Sanitasi – Analisis Pengelolaan Air Limbah (2)

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BTDC

IPAL PT. BTDC atau sering disebut dengan Laguna PT. BTDC dibangun pada tahun 1976 dengan kapasitas 10.000 m³/hari. Lagoon mulai beroperasi pada tahun 1980 dengan luas area 30 Ha dan sudah dimanfaatkan untuk instalasi dan rumah pompa sekitas 17 Ha. Lagoon PT. BTDC terdiri dari 2 instalasi : instalasi untuk pengolahan limbah dan instalasi untuk produksi air irigasi (kolam aerator, sedimentasi dan filtrasi). Adapun uraian kegiatan di Unit Pengelolaan Air Limbah sebagai berikut :

  1. Sistem Penyaluran Air Limbah

    Limbah cair yang diolah di laguna PT. BTDC adalah limbah cair domestik yang berasal dari masing-masing bagian dalam hotel seperti : kamar mandi, toilet, loundry, kolam renang, pendingin ruangan (AC) , dapur dan semua kegiatan hotel yang menggunakan air. Setiap hotel menampung limbah dari masing-masing bagian hotel/restoran dalam suatu collection pit yang selanjutnya dipompa ke saluran pipa limbah utama PT. BTDC. Dari pipa utama tersebut, limbah akan mengalir secara grativitasi menuju ke lift pump station (LPS) yang terdekat dan pompa submersible di LPS akan bekerja secara otomatis memompa limbah tersebut ke laguna PT. BTDC yang berjarak kurang lebih 2 km di sebelah utara kawasan.

  2. Sistem Pengolahan

    Sistem pengolahan limbah cair yang diterapkan adalah Waste Stabilization Pond (Kolam Stabilisasi). Limbah segar dari LPS keluar lewat inlet di cell 1 dan mengalami proses oksidasi . Cell 1 terdiri dari 2 bagian (1a dan 1b) yang dipisahkan oleh fiberglass pada bagian atas yang berfungsi sebagai alat perangkap lemak (grease trap) untuk mengurangi lemak dan kotoran terapung masuk ke cell-cell berikutnya. Lemak dan kotoran yang tertahan pada perangkap lemak secara rutin akan dibersihkan oleh pekerja di laguna.

    Setelah melewati cell 1 maka air mengalir masuk ke cell 2a, selanjutnya mengalir ke cell 2b (cell terluas). Di cell 2b proses oksidasi akan berlangsung cukup lama (karena sangat luas). Untuk memantau toksitas/kadar racun air, di cell ini telah dilepaskan ikan-ikan mujair yang dapat dipakai sebagai indikator biologis untuk mengetahui perubahan kualitas di dalamnya.

    Selanjutnya air mengalir ke dalam cell 3, air di cell ini sudah tidak berbau dan berwarna kehijauan. Dalam cell ini juga dilepaskan ikan mujair untuk memantau kualitas perubahan air dalam cell ini.

  3. Sistem Produksi Air Irigasi

    Untuk meningkatkan kualitas air setelah proses oksidasi alami selanjutnya diproses kembali di kolam aerasi dengan 8 buah mekanik aerator yang menyala selama 8 jam/hari untuk menambah oksigen terlarut dalam air. Setelah itu air dialirkan ke kolam sedimentasi/pengendapan (tersedia 2 kolam) untuk mengendapkan lumpur dan kotoran lain yang ikut terbawa ke kolam ini. Lumpur di kolam sedimentasi akan di kuras/dikeringkan secara berkala pada bak pengering lumpur (Sludge Drying Bed).

    Setelah keluar dari kolam sedimentasi air akan difiltrasi/disaring dengan sand filter supaya air yang dihasilkan tingkat kekeruhannya lebih rendah. Setelah proses filtrasi air masuk ke resevoar, dimana air dari reservoar ini merupakan air irigasi yang sudah siap di distribusikan ke konsumen melalui instalasi pipa air irigasi sebagai air penyiraman untuk landscape yang ada di Kawasan Pariwisata Nusa Dua dan dalam hotel-hotel.

  4. Realisasi

    Realisasi Total Pengolahan Air Limbah dan Penjualan Air Irigasi tahun 2008, di Kawasan Pariwisata Nusa Dua adalah sebanyak 1.693.105 m3 untuk pengolahan Air Limbah dan Penjualan Air Irigasi sebanyak 521.320 m3 pada tahun 2008. Sedangkan total pengolahan air limbah pada tahun 2007 adalah, 1.684.023 m3 dan penjualan air irigasi pada tahun 2008 adalah 508.145 m3, dimana terjadi peningkatan pemakaian bila dibandingkan dengan pemakaian air irigasi tahun 2007, sedangkan untuk penjualan Air Irigasi pada tahun 2008, mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2007 dan sudah memenuhi standar baku mutu air irigasi.

  5. Cakupan Pelayanan IPAL BTDC

    Cakupan pelayanan air limbah di wilayah BTDC yaitu kawasan perhotelan dan restoran seperti yang terlihat pada gambar berikut :


PROYEKSI DEBIT AIR LIMBAH

Proyeksi debit air limbah diperoleh dari prosentase air limbah yang dihasilkan dari dari kebutuhan air total pada masing-masing Kecamatan. Analisis ini menggunakan 80% dari kebutuhan air total yang digunakan dengan mengabaikan 20% air mengalami peresapan, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut :

Pada tabel di atas diperoleh besarnya produksi air limbah domestik rata-rata tahun 2012 sebesar 86.390 m3/hari. Meningkat pada 5 tahun proyeksi sebesar 96.238 m3/hari atau meningkat sebesar 10,23% dari tahun 2012. Produksi air limbah tertinggi di Kecamatan Mengwi sampai tahun 2022, hal ini disebabkan oleh adanya perkembangan wilayah perkotaan yang sangat pesat di sertai dengan tumbuhnya berbagai fasilitas penunjang yang diprediksi juga memberikan pasokan air limbah domestik.

Sedangkan pada tahun 2022 sampai tahun 2032, wilayah Kuta Selatan menghasilkan air limbah paling tinggi yaitu sebesar 29759 m3/hari di tahun 2032, hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan berbagai fasilitas penunjang pariwisata yang mengakibatkan jumlah penduduk semakin banyak terutama di wilayah Kelurahan Benoa, Tanjung Benoa dan Jimbaran. Namun di wilayah Kuta Selatan terdapat IPAL BTDC yang mempunyai wilayah pelayanan di Kawasan Wisata Nusa Dua yang terdiri dari 25 hotel dan restoran, yang memungkinkan bisa dikembangkan untuk melayani wilayah Benoa, Tanjung Benoa dan Jimbaran.


EVALUASI DEBIT AIR LIMBAH

Evaluasi terhadap produksi air limbah sangat penting dilakukan sebab berpengaruh dari perkembangan penduduk yang terus meningkat. Kondisi penanganan sanitasi eksisting di Kabupaten Badung umumnya dikelola secara on site dan beberapa dikelola secara off site. Dengan adanya proyeksi ke depan mengenai produk yang dihasilkan oleh air limbah, maka dapat dilakukan beberapa cara untuk membatasi air limbah yang mencemari lingkungan, seperti meningkatkan pemantauan terhadap sanitasi eksisting yang ada atau dengan menyalurkan air limbah secara off site.

Dari total debit air limbah yang dihasilkan, seperti pada tabel sebelumnya, hanya sebesar 1,9% disalurkan menuju IPAL Suwung dengan sistem perpipaan, atau setara dengan 1641,41 m3/hari. Sisanya sebesar 98,1 % atau setara dengan 84.749,01 m3/hari dikelola secara setempat. Untuk limbah tinja ditampung dalam tangki septic namun untuk air limbah cuci dan dapur disalurkan menuju drainase atau permukaan tanah pekarangan/tegalan.

Rencana tujuan jangka panjang yang ditetapkan dalam kriteria desain yaitu sebanyak 50 % dari populasi terkoneksi ke saluran pembuangan air limbah terpusat pada tahun 2032 atau sebanyak 6210,94 m3/hari.


ANALISIS ZONASI SITEM SANITASI

Zona sanitasi adalah batasan kawasan untuk pelayanan sistem sanitasi. Umumnya, yang menjadi pembatas sistem sanitasi adalah kondisi fisik kawasan seperti:

  • Kelerengan kawasan
  • Sungai
  • Jalan

Pembatas fisik tersebut akan membatasi sistem jaringan perpipaan untuk pengelolaan sanitasi.

Pemilihan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Kabupaten Badung

Hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan sistem pengolahan air limbah domestik menurut Pedoman Penyehatan Lingkungan Departemen Kimpraswil didasarkan pada faktor-faktor:

Kepadatan penduduk

Kepadatan penduduk adalah rasio jumlah penduduk terhadap luas wilayah. Semakin padat penduduk cenderung akan terlayani dengan sistem sanitasi terpusat (off site system). Kriteria kepadatan penduduk disesuaikan dengan kondisi eksisting kepadatan penduduk di Kabupaten Badung, sehingga klasifikasi indikatornya menjadi:

  • Kepadatan penduduk tinggi > rata-rata kepadatan Kecamatan/Kabupaten.
  • Kepadatan penduduk sedang = rata-rata kepadatan Kecamatan/Kabupaten.
  • Kepadatan penduduk rendah < rata-rata kepadatan Kecamatan/Kabupaten.

Sumber air yang ada

Pada saat ini, ketersediaan air bersih perpipaan telah menjangkau hampir di semua daerah dengan tingkat pelayanan rata-rata lebih dari 60%, yang akan terus meningkat di masa depan. Dengan demikian, ketersediaan air bersih tersebut memungkinkan penggunaan sanitasi terpusat di hampir seluruh wilayah perkotaan.

Kemiringan tanah

Kemiringan tanah merupakan indikator yang digunakan dalam pemilihan teknologi off site system. Jika kemiringan tanah kurang dari 2% dapat menggunakan teknologi shallow sewer, jika kemiringan tanah lebih dari 2% dapat menggunakan sewerage atau interceptor and sewerage.

Kemiringan tanah di Kabupaten Badung dibagi menjadi 4 yaitu kemiringan 0-5%, kemiringan 5-15%, kemiringan 15-40% dan kemiringan lereng > 40%. Wilayah yang memiliki kemiringan berkisar 0-5 % adalah Kelurahan Tanjung Benoa, sebagian Kelurahan Benoa dan Jimbaran, serta Kelurahan Kuta, Tuban dan Kedonganan, sebagian Kelurahan Legian, Kelurahan Seminyak dan Kelurahan Kerobokan Kelod. Jadi sistem yang digunakan secara umum di Kabupaten Badung adalah sewerage atau interceptor and sewerage.

Ketersediaan lahan

Ketersediaan lahan merupakan indikator yang digunakan dalam pemilihan teknologi on site system. Ketersediaan lahan berkaitan dengan ada tidaknya bidang resapan yang bisa dibuat. Jika sistem on site tidak dapat menyediakan resapan maka pilihan teknologinya menggunakan biofilter, jika sistem on site dapat dilengkapi dengan resapan maka pilihan teknologinya dapat berupa tanki septik dengan resapan.

Sedangkan sistem off site ketersediaan lahan untuk rencana Lokasi IPAL haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Merupakan daerah yang bebas banjir, longsor dan gempa.
  • Merupakan daerah yang terletak relatif jauh dari lingkungan pemukiman, minimal pada radius 2 km.
  • Merupakan daerah yang mempunyai sarana jalan penghubung dari dan ke lokasi IPAL tersebut.
  • Merupakan daerah yang terletak pada jalur transportasi yang lancar (terhindar dari kemacetan lalu lintas).
  • Merupakan daerah yang terletak relatif dekat dari Badan Air Penerima.
  • Merupakan daerah yang terletak pada lahan terbuka dengan intensitas penyinaran matahari yang baik (untuk membantu proses pengeringan endapan lumpur).

Kemampuan membiayai

Indikator kemampuan pembiayaan berkaitan dengan pemilihan teknologi yang akan digunakan, baik sistem on site maupun off site. Apakah sistem yang dipilih sudah sesuai/cocok dengan kemampuan masyarakat, jika belum terdapat beberapa pilihan alternatif teknologi yang dapat digunakan.


Berdasarkan faktor-faktor tersebut kemudian dilakukan pemilihan-pemilihan sistem pengolahan air limbah dengan mempertimbangkan kondisi tersebut terhadap kemungkinan penerapan sistem pengolahan terpusat (Off Site System) ataupun sistem pengolahan setempat (On Site System) dengan membandingkan keuntungan dan kerugiannya.

Berdasarkan pengkasifikasian zona pelayanan, sistem pengelolaan limbah yang diterapkan di Kabupaten Badung terbagi menjadi dua yaitu sistem on site dan off site. Pengolahan sistem on site dengan menggunakan tanki septic dengan resapan. Pengolahan air limbah secara terpusat (off site) di kawasan perkotaan Badung menjadi salah satu alternatif yang harus segera dilakukan untuk mengatasi permasalahan sanitasi yang buruk saat ini. Pengolahan air limbah sistem ini dipengaruhi oleh dua faktor yang terdiri dari teknologi dan sistem peran serta masyarakat (participatory system). Dalam sistem pengolahan air limbah secara terpusat ini ada beberapa alternatif yang lebih sesuai untuk diterapkan di Kawasan Perkotaan Kabupaten Badung, diantaranya adalah sistem Shallow Sewers dan Sewerage.

Advertisements

3 thoughts on “Sanitasi – Analisis Pengelolaan Air Limbah (2)

  1. bli mau nanya nih,kepala badan pengelolahan limbah disana atas nama siapa yya? kebetulan mau skripsi disana nih,makasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s