Mangupura – Kota Yang Menawan Hati

Arti dan Pengertian Pura

Istilah Pura yang dipakai sekarang sebagai nama tempat suci bagi umat Hindu. Berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari urat kata “pur” yang berarti kota, benteng atau kota yang berbenteng (Max Muller, 1974 : 168). Pura sebagai istilah nama tempat suci, agaknya timbul belakangan. Sebelum dipergunakan kata Pura untuk menyebut tempat suci, dipergunakan istilah Hyang, Kahyangan atau Parhyangan.

mangupur

Disebutkan tatkala masa pemerintahan Raja Erlangga di Jawa Timur (1019-1042 M), datanglah Mpu Kuturan ke Bali dari Jawa Timur. Di Bali beliau mengajarkan perihal membuat Parhyangan atau Kahyangan Dewa, baik yang disebut dengan Sad Kahyangan maupun Dang Kahyangan. Konsepsi yang diajarkan beliau lebih dikenal dengan konsepsi Gedong dan Meru. Bali pada saat itu diperintah oleh Raja Marakata yaitu adik Raja Erlangga.

Dalam jaman Bali Kuna dalam arti sebelum kedatangan Dinasti Dalem di Bali atau sebelum Bali ditaklukan oleh Majapahit (1343 M), istana raja bukan lagi disebut Karaton/Kadaton, melainkan disebut dengan istilah Pura, seperti :

  1. Keraton Dalem di Samprangan, disebut Linggarsapura.
  2. Keraton di Gelgel, disebut Swecapura.
  3. Keraton di Klungkung, disebut Smarapura (Panetja, tt. : 168).
  4. Keraton di Mengwi, disebut Menghapura/Kawyapura (Babad Mengwi, tt. : 38a)

Sehingga penggunaan kata Pura, sebagai nama tempat suci, setelah Dinasti Dalem, berstana di Klungkung. Dalam hubungan ini kata Pura yang berarti istana raja atau keraton atau rumah pembesar, seperti Madakaripura, (rumah pembesar Patih Gajah Mada), ketika itu dipakai istilah “Puri” dan kata “Pura” dipakai istilah tempat suci (Mukunda Madhawa Sharma, 1985 :81)


Mangupura

Kata Mangupura, terdiri dari 2 kata, yakni “mangu” dan “pura“. Kata “mangu” dalam bahasa Jawa Kuna disamakan dengan kata mango, lango, langu dan langen, yang artinya :

  • Perasan rindu menjadi terpesona oleh karena keindahan.
  • Segala sesuatu yang indah yang menimbulkan rasa cinta.
  • Keindahan, menawan hati, memikat,
  • Tempat untuk mencari kedamaian (P J Zoetmulder, 1995 : 568)
  • (……tulya tanahing mango/mangu – bagaikan tanah yang indah)
  • (anglanglang langu ring pasir wukir – mencari keindahan di pantai dan gunung).

Disamping itu kata “mangu” juga merupakan sebuah nama gunung, yakni : Gunung Mangu, yang mempunyai nama lain Gunung Pangelengan. Dalam konsepsi Catur Lokapala, Gunung Mangu berada di arah utara, Gunung Lempuyang di arah timur, Gunung Andakasa di selatan dan Gunung Batukaru di barat.

Sedangkan dalam konsepsi Catur Dewata Lokapala, arah utara dikuasai oleh Dewa Wisnu (dewa pemelihara/uttpeti), arah timur dikuasai oleh Dewa Iswara, arah selatan dikuasai oleh Dewa Brahma dan arah barat dikuasai oleh Dewa Mahadewa.

Sedangkan dalam konsepsi Padma Bhuwana (konsepsi Ketuhanan Hindu), Gunung Mangu dan atau Pura Pucak Mangu, berada di arah barat laut/wayabya, dengan dewa lokapala yakni Dewa Sangkara (dewa kesuburan).

Sedangkan kata pura, berarti istana, keraton, ibu kota (L. Mardiwarsito, 1985 : 448)

  • (Nyang lebu umibeking pura sumaput tan pakarana, amogha juga melek – Itulah debu memenuhi istana, tanpa sebab, tiba-tiba saja penuh mengepul).
  • (Lwir candraruna tekanang pura ring Tikta Sriphala anopama – Bagaikan bulan dan surya kota Majapahit tak ada yang menyamainya)
  • (Siniweng pura ri Majapahit anuraga jaya ripu – Memerintah di ibu kota Majapahit, dicintai rakyat dan menang atas musuh-musuhnya)

Maka kata Mangupura, berarti :

  1. ibu kota yang menawan hati
  2. ibu kota yang merupakan tempat untuk mencari keindahan, kedamaian dan kebahagiaan.
  3. Ibu kota yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
  4. Ibu kota yang menumbuhkan rasa aman bagi masyarakatnya.

Demikianlah pemikiran yang timbul dalam pertemuan Pengurus Harian yang dihadiri oleh Ketua Umum di Geria Siangan, Mengwi, pada tanggal 13 April 2008, yang merupakan pertemuan lanjutan dari pertemuan pada tanggal 17 Pebruari 2008, di Geria Dalem Sibang, Abiansemal. Lalu dilanjutkan dalam Paruman Sulinggih Badung, pada tanggal 25 April 2008, disamping memutuskan Nama Pura (Lingga Bhuwana), Hari Piodalan (Purnamaning Sasih Kasa) dan mengusulkan nama Ibu Kota adalah Mangupura dan kawasan pemerintahan disebut Mangupraja Mandala.

Advertisements

One thought on “Mangupura – Kota Yang Menawan Hati

  1. Pingback: Dirgahayu Kota Mangupura Ke-5 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s