Pan Kasim dan Ular

Alkisah, di suatu desa di Bali, pernah ada sepasang suami istri. Si suami bernama Pan Kasim dan si istri bernama Men Kasim. Kedua hidup dalam kondisi yang papa yang mengandalkan pekerjaan sebagai pencari kayu bakar, untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu ketika Pan Kasim menolong seekor ular. “Tolong, tolong, pohon ini menutupi lubangku. Aku jadi tidak bisa keluar,” jerit ular dari dalam lubangnya.

Pan Kasim yang saat itu tengah bekerja, mencari kayu, segera mencari asal suara. Pan Kasim melihat dua batang pohon tengah menimpa sebuah lubang raksasa. Ternyata suara itu berasal dari sana. Sewaktu mendekat, sebuah kepala ular menyembul dari lubang raksasa itu. Pan Kasim sontak ketakutan, dan berniat melarikan diri. Namun, ular itu meminta tolong kepada Pan Kasim untuk tidak takut kepadanya.

“Hei, Tuan, janganlah takut,” tukas si ular.

Begitu mendengar panggilan si ular, Pan Kasim yang semula berniat melarikan diri, langsung memberanikan diri menemui si ular.

“Hei, Tuan, tolonglah aku. Singkirkan pohon ini supaya aku bisa keluar,” pinta si ular.

“Apa yang membuatku mau melakukannya?” tanya Pan Kasim.

“Hmm,” si ular diam sejenak, “Aku akan mengabulkan semua permintaanmu, apapun itu.”

Pan Kasim memikirkan apa yang akan dimintanya. Setelahnya, ia berkata, “Baiklah, aku minta kau menjadikan aku dan istriku kaya raya.”

“Bukan permintaan yang sulit,” si ular memejamkan matanya beberapa saat, kemudian membukanya kembali, “Permintaanmu sudah kukabulkan. Sekarang, tolonglah aku.”

Pan Kasim segera memindahkan pohon-pohon yang menutupi lubang raksasa itu dengan cekatan. Dalam tempo yang singkat lubang itu sudah tidak ada lagi penghalang yang menutupi lubang. Si ular keluar dengan bebasnya.

“Pulanglah, Tuan, semuanya sudah tersedia seperti yang kau pinta,” kata si ular.

Saking gembiranya, Pan Kasim segera pulang menemui istrinya. Benar apa yang dikatakan si ular, semuanya sudah berubah seperti yang diinginkannya. Gubuk reyotnya kini sudah megah, makanan pun tersedia beraneka macam, istrinya sudah cantik dengan dandanan yang wangi.

Pan Kasim menceritakan ihwal kenapa hidup mereka bisa berubah.

***

Menjadi kaya mendadak, Pan Kasim dan istri menjadi bahan kasak-kusuk warga sekitar. Men Kasim menyampaikan hal itu kepada Pan Kasim. Pan Kasim pun berkata, “Biarlah, Bu, mereka hanya iri sama kita.”

Tapi, tampaknya kasak-kusuk itu tidak berhenti juga. Pan Kasim dan Men Kasim terpancing juga emosinya, tapi masih mereka pendam. Men Kasim meminta kepada suaminya untuk minta kepada si ular supaya masyarakat menghormati mereka.

Datanglah Pan Kasim kepada si ular untuk menjadikan, ia dan istri, raja dan permaisuri yang dihormati oleh orang-orang. Si ular pun mengabulkan permintaan itu.

***

Setelah menjadi raja dan permaisuri, tidak ada lagi yang kasak-kusuk di belakang mereka. Semua orang tunduk di bawah perintahnya.

Namun, rupanya permintaan terakhir Pan Kasim dan istrinya berbuah malapetaka. Selama beberapa waktu mereka memang menikmati peran sebagai raja dan permaisuri yang dikagumi semua orang. Setelah masa itu habis, secara perlahan-lahan kulit Pan Kasim dan Men Kasim terkelupas seperti terbakar matahari.

Men Kasim ketakutan setengah mati mengetahui hal itu. Ia takut ada apa-apa. Makanya, ia memerintahkan suaminya untuk menemui si ular. Pan Kasim segera menemui si ular.

“Tuan Ular, sepertinya kami memiliki masalah saat ini,” tutur Pan Kasim.

“Masalah apalagi yang menimpa Anda, Tuan?” tanya si ular.

Pan Kasim menjelaskan permasalahannya. Dan juga menjelaskan maksudnya.

“Karena itu, saya mohon, jadikanlah kami manusia yang tidak terkalahkan dan tidak pernah tua dan mati!” pinta Pan Kasim.

Si ular terdiam mendengar pinta Pan Kasim. Lalu, ia berkata, “Anda telah menolong saya satu kali, dan saya memberikan permintaan Anda satu kali. Utang budi di antara kita sudah impas. Adapun mengapa kulit kalian berdua merupakan akibat dari permintaan kalian sendiri. Karena kalian telah meminta kepadaku satu kali, maka aku pun akan mengambil satu kali dari kalian. Maka, dari itu mulai sekarang berubahlah menjadi ular saja.”

Pan Kasim dan Men Kasim pun berubah menjadi ular sejak itu.

***

Pesan yang diberikan dari cerita tersebut adalah ketamakan adalah penyebab malapetaka. Maka berhati-hatilah membawa diri dalam kehidupan, ketamakan dan ketidakpuasan hanya menjadi beban dan bumerang bagi diri sendiri. Syukuri apa yang sudah diperoleh, karena itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Advertisements

2 thoughts on “Pan Kasim dan Ular

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s