu lima aspek Siwa (Tuhan Yang Maha Esa).

Dengan demikian sesungguhnya Ia adalah Siwa sendiri. Identifikasi yang demikian sering kita jumpai dalam puja (mantra) sebagaimana halnya dalam Weda.


Puja Wali Sanghyang Aji Saraswati

Puja Wali

Hari Raya Saraswati adalah hari puja wali Sanghyang Aji Saraswati, yang dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Sabtu Umanis wuku Watugunung. Puja wali berarti upacara pemujaan. Sanghyang Aji Saraswati adalah Tuhan sebagai dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dengan demikian puja wali Sanghyang Aji Saraswati adalah upacara pemujaan kehadapan Tuhan dalam prabawanya sebagai Dewi Saraswati, yakni Dewa Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan.


Waktu

Mengenai waktu pelaksanaan puja wali beberapa Pustaka Lontar, seperti Tutur Saraswati dan Aji Saraswati, menyebutkan :

…………. muah yan ri kala ngaturang piodalan mangda kari singit wetan Sanghyang Surya, yan singit kulon tan wenang kewala sastra ju Kahyangan nira.ga wus maring ya kari, apan Bhatari Saraswati.

………….dan kalau melakukan piodalan (persembahan) supaya matahari masih di upuk timur, bila sudah condong ke barat, tidak boleh, hanya sastra saja yang masih, karena Bhatari Saraswati sudah kembali ke Kahyangan Beliau.

Dalam Lontar Sundarigama, tidak terbatas pada waktu pelaksanaan upacara, disebutkan :

“Sanghyang Pustaka lingganing aksara pinahayu pujawalinya”.

Lontar-lontar/buku-buku sebagai stana aksara dibersihkan dan dihaturkan pujawali.


Brata Saraswati

Dalam brata Saraswati ada pantangan/brata, yang bersifat prinsif, menengah dan utama, yaitu :

  • Tidak boleh mencoret huruf (tan wenang amateni sastra)
  • Tidak boleh membaca, menulis
  • Tidak boleh mengucapkan Weda, Mantra, Kekidung dan Kekawin.

Tetapi dalam lontar Tutur Saraswati, ada disebutkan :

Mwah yan sampun lingsir kauh Sanghyang Surya wenang mamantra, awawcan-wacan mwang nyurat, amateni sastra tan wenang ……..

Dan jika matahari sudah condong ke barat, boleh mengucapkan mantra-mantra, boleh membaca dan boleh menulis, tetapi tidak boleh mencoret/menghapus huruf………


Tempat

Tempat pelaksanaan upacara piodalan Sanghyang Aji Saraswati, dapat dilaksanakan di Pamrajan/Sanggah atau di tempat-tempat yang diyakini mempunyai suasana kesucian dan cocok untuk itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s