Hari Raya Saraswati – Mitos

Makna Hari Raya Saraswati itu adalah sebagai wujud rasa bhakti (pelayanan yang suci), pemujaan terhadap sumber segala Ilmu Pengetahuan, diwujudkan atau digambarkan dalam alam pikiran melalui personifikasi Dewi Saraswati.

011914_1138_BabadMunang1.jpg

Setelah kita mengetahui makna Hari Raya Saraswati, kita patut manjadikannya sebagai penghormatan. Dimana Hari Raya Saraswati ini, personifikasinya adalah Dewi Saraswati, ada tujuh makna simbolis yang terkandung dari perwujudan dewi yang anggun nan cantik, dengan busana putih bersih, memainkan alat musik (wina/sejenis gitar), memegang kitab pustaka (kropak), aksamala (genitri/tasbih), bunga teratai (kumbaja), didampingi wahana berupa burung merak dan angsa putih (swan).

Penampilan dewi yang cantik dengan busana putih bersih berkilauan, melambangkan ilmu pengetahuuan itu sangat mulia, selalu menarik untuk dipelajari oleh siapapun.

Alat musik gitar (wina) melambangkan unsur mutlak ilmu pengetahuan berasal dari hukum alam yang tercipta melalui melodi alami dan citarasa seni Sang Pencipta.

Kitab suci (kropak) melambangkan tempat tertuangnya berbagai petunjuk ajaran suci sebagai sumber ilmu pengetahuan material maupun spiritual.

Genitri (aksamala/tasbih) melambangkan ilmu pengetahuan bersifat kekal, tidak terbatas, tidak akan ada akhirnya dan habis-habisnya untuk dipelajari.

Bunga Teratai, melambangkan kesucian ilmu pengetahuan yang murni, tidak tercela

Burung Merak, melambangkan sifat ilmu pengetahuan itu memberikan suatu kewibawaan bagi yang telah memahami dan menguasainya

Angsa putih, melambangkan ilmu pengetahuan itu dapat memberikan petunjuk untuk bersikap bijaksana dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk.


Mitos

Sekarang, saya ingin sekali mengulas tentang apakah benar pada saat Hari Raya Saraswati itu tidak diperkenankan belajar?

Menurut beberapa orang, memang benar pada saat Hari Saraswati tidak boleh belajar sebelum buku selesai dibantenin (diupakarai). Apakah ini benar atau tidak ? Dari beberapa literatur diperoleh hal-hal sebagai berikut :

  1. Saniscara Umanis Watugunung = Saraswati, hanya melalui proses belajar ilmu itu didapat, bukan dengan membuatkan banten pada buku saja tanpa pernah mau membuka dan meneguk saripatinya dengan membaca. Jadi tepis anggapan pada Hari Saraswati tak boleh baca buku. (peradah.com)
  2. Menurut keterangan Lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi. (parisada.org)
  3. Adanya pemikiran keliru pada sebagian masyarakat kita tentang perayaan Saraswati. Pemikiran keliru itu berupa pelarangan oleh para orang tua kepada anak-anaknya untuk membaca (belajar) pada saat perayaan Saraswati. Saya sendiri sering mendengar para orang tua menyatakan larangan itu. Katanya, tidak boleh menyentuh buku, apalagi membaca saat odalan (perayaan) Saraswati. Mereka beranggapan bahwa kalau kita membaca saat perayaan Saraswati, itu akan mengganggu ketenangan Sanghyang Aji Saraswati. (parisada.org)

Diatur dalam tradisi perayaan Siwaratri ada satu pan­tangan, kalau dalam perayaan lain mungkin ada pantangan seperti laku puasa. Pantangan ini adalah: Nenten dados ngamatiang aksara. Ya, tidak boleh membunuh/mematikan aksara. Jadi pantangannya bukan tidak boleh membaca.

Mematikan aksara secara harfiah dalam tradisi Bali berarti menempatkan “ulu” / “hulu” (= agar suatu aksara bersuara vokal “i”) dan “suku” sekaligus pada suatu aksara (= agar suatu aksara ber­suara vokal “u”). Seba­ai contoh:

  • Tha + “ulu” = akan ter­baca “Thi”; ¦tø§
  • Tha + “suku” = akan ter­baca “Thu”; Tapi jika ¦ tu§
  • Tha +” “ulu” + “suku” = akan menjadi aksara mati (tidak terbaca). ¦ tiu§

Demikianlah dalam membuat aksara mati (menjadi tidak terbaca) dalam tulisan/aksara Bali. Tidak banyak orang Bali yang tahu tentang metode ini sekarang, karena aksara Bali sudah jarang digunakan. Dan saat ini lebih mudah mencoret saja kalau ada tulisan yang salah, sebagaimana kita lakukan di bangku sekolah, atau menggunakan pemutih dan kembali menulis ulang. Jika Anda memiliki tetangga atau teman orang Bali, coba tanyakan bagaimana ia mengoreksi tulisan/aksara Bali yang salah tulis.

Saraswati itu yang utama adalah penyucian pada pikiran dan ketulusan pada apa yang masuk dalam pikiran, agar pikiran tidak ruwet, ada baiknya kita sembahyang dan memohon sinar suci pada Beliau. Semoga di Hari Raya Saraswati ini kita dapat memaknainya dengan penuh sadar. Selamat Hari Raya Saraswati, belajarlah di dalam kesunguhan !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s