Cerita Watugunung – Terjemahan Lontar Medang Kemulan

Berikut merupakan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia Petikan Lontar Medang Kemulan, No.  : III.B.151/7 Gedong Kirtya, Wit Lontar : Geria Pasekan – Tabanan

011914_0348_BabadBendes1.jpg

  1. Tersebutlah seseorang bernama Sanghyang Kulagiri, mempunyai 2 orang istri, yaitu Dewi Sintakasih, putra Bhagawan Gadiswara, yang seorang lagi bernama Dewi Sanjiwartia, putra dari Danghyang Pasupati. Sanghyang Kulagiri menjadi raja di Kundadwipa, nantinya lebih dikenal dengan nama Bhagawan Kulagiri.
  2. Lalu Dewi Sintakasih ngidam. Ketika itu Bhagawan Kulagiri berkata kepada istrinya, “Adikku berdua, dengarkanlah dengan baik perkataan kakak, mulai saat ini baik-baiklah adikku, tinggal di rumah, dan janganlah adikku khawatir, hari ini kakanda akan mohon diri untuk pergi ka pangasraman (pertapaan), tempatnya di tengah hutan di Gunung Sumeru, agar adikku bersedia menunggunya, ini ada bekal untuk hari kelak”.
  3. Menjawab istrinya, “Ya kakanda, kami berdua selalu mematuhi apapun kata kakanda”.
  4. Tak terceritrakan Bhagawan Kulagiri, keberadaannya dalam pertapaan. Tersebutlah hamil dari istrinya sudah cukup umur. Lalu berkatalah Dewi Sanjiwartia kepada Dewi Sintakasih, “Kakanda yang mulia, oleh karena telah lama sang Pendeta belum pulang, kurang lebih telah 8 bulan umur kehamilan kakanda, sekarang bagaimana kehendak kakanda, sampaikanlah kepada adikmu “.
  5. Menjawablah Dewi Sintakasih, “Adikku yang tersayang, benar apa yang adinda katakan; sekarang dengarlah kata-kataku; marilah kita berangkat ke pertapaan, menghadap kepada beliau Danghyang, kakanda berangkat dengan adinda”.
  6. Berjalanlah mereka berdua, tak terceritrakan sampailah di kaki Gunung Sumeru, yang dituju adalah sebuah batu datar, bagaikan tikar yang berhiaskan permata.
  7. Setelah sampai di sana, mereka berdua duduk di atas batu itu, ketika itu lahirlah putranya, batu itu pecah, karena besar dan beratnya bayi itu, halus kulitnya, merah matanya, bagaikan awan merah, demikianlah rupanya.
  8. Datanglah Bhatara Brahma, memberikan anugrah kepada bayi tersebut, berkat kesaktiannya, bayi itu cepat besar dan menguasai semua aksara termasuk aksara modre (suci) dan tidak akan kalah dalam peperangan, baik menghadapi manusia, detya, danawa, pisaca, dewa dan tidak akan mati siang maupun malam, tidak akan mati di angkasa, di atas tanah, siang maupun malam. Karena lahirnya di atas batu, lalu diberi nama Ki Watugunung.
  9. Baru berumur 3 bulan, sudah bisa makan, tapi makannya banyak-banyak, tidak boleh telat makannya.
  10. Tatkala ibunya sedang memasak di dapur, baru selesai ngaru, datanglah Sang Watugunung, meminta makanan. Semua makanan yang ada di dapur dimakannya, yang masih di atas periuk, di atas kukusan, lalu marah ibunya, lalu mengambil siut, lalu memukul kepala Sang Watugunung, sehingga keluar darah, lalu nangis, meronta-ronta di tanah, lalu minggat pergi menuju Gunung Sumeru.
  11. Setiap yang dilaluinya, dirusak, desa-desa dihancurkan, hal itu diketahui oleh Raja Gadiswara, marahlah beliau, lalu memerintahkan semua pasukannya, untuk membunuh Sang Watugunung.
  12. Sang Watugunung tidak luka karena senjata, amat sakti, sehingga mundurlah pasukannya.
  13. Lalu majulah Raja Giriswara, membawa keris, lalu menusuk Sang Watugunung. Setelah lama dalam peperangan, kalahlah sang Raja Giriswara, serta mengakui kemampuan Sang Watugunung.
  14. Para raja-raja banyaklah yang menyerah kepada Sang Watugunung, seperti : Prabhu Ekalaya, Kuladewa, Pariwisaya, Sungsangwisaya, semuanya mengakui kesaktian Sang Watugunung.
  15. Sang Watugunung mendengar ada raja perempuan di Kundadwipa, ratu yang cantik, teguh, tidak ada yang berani menghadapinya, siapa yang mampu mengalahkannya akan menjadi suaminya.
  16. Segera diserang Sang Ratu Istri, di Kundadwipa, seketika ratu itu kalah, lalu dijadikan istri.
  17. Sekarang diceritrakan, mereka berdua mencari kutunya Sang Watugunung.
  18. Ketika itu dilihatlah ada bekas luka di kepalanya. Itulah sebabnya sorga menjadi rusak, karena adanya perbuatan yang salah di dunia, yakni seorang anak yang mengawini ibunya.
  19. Beliau berdua mengetahuinya, karena ada tanda, bekas luka, bingunglah mereka berdua, karena kawin dengan putranya.
  20. Adinda berdua, mengapa adinda berdiam tak menjawab. Lalu menjawablah istrinya, “Karena mereka mimpi, agar supaya dapat dimadu dengan istri Sanghyang Wisnu”.
  21. Dengan demikian lalu Sang Watugunung segera berangkat, menuju Wisnu Bhuwana (tempat dewa Wisnu), sesuai dengan tujuannya.
  22. Marahlah Sanghyang Wisnu, seketika merubah diri menjadi kura-kura, berkepala cakra dan berbadankan naga.
  23. Berperanglah beliau berdua, mulai hari Minggu Kliwon, hari itu disebut Watugunung Runtuh Pamlastali; Senin Umanis disebut Candungwatang; Selasa Paing, disebut Paid-paidan; Rabu Pon, disebut Hari Urip; Kemis Wage, disebut Panegtegan; Jumat Kliwon, disebut Pangredanan; Sabtu Umanis, disebut Saraswati.
  24. Minggu Kliwon, Pamlastali, hendaknya berdoa dan beryoga; Senin Umanis, Candungwatang, tidak boleh memanjat pohon, kalau melanggar akan jatuh; Selasa Paing, Paid-paidan, baik membuat tali kail; Rabu Pon, disebut hari Urip; Kemis Wage, Urip selamanya disebut Urip Kalantas; Jumat Kliwon, disebut Sapuhawu, baik mabersih-bersih; Sabtu Umanis, Piodalan Saraswati.
  25. Diterjemahkan oleh : I Nyoman Sukada (selesai pada hari Jumat Klion, wuku Bala, tanggal Masehi 31 Januari 2014)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s